Mohammed bin Salman
| Mohammed bin Salman | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
Foto resmi, 2016 | |||||||||||||
| Putra Mahkota Arab Saudi Penguasa (de facto) | |||||||||||||
| Mulai menjabat 21 Juni 2017 | |||||||||||||
| Penguasa monarki | Salman | ||||||||||||
| Perdana Menteri Arab Saudi | |||||||||||||
| Mulai menjabat 27 September 2022 | |||||||||||||
| Penguasa monarki | Salman | ||||||||||||
Pendahulu Raja Salman Pengganti Petahana | |||||||||||||
| Wakil Perdana Menteri Pertama Arab Saudi | |||||||||||||
| Masa jabatan 21 Juni 2017 – 27 September 2022 | |||||||||||||
| Penguasa monarki | Salman | ||||||||||||
| Perdana Menteri | Raja Salman | ||||||||||||
Pendahulu Muhammad bin Nayef Pengganti Petahana | |||||||||||||
| Masa jabatan 29 April 2015 – 21 Juni 2017 | |||||||||||||
| Penguasa monarki | Salman | ||||||||||||
| Perdana Menteri | Raja Salman | ||||||||||||
| Wakil | Muhammad bin Nayef | ||||||||||||
Pendahulu Muhammad bin Nayef Pengganti Petahana | |||||||||||||
| Menteri Pertahanan | |||||||||||||
| Masa jabatan 23 Januari 2015 – 27 September 2022 | |||||||||||||
| Penguasa monarki | Salman | ||||||||||||
| Perdana Menteri | Raja Salman | ||||||||||||
| Kelahiran | 31 Agustus 1985 (umur 40) Riyadh, Arab Saudi | ||||||||||||
| Pasangan | |||||||||||||
| Keturunan |
| ||||||||||||
| |||||||||||||
| Wangsa | Al Saud | ||||||||||||
| Ayah | Salman dari Arab Saudi | ||||||||||||
| Ibu | Fahda bint Falah Al Hithlain | ||||||||||||
| |||||||||||||
Mohammed bin Salman Al Saud[a] (lahir 31 Agustus 1985), yang juga dikenal sebagai MbS, adalah penguasa de facto Kerajaan Arab Saudi,[1] yang secara resmi menjabat sebagai Putra Mahkota dan Perdana Menteri. Ia merupakan pewaris takhta Arab Saudi, anak ketujuh dari Raja Salman, serta cucu dari pendiri negara tersebut, Ibn Saud.
Mohammed adalah anak pertama dari Raja Salman bin Abdulaziz dengan istri ketiganya, Fahda bint Falah Al Hithlain. Setelah memperoleh gelar sarjana hukum dari Universitas Raja Saud, ia menjadi penasihat bagi ayahnya pada tahun 2009. Ia ditunjuk sebagai wakil putra mahkota dan menteri pertahanan setelah ayahnya naik takhta menjadi raja pada tahun 2015, kemudian dipromosikan menjadi putra mahkota pada tahun 2017. Mohammed menggantikan ayahnya sebagai perdana menteri pada tahun 2022.
Sejak pengangkatannya sebagai putra mahkota pada tahun 2017, Mohammed telah memperkenalkan serangkaian reformasi sosial dan ekonomi yang berhaluan liberal. Langkah-langkah ini meliputi pengurangan pengaruh lembaga keagamaan Wahhabi dengan membatasi wewenang polisi syariat serta meningkatkan hak-hak perempuan, menghapus larangan mengemudi bagi perempuan pada tahun 2018, dan melonggarkan sistem perwalian laki-laki pada tahun 2019. Meskipun demikian, pemerintahannya tetap memenjarakan para aktivis hak-hak perempuan atas tuduhan terorisme.[2][3][4] Program Visi Saudi 2030 miliknya bertujuan untuk mengurangi ketergantungan ekonomi Saudi terhadap minyak melalui investasi di sektor lain seperti teknologi, pariwisata, olahraga, dan proyek megakota Neom; walakin, perekonomian negara tersebut masih sangat bertumpu pada minyak.[5][6]
Di bawah kepemimpinan Mohammed, Arab Saudi menjalankan kebijakan luar negeri yang bertujuan meningkatkan pengaruh regional serta internasional negara tersebut sekaligus menarik lebih banyak investasi asing.[7] Kerajaan ini telah mengoordinasikan kebijakan energi bersama Rusia, memperkuat hubungan dengan Tiongkok, menjadi sekutu utama non-NATO bagi Amerika Serikat, serta memperluas hubungan diplomatik dan komersial dengan negara-negara berkembang dan kekuatan regional di Afrika, Amerika Selatan, dan Asia.[7] Mohammed merupakan arsitek di balik intervensi yang dipimpin Saudi di Yaman dan terlibat dalam eskalasi Krisis diplomatik Qatar, serta perselisihan diplomatik dengan Kanada pada tahun 2018. Ia juga menjadi salah satu penghasut utama dalam Perang Iran 2026.[8][9]
Mohammed memimpin sebuah pemerintahan otoriter. Pihak-pihak yang dianggap sebagai pembangkang politik ditekan secara sistematis melalui berbagai metode termasuk pemenjaraan, penyiksaan, dan eksekusi mati, bahkan untuk kritik yang disampaikan secara daring.[10][11][12] Antara tahun 2017 dan 2019, ia memimpin pembersihan elite politik dan ekonomi Saudi yang menjadi saingannya dengan platform anti-korupsi, menyita aset dan uang tunai hingga senilai US$800 miliar serta memperkokoh kendali atas politik Saudi. Sebuah laporan tahun 2021 oleh Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) Amerika Serikat menemukan bahwa Mohammed telah memerintahkan pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.[13]
Kehidupan awal, pendidikan, dan karier
Mohammed bin Salman lahir pada tanggal 31 Agustus 1985,[14][15][16] ia merupakan anak dari Pangeran Salman bin Abdulaziz dan istri ketiganya,[17] Fahda bint Falah Al Hithlain. Ia merupakan anak sulung dari enam bersaudara dari ibunya, serta anak kedelapan dan putra ketujuh dari ayahnya.[17] Saudara sekandungnya meliputi Pangeran Turki dan Menteri Pertahanan Pangeran Khalid.[18] Mohammed memegang gelar sarjana hukum dari Universitas Raja Saud, di mana ia lulus sebagai peringkat kedua di angkatannya.[19]
Karier awal
Setelah lulus dari universitas, Mohammed menghabiskan beberapa tahun di sektor swasta sebelum menjadi ajudan ayahnya. Ia sempat bekerja sebagai konsultan untuk Komisi Ahli yang bertugas di bawah Kabinet Saudi.[20] Pada tanggal 15 Desember 2009, di usia 24 tahun, ia memasuki dunia politik sebagai penasihat khusus bagi ayahnya yang kala itu menjabat sebagai gubernur Provinsi Riyadh.[21] Pada masa ini, Mohammed mulai berpindah dari satu posisi ke posisi lain, seperti sekretaris jenderal Dewan Kompetitif Riyadh, penasihat khusus ketua dewan untuk Yayasan Penelitian dan Arsip Raja Abdulaziz, serta anggota dewan pengawas Komunitas Albir di wilayah Riyadh.[22] Pada bulan Oktober 2011, Putra Mahkota Sultan bin Abdulaziz wafat. Pangeran Salman mulai naik ke puncak kekuasaan dengan menjadi wakil perdana menteri kedua dan menteri pertahanan, dan ia menunjuk Mohammed sebagai penasihat pribadinya.[23]
Kepala Pengadilan Diwan
Pada bulan Juni 2012, Putra Mahkota Nayef bin Abdulaziz wafat. Pangeran Mohammed naik ke posisi nomor dua dalam hierarki penasihat saat ayahnya ditunjuk sebagai putra mahkota baru dan wakil perdana menteri pertama. Pada tanggal 2 Maret 2013, Kepala Pengadilan Diwan Putra Mahkota Saud bin Nayef Al Saud diangkat menjadi gubernur Provinsi Timur, dan Mohammed menggantikannya sebagai kepala pengadilan dengan pangkat setingkat menteri.[24][25][26] Pada tanggal 25 April 2014, Mohammed resmi diangkat menjadi menteri negara.[22]
