Nyimas Endang Geulis atau Nyimas Endang Ayu merupakan istri dari Raden Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana) seorang penguasa Cirebon atau yang dikenal Mbah Kuwu Cirebon putra dari Prabu Siliwangi dengan istrinya Nyi Subang Larang. Menurut Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Nyimas Endang Geulis adalah anak dari Ki Gedeng Danuwarsih. Raden Walangsungsang sempat berguru pada Ki Gedeng Danuwarsih sebelum akhirnya dinikahkan dengan putrinya. Pangeran Cakrabuna menikahi Nyimas Endang Geulis pada tahun 1442 Masehi.[1] Dari pernikahan Raden Walangsungsang dengan Nyimas Endang Geulis, mempunyai anak bernama Nyimas Pakungwati yang kelak di kemudian hari menjadi Istri dari Sunan Gunung Jati.[2] Perkenalan Raden Walangsungsang dengan Endang Geulis terjadi setelah Raden Walangsungsang keluar dari Istana Pajajaran, sang Pangeran meninggalkan istana karena mendapatkan perlakuan buruk dari Ibu dan saudara-saudara tirinya di keraton selepas Ibundanya (Subang Larang) wafat.[1]
Pada awalnya di daerah Cirebon, khususnya daerah pesisir, sudah banyak masyarakat yang beragama Islam. Berawal dari datangnya Raden Walangsungsang bersama adiknya Nyimas Rara Santang untuk berguru agama Islam di daerah Cirebon. Dalam pengembaraannya, Raden Walangsungsang bertemu dengan Ki Gedeng Danuwarsih. Dari pertemuan dengan Ki Gedeng Danuwarsi, Raden Walangsungsang dinikahkan dengan putrinya yang bernama Nyimas Endang Geulis. Dengan pernikahan ini Pangeran Walangsungsang berdiam di Gunung Cangak dan di kemudian hari tempat tinggal Pangeran Walangsungsang dinamakan Cirebon Girang.[2]
Menurut Naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, bahwa setelah beberapa lama berguru kepada Ki Gedeng Danuwarsih, Raden Walangsungsang bersama Nyimas Endang Geulis berguru kepada seorang ulama Islam yang bernama Syekh Nurjati (Syekh Nuruljati atau Syekh Datuk Kahfi) yang memiliki pesantren di Gunung Jati. Singkat cerita, setelah dianggap cukup mumpuni dalam memahami ajaran Islam, Syekh Nurjati memerintahkan Raden Walangsungsang untuk menunaikan haji, akan tetapi karena pada waktu itu Nyimas Endang Geulis sedang mengandung Nyimas Pakungwati, maka Nyimas Endang Geulis tidak diperbolehkan mengikuti suaminya untuk beribadah haji.[1]
Setelah beberapa tahun Raden Walangsungsang bersama adiknya Nyi Mas Rarasantang dan istrinya Nyi Endang Geulis berguru kepada Syekh Dzatul Kahfi di Gunung Jati serta dinyatakan telah memiliki keteguhan iman, mereka di perintahkan membuka hutan yang berada di bagian selatan Gunung Jati untuk dijadikan pedukuhan atau perkampungan. Dengan semangat tinggi dan ketekunannya, Raden Walasungsang beserta adik dan istrinya dapat menyelesaikan dalam beberapa hari saja. Setelah selesai pendukuhan diberi nama Tegal Alang-Alang atau Kebon Pesisir dan Raden Walasungsang dipilih sebagai kepala duku yang di kenal dengan kuwu.[3]