Museum seniMuseum Louvre di Paris, Prancis, merupakan salah satu museum terbesar di dunia.Galeri Seni Nasional, Washington DC.
Museum seni, museum kesenian, atau galeri seni adalah sebuah bangunan atau ruang kosong yang ditujukan untuk pameran karya seni, yang pada umumnya merupakan karya seni rupa. Museum seni dapat berupa publik atau privat, yang membedakan adalah kepemilikan benda koleksinya. Lukisan merupakan benda seni yang umum dipajang; tetapi, patung, seni dekoratif, furnitur, tekstil, kostum, gambar, pastel, cat air, kolase, seni grafis, buku seniman, foto, dan seni instalasi juga merupakan pameran yang umum terjadi.[1] Walaupun dipergunakan sebagai tempat pameran karya seni, galeri seni juga terkadang dipergunakan untuk menyelenggarakan kegiatan seni lainnya, seperti seni pertunjukkan, konser musik, atau pembacaan puisi.
Terminologi
Lembaga yang didedikasikan untuk mengoleksi, melestarikan, dan memamerkan karya seni dapat disebut sebagai museum seni (art museum) atau galeri seni (art gallery).[2][3][4] Kedua istilah tersebut sering digunakan secara bergantian, meskipun dalam praktiknya maknanya dapat berbeda menurut konteks dan tradisi kelembagaan masing-masing negara.
Hal ini tercermin pada penamaan berbagai institusi seni di dunia. Beberapa lembaga yang secara umum dikategorikan sebagai galeri seni menggunakan istilah gallery dalam namanya, seperti National Gallery di London dan Neue Nationalgalerie di Berlin. Sebaliknya, sejumlah institusi yang dikenal sebagai museum seni menggunakan istilah museum, seperti Metropolitan Museum of Art, Museum of Modern Art di New York City, serta National Museum of Western Art di Tokyo.
Istilah galeri seni juga kerap digunakan untuk merujuk pada badan usaha atau ruang komersial yang memamerkan karya seni untuk dijual. Namun, galeri semacam ini umumnya tidak dikategorikan sebagai museum seni karena tujuan utamanya adalah kegiatan perdagangan karya seni, bukan pelestarian, penelitian, dan edukasi publik.[3]
Di Indonesia, penggunaan galeri lebih dikaitkan terhadap galeri seni milik privat, sedangkan galeri milik umum atau milik nasional hanya terdapat satu, yaitu Galeri Nasional Indonesia.[5] Pada umumnya penggunaan kata galeri lebih mengacu kepada galeri seni privat, sendangkan galeri milik umum disebut pula dengan nama museum seni.
Pada museum sering kali terdapat ruangan di mana benda seni dipamerkan kepada publik, dan ruangan ini sering disebut sebagai galeri. Sebagai contoh, ruangan yang didedikasikan untuk Mesir Kuno sering disebut sebagai Galeri Mesir Kuno.
Galeri seni kontemporer
Istilah galeri seni kontemporer biasanya mengacu kepada galeri milik privat. Galeri-galeri ini sering kali ditemukan berada pada lokasi yag berdekatan pada pusat kota besar. Kota yang lebih kecil biasanya memiliki setidaknya satu galeri.
Galeri seni kontemporer biasanya terbuka untuk umum tanpa dikenakan biaya; namun, beberapa diantaranya merupakan semi-privat. Mereka biasanya mengambil keuntungan dengan cara mengambil bagian dari keuntungan penjualan benda seni; dari 25% hingga 50%.
