Pelukis
Bakat seninya yang pertama kali tumbuh adalah melukis. Hal ini terlihat mulai ketika Nasjah duduk di MULO. Sebagai inspirasi, ia mengambil contoh seorang pelukis jalanan yang sering dilihatnya, Buyet Ketek. Gaya hidup Buyet yang santai, tidak terikat waktu, tidak dipaksa, tetapi "tetap mendapat uang", membuatnya menjadi tertarik melukis.[9] Nasjah kemudian mengikuti sayembara poster propaganda "Asia untuk Asia" dan menang. Kemenangan ini memberikannya sebuah posisi di Sendenbu, badan propaganda imperialis Jepang, sebagai tukang gambar serta pelukis poster dan kami-sibai (gambar bercerita atau komik).[4]
Pada tahun 1945, dalam umurnya 21 tahun, Nasjah turut mendirikan Angkatan Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Medan bersama M. Saleh, M. Kameil, M. Hussein, Daoed Joseoef, Ismail Daulay, dan Tino Sidin. Kelompok ini kemudian mengadakan pameran lukis pertama mereka di Medan, pada bulan September 1945.[9]
Tahun berikutnya, muncul keinginan untuk pergi merantau ke Jawa dan belajar melukis.[10] Keinginan ini terkabul setelah ia bersama Daoed Joesoef dan Sam Suharto berangkat ke Yogyakarta untuk belajar di bawah naungan sanggar Seniman Indonesia Muda (SIM), yang dipimpin oleh Affandi dan S. Sudjojono. Di SIM, ia belajar bersama dengan pelukis ternama lain, seperti Nashar dan Trubus Soedarsono. Pada tahun 1947, di bawah patronase Affandi, Nasjah dibawa ke rumah Soedarso, pelukis dari sanggar Seniman Masyarakat, sebuah sanggar yang juga dipimpin Affandi. Di rumah itu ia lebih banyak tinggal dan juga belajar melukis.[9]
Setelah 1947, ia pergi ke Jakarta setelah mengikuti long march ke Jawa Barat. Nasjah kemudian turut mendirikan Gabungan Pelukis Indonesia. Ia juga sempat bekerja sebagai ilustrator buku di Balai Pustaka selama 1949-1950, dan di sana Nasjah Djamin bertemu dengan sastrawan Chairil Anwar.[9] Pertemuannya dengan Chairil Anwar yang kemudian menarik dirinya untuk ikut terjun ke dalam dunia tulis.
Menurut jurnalis independen Silvia Galikano, lukisan Nasjah merepresentasikan seni rupa modern pada zamannya.[4] Kurator Suwarno Wisetrotomo, yang memimpin pameran "Retrospeksi Nasjah Djamin" di Galeri Nasional tahun 2017, mengatakan bahwa ciri utama karya Nasjah adalah sunyi dan secara sederhana, tema lukisan Nasjah dapat dibagi menjadi dua tema utama. Kedua tema tersebut adalah tema potret dan tema lanskap (landscape). Lukisan potret Nasjah sebagian besar merekam subjek tunggal, meskipun ada pula potret kerumunan. Salah satu lukisan potret Nasjah yang dikenal baik adalah Lestari Fardani (1958), yang dikoleksi Presiden Soekarno dengan catatan: "dikoleksi Presiden Sukarno pada 1960, seharga R p6.000".[11]
Lebih lanjut, menurut Suwarno, lukisan Nasjah yang bertema lanskap juga memiliki perbedaan dengan lukisan pelukis lain tema sama yang sezaman. Perbedaan tersebut terletak pada metode dan pendekatan. Pelukis lain cenderung hanya memotret sepotong pemandangan untuk dipindahkan ke kanvas atau kertas. Di sisi lain, Nasjah hampir selalu memasukkan sosok perempuan dalam citra gerak dalam suasana bekerja. Para perempuan digambarkan sedang memanen padi, menambang pasir atau batu, atau berarakan ke pasar. Mereka selalu bertumpuk gendongan.[11]
Pengarang
Karier kepengarangan Nasjah bermula ketika ia bekerja di Balai Pustaka (1949-1950), dengan puisinya yang berjudul "Pengungsi". Puisi ini terbit dalam buku berjudul Gema Tanah Air, sebuah kumpulan prosa dan puisi yang diterbitkan oleh H.B. Jassin.[9] Pada tahun 1952 terbitlah dua buku bergambar baru karangannya, berjudul Si Pai Tunggal dan Hang Tuah, keduanya diterbitkan Balai Pustaka.[1]
Selepas dari kariernya di Balai Pustaka di Jakarta, Nasjah kemudian bekerja di Kantor Bagian Kesenian, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Selain bekerja di Departemen P&K, Nasjah juga menjadi anggota redaktur di majalah Budaya yang pada itu merupakan majalah kebudayaan umum satu-satunya di Yogyakarta, selain Basis. Sebagian besar karya awalnya dimuat di majalah Minggu Pagi.[1]
Selain buku, Nasjah juga menerbitkan naskah drama. Antara lain, ia mengeluarkan naskah drama berjudul Titik-titik Hitam, Sekelumit Nyanyian Sunda, serta Jembatan Gondolayu. Naskah Sekelumit Nyanyian Sunda memenangkan juara II sebuah sayembara naskah drama yang dikeluarkan Departemen P&K.[12]
Ia sempat tinggal di Tokyo, Jepang, dari 1961 hingga 1963, untuk belajar tentang seni, latar belakang teater, televisi, dan film. Kariernya di Tokyo ini terbukti penting karena pada tahun 1968, ia menulis Gairah untuk Hidup dan untuk Mati, sebuah melodrama tragis yang pada awalnya terbit bersambung di Minggu Pagi. Buku runtutnya, yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya, mendapatkan anugerah seni dari pemerintah Republik Indonesia dua tahun kemudian.
Ajip Rosidi menggolongkannya sebagai sastrawan periode 1953-1961.[13]