Bangkit menuju kekuasaan
Menteri Pertahanan


Pada tanggal 23 Januari 2015, Raja Abdullah wafat dan Salman naik takhta. Mohammed kemudian ditunjuk sebagai menteri pertahanan sekaligus sekretaris jenderal pengadilan diwan kerajaan.[27][28] Di samping itu, ia juga tetap mempertahankan jabatannya sebagai menteri negara.[29][30]
Pergolakan politik di Yaman (yang mulai meningkat sejak 2011) dengan cepat menjadi masalah utama bagi menteri pertahanan yang baru ditunjuk tersebut, terlebih setelah kelompok Houthi merebut kendali atas Yaman utara pada akhir tahun 2014, yang disusul oleh pengunduran diri Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi beserta jajaran kabinetnya. Langkah pertama Mohammed sebagai menteri adalah memobilisasi koalisi pan-GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) untuk melakukan intervensi pasca-meraknya serangkaian bom bunuh diri di ibu kota Yaman, Sana'a, melalui serangan udara terhadap kelompok Houthi, serta memberlakukan blokade laut.[31] Pada bulan Maret 2015, Arab Saudi mulai memimpin koalisi negara-negara sekutu untuk melawan pemberontak Houthi.[32] Walaupun terdapat kesepakatan di antara para pangeran Saudi yang mengepalai dinas keamanan mengenai perlunya merespons perebutan Sana'a oleh Houthi—yang telah memaksa pemerintah Yaman mengungsi ke pengasingan—Mohammed meluncurkan intervensi tersebut tanpa koordinasi penuh di seluruh kedinasan keamanan. Menteri Garda Nasional Arab Saudi, Pangeran Mutaib bin Abdullah Al Saud yang sedang berada di luar negeri, bahkan tidak dilibatkan dalam lingkaran informasi operasi tersebut.[33] Kendati Mohammed memandang perang ini sebagai jalan pintas untuk menang cepat atas pemberontak Houthi dan mengembalikan Presiden Hadi ke tampuk kekuasaan, konflik tersebut justru berkembang menjadi perang berlarut-larut.[34]
Pada bulan April 2015, Raja Salman menunjuk keponakannya, Muhammad bin Nayef, sebagai putra mahkota dan putranya, Mohammed, sebagai wakil putra mahkota.[35] Pada akhir tahun 2015, dalam sebuah pertemuan antara ayahnya dan Barack Obama, Mohammed bin Salman melanggar protokol dengan menyampaikan monolog yang mengkritik Kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ketika ia mengumumkan pembentukan aliansi militer anti-terorisme dari negara-negara Islam pada Desember 2015, beberapa negara yang tercantum di dalamnya menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak berkonsultasi terlebih dahulu.[33]
Terkait perannya dalam intervensi militer tersebut, Mohammed memberikan wawancara resmi pertamanya pada tanggal 4 Januari 2016 kepada The Economist, yang sempat menjulukinya sebagai "arsitek perang di Yaman". Sembari menolak julukan tersebut, ia menjelaskan mekanisme lembaga-lembaga pengambil keputusan yang sebenarnya memiliki andil dalam intervensi, termasuk Dewan Urusan Keamanan dan Politik serta Kementerian Luar Negeri dari pihak Saudi. Ia menambahkan pula bahwa kelompok Houthi telah merampas kekuasaan di Sana'a sebelum dirinya menjabat sebagai menteri pertahanan.[36][37]
Sebagai tanggapan atas ancaman dari ISIL/ISIS, Mohammed membentuk Aliansi Militer Islam Melawan Terorisme (IMCTC), sebuah aliansi Islam melawan terorisme yang dipimpin oleh Saudi, pada bulan Desember 2015.[38] Pertemuan pertama IMCTC berlangsung di Riyadh pada bulan November 2017 dan dihadiri oleh para menteri pertahanan serta pejabat dari 41 negara.[39]
Putra mahkota
Mohammed diangkat sebagai putra mahkota pada tanggal 21 Juni 2017, menyusul keputusan Raja untuk mencopot Muhammad bin Nayef dan menjadikan putranya sendiri sebagai pewaris takhta utama.[40] Perubahan garis suksesi ini sebelumnya telah diprediksi pada bulan Desember 2015 melalui memo publik yang diterbitkan oleh Badan Intelijen Federal Jerman (BND),[41][42] yang di kemudian hari sempat ditegur oleh pemerintah Jerman sendiri.[43]
Pada hari bin Salman resmi menjadi putra mahkota, Presiden AS Donald Trump menelepon untuk memberikan selamat. Trump dan Mohammed menjanjikan "kerja sama erat" dalam isu keamanan serta ekonomi, serta membahas urgensi pemutusan sokongan terhadap terorisme, perselisihan diplomatik dengan Qatar, dan dorongan perdamaian antara Israel dan Palestina. [44] Mohammed menyampaikan kepada The Washington Post pada bulan April 2017 bahwa tanpa pengaruh budaya Amerika di Arab Saudi, "kita akan berakhir seperti Korea Utara."[45]
Pembersihan 2017
Pada bulan Mei 2017, Mohammed meluncurkan aksi pembersihan terhadap elite bisnis dan politik saingannya di Saudi dalam sebuah kampanye anti-korupsi. Ia menegaskan, "tidak ada seorang pun yang akan lolos dalam kasus korupsi—siapa pun dia, bahkan jika dia seorang pangeran atau menteri".[46] Pada bulan November 2017, ia memerintahkan sekitar 200 pengusaha kaya dan pangeran untuk ditempatkan di bawah tahanan rumah di The Ritz-Carlton, Riyadh.[47] Pada tanggal 4 November 2017, pers Saudi mengumumkan penangkapan pangeran sekaligus miliarder Saudi Al-Waleed bin Talal, yang merupakan komentator berita berbahasa Inggris terkemuka sekaligus pemegang saham mayoritas di Citi, News Corp, dan Twitter, bersama dengan lebih dari 40 pangeran dan menteri pemerintah atas tuduhan korupsi dan pencucian uang.[48] Tokoh lain yang ditangkap atau dicopot dalam aksi pembersihan ini termasuk Pangeran Mutaib bin Abdullah, kepala Garda Nasional Arab Saudi; Menteri Ekonomi dan Perencanaan Adel Fakeih; serta komandan Angkatan Laut Kerajaan Arab Saudi, Laksamana Abdullah bin Sultan bin Mohammed Al-Sultan.[48][49]
Mereka yang ditahan di Ritz Carlton menjadi sasaran dari apa yang kemudian disebut sebagai "malam pemukulan".[50] Sebagian besar dari mereka dipukuli, dan beberapa di antaranya diikat ke dinding dalam posisi stres sebagai bagian dari interogasi dan penyiksaan oleh agen-agen Saudi.[50] Para interogator sebenarnya tahu sangat sedikit di luar aset para korban yang ada di dalam Arab Saudi, sehingga mereka mendesak untuk mengetahui lebih banyak tentang kepemilikan luar negeri mereka, sementara para korban sendiri awalnya tidak tahu mengapa mereka ditahan.[50] Para tahanan juga diancam dengan pemerasan.[50] Pada satu titik, para interogator menyuruh para korban untuk menghubungi manajer bank mereka di Jenewa dan tempat lain untuk meminta transfer sejumlah besar uang, namun para agen terkejut karena kurangnya keahlian mereka bahwa aset tersebut tidak sepenuhnya berbentuk tunai.[50] Bank-bank Swiss mengidentifikasi beberapa transaksi tersebut berada di bawah tekanan dan berhasil menghentikan beberapa di antaranya.[50] Selama proses tersebut berjalan, tidak ada proses hukum yang semestinya maupun tawar-menawar fakta/vonis.[50] Pejabat AS menggambarkan tindakan tersebut sebagai "pemaksaan, pelecehan, dan penyiksaan".[51] Para tahanan dibuat kurang tidur, kepala mereka ditutup, dan dipukuli.[51] Tujuh belas orang di antaranya harus dilarikan ke rumah sakit.[51] Setelah berhari-hari, tahanan yang tersisa dipindahkan ke Penjara Al-Ha'ir, sementara beberapa orang yang dibebaskan dilarang melakukan perjalanan ke luar negeri.[51]
Aksi pembersihan ini membantu sentralisasi kekuasaan politik di tangan bin Salman dan meruntuhkan struktur tata kelola tradisional yang berbasis konsensus di antara elite Saudi sebelumnya.[52][53][54][50] Penangkapan tersebut menghasilkan penyingkiran akhir terhadap faksi mendiang Raja Raja Abdullah, sekaligus memantapkan konsolidasi kendali bin Salman atas ketiga cabang pasukan keamanan.[55][56] Langkah ini pun mengukuhkan supremasi bin Salman atas elite bisnis di Arab Saudi dan berujung pada penyitaan aset secara massal oleh rezim bin Salman.[53]
Trump menyatakan dukungannya atas langkah tersebut lewat cuitan, "Beberapa dari mereka yang diperlakukan dengan keras telah 'memerah' negara mereka selama bertahun-tahun!"[57] Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang mengunjungi Riyadh beberapa hari setelah aksi pembersihan, tidak memberikan komentar dan menyatakan "ini bukan peran seorang presiden, dan sama halnya saya tidak berharap seorang pemimpin negara asing datang dan mencampuri urusan domestik."[58]
Pada tanggal 30 Januari 2019, kerja Komite Anti-Korupsi dinyatakan selesai.[59][60] Sebanyak 500 orang telah diamankan dalam razia besar-besaran tersebut.[61] Bank-bank di Arab Saudi membekukan lebih dari 2.000 rekening domestik sebagai bagian dari tindakan tegas ini.[62] Menurut laporan The Wall Street Journal, pemerintah Saudi menargetkan uang tunai dan aset bernilai hingga $800 miliar.[63] Otoritas Saudi mengklaim jumlah tersebut terdiri dari aset senilai sekitar $300 miliar hingga $400 billion yang dapat mereka buktikan terkait langsung dengan praktik korupsi.[64][65]
Perdana Menteri
Pada tanggal 27 September 2022, Mohammed ditunjuk sebagai Perdana Menteri Arab Saudi oleh Raja Salman. Berdasarkan tradisi yang berlaku sebelumnya, gelar perdana menteri dipegang langsung oleh raja yang sedang bertakhta.[66]
Administrasi
Ideology
Ideologi Mohammed telah digambarkan sebagai nasionalis[67][68] dan populis,[69][70] dengan sikap konservatif terhadap politik, dan pandangan liberal pada masalah ekonomi dan sosial.[71][72] Ideologi ini sangat dipengaruhi oleh pandangan mantan penasihatnya, Saud al-Qahtani[73][74] serta penguasa Abu Dhabi, Mohammed bin Zayed.[75][76] Gaya kepemimpinannya digambarkan sangat brutal oleh jurnalis Rula Jebreal serta otoriter oleh Jamal Khashoggi[77] dan Theodor Winkler.[72] Mohammed bin Salman juga telah memperjuangkan ideologi nasionalisme Arab di dalam negeri dan melalui kebijakan luar negeri; dengan fokus pada penentangan terhadap gerakan Islamisme.[78]
Otoritarianisme
Mohammed memimpin pemerintahan otoriter yang represif di Arab Saudi. Aktivis hak asasi manusia dan aktivis hak-hak perempuan di Arab Saudi telah menghadapi pelecehan dan penyiksaan oleh rezim tersebut.[79] Para kritikus, jurnalis, dan mantan orang dalam disiksa dan dibunuth.[79][80] Pemerintah telah menargetkan para pembangkang Saudi yang berada di luar negeri. Jamal Khashoggi, seorang kolumnis The Washington Post, dibunuh oleh rezim tersebut.[80] Mohammed membenarkan penangkapan massal terhadap para aktivis HAM sebagai hal yang diperlukan untuk memberlakukan reformasi di Arab Saudi dan untuk membangun negara yang berbasis pada nasionalisme Arab.[81][82]
Mohammed semakin mengonsolidasikan kekuasaan di Arab Saudi selama masa jabatannya sebagai pemimpin.[81] Ia membatasi wewenang polisi agama Saudi secara signifikan.[33] Pada tanggal 29 Januari 2015, Mohammed ditunjuk sebagai ketua Dewan Urusan Ekonomi dan Pembangunan yang baru dibentuk,[83] menggantikan Komisi Ekonomi Tertinggi Arab Saudi yang dibubarkan.[83] Pada bulan April 2015, Mohammed diberi kendali atas Saudi Aramco melalui dekret kerajaan menyusul pengangkatannya sebagai wakil putra mahkota.[84]
Kebijakan domestik
Kebijakan keagamaan
Menurut David Ottaway dari Wilson Center, "dari semua reformasi domestik [Mohammed]", yang paling "berdampak luas" adalah upayanya membatasi pengaruh ulama Wahhabi Saudi, "yang masih mengomandoi jutaan pengikut di dalam negeri dan di luar negeri".[85] Langkah Mohammed yang mengundang "aliran konstan penyanyi pria dan wanita Barat, grup musik, penari, dan bahkan pegulat wanita Amerika" untuk tampil di Arab Saudi sangat bertentangan dengan kaum konservatif agama yang telah bersuara "menentang pembukaan kerajaan terhadap sekularisme budaya Barat".[85] Di bawah kepemimpinan Mohammed, pemerintah Saudi telah mempromosikan identitas Saudi yang baru dan sejarah nasionalis yang meremehkan warisan keagamaan serta membatasi pengaruh Islam dalam ranah budaya.[86] Jurnalis Graeme Wood menulis, "sulit untuk melebih-lebihkan betapa drastisnya penyingkiran hukum Islam ini akan mengubah Arab Saudi."[87] Gabriella Perez berargumen bahwa perubahan sosial baru yang diterapkan oleh Mohammed berorientasi pada represi sekuler, yang berpotensi berdampak buruk pada kebebasan beragama di negara tersebut.[88]
Pembatasan polisi agama
Pada tahun 2016, Mohammed mengambil langkah-langkah untuk memangkas secara drastis wewenang "Komite Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan" (CPVPV), atau polisi agama Islam.[89][90] Lembaga CPVPV yang sebelumnya "ditakuti", yang memiliki ribuan petugas di jalan-jalan serta wewenang untuk menangkap, menahan, dan menginterogasi mereka yang dicurigai melanggar syariat, dilarang "untuk mengejar, menginterogasi, meminta identitas, menangkap, dan menahan siapa pun yang dicurigai melakukan kejahatan".[91] Industri bioskop dipulihkan kembali, kebebasan sosial diperluas, serta percampuran gender dan kencan telah dinormalisasi oleh negara di ruang publik. Schmidt-Feuerheerd berpendapat bahwa kebijakan negara yang baru ini juga dibarengi dengan peningkatan tindakan keras terhadap kegiatan politik dan keagamaan yang independen dari pemerintah.[86]