Sejarah
Koleksi seni pribadi
Sepanjang sejarah, karya seni berukuran besar dan bernilai tinggi biasanya dibuat atas pesanan lembaga keagamaan atau para penguasa politik, bukan untuk dipamerkan secara umum seperti saat ini. Patronasi ini memengaruhi bentuk, gaya, dan fungsi karya seni, karena karya tersebut sering kali dirancang untuk menunjukkan legitimasi kekuasaan,[6] menegaskan otoritas spiritual,[7] atau status sosial.[8][9][10] Karya-karya tersebut kemudian ditempatkan di tempat-tempat penting seperti kuil,[11] gereja, katedral,[12] dan istana.[13]
Meskipun koleksi seni tersebut tidak terbuka untuk umum, pada praktiknya sering kali sebagian masyarakat tetap dapat melihatnya.[14][15] Pada masa klasik, lembaga keagamaan mulai berfungsi sebagai bentuk awal galeri seni, karena di tempat-tempat seperti kuil, karya seni dan benda berharga kerap disimpan sekaligus dipamerkan.[16] Para kolektor kaya Romawi, misalnya Julius Caesar, juga sering menyumbangkan koleksi batu permata berukir dan benda-benda berharga lainnya ke kuil-kuil. Namun, sejauh mana masyarakat umum benar-benar dapat mengakses atau melihat benda-benda tersebut dalam praktik sehari-hari masih belum sepenuhnya jelas.[17][18]
Koleksi seni di Istana Versailles di Prancis yang secara berkala terbuka untuk dinikmati oleh kaum publik 'terkemuka'.
Di Eropa, sejak akhir Abad Pertengahan, sejumlah ruangan di istana kerajaan, kastel, dan rumah-rumah pedesaan milik kalangan elit sosial mulai dibuka secara terbatas bagi kelompok masyarakat tertentu. Ruang-ruang tersebut sering digunakan untuk menyimpan dan memamerkan berbagai koleksi seni, sehingga memungkinkan pengunjung yang memperoleh akses untuk melihat karya-karya tersebut.[19] Pada Istana Versailles, yang boleh memasuki istana tersebut adalah orang yang menggunakan busana yang layak, yaitu menggunakan aksesori seperti pengikat sepatu dan pedang yang dapat disewa pada toko yang ada di luar istana. Bagian bendahara dari katedral dan gereja yag besar, atau bagian dari mereka, sering membuka pertunjukkan untuk masyarakat umum.
Persiapan khusus terkadang dibuat untuk dapat mengakomodasi publik agar dapat menikmati banyak karya seni milik keluarga kerajaan atau bangsawan di galeri. Grand Tour abad ke-18 mengubah seni klasik dan Renaisans Italia menjadi industri budaya utama.[20] Untuk mengakomodasi para pelancong bangsawan Eropa utara, kota-kota di Italia beradaptasi dengan menciptakan buku panduan modern, mendirikan situs penggalian awal, dan secara resmi membuka koleksi pribadi bangsawan untuk umum.[21][22][23] Museum Capitolini dibangun pada tahun 1471.[24] Koleksi awal dari Museum Capitolini berasal dari sumbangan empat patung zaman Romawi Kuno dari kediaman Paus Sistus IV di Istana Lateran. Patung-patung ini dipindahkan ke lokasi Museum Capitolini di Bukit Capitolino.[25] Sedangkan Museum Vatikan yang koleksinya merupakan milik Paus, memulai museum mereka pada tahun 1506 ketika Laocoön and His Sons dipajang untuk umum.
Galeri seni publik
British Museum, dibangun pada tahun 1753 di Montagu House sebagai salah satu koleksi nasional yag pertama dibuka untuk umum.
Pada akhir pertengahan abad ke 18, banyak koleksi seni pribadi dinasionalisasi dan dibuka untuk umum.
Pada 1753, British Museum dibangun dan koleksi manuskrip dan benda seni dari Old Royal Library didonasikan untuk dinikmati masyarakat umum. Pada tahun 1777, sebuah proposal yang dikemukakan oleh Menteri John Wilkes kepada Pemerintah Inggris untuk membeli koleksi seni milik Sir Robert Walpole dan membuat museum ini menjadi salah satu pemilik koleksi terhebat di Eropa. Setelah banyak perdebatan, ide ini akhirnya ditinggalkan karena membutuhkan banyak biaya, dan dua puluh tahun kemudian, koleksi ini dibeli oleh Tsarina Yekaterina II dari Rusia dari Kekaisaran Rusia dan menyimpannya di Hermitage Museum di St Petersburg.[26]
↑Dodd, Gwilym, ed. (2025). Representations. Cambridge Companions to History. Cambridge: Cambridge University Press. hlm.321–398. ISBN978-1-009-38204-5.
↑Collections, Arts & (2013-04-18). "The Grand Tour Of The 18th Century". Arts & Collections (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-05-30.