Sejarah
Asal-Usul dan Masa Pengembaraan
menurut perkembangan sejarahnya, wilayah momalia awalnya dijelajahi oleh sekelompok perantau asal Gorontalo. mereka berlayar menyusuri pesisir pantai menuju arah timur menggunakan rakit yang terbuat dari bambu air (wawohu) serta perahu kecil (uteya) untuk mencari nafkah. selain pencari nafkah, wilayah perairaqn ini juga dilewati oleh para juragan (tauwa).
selama berbulan-bulan berlayar, kelompok pengembaraini kerap memberikan nama pada tempat-tempat yang mereka singgahi. salah satu tempat tersebut adalah Lito, yang berarti sebuah teluk kecil yang sunyi, tersembunyi, belum berpenghuni, dan di tumbuhi oleh pepohonan.
pada periode yang sama, kawasan tersebut juga kerap kali dilalui oleh tiga suku lain yaitu tobelo[1], La ode, dan mangginano[2]. ketiga suku ini dikenal menggunakan perahu layar dan bersenjarakan panah.
Pembentukan Perkampungan (Loboidu)
dalam sebuah pelayaran ke arah timur, kelompok pengembara yang menumpangi utaeya diterpa badai dan angin topan. kondisi tersebut memaksa mereka untuk menghentikan pelayaran dan merapatkan rakit serta perahu mereka di suatu tempat untuk berlindung. Di tempat perlindungan tersebut, mereka mendirikan pondok-pondok kecil (lilungo atau wombohe) dan menetap selama berbulan-bulan.
seiring berjalannya waktu, jumlah pondok di kawasan tersebut terus bertambah. migrasi masyarakat yang berbahasa Gorontalo suwawa (bune) dari pesisir gorontalo membuat kawasan tersebut berkembang menjadi pemukiman tetap.
Untuk mengatur pemukiman yang mulai ramai, diselenggarakan sebuah musyawarah yang di sebut Loboidu. Pertemuan ini bertujuan untuk merencanakan sebuah kampung serta menentukan namanya. Musyawarah tersebut dipimpin oleh dua orang tauwa (Juragan) yaitu yang bernama Kono'o Hulopi yang berasal dari pinogu dan talenga dari suwawa.
Asal-Usul Nama Desa
setelah sepakat membentuk kampung, pembahasan berlanjut pada pemberian nama wilayah. Para pemimpin teringat akan peristiwa saat mereka diterpa badai dan ombak hingga membuat mereka dengan terpaksa bersandar dan berlabuh di sebuah muara sungai yang bercabang dua, yaitu cabang kecil di sebelah barat dan cabang sungai besar di sebelah timur.
Di kedua cabang sungai tersebut, para jurangan memerintahkan anggotanya untuk memperbaiki armada mereka yang rusak. Rakit diperbaiki di cabang sungai kecil, sementara perahu diperbaiki di cabang sungai besar.[3]
catatan Geografis: Cabang sungai kecil di sebelah barat saat ini dikenal sebagai sungai Momalia Kiki (masuk wilayah Desa Momalia II), Sedangkan cabang sungai besar di sebelah timur dikenal sebagai Sungai momalia (masuk wilayah Desa Pilolahunga).[4]
Berdasarkan Peristiwa perbaikan armada tersebut kedua juragan sepakat menamai kampung mereka Pilomalia dalam bahasa gorontalo artinya "yang telah diubah/dijelmakan" (merujuk pada perbaikan rakit dan perahu)[5]
Pada tahun 1901, bersamaan dengan terbentuknya swapraja Kerajaan Bolango di Wilayah pantai selatan, nama Pilomalia resmi diubah menjadi Momalia. setelah diresmikan oleh Raja Hassan Van Gobel[6][7], Momalia ditetapkan sebagai desa dibawah kepemimpinan seorang kepala distrik Bolaang Uki yang bertempat di Molibagu. jabatan kepala desa kala itu hingga sekarang disebut dengan istilah Sangadi.