Perubahan pada sistem hukum
Mohammed menyatakan bahwa "dalam hukum Islam, kepala lembaga Islam adalah wali al-amr[92] (bahasa Arab: وَلِيّ الأمر), yaitu sang penguasa.[87] Sementara para penguasa Saudi "secara historis menjauhkan diri dari agama", dan "menyerahkan" masalah teologi serta hukum agama kepada "para pemilik janggut lebat", yaitu para ulama tradisional yang konservatif dan ortodoks, Mohammed justru "memiliki gelar sarjana hukum dari Universitas Raja Saud" dan "memamerkan pengetahuan serta dominasinya atas para ulama", menurut Graeme Wood. Ia "mungkin satu-satunya pemimpin di dunia Arab yang mengetahui sesuatu tentang epistemologi dan fikih Islam", menurut sejarawan Amerika, Profesor Bernard Haykel. Dalam sebuah wawancara yang ditayangkan di televisi Arab Saudi pada 25 April 2021, Mohammed mengkritik kepatuhan para pemimpin agama Saudi terhadap doktrin Wahhabisme "dengan bahasa yang belum pernah digunakan oleh raja Saudi sebelumnya", dengan mengatakan "tidak ada mazhab pemikiran yang tetap dan tidak ada manusia yang maksum", serta bahwa fatwa "harus didasarkan pada waktu, tempat, dan pola pikir di mana fatwa itu dikeluarkan", alih-alih dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah.[85]
Sejak awal tahun 2021, Mohammed telah "memerintahkan kodifikasi hukum Saudi yang akan mengakhiri wewenang masing-masing hakim Wahhabi untuk menerapkan" interpretasi Syariat mereka sendiri.[85] Menurut Wood, banyak ulama konservatif tampaknya telah menyerah pada "intimidasi gaya lama" oleh pemerintah untuk membalikkan posisi keagamaan mereka dan mendukung garis kebijakan pemerintah dalam isu-isu seperti "pembukaan bioskop dan pemecatan massal para imam Wahhabi".[87]
Larangan abaya
Pada bulan Desember 2022, Komite Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan Arab Saudi (ETEC) menyatakan larangan pemerintah bagi siswi Muslim untuk mengenakan pakaian tradisional abaya ke pusat-pusat ujian, dan menegaskan bahwa siswi harus mengenakan seragam sekolah saja.[93][94][95] Klarifikasi lebih lanjut dari ETEC yang dilaporkan oleh The Milli Chronicle menyatakan bahwa larangan penggunaan abaya tersebut hanya dibatasi untuk pusat ujian khusus perempuan yang dikelola langsung oleh ETEC.[96]
Administrasi
Ideology
Ideologi Mohammed telah digambarkan sebagai nasionalis[97][98] dan populis,[99][100] dengan sikap konservatif terhadap politik, dan pandangan liberal pada masalah ekonomi dan sosial.[101][72] Ideologi ini sangat dipengaruhi oleh pandangan mantan penasihatnya, Saud al-Qahtani[102][103] serta penguasa Abu Dhabi, Mohammed bin Zayed.[75][76] Gaya kepemimpinannya digambarkan sangat brutal oleh jurnalis Rula Jebreal serta otoriter oleh Jamal Khashoggi[77] dan Theodor Winkler.[72] Mohammed bin Salman juga telah memperjuangkan ideologi nasionalisme Arab di dalam negeri dan melalui kebijakan luar negeri; dengan fokus pada penentangan terhadap gerakan Islamisme.[104]
Otoritarianisme
Mohammed memimpin pemerintahan otoriter yang represif di Arab Saudi. Aktivis hak asasi manusia dan aktivis hak-hak perempuan di Arab Saudi telah menghadapi pelecehan dan penyiksaan oleh rezim tersebut.[79] Para kritikus, jurnalis, dan mantan orang dalam disiksa dan dibunuth.[79][80] Pemerintah telah menargetkan para pembangkang Saudi yang berada di luar negeri. Jamal Khashoggi, seorang kolumnis The Washington Post, dibunuh oleh rezim tersebut.[80] Mohammed membenarkan penangkapan massal terhadap para aktivis HAM sebagai hal yang diperlukan untuk memberlakukan reformasi di Arab Saudi dan untuk membangun negara yang berbasis pada nasionalisme Arab.[81][82]
Mohammed semakin mengonsolidasikan kekuasaan di Arab Saudi selama masa jabatannya sebagai pemimpin.[81] Ia membatasi wewenang polisi agama Saudi secara signifikan.[33] Pada tanggal 29 Januari 2015, Mohammed ditunjuk sebagai ketua Dewan Urusan Ekonomi dan Pembangunan yang baru dibentuk,[83] menggantikan Komisi Ekonomi Tertinggi Arab Saudi yang dibubarkan.[83] Pada bulan April 2015, Mohammed diberi kendali atas Saudi Aramco melalui dekret kerajaan menyusul pengangkatannya sebagai wakil putra mahkota.[84]
Kebijakan domestik
Kebijakan keagamaan
Menurut David Ottaway dari Wilson Center, "dari semua reformasi domestik [Mohammed]", yang paling "berdampak luas" adalah upayanya membatasi pengaruh ulama Wahhabi Saudi, "yang masih mengomandoi jutaan pengikut di dalam negeri dan di luar negeri".[85] Langkah Mohammed yang mengundang "aliran konstan penyanyi pria dan wanita Barat, grup musik, penari, dan bahkan pegulat wanita Amerika" untuk tampil di Arab Saudi sangat bertentangan dengan kaum konservatif agama yang telah bersuara "menentang pembukaan kerajaan terhadap sekularisme budaya Barat".[85] Di bawah kepemimpinan Mohammed, pemerintah Saudi telah mempromosikan identitas Saudi yang baru dan sejarah nasionalis yang meremehkan warisan keagamaan serta membatasi pengaruh Islam dalam ranah budaya.[86] Jurnalis Graeme Wood menulis, "sulit untuk melebih-lebihkan betapa drastisnya penyingkiran hukum Islam ini akan mengubah Arab Saudi."[87] Gabriella Perez berargumen bahwa perubahan sosial baru yang diterapkan oleh Mohammed berorientasi pada represi sekuler, yang berpotensi berdampak buruk pada kebebasan beragama di negara tersebut.[105]
Pembatasan polisi agama
Pada tahun 2016, Mohammed mengambil langkah-langkah untuk memangkas secara drastis wewenang "Komite Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan" (CPVPV), atau polisi agama Islam.[89][106] Lembaga CPVPV yang sebelumnya "ditakuti", yang memiliki ribuan petugas di jalan-jalan serta wewenang untuk menangkap, menahan, dan menginterogasi mereka yang dicurigai melanggar syariat, dilarang "untuk mengejar, menginterogasi, meminta identitas, menangkap, dan menahan siapa pun yang dicurigai melakukan kejahatan".[91] Industri bioskop dipulihkan kembali, kebebasan sosial diperluas, serta percampuran gender dan kencan telah dinormalisasi oleh negara di ruang publik. Schmidt-Feuerheerd berpendapat bahwa kebijakan negara yang baru ini juga dibarengi dengan peningkatan tindakan keras terhadap kegiatan politik dan keagamaan yang independen dari pemerintah.[86]
Perubahan pada sistem hukum
