Latar belakang
Menurut kitab Purana, pada menjelang akhir zaman Satyayuga (zaman kebenaran), seorang raja asura (raksasa) yang bernama Hiranyakasipu membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan Dewa Wisnu, dan dia tidak senang apabila di kerajaannya ada orang yang memuja Wisnu. Sebab, adiknya yang bernama Hiranyaksa dibunuh oleh Waraha, awatara (penjelmaan) Wisnu.
Agar menjadi sakti, dia melakukan tapa yang sangat berat, dan hanya memusatkan pikirannya pada Dewa Brahma. Setelah Brahma berkenan untuk muncul dan menanyakan permohonannya, Hiranyakasipu meminta agar dia diberi kehidupan abadi, lepas dari ancaman kematian. Namun Brahma menolak, dan menyuruhnya untuk meminta permohonan lain. Akhirnya Hiranyakashipu meminta agar dia tidak bisa dibunuh oleh manusia, hewan ataupun dewa; tidak bisa dibunuh pada saat pagi, siang ataupun malam; tidak bisa dibunuh di darat, air, api, ataupun udara; tidak bisa dibunuh di dalam ataupun di luar rumah; dan tidak bisa dibunuh oleh segala macam senjata. Mendengar permohonan tersebut, Brahma mengabulkannya.[7]
Sementara ia meninggalkan rumahnya untuk memohon berkah, para dewa―yang dipimpin oleh Dewa Indra―menyerbu rumahnya. Seorang resi pengelana bernama Narada ikut serta pada kesempatan tersebut untuk menyelamatkan istri Hiranyakasipu yang sedang hamil, bernama Kayadu (Lilawati). Narada meramalkan bahwa anak yang dilahirkan Kayadu akan menjadi orang saleh. Kayadu pun tinggal bersama Narada untuk beberapa lama, sampai anaknya lahir dan diberi nama Prahlada. Anak itu dididik oleh Narada untuk menjadi anak yang budiman, mengajarinya untuk memuja Wisnu, dan menjauhkan diri dari sifat-sifat keraksasaan ayahnya.
Kemunculan Narasinga
Mengetahui para dewa melindungi istrinya, Hiranyakasipu menjadi sangat marah. Ia semakin membenci Wisnu, dan anaknya sendiri, Prahlada yang kini menjadi pemuja Wisnu. Namun, dia gagal setiap kali berusaha membunuh Prahlada, karena putranya memperoleh perlindungan dari Wisnu. Namun dia tidak mampu menyaksikan Wisnu yang melindungi Prahlada secara langsung.
Prahlada menyatakan bahwa Wisnu hadir di mana pun. Mendengar pernyataan itu, ayahnya sangat marah, mengamuk dan menghancurkan pilar rumahnya. Pada saat itulah Wisnu sebagai Narasinga muncul dari pilar yang dihancurkan Hiranyakasipu. Narasinga datang untuk menyelamatkan Prahlada sekaligus membunuh Hiranyakasipu. Namun―atas anugerah dari Brahma―Hiranyakasipu tidak bisa mati apabila tidak dibunuh pada waktu, tempat dan kondisi yang tepat.[7]
Narasinga membunuh Hiranyakasipu dengan cara merobek-robek perutnya. Anugerah Brahma tidak berlaku karena Hiranyakasipu dibunuh bukan oleh manusia, binatang, atau dewa. Dia dibunuh bukan pada saat pagi, siang, atau malam, tetapi senja hari. Dia dibunuh bukan di luar atau di dalam rumah, melainkan di ambang pintu. Dia dibunuh bukan di darat, air, api, atau udara, tetapi di pangkuan Narasinga. Dia dibunuh bukan dengan senjata, melainkan dengan kuku.[3][9]