Orientasi seksual adalah pola ketertarikan romantis dan/atau ketertarikan seksual pribadi yang menerus kepada lawan jenis atau lawan gender, sesama jenis atau sesama gender, pada kedua jenis kelamin, maupun pada lebih dari satu gender.
Meski dalam definisi orientasi seksual yang menyebutkan sebagai "-dan/atau keterlibatan dengan ketertarikan romantis", definisi yang menggabungkan unsur romantis ini sering dinilai tumpang tindih dan membingungkan dengan terminologi orientasi romantis. Hubungan antara ketertarikan seksual dan ketertarikan romantis sendiri masih dalam perdebatan, dan belum sepenuhnya dipahami.[1][2]
Dalam pengkategorian seseorang sebagai orientasi seksual aseksual, tolok ukur penentu aseksualitas hanya memandang penilaian kekuatan ketertarikan seksual tanpa menggabungkan dengan penilaian ketertarikan romantis. Orientasi romantis sering dianggap sebagai ukuran ketertarikan yang lebih berguna untuk aseksual.[3][4] Romantis memiliki ukuran dimensinya sendiri yang mempunyai definisi berbeda atau berkonteks tunggal mengenai kasih sayang atau cinta tanpa melibatkan "ketertarikan seksual".
Menurut Asosiasi Psikologis Amerika, orientasi seksual "juga merujuk pada rasa identitas diri seseorang yang didasarkan pada ketertarikan tersebut, perilaku-perilaku yang terkait dengannya, serta keanggotaan dalam suatu komunitas bersama dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan serupa".[10][11]Androfilia dan ginefilia adalah istilah yang digunakan dalam ilmu perilaku untuk menggambarkan orientasi seksual sebagai alternatif dari konseptualisasi gender biner. Androfilia menggambarkan ketertarikan seksual terhadap maskulinitas; sedangkan ginefilia mernggambarkan ketertarikan seksual terhadap femininitas.[12] Istilah "preferensi seksual" sebagian besar beririsan dengan orientasi seksual, akan tetapi kedua hal tersebut umumnya dapat dibedakan dalam penelitianpsikologi.[13] Individu yang mengidentifikasi diri mereka sebagai biseksual bisa saja lebih memilih untuk berpasangan dengan salah satu jenis kelamin dibandingkan dengan jenis kelamin lain.
Preferensi seksual umumnya juga menunjukan pilihan secara sukarela pada derajat tertentu,[13][14][15] sedangkan orientasi seksual bukan merupakan pilihan.[16][17][18] Namun, ini membuat pertentangan serta tumpang tindih dengan teori fluiditas seksual (oleh Lisa M. Diamond), dimana bisa terjadinya satu atau lebih perubahan dalam seksualitas atau identitas seksual (kadang-kadang dikenal sebagai identitas orientasi seksual). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa beberapa orang mungkin mengalami perubahan dalam orientasi seksual mereka, dan ini lebih mungkin terjadi pada wanita daripada pria.[19] Ini berarti ketertarikan seksual seseorang tidak selalu tetap dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perubahan internal seperti perkembangan emosional dan psikologis. Fluiditas seksual menekankan bahwa orientasi seksual tidak selalu bersifat tetap atau biner, tetapi dapat lebih dinamis dan fleksibel. Perkembangan psikologis atau mental juga memainkan peran penting dalam fluditas identitas orientasi seksual.[20]
Meski belum ada satu teori pun mengenai penyebab orientasi seksual yang mendapat dukungan luas, para ilmuwan lebih tertarik pada teori-teori biologis.[21][16][22] Terdapat lebih banyak bukti yang mendukung penyebab-penyebab biologis dan non-sosial dari orientasi seksual, dibandingkan dengan penyebab sosial, khususnya pada laki-laki.[21][23][24] Hipotesis utama yang banyak didukung ialah hipotesis yang melibatkan lingkungan pranatal, terkhususnya efek organisasional hormon-hormon pada otak janin.[21][22] Tidak ada bukti substantif yang menunjukan bahwa pola asuh ataupun pengalaman masa kecil berperan dalam perkembangan orientasi seksual.[21][25] Para ilmuwan percaya bahwa itu disebabkan oleh interaksi kompleks dari pengaruh genetik, hormonal.[16][26][27] Namun, bukti ilmiah terbaru menjawab hipotesis genetik sejak awal 1990. Pada penelitian dengan 500.000 individu atau 100 kali lebih besar dari penelitian genetik sebelumnya, faktor genetik dan kromosom sebagai penyebab tunggal terbantahkan.[28][29]
Penelitian beberapa dekade menunjukkan bahwa orientasi seksual seseorang dapat berada dalam suatu kontinum.[30] Ujung satu spektrumnya adalah ketertarikan eksklusif pada lawan jenis, serta ujung spektrum lain adalah ketertarikan eksklusif pada sesama jenis. Orientasi seksual suatu individu dapat berada di titik manapun dalam spektrum tersebut.[30][31] Namun, dalam perkembangan penelitian terbaru konsep kontinum ini lemah, terlalu sederhana, dan terbantahkan.[32][29]
