Di Greenland, muktuk (disebut mattak) dijual secara komersial ke pabrik pengolahan ikan,[12] dan di Kanada (disebut muktaaq) ke komunitas lainnya.[13]
Dalam salah satu catatan perburuan paus masyarakat adat abad ke-21, kulit dan lemak paus dikonsumsi sebagai camilan sementara sisa daging paus dipotong untuk dikonsumsi kemudian. Ketika direbus, camilan ini dikenal sebagai unaaliq.[14] Baik mentah maupun dimasak, lemak dan kulit disajikan dengan saus HP,[14][15][16][17][18] saus asal Inggris, atau kecap.[19]
Nutrisi
Muktuk merupakan sumber vitamin C yang baik, dengan epidermis mengandung hingga 38mg per 100 gram.[20][21] Makanan ini digunakan sebagai antiskorbut oleh penjelajah Arktik Inggris.[22] Lemak paus juga merupakan sumber vitamin D.[23]
Dalam publikasi Proceedings of the Nutrition Society pada tahun 1950-an dinyatakan bahwa:
“Bahan makanan terpenting bagi Eskimo Kutub adalah narwhal (Monodon monoceros). [...] Kulitnya (mattak) sangat disukai dan rasanya seperti kacang hazel; dikonsumsi mentah dan mengandung jumlah glikogen serta asam askorbat yang cukup besar. Paus putih (Delphinapterus leucas) hampir sama pentingnya [...]”[24]
Namun, kontaminan dari dunia industri telah memasuki rantai makanan laut Arktik, menimbulkan risiko kesehatan bagi mereka yang mengonsumsi makanan tradisional Inuit.[25] Saat paus tumbuh, merkuri menumpuk di hati, ginjal, otot, dan lemak, sedangkan kadmium terkonsentrasi di lemak,[26] serupa dengan proses akumulasi merkuri pada ikan yang menjadi masalah kesehatan bagi manusia. Daging paus juga dapat mengakumulasi karsinogen seperti PCB, senyawa kimia yang merusak sistem saraf, kekebalan, dan reproduksi manusia,[27][28] serta berbagai kontaminan lain.[29]
Konsumsi muktuk juga pernah dikaitkan dengan wabah botulisme.[30]
↑"10 Weirdest Foods in the World". News.travel.aol.com. 9 September 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 11 September 2010. Diakses tanggal 11 September 2013.
12Zellen, Barry Scott (2008). Breaking the ice: from land claims to tribal sovereignty in the arctic. Lanham, MD: Lexington Books. hlm.376. ISBN978-0-7391-1941-9. OCLC183162209.
↑Fediuk, K.; Hidiroglou, N.; Madère, R.; Kuhnlein, H. V. (2002). "Vitamin C in Inuit Traditional Food and Women's Diets". Journal of Food Composition and Analysis. 15 (3): 221. doi:10.1006/jfca.2002.1053.
↑McClintock, Francis Leopold (2012), "CHAPTER XVI", A Narrative of the Discovery of the Fate of Sir John Franklin and His Companions, Cambridge University Press, hlm.301–322, doi:10.1017/cbo9781139236522.018, ISBN978-1-139-23652-2
↑Kuhnlein, H. V.; Barthet, V.; Farren, A.; Falahi, E.; Leggee, D.; Receveur, O.; Berti, P. (2006). "Vitamins A, D, and E in Canadian Arctic traditional food and adult diets". Journal of Food Composition and Analysis. 19 (6–7): 495. doi:10.1016/j.jfca.2005.02.007.
↑Wagemann, R.; Snow, N.B.; Lutz, A.; Scott, D.P. (1983). "Heavy Metals in Tissues and Organs of the Narwhal (Monodon monoceras)". Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Sciences. 40 (S2): s206 –s214. Bibcode:1983CJFAS..40S.206W. doi:10.1139/f83-326.