Khouw Oen Giok Sia (1874 – 1927), atau lebih dikenal sebagai Oen Giok Khouw dan O. G. Khouw, dulu adalah seorang filantropis dan tuan tanah di Hindia Belanda (kini Indonesia).[1] Ia terkenal karena menjadi warga negara Belanda, sehingga meruntuhkan sistem kasta ras di Hindia Belanda.[2] Kini, ia paling diingat berkat mausoleum mewahnya di Petamburan, Jakarta.[3]
Sebagai keturunan dari pejabat Cina, Khouw pun menyandang gelar turunan 'Sia' sejak lahir.[7] Saudaranya, seperti Kapitan Khouw Oen Hoei, dan sejumlah sepupunya, seperti Kapitan Khouw Yauw Kie dan terutama, Khouw Kim An, Mayor Cina terakhir Batavia, kemudian menduduki jabatan yang lebih tinggi dan lebih penting.[5][4] Selama hampir dua abad, keluarga Khouw memberikan pengaruh yang sangat besar di Hindia Belanda melalui tanah dan jabatan mereka.[5][4]
Kehidupan
O. G. Khouw adalah salah satu dari beberapa orang pertama di Hindia Belanda yang mendapat pendidikan Barat.[1] Walaupun besar di Batavia, Khouw kemudian menghabiskan sebagian besar hidupnya di Eropa fin-de-siècle, terutama di antara Swiss dan Prancis Selatan.[1] Ia lalu juga menikahi Lim Sha Nio, tetapi tidak dikaruniai satupun anak.[1]
Tidak seperti saudara dan sepupunya, Khouw hidup sebagai rakyat biasa dan tidak masuk ke birokrasi Hindia Belanda.[1] Ia adalah salah satu pemilik dari Than Kie Bank.[1] Bersama Tan Liok Tiauw dan D. N. van Stralendorff, Khouw juga memiliki Tendjo Ayoe, salah satu kebun teh dan karet terbesar di Sukabumi.[8][9]
Walaupun tidak terlibat di birokrasi Hindia Belanda, Khouw dikenal sebagai pelindung dan donatur dari sejumlah kegiatan amal, baik di Hindia Belanda maupun Eropa.[1] Pada tahun 1901, bersama Phoa Keng Hek dan pemimpin komunitas lain, ia membantu pendirian Tiong Hoa Hwee Koan, sebuah organisasi pendidikan dan kebudayaan Cina. Khouw kemudian menjadi wakil presiden pertama dari organisasi tersebut.[10] (Sepupunya, Mayor Khouw Kim An, kemudian menikahi putri dari Phoa Keng Hek.[4]) Khouw juga memimpin hospitaalfonds 'Jang Seng Ie', yang kemudian tumbuh menjadi Rumah Sakit Husada.[1] Setelah Perang Dunia I pecah, Khouw yang telah tinggal di Eropa, mendonasikan 40.000 gulden kepada Palang Merah Belanda pada tahun 1915.[11][12]
Khouw akhirnya meninggal pada tahun 1927 di Bad Ragaz, Swiss.[1][13] Abunya lalu dikirim dari Eropa ke Indonesia dengan menggunakan kapal SS Prins der Nederlanden.[14][15]
Makamnya, Mausoleum O. G. Khouw di Petamburan, kini menjadi tengara lokal di Jakarta.[16][17] Makam tersebut dibangun dengan gaya Art Deco oleh G. Racina asal Italia, dengan biaya sebesar 500.000 gulden (sekitar US$250.000 saat itu atau US$4,5 juta saat ini).[1][3] Setelah selesai dibangun pada tahun 1932, biaya pembangunan makam tersebut pun menjadi topik hangat di media massa di Hindia Belanda dan Belanda.[18][19] Salah satu komentator mencatat bahwa makam Khouw bahkan lebih mahal daripada makam William Rockefeller di Sleepy Hollow, New York.[1][20]
12345Erkelens, Monique (2013). The decline of the Chinese Council of Batavia: the Loss of Prestige and Authority of the Traditional Elite amongst the Chinese Community from the End of the Nineteenth Century until 1942. Leiden University.
↑"Het Mausoleum der Familie Khouw". Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië. NV Mij tot Expl. van Dagbladen. 12 September 1932. Diakses tanggal 26 July 2017.