Mohammed menyatakan bahwa "dalam hukum Islam, kepala lembaga Islam adalah wali al-amr[92] (bahasa Arab: وَلِيّ الأمر), yaitu sang penguasa.[87] Sementara para penguasa Saudi "secara historis menjauhkan diri dari agama", dan "menyerahkan" masalah teologi serta hukum agama kepada "para pemilik janggut lebat", yaitu para ulama tradisional yang konservatif dan ortodoks, Mohammed justru "memiliki gelar sarjana hukum dari Universitas Raja Saud" dan "memamerkan pengetahuan serta dominasinya atas para ulama", menurut Graeme Wood. Ia "mungkin satu-satunya pemimpin di dunia Arab yang mengetahui sesuatu tentang epistemologi dan fikih Islam", menurut sejarawan Amerika, Profesor Bernard Haykel. Dalam sebuah wawancara yang ditayangkan di televisi Arab Saudi pada 25 April 2021, Mohammed mengkritik kepatuhan para pemimpin agama Saudi terhadap doktrin Wahhabisme "dengan bahasa yang belum pernah digunakan oleh raja Saudi sebelumnya", dengan mengatakan "tidak ada mazhab pemikiran yang tetap dan tidak ada manusia yang maksum", serta bahwa fatwa "harus didasarkan pada waktu, tempat, dan pola pikir di mana fatwa itu dikeluarkan", alih-alih dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah.[85]
Sejak awal tahun 2021, Mohammed telah "memerintahkan kodifikasi hukum Saudi yang akan mengakhiri wewenang masing-masing hakim Wahhabi untuk menerapkan" interpretasi Syariat mereka sendiri.[85] Menurut Wood, banyak ulama konservatif tampaknya telah menyerah pada "intimidasi gaya lama" oleh pemerintah untuk membalikkan posisi keagamaan mereka dan mendukung garis kebijakan pemerintah dalam isu-isu seperti "pembukaan bioskop dan pemecatan massal para imam Wahhabi".[87]
Larangan abaya
Pada bulan Desember 2022, Komite Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan Arab Saudi (ETEC) menyatakan larangan pemerintah bagi siswi Muslim untuk mengenakan pakaian tradisional abaya ke pusat-pusat ujian, dan menegaskan bahwa siswi harus mengenakan seragam sekolah saja.[107][108][109] Klarifikasi lebih lanjut dari ETEC yang dilaporkan oleh The Milli Chronicle menyatakan bahwa larangan penggunaan abaya tersebut hanya dibatasi untuk pusat ujian khusus perempuan yang dikelola langsung oleh ETEC.[110]
Hak asasi manusia
Pada awal masa kepemimpinannya, Mohammed berusaha membangun citra Arab Saudi sebagai negara yang sedang menerapkan berbagai reformasi. Namun, kelompok-kelompok hak asasi manusia menyatakan bahwa tindakan represif justru semakin memburuk selama masa jabatannya.[79][81] Menurut kelompok HAM, penangkapan terhadap aktivis hak asasi manusia meningkat di bawah kepemimpinan Mohammed.[111] Ia dilaporkan membentuk Pasukan Macan, sebuah tim pembunuh yang bertindak sebagai pasukan kematian, untuk menyasar para pengkritik Saudi baik di dalam maupun di luar negeri.[112][113] Di antara mereka yang ditahan dalam gelombang penangkapan pada bulan September 2017 adalah Abdulaziz al-Shubaily, anggota pendiri Asosiasi Hak-Hak Sipil dan Politik Arab Saudi (ACPRA); Mustafa al-Hassan, seorang akademisi dan novelis; serta Essam al-Zamel, seorang pengusaha.[114][115] Menjelang pencabutan larangan mengemudi bagi perempuan pada bulan Juni 2018, 17 aktivis hak-hak perempuan ditangkap, termasuk pengampanye gerakan hak mengemudi perempuan dan anti-perwalian laki-laki, Loujain al-Hathloul.[116][117] Delapan dari 17 orang tersebut kemudian dibebaskan.[118] Hatoon al-Fassi, seorang profesor rekanan sejarah perempuan di Universitas Raja Saud,[119] ditangkap tidak lama setelah peristiwa tersebut.[120][121]
Pada bulan Agustus tahun yang sama, aktivis HAM Israa al-Ghomgham dan suaminya, yang keduanya ditangkap pada tahun 2015, berada di bawah ancaman hukum eksekusi pancung.[122] Human Rights Watch (HRW) memperingatkan bahwa kasus al-Ghomgham menetapkan "presiden yang berbahaya" bagi aktivis perempuan lain yang saat itu sedang ditahan.[123] Direktur HRW wilayah Timur Tengah, Sarah Leah Whitson, menyatakan, "Setiap eksekusi sangat mengerikan, tetapi menuntut hukuman mati bagi aktivis seperti Israa al-Ghomgham, yang bahkan tidak dituduh melakukan tindakan kekerasan, adalah hal yang kejam. Setiap hari, despotisme monarki Saudi yang tidak terkendali mempersulit tim hubungan masyarakat mereka untuk memutarbalikkan dongeng tentang 'reformasi' kepada para sekutu dan bisnis internasional."[123][124][125] Pada tanggal 23 April 2019, sebanyak 37 orang, yang sebagian besar merupakan aktivis HAM Syi'ah yang terlibat dalam Konflik Qatif, dieksekusi mati dalam salah satu eksekusi massal terbesar terhadap sekte minoritas tersebut dalam sejarah kerajaan.[126]
Pada bulan Agustus 2019, saudara laki-laki Loujain al-Hathloul, Walid, menginformasikan kepada media bahwa saudara perempuannya ditawarkan pembebasan dengan syarat bersedia menyangkal pelanggaran HAM yang dilakukan terhadap dirinya di dalam penjara Saudi. Walid menulis di Twitter bahwa pihak keamanan negara Saudi mengajukan proposal agar Loujain menandatangani dokumen dan muncul di depan kamera untuk membantah bahwa ia telah disiksa dan dilecehkan secara seksual di penjara. Walid menyatakan bahwa Loujain memberi tahu keluarga bahwa ia telah dicambuk, dipukuli, disengat listrik di atas kursi, dan dilecehkan oleh pria bertopeng yang sering membangunankannya di tengah malam untuk melontarkan ancaman di dalam sel. Walid juga mencuit bahwa Loujain menolak tawaran yang diajukan oleh otoritas Saudi tersebut dan "segera merobek dokumen itu".[127]
Menanggapi kritik asing dan aktivisme hak-hak perempuan, Mohammed telah menerapkan reformasi moderat untuk meningkatkan hak-hak perempuan di Arab Saudi. Pada bulan September 2017, ia menerapkan tuntutan multidekade dari gerakan hak mengemudi perempuan untuk mencabut larangan bagi pengemudi perempuan.[128] Ia juga mengamandemen beberapa elemen dari sistem Wali di Arab Saudi, yang juga menjadi topik kampanye selama puluhan tahun oleh para aktivis perempuan.[129] Sebagai tanggapan terhadap kampanye anti-perwalian laki-laki di Saudi,[130] pemerintah Saudi mengesahkan undang-undang yang mengizinkan perempuan berusia di atas 21 tahun untuk mendapatkan paspor dan bepergian ke luar negeri tanpa memerlukan izin dari wali laki-laki mereka.[131][132] Pada bulan Februari 2018, menjadi hal yang legal bagi perempuan Saudi untuk memulai bisnis mereka sendiri tanpa izin dari pihak laki-laki.[133] Menurut Kementerian Informasi Saudi, hingga Maret 2018[update], para ibu di Arab Saudi diberikan wewenang untuk mempertahankan hak asuh langsung atas anak-anak mereka setelah perceraian tanpa harus mengajukan gugatan hukum apa pun.[134]
