Motinggo Boesje (ER, EYD: Motinggo Busye, nama lahir: Bustami Djalid) (21 November 1937–18 Juni 1999) adalah seorang sastrawan, sutradara, dan pelukis Indonesia.
Latar Belakang Keluarga
Motinggo lahir dari pasangan Djalid Sutan Raja Alam dan Rabiah Jakub yang berasal dari Minangkabau. Ibunya berasal dari Matur dan ayahnya dari Sicincin, Padang Pariaman. Setelah menikah, mereka berdua pergi merantau ke Kota Bandar Lampung. Di sana ayahnya bekerja sebagai pegawaiKoninklijke Paketvaart Maatschappij di Kupang Kota, sedangkan ibunya mengajar ilmu agama dan bahasa Arab. Ketika usianya mendekati 12 tahun, kedua orang tuanya meninggal dunia. Sepeninggal orang tuanya, Motinggo diasuh neneknya di Bukittinggi hingga ia menamatkan SLA-C.
Nama dan Gelar
Motinggo merupakan nama pena yang diambil dari bahasa Minangkabau, mantiko. Kata tersebut memiliki makna bersifat bengal, eksentrik, suka menggaduh, kocak, dan tak tahu malu. Namun mantiko dalam diri Motinggo bukanlah berkonotasi negatif, maka ia menambahkan kata bungo (bunga) di belakang nama samarannya itu, sehingga lengkap tertulis Mantiko Bungo (MB). Dari inisial MB inilah akhirnya berkembang nama Motinggo Boesje. Selain nama pena dan nama pemberian orang tua, ia juga memilki nama gelaradat Minangkabau yaitu Saidi Maharajo.
Tahun 1952 ia mengisi acara sandiwara radio RRI studio Bukittinggi. Ia sempat menjadi redaktur kepala Penerbitan Nusantara (1961-1964) dan Ketua II Koperasi Seniman Indonesia.
Awal kariernya dalam dunia tulis-menulis dimulai ketika Tomoyuki Yamashita datang ke rumahnya memberi mesin ketik. Mesin itu akhirnya menjadi sahabatnya untuk mencurahkan ide-idenya. Semenjak tekun membaca buku-buku sastra Balai Pustaka, minatnya tumbuh untuk terjun di dunia sastra. Dramanya, Malam Jahanam (1958), mendapat hadiah pertama sayembara penulisan drama dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bagian kesenian pada tahun 1958. Cerpennya, "Nasihat Buat Anakku", mendapat hadiah majalah Sastra pada tahun 1962.
Ia memasuki dunia film sejak tahun 1960 ketika ceritanya, "Si Pendek dan Sri Panggung" difilmkan sutradara Alam Suawidjaja dan dia menjadi pembantunya.
Selain terlibat dalam dunia sastra, drama, dan film, ia juga menyukai seni lukis. Ia belajar melukis bersama Delsy Syamsumar pada Wakidi. Ia turut mendirikan Himpunan Seniman Muda Indonesia Sumatera Utara dan menjadi pemimpin majalah kebudayaan organisasi itu. Pada tahun 1954 sebuah pameran lukisan di Padang menampilkan 15 lukisan karyanya.
Tanggapan atas karya Motinggo
Novelnya, Bibi Marsiti (1964) yang menjadi titik awal peralihannya ke penulisan yang lebih populer, mendapat serangan dari Lekra. Ketika berceramah tentang karyanya di TIM pada tahun 1969 ia mendapat kritik tajam dari kalangan sastra.
Novel-novelnya banyak difilmkan, di antaranya Di Balik Pintu Dosa (1970), Tiada Maaf Bagimu (1971), dan Insan Kesepian (1971).
↑Sinematek Indonesia & Badan Penelitian dan Pengembangan, Penerangan, Departemen Penerangan RI. (1979). Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978. hlm. 319