Nama spesiesnya diambil dari nama warga Desa Benteng di Pulau Togean, Burhan, seorang pelestari burung lokal yang paham peri kehidupan burung di Togean dan telah banyak membantu dalam penelitian punggok togian.[2]
Pengenalan
Burung pungguk berukuran kecil-sedang, panjang tubuh (paruh hingga ujung ekor) lk. 20 cm;[4] sayap 183,5 mm, dan ekor 98mm.[2]
Dahi, mahkota, dan punggung berwarna cokelat, dengan coretan-coretan halus pada mahkota, tengkuk, hingga mantel. Alis berwarna terang, putih zaitun agak kecokelatan. Dada dan perut keputihan dengan bercak-bercak kecokelatan. Bulu terbang pada sayap berbintik-bintik besar, belang-belang putih dan cokelat zaitun gelap. Sebuah pola segitiga putih besar terdapat pada bulu-bulu terbang primer. Ekor yang relatif panjang berwarna cokelat keabu-abuan gelap, dengan palang-palang sempit putih zaitun kecokelatan.[2]
Iris kuning jingga. Paruh berwarna krem pucat, dengan pangkal keabu-abuan gelap.[2] Kaki dan jari-jari kuning kusam atau kecokelatan, tanpa bulu-bulu halus tetapi dengan bulu-bulu kaku serupa sikat.[4]:94
Habitat dan perilaku
Punggok togian tercatat dijumpai di hutan dataran rendah dan perbukitan yang terganggu, wanatani campuran, serta rawasagu, dari ketinggian muka laut hingga sekitar 400 m dpl. Meskipun pungguk ini acap terlihat di hutan semak, tetapi habitat ini adalah bagian dari mosaik sisa-sisa tutupan hutan hujan yang selalu hijau di lokasi. Pungguk ini jarang mengunjungi lingkungan kebun dan permukiman.[2]
↑Burung Indonesia & B. van Balen. (2010). Informasi tambahan: "Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan". Bogor: Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia.