Di tengah-tengah kota Nanga Pinoh terdapat tugu juang atau lebih dikenal oleh warga Melawi dengan sebutan Tugu Apang Semangai, tepatnya di perempatan lampu merah. Selain itu di tengah kota juga dapat ditemui Taman Makam Pahlawan.[butuh rujukan]
Kota Nanga Pinoh terletak di antara dua sungai, yaitu sungai Melawi dan sungai Pinoh. Di taman kota ke arah area pemerintahan juga terdapat tugu yang biasa masyarakat menyebutnya "Tugu Naruto". Di Nanga Pinoh terdapat sebuah lapangan yang menyediakan wisata kuliner pada malam hari, letaknya tepat di tengah kota.[butuh rujukan]
Penduduk Nanga Pinoh memiliki beragam latar belakang suku dan agama. Suku Dayak, Melayu, Tionghoa, merupakan golongan suku yang umumnya ada di kecamatan Nanga Pinoh. Selain itu, suku Jawa, Banjar, Suku Bugis, Batak, Minahasa, dan suku lainnya juga ada di kecamatan ini.[5]
Sementara berdasarkan agama yang dianut, mayoritas penduduk Nanga Pinoh menganut agama Islam. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri 2021, penduduk Nanga Pinoh yang menganut agama Islam sebanyak 67,85%. Kemudian pemeluk agama Kristen sebanyak 29,96% di mana Katolik 15,06% dan Protestan 14,90%. Sebagian lagi memeluk agama Buddha sebanyak 1,76%, Konghucu 0,41%, dan Hindu 0,02%.[5] Rumah ibadah yang ada di kecamatan ini yakni 55 masjid, 93 mushola, 25 gereja Protestan, 6 gereja Katolik dan 1 vihara.[3]
Transportasi
Jarak dari Nanga Pinoh dengan ibu kota propinsi Pontianak adalah sembilan jam lewat jalan darat. Melalui terminal Sidomulyo, penumpang bisa menggunakan bis. Namun dengan perkembangan zaman, Nanga Pinoh membuka lapangan terbangnya kembali pada tahun 2011 dengan pesawat Susi Air, namun jadwal terbangnya tidak menentu dan akhirnya ditutup kembali. Penerbangan dapat di tempuh dari Sintang ke Pontianak dengan pesawat Garuda atau NAM Air.[butuh rujukan]