Pada bulan Februari 2017, Arab Saudi menunjuk perempuan pertama untuk memimpin Bursa Efek Saudi.[135][136]
Penangkapan Muhammad bin Nayef
Muhammad bin Nayef ditangkap pada tanggal 6 Maret 2020, bersama dengan saudara tirinya Nawwaf bin Nayef dan saudara laki-laki Raja Salman, Ahmed bin Abdulaziz. Ketiga pangeran tersebut didakwa atas tuduhan makar. Pemerintah Saudi mengklaim bahwa para pangeran tersebut mencoba untuk menggulingkan Mohammed bin Salman.[137]
Tuduhan upaya peracunan terhadap Raja Abdullah
Pada tahun 2021, mantan pejabat intelijen Saudi, Saad al-Jabri, menyatakan dalam sebuah wawancara dengan CBS bahwa pada tahun 2014 Mohammed bin Salman pernah menyampaikan rencana pembunuhan Raja Abdullah kepada Menteri Dalam Negeri Muhammad bin Nayef Al Saud. Upaya ini dimaksudkan agar ayah Mohammed dapat segera naik takhta. Al-Jabri menyebut Mohammed sebagai "seorang psikopat, pembunuh ... dengan sumber daya tak terbatas, yang menjadi ancaman bagi rakyatnya, bagi warga Amerika, dan bagi planet ini".[138] Mohammed menolak keras semua tuduhan tersebut; Kedutaan Besar Saudi menyebut al-Jabri sebagai "mantan pejabat pemerintah yang kehilangan kredibilitas dengan sejarah panjang [fabrikasi]".[139]
Kebijakan luar negeri
Intervensi di Suriah dan Yaman
Beberapa pihak menyebut Mohammed sebagai arsitek utama di balik perang di Yaman.[140][141] Pada tanggal 10 Januari 2016, The Independent melaporkan bahwa "BND, badan intelijen Jerman, menggambarkan... menteri pertahanan Saudi dan Wakil Putra Mahkota Mohammed bin Salman... sebagai penjudi politik yang mendestabilisasi dunia Arab melalui perang proksi di Yaman dan Suriah."[142][37][143] Pemerintah Jerman menanggapi memo BND tersebut dengan menyatakan bahwa pernyataan yang dirilis "bukan posisi resmi dari pemerintah federal".[43]

Mohammed memimpin intervensi yang dipimpin Saudi di Yaman melawan pemberontak Houthi, yang pada tahun 2015 merebut Sana'a dan menggulingkan pemerintahan Hadi yang didukung Saudi, sekaligus mengakhiri upaya multilateral menuju penyelesaian politik setelah Pemberontakan Yaman 2011.[144][145][146] Serangan udara koalisi selama intervensi tersebut menyebabkan ribuan warga sipil tewas atau terluka,[147] memicu munculnya tuduhan kejahatan perang dalam operasi tersebut.[148][149][150] Menyusul serangan rudal Houthi ke Riyadh pada bulan Desember 2017 yang berhasil dicegat oleh pertahanan udara Saudi, serangan udara balasan menewaskan 136 warga sipil Yaman dan melukai 87 lainnya dalam kurun waktu sebelas hari.[151][152] Pada bulan Agustus 2018, Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa semua pihak dalam konflik tersebut bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia dan tindakan yang dapat dianggap sebagai kejahatan perang.[153]
Perang dan blokade terhadap Yaman telah merugikan Arab Saudi hingga puluhan miliar dolar, memperparah krisis kemanusiaan di negara tersebut, dan menghancurkan sebagian besar infrastruktur Yaman, namun gagal mengusir pemberontak Syiah Houthi beserta sekutu mereka dari ibu kota Yaman.[154][155] Lebih dari 50.000 anak di Yaman meninggal akibat kelaparan pada tahun 2017. Dari tahun 2015 hingga Mei 2019, jumlah total kematian anak dilaporkan mencapai sekitar 85.000 jiwa.[156][157][158][159] Bencana kelaparan di Yaman merupakan dampak langsung dari intervensi yang dipimpin Saudi serta tindakan blokade di wilayah yang dikuasai pemberontak.[154][160] Pada bulan Oktober 2018, Lise Grande, Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Yaman, memperingatkan bahwa 12 hingga 13 juta warga Yaman terancam kelaparan jika perang terus berlanjut selama tiga bulan ke depan.[161] Pada tanggal 28 Maret 2018, Arab Saudi bersama mitra koalisinya, UEA, menyumbangkan US$930 juta kepada PBB yang, menurut Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, "... (akan) membantu meringankan penderitaan jutaan orang rentan di seluruh Yaman". Dana tersebut mencakup hampir sepertiga dari $2,96 miliar yang dibutuhkan untuk melaksanakan Rencana Tanggap Kemanusiaan Yaman PBB 2018.[162] Menyusul serangan rudal Houthi ke Riyadh pada bulan Desember 2017 yang dicegat oleh pertahanan udara Saudi,[163] Mohammed membalas dengan rentetan serangan udara tanpa pandang bulu selama sepuluh hari terhadap wilayah sipil di Yaman yang dikuasai oleh pasukan Houthi, menewaskan puluhan anak-anak.[164]

Pasca-pembunuhan Jamal Khashoggi, Komite Hubungan Luar Negeri Senat Amerika Serikat menyetujui resolusi untuk menjatuhkan sanksi kepada pihak-pihak yang memblokir akses kemanusiaan di Yaman, serta menangguhkan penjualan senjata ke Arab Saudi. Senator Lindsey Graham menyatakan bahwa hubungan antara Arab Saudi dan Amerika Serikat "lebih menjadi beban ketimbang aset." Ia juga menambahkan, "Sang putra mahkota [Arab Saudi] sangat toksik, tercemar, dan cacat."[165]
Andrew Smith dari Campaign Against Arms Trade (CAAT) menilai bahwa Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson dan Jeremy Hunt "memiliki peran sentral dan turut terlibat dalam mempersenjatai serta mendukung kehancuran Yaman oleh koalisi pimpinan Saudi."[166] Kampanye Hunt dalam pemilihan kepemimpinan Partai Konservatif 2019 bahkan sebagian didanai oleh sekutu dekat Mohammed bin Salman.[167][166]

Pada 16 Agustus 2020, sebuah gugatan hukum yang diajukan oleh mantan pejabat intelijen tingkat atas, Saad al-Jabri, mengungkapkan bahwa pada tahun 2015 Mohammed secara rahasia meminta Rusia untuk mengintervensi Suriah ketika rezim Bashar al-Assad berada di ambang keruntuhan. Padahal di sisi lain, monarki Saudi secara terbuka mendukung pemberontak anti-Assad, termasuk Ahrar al-Sham,[168] sementara pasukan Rusia dan Suriah terus membombardir kota-kota yang dikuasai pemberontak hingga menewaskan puluhan ribu warga sipil Suriah. Sejumlah diplomat Barat menyebut bahwa Mohammed sangat dipengaruhi oleh politisi Uni Emirat Arab, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan (yang kemudian menjadi penguasa Abu Dhabi). UEA gencar mendorong gagasan untuk membantu Rusia menstabilkan Suriah demi mempertahankan rezim Assad di negara tersebut.[169]
Pada tahun 2017, laporan lain menyebutkan bahwa Arab Saudi menyediakan senjata bagi kelompok oposisi Suriah untuk melawan rezim Assad. Namun, Conflict Armament Research (CAR) menemukan bahwa pasokan senjata ini sering kali berakhir di tangan para anggota Negara Islam (ISIS).[170] Pada tahun 2018, Mohammed dilaporkan menginginkan agar militer AS tetap mempertahankan kehadirannya di Suriah, mengabaikan pernyataan Donald Trump yang berniat menarik mundur pasukan Amerika dari negara yang dilanda perang tersebut.[171]