Pada perilaku identitas seksual homoseksualitas, perkembangan penelitian menemukan hubungan psikopatologi dengan orientasi non-hetero atau atraktif eksklusif untuk jenis kelamin yang sama (berbenturan anatomis), menunjukan berisiko memiliki gangguan masalah kejiwaan pengendalian impuls saraf otak khususnya bagian seksual.[34] Penelitian lain menunjukkan bahwa orientasi non-hetero merupakan populasi yang berisiko tinggi untuk infeksi Hepatitis A.[35] Perilaku gangguan perilaku seksual kompulsif telah diidentifikasi sebagai korelasi risiko seksual di antara homoseksual dan biseksual ke HIV/AIDS.[36] Di Amerika, homoseksual atau non-hetero juga merupakan angka pengidap HIV/AIDS paling paling tinggi,[37][38] dengan jumlah lebih tinggi 2 sampai 3 kali lipat angka penularan heteroseksual[37][38] atau 70%.[39]
Diagnosis
Diagnosis dikenal sebagai homoseksual yang disalahartikan sebagai adanya respons fisiologis homoseksualitas, bernama HOCD.[40] Orang yang diketahui tidak ingin menjadi homoseksual atau menyadari sesuatu hal buruk tentang homoseksualnya,[41] hingga rasa bersalah.[42][43] Ada beberapa data yang menjelaskan "tidak sesuai dengan yang diinginkan individu tersebut",[44] serta data lain juga mengatakan yang sudah menjadi homoseksual merasa "tidak nyaman".[45]
Awal istilah
Istilah orientasi seksual di perkenalan oleh John Money, salah satu ilmuwan pertama yang mempelajari pengalaman psikologis dari kebingungan seksual. Dikenal juga sebagai pedofilia dan Pro-pedofilia sebagai orientasi seksual, dan eksperimen sunat penuh anak terhadap pengembangan gender yang kemudian bunuh diri pada umur 38 tahun akibat trauma perlakuannya.[46]
12"Definitions Related to Sexual Orientation and Gender Diversity in APA Documents"(PDF). American Psychological Association. 2015. hlm.6. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal January 22, 2021. Diakses tanggal February 6, 2020. Sexual orientation refers to the sex of those to whom one is sexually and romantically attracted. [...] [It is] one's enduring sexual attraction to male partners, female partners, or both. Sexual orientation may be heterosexual, same-sex (gay or lesbian), or bisexual. [...] A person may be attracted to men, women, both, neither, or to people who are genderqueer, androgynous, or have other gender identities. Individuals may identify as lesbian, gay, heterosexual, bisexual, queer, pansexual, or asexual, among others. [...] Categories of sexual orientation typically have included attraction to members of one's own sex (gay men or lesbians), attraction to members of the other sex (heterosexuals), and attraction to members of both sexes (bisexuals). While these categories continue to be widely used, research has suggested that sexual orientation does not always appear in such definable categories and instead occurs on a continuum [...]. Some people identify as pansexual or queer in terms of their sexual orientation, which means they define their sexual orientation outside of the gender binary of 'male' and 'female' only.
↑Lamanna, Mary Ann; Riedmann, Agnes; Stewart, Susan D (2014). Marriages, Families, and Relationships: Making Choices in a Diverse Society. Cengage Learning. hlm.82. ISBN978-1-305-17689-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 30, 2016. Diakses tanggal February 11, 2016. The reason some individuals develop a gay sexual identity has not been definitively established – nor do we yet understand the development of heterosexuality. The American Psychological Association (APA) takes the position that a variety of factors impact a person's sexuality. The most recent literature from the APA says that sexual orientation is not a choice that can be changed at will, and that sexual orientation is most likely the result of a complex interaction of environmental, cognitive and biological factors...is shaped at an early age...[and evidence suggests] biological, including genetic or inborn hormonal factors, play a significant role in a person's sexuality (American Psychological Association 2010).
Bailey, J. Michael; Vasey, Paul; Diamond, Lisa; Breedlove, S. Marc; Vilain, Eric; Epprecht, Marc (2016). "Sexual Orientation, Controversy, and Science". Psychological Science in the Public Interest. 17 (2): 45–101. doi:10.1177/1529100616637616. PMID27113562. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-12-02. Diakses tanggal 2022-07-19. Sexual fluidity is situation-dependent flexibility in a person's sexual responsiveness, which makes it possible for some individuals to experience desires for either men or women under certain circumstances regardless of their overall sexual orientation.... We expect that in all cultures the vast majority of individuals are sexually predisposed exclusively to the other sex (i.e., heterosexual) and that only a minority of individuals are sexually predisposed (whether exclusively or non-exclusively) to the same sex.
