Orang Jawa Merauke (dikenal dengan nama akronimJamer) adalah kelompok etnisJawa yang mendiami Kabupaten Merauke dan wilayah sekitarnya. Suku Jawa sendiri merupakan kelompok etnis terbesar kedua di Kabupaten Merauke dengan jumlah sekitar 45.000 jiwa pada tahun 2018.[1]
Sejarah
Kedatangan pertama orang Jawa di Merauke tercatat pada tahun 1893, mengikuti program transmigrasi yang diprakarsai pemerintah kolonial Belanda. Di mana mereka didatangkan untuk mengisi lahan kosong yang luas dan membuka lahan pertanian. Sampai dengan tahun 2018, terdapat 59 unit permukiman Jawa dengan rata-rata 500 KK per wilayah, dengan jumlah orang Jawa di Merauke sebanyak 45.000 jiwa dan merupakan populasi migran terbesar.[1] Di sisi lain, jumlah transmigran atau pendatang, khususnya suku Jawa, meningkat dari 4% pada tahun 1970-an menjadi 41% pada tahun 2005; sementara jumlah penduduk asli Papua pada periode yang sama menurun drastis.[2]
Menurut peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, awal kedatangan orang Jawa di Merauke dimulai pada tahun 1889, pemerintah kolonial Inggris di Port Moresby, ibu kota Papua Nugini, sangat terganggu karena wilayahnya sering diserang oleh suku Marind dari Merauke. Inggris kemudian meminta bantuan Belanda untuk menjaga wilayah perbatasannya. Belanda kemudian mendirikan pos militer di Merauke pada tanggal 14 Februari 1902 untuk mencegah serangan suku Marind-anim ke wilayah tetangga Nugini Inggris dan Kepulauan Selat Torres barat laut (Boigu, Dauan, dan Saibai). Pada saat itu, tentara Belanda dan pegawai pemerintah yang ditempatkan di Merauke sering kekurangan pasokan makanan.[3]
Tentara dan pegawai pemerintah kolonial Belanda sangat bergantung pada pengiriman beras dari Jawa, yang jadwal kedatangannya tidak pasti. Sementara itu, Merauke memiliki hamparan tanah yang luas dan air yang melimpah dari Sungai Maro. Hal ini mendorong pemerintah kolonial Belanda untuk mempertimbangkan pengembangan persawahan di Merauke. Kemudian, pada tahun 1905, program transmigrasi oleh pemerintah kolonial Belanda dimulai. Mereka menerapkan kolonisasi dan mengubah Merauke menjadi lumbung padi untuk wilayah timur Hindia Belanda. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda membangun sawah seluas 1.000 hektar dengan mendatangkan petani dari Jawa. Selain itu, mereka juga didatangkan sebagai asisten rumah tangga, pengawas, dan staf pemerintah.[2] Kemudian pada tahun 1908, orang Jawa didatangkan bersama dengan orang Timor.[4] Program transmigrasi berlanjut hingga tahun 1910. Para transmigran dari Jawa ditempatkan di Kuprik, Spadem, dan Mopah Lama.[3]
Para transmigran Jawa ini kemudian memiliki anak dan keturunan yang lahir dan besar di Merauke. Keturunan masyarakat etnis Jawa tersebut dikenal sebagai orang Jawa Merauke (Jamer). Sementara masyarakat keturunan Jawa di Suriname dan Kaledonia Baru setidaknya masih fasih berbahasa Jawa, masyarakat Jawa Merauke sebagian besar tidak dapat berbicara bahasa Jawa,[5] melainkan menggunakan bahasa Indonesia.[3] Sebagian dari mereka berbaur dengan masyarakat setempat dan masyarakat transmigran lainnya dengan menggunakan ragam bahasa kreol Melayu setempat, yang disebut bahasa Melayu Papua.[6]
Budaya dan gaya hidup
Meskipun mereka tidak lagi mempraktikkan budaya dan bahasa Jawa seperti di tempat asalnya, mereka masih menggunakan nama-nama Jawa. Namun, sebagian besarnya tetap beragama Islam, seperti di Jawa.[7] Begitu pula dengan kuliner khas Jawa yang mudah ditemukan di Merauke, antara lain dawet, tempe bacem, tempe mendoan, cendol, tape, soto, bakmi, pecel, sego berkat. Selain itu, terdapat pula gethuk telo, cenil, lemet, timus, onde-onde, dan aneka peyek.[3]
Kehadiran orang Jawa di Merauke juga secara signifikan mengubah gaya hidup penduduk asli Merauke, suku Marind, yang awalnya tinggal di pesisir dan aliran sungai, berpindah ke dataran rendah. Mereka yang awalnya hidup dengan berburu, kemudian menjadi petani, karena diajari cara bercocok tanam padi dan palawija oleh transmigran Jawa. Pada tahun 1910, sejumlah penduduk Marind yang diajari oleh transmigran Jawa, mulai membuka sawah dan menanam padi. Pengenalan suku Marind terhadap sistem pertanian modern berlanjut melalui gelombang transmigrasi tahun 1965, hingga tahun 1995. Pada tahun 1985, pemerintah Indonesia merelokasi keluarga-keluarga Marind ke kawasan transmigrasi yang juga ditempati oleh orang Jawa.[8]
Agama
Sebagian besar orang Jawa di Merauke beragama Islam, berbeda dengan penduduk asli Marind yang beragama Kristen. Mereka juga termasuk di antara orang-orang berpengaruh yang membawa penduduk asli Merauke masuk Islam, meskipun keakuratan sejarahnya diragukan.[9] Islam menyebar ke Merauke sekitar tahun 1800-an oleh orang-orang yang datang dari arah barat. Mereka adalah orang Jawa, Timor, Banjar, Makassar, Minangkabau, Kei, Selayar, dan Melayu. Menurut Ketua Dewan Muslim Papua Cabang Merauke, Abdul Awal Gebze, diperkirakan agama Islam masuk ke suku Marind (penduduk asli Merauke) sekitar tahun 1884. Menurut beberapa tokoh Marind, sekitar abad ke-18, delapan orang Muslim datang menggunakan perahu layar ke pantai selatan Papua di kampung-kampung pesisir di Okaba dan berdakwah kepada penduduk setempat.[10]