Pada Maret 2023, Arab Saudi memulai dialog untuk mengembalikan Suriah ke dalam Liga Arab, serta memberikan dukungan ekonomi pasca-gempa bumi Turki–Suriah pada 6 Februari.[172] Pada Mei 2023, Presiden Suriah Bashar al-Assad menghadiri KTT Liga Arab di Jeddah dan diterima langsung oleh Mohammed bin Salman.[173]
Hubungan dengan Israel
Pada Desember 2017, Mohammed mengkritik keputusan Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.[174] Namun pada tahun 2018, ia menyuarakan dukungannya terhadap hak warga Israel atas tanah air mereka sendiri,[175] menjadikannya anggota senior kerajaan Saudi pertama yang menyatakan pandangan tersebut secara terbuka.[176][177] Pada September 2019, Mohammed mengecam rencana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menganeksasi wilayah timur Tepi Barat yang dikenal sebagai Lembah Yordan.[178]
Pada tahun 2020, Mohammed mengadakan pertemuan rahasia dengan Netanyahu dan kepala Mossad Yossi Cohen di Neom.[179] Meskipun Amerika Serikat terus mendorong normalisasi hubungan dan menyebut kesepakatan tersebut dalam konteks Kesepakatan Abraham, Riyadh sempat menolak laporan adanya kemajuan signifikan. Pada tahun 2023, di bawah mediasi AS, negosiasi diplomatik kembali intensif.[180] Mohammed bahkan sempat menyatakan bahwa negaranya bergerak semakin dekat menuju normalisasi.[181]
Namun akibat pecahnya perang di Gaza, Mohammed berbalik menyerukan embargo senjata global terhadap Israel.[182] Di tengah kecamuk perang, laporan dari The Atlantic menyebutkan bahwa Mohammed memberi tahu Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken pada Januari 2024 bahwa ia tetap terbuka terhadap opsi normalisasi, seraya berujar, "Apakah saya secara pribadi peduli dengan isu Palestina? Saya tidak peduli, tetapi rakyat saya sangat memikirkannya."[183][184] Jajak pendapat pada fase awal perang menunjukkan lebih dari 90 persen warga Saudi mendesak agar negara-negara Arab memutuskan segala hubungan dengan Israel.[185]
Pada Agustus 2024, Mohammed mengungkapkan kekhawatirannya akan ancaman pembunuhan yang menyasar dirinya karena kelanjutan proses normalisasi ini. Ia menegaskan kembali bahwa kesepakatan apa pun harus mencakup jalur konkret menuju pembentukan Negara Palestina.[186] Menyusul eskalasi konflik di Gaza serta serangan siber-militer Israel di Lebanon dan Suriah, Mohammed secara resmi mendeklarasikan dalam pidato tahunannya di hadapan Majelis Syura Arab Saudi pada 19 September 2024, bahwa Arab Saudi tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel sampai Palestina diakui sebagai negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.[185][187][188]
Pada KTT Luar Biasa di Riyadh, 11 November 2024, Mohammed mengutuk keras tindakan Israel di Gaza sebagai "genosida kolektif" dan menuntut Israel untuk menghormati kedaulatan wilayah Iran.[189][190][191] Menurut pengamat dari Universitas Princeton, Bernard Haykel, dinasti Al Saud sejatinya mengagumi kesuksesan ekonomi dan teknologi Israel, serta tetap mengincar kerja sama jangka panjang di sektor teknologi tinggi di bawah payung pengakuan timbal balik jika prasyarat politik terpenuhi.[192]
Hubungan dengan Rusia

Di bawah kepemimpinan Mohammed, Arab Saudi memperkuat hubungannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.[193] Pada tahun 2016, Mohammed menandatangani perjanjian kerja sama dengan Rusia di pasar minyak global.[193] Setelah Mohammed dituduh terlibat dalam pembunuhan Jamal Khashoggi, Putin menjadi salah satu dari sedikit pemimpin dunia yang secara terbuka merangkul sang pangeran.[194] Rusia juga memilih untuk tidak mengkritik intervensi pimpinan Saudi di Yaman serta mendukung embargo senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa terhadap kelompok Houthi di Dewan Keamanan PBB.[195][196] Pada tahun 2021, Mohammed menandatangani perjanjian kerja sama militer dengan Rusia.[197]
Di tengah isolasi Barat terhadap Moskow pasca-invasi Rusia ke Ukraina, Mohammed mempererat hubungan pribadinya dengan Vladimir Putin dan memperluas hubungan bilateral kedua negara.[82] Sejak saat itu, Rusia dan Arab Saudi aktif bekerja sama melalui OPEC+ untuk memangkas produksi minyak demi mendongkrak stabilitas harga.[198][199] Pada September 2022, lima warga Inggris dan dua warga Amerika yang menjadi tawanan perang di Ukraina dibebaskan oleh Rusia melalui mediasi Arab Saudi.[200] Konsep kebijakan luar negeri baru Rusia yang diumumkan pada tahun 2023 turut memberikan prioritas pada peningkatan hubungan persahabatan dengan Arab Saudi.[201] Pada Desember 2023, Putin mengunjungi Arab Saudi untuk mengadakan pertemuan langsung dengan Mohammed.[202]
Mohammed juga menyambut kunjungan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Riyadh pada 10 Maret 2025 menjelang dialog antara AS dan Ukraina. Langkah ini mempertegas repositioning Arab Saudi sebagai mediator dalam krisis global, termasuk dalam konflik Ukraina dan negosiasi AS-Rusia sebelumnya.[203]
Hubungan dengan Iran
Menyusul kemenangan Masoud Pezeshkian dalam pemilihan presiden Iran 2024, Raja Salman dan Mohammed mengirimkan pesan ucapan selamat. Berdasarkan laporan Saudi Press Agency (SPA), Mohammed menekankan "keinginan kuat untuk mengembangkan dan memperdalam hubungan" guna memenuhi "kepentingan bersama" kedua negara.[204] Hubungan diplomatik di era Pezeshkian dan Mohammed menguat secara signifikan hingga mencapai apa yang disebut MBS sebagai "titik balik bersejarah."[205][206] Pada akhir Januari 2026, Pezeshkian dan Mohammed melakukan pembicaraan telepon krusial guna membahas stabilitas kawasan pasca-kedatangan kapal induk AS di wilayah tersebut. Dalam panggilan itu, MBS menegaskan bahwa Arab Saudi tidak akan mengizinkan wilayah darat maupun ruang udaranya digunakan untuk tindakan militer yang menargetkan Iran.[207]
Namun demikian, menurut laporan The Washington Post, Mohammed sempat melakukan beberapa panggilan telepon dengan Presiden AS Donald Trump yang mendesaknya untuk menyerang Iran, dengan menyatakan bahwa "Iran akan menjadi lebih kuat dan berbahaya jika Washington tidak segera bertindak".[208] The Washington Post juga melaporkan bahwa keputusan Trump untuk memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026 diambil setelah adanya lobi intensif dari pemerintah Arab Saudi dan Israel.[8] Pemerintah Arab Saudi sendiri secara resmi membantah klaim bahwa Mohammed mendesak Trump di balik layar untuk melancarkan serangan militer tersebut.[209] Pada 15 Maret 2026, The New York Times kembali melaporkan bahwa Mohammed terus mendorong Trump untuk "tetap menekan dan menghantam pihak Iran dengan keras."[210]