Seth J. Schwartz; Koen Luyckx; Vivian L. Vignoles (2011). Handbook of Identity Theory and Research. Springer Science & Business Media. hlm.652. ISBN978-1441979889. Diakses tanggal February 18, 2016. Modern scholarship examining the stability of sexual orientation also seems to support our conceptualizations of sexual orientation, sexual orientation identity, and sexual identity (e.g., Diamond, 2003a; Horowitz & Necomb, 2001; Rosario, Schrimshaw, Hunter, & Braun, 2006, see Savin-Williams, Chapter 28, this volume). Specifically, some dimensions of sexual identity, such as relationships, emotions, behaviors, values, group affiliation, and norms, appear to be relatively fluid; by contrast, sexual orientation [i.e., an individual's patterns of sexual, romantic, and affectional arousal and desire for other persons based on those persons' gender and sex characteristics (APA Task Force on Appropriate Therapeutic Responses to Sexual orientation, 2009)] has been suggested to be stable for a majority of people across the lifespan (Bell, Weinberg, & Hammersmith, 1981; Ellis & Ames, 1987; Haldeman, 1991; Money, 1987).
Dennis Coon; John O. Mitterer (2012). Introduction to Psychology: Gateways to Mind and Behavior with Concept Maps and Reviews. Cengage Learning. hlm.372. ISBN978-1111833633. Diakses tanggal February 18, 2016. Sexual orientation is a deep part of personal identity and is usually quite stable. Starting with their earliest erotic feelings, most people remember being attracted to either the opposite sex or the same sex. [...] The fact that sexual orientation is usually quite stable doesn't rule out the possibility that for some people sexual behavior may change during the course of a lifetime.
American Psychological Association (2012). "Guidelines for Psychological Practice With Lesbian, Gay, and Bisexual Clients"(PDF). American Psychologist. 67 (1): 10–42. doi:10.1037/a0024659. PMID21875169. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2019-06-16. Diakses tanggal June 23, 2019. [S]ome research indicates that sexual orientation is fluid for some people; this may be especially true for women (e.g., Diamond, 2007; Golden, 1987; Peplau & Garnets, 2000). [...] Therapeutic efforts to change sexual orientation have increased and become more visible in recent years (Beckstead & Morrow, 2004). Therapeutic interventions intended to change, modify, or manage unwanted nonheterosexual orientations are referred to as "sexual orientation change efforts" (SOCE; APA, 2009b). [...] Reviews of the literature, spanning several decades, have consistently found that efforts to change sexual orientation were ineffective (APA, 2009b; Drescher, 2001; Haldeman, 1994; T. F. Murphy, 1992).
Eric Anderson; Mark McCormack (2016). "Measuring and Surveying Bisexuality". The Changing Dynamics of Bisexual Men's Lives. Springer Science & Business Media. hlm.47. ISBN978-3-319-29412-4. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-22. Diakses tanggal June 22, 2019. [R]esearch suggests that women's sexual orientation is slightly more likely to change than men's (Baumeister 2000; Kinnish et al. 2005). The notion that sexual orientation can change over time is known as sexual fluidity. Even if sexual fluidity exists for some women, it does not mean that the majority of women will change sexual orientations as they age – rather, sexuality is stable over time for the majority of people.
↑Savin-Williams, R.C.; Joyner, K.; Rieger, G. (2012). "Prevalence and stability of self-reported sexual orientation identity during young adulthood". Archives of Sexual Behavior. 41 (1): 1–8. doi:10.1007/s10508-012-9913-y. PMID22302504. S2CID43225099.
↑Mary Ann Lamanna; Agnes Riedmann; Susan D Stewart (2014). Marriages, Families, and Relationships: Making Choices in a Diverse Society. Cengage Learning. hlm.82. ISBN978-1305176898. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-03. Diakses tanggal February 11, 2016. The reason some individuals develop a gay sexual identity has not been definitively established – nor do we yet understand the development of heterosexuality. The American Psychological Association (APA) takes the position that a variety of factors impact a person's sexuality. The most recent literature from the APA says that sexual orientation is not a choice that can be changed at will, and that sexual orientation is most likely the result of a complex interaction of environmental, cognitive and biological factors...is shaped at an early age...[and evidence suggests] biological, including genetic or inborn hormonal factors, play a significant role in a person's sexuality (American Psychological Association 2010).
↑Gail Wiscarz Stuart (2014). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. Elsevier Health Sciences. hlm.502. ISBN978-0323294126. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-03. Diakses tanggal February 11, 2016. No conclusive evidence supports any one specific cause of homosexuality; however, most researchers agree that biological and social factors influence the development of sexual orientation.
↑Bőthe, Beáta; Bartók, Réka; Tóth-Király, István; C. Reid, Rory; D. Griffiths, Mark (2018). "Hypersexuality, Gender, and Sexual Orientation: A Large-Scale Psychometric Survey Study". Archives of Sexual Behavior. 47 (8): 2265–2276. doi:10.1007/s10508-018-1201-z.
↑Àngel, Gasch-Gallén; Ibáñez-Tomás, Eduardo (2021). "sexual practices and the risk of Hepatitis A in men who have sex with men in Spain. Journal of Nursing Management". Journal of Nursing Management. 29 (1): 32–42. doi:10.1111/jonm.13179.
↑June 02, Content Source: HIV govDate last updated:; 2021 (2021-06-02). "U.S. Statistics". HIV.gov (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-08-30.Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)