Hubungan dengan Turki
Pada Maret 2018, Mohammed sempat menyebut Turki sebagai bagian dari "segitiga setan" bersama dengan Iran dan Ikhwanul Muslimin.[211][212] Walau demikian, Mohammed kemudian menginisiasi rekonsiliasi pada tahun 2022 yang mencairkan kembali hubungan bilateral kedua negara.[213] Pada Juli 2023, Sang Putra Mahkota dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan menyepakati perjanjian besar bernilai tinggi bagi Arab Saudi untuk mendatangkan drone Baykar Bayraktar Akıncı.[214]
Hubungan dengan Amerika Serikat
Hubungan dengan administrasi pertama Trump
Pada Agustus 2016, Donald Trump Jr., putra dari calon presiden AS Donald Trump, mengadakan pertemuan dengan utusan yang mewakili Mohammed bin Salman dan putra mahkota Abu Dhabi, Mohammed bin Zayed. Utusan tersebut menawarkan bantuan taktis untuk kampanye Trump.[215] Pertemuan tersebut dihadiri pula oleh Joel Zamel (pakar media sosial asal Israel), George Nader (pengusaha Lebanon-Amerika), serta pendiri perusahaan militer Blackwater, Erik Prince.[216][215]

Setelah Trump terpilih, dukungan penuh terhadap Mohammed bin Salman digambarkan sebagai salah satu dari sedikit isu luar negeri yang disepakati bersama oleh penasihat Gedung Putih yang saling bersaing, Jared Kushner dan Steve Bannon.[76] Mohammed, yang saat itu menjabat sebagai wakil putra mahkota, diundang ke Gedung Putih dan menerima sambutan seremonial kedutaan yang biasanya hanya diberikan kepada kepala negara. Ia kemudian membela kebijakan kontroversial administrasi Trump terkait larangan perjalanan bagi warga negara dari 7 negara mayoritas Muslim, dengan menyatakan bahwa "Arab Saudi tidak menganggap kebijakan ini menargetkan negara Islam ataupun agama Islam."[217]
Kushner juga dilaporkan mencari cara strategis untuk membantu memuluskan jalan suksesi bagi Mohammed.[218] Ketika Mohammed resmi diangkat menjadi putra mahkota, Trump dilaporkan sempat berujar kepada timnya, "Kita telah menempatkan orang kita di puncak."[219] Trump awalnya mendukung aksi blokade terhadap Qatar yang dipimpin oleh Saudi,[220] meskipun langkah ini sempat ditentang oleh Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson dan Menteri Pertahanan James Mattis,[221] sebelum akhirnya Trump mengubah posisi diplomasinya.[222]
Mohammed belakangan diklaim menyatakan bahwa Kushner sempat memberikan dukungan pasokan informasi intelijen mengenai pergerakan rival-rival domestiknya selama Pembersihan Arab Saudi 2017–2019, sebuah aksi penertiban internal yang secara terbuka turut didukung oleh Trump.[223][224] Administrasi Trump juga tetap teguh memberikan pembelaan diplomatik bagi Mohammed di tengah tekanan kecaman global yang meluas menyusul kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.[225]
Hubungan dengan pemerintahan Biden

Pada tahun 2019, selama masa pemerintahan Trump, Joe Biden mengkritik Mohammed dan menggambarkannya sebagai "paria" akibat pembunuhan Jamal Khashoggi pada tahun 2018.[226] Pada bulan Juli 2021, enam bulan setelah Biden menjabat sebagai presiden, Wakil Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman Al Saud (saudara laki-laki Mohammed) mengunjungi Amerika Serikat. Pertemuan tersebut merupakan pertemuan pertama antara pejabat senior AS dan Arab Saudi setelah pembunuhan Jamal Khashoggi pada tahun 2018.[227] Pada bulan September 2021, penasihat keamanan nasional Biden, Jake Sullivan, bertemu dengan Mohammed. Dalam pertemuan tersebut, Mohammed dilaporkan berakhir dengan membentak Sullivan setelah ia mengungkit masalah pembunuhan Khashoggi.[226]
Hubungan perdagangan AS-Arab Saudi juga merosot drastis dari titik tertinggi sebesar 76 miliar dolar pada tahun 2012 menjadi hanya sekitar 29 billion dolar pada tahun 2021. Setelah Rusia menginvasi Ukraina pada tahun 2022, Arab Saudi menolak permintaan AS untuk meningkatkan produksi minyak dan dengan demikian melemahkan keuangan perang Rusia.[226][228][229] The Wall Street Journal menulis pada bulan April 2022 bahwa hubungan AS-Arab Saudi berada pada "titik terendah dalam beberapa dekade".[226] Pada bulan April 2022, direktur CIA William Burns melakukan perjalanan ke Arab Saudi untuk bertemu dengan Mohammed, memintanya untuk meningkatkan produksi minyak negara tersebut. Mereka juga membahas pembelian senjata Arab Saudi dari Tiongkok.[230]

Hubungan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi menjadi renggang setelah OPEC+ mengumumkan pemotongan produksi minyak sebesar dua juta barel per hari. Pemerintah AS marah atas langkah tersebut, dan menuduh Arab Saudi memihak Rusia dalam perangnya melawan Ukraina. Pemerintah Saudi membantah klaim ini, dengan menyatakan bahwa langkah tersebut tidak bermotif politik melainkan untuk membawa stabilitas di pasar minyak global.[231] Pemerintah Saudi juga menolak permintaan AS untuk menunda keputusan OPEC hingga setelah Pemilihan umum Amerika Serikat 2022, yang memicu Biden untuk mengancam akan adanya "konsekuensi" terhadap Arab Saudi.[232]
Hubungan Arab Saudi dengan pemerintahan Biden sempat tegang, terutama setelah penolakan Mohammed untuk meningkatkan produksi minyak setelah terjadinya Invasi Rusia ke Ukraina. Namun, hubungan tersebut kembali membaik seiring dengan kunjungan resmi Biden ke Arab Saudi,[233] persetujuan Pentagon atas kesepakatan senjata senilai $500 juta,[234] kunjungan kelompok bipartisan senator AS ke Arab Saudi,[235] serta pelonggaran pembatasan pada penjualan senjata ofensif.[236]
Hubungan dengan pemerintahan kedua Trump


Dari tanggal 13 hingga 16 Mei 2025, Donald Trump melakukan perjalanan internasional besar pertamanya pada masa jabatan keduanya, dengan mengunjungi Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Trump dan Mohammed menandatangani perjanjian "kemitraan ekonomi strategis".[237] Kunjungan tersebut mengangkat posisi Mohammed di dalam pemerintahan Saudi karena Raja Salman, yang tidak muncul selama kunjungan tersebut, sebagian besar telah menarik diri dari pandangan publik. Berbeda dengan Konferensi Tingkat Tinggi Riyadh 2017, Mohammed menyambut Trump secara langsung di Bandar Udara Internasional Raja Khalid, bukan Raja Salman.[238]
Hubungan dengan Qatar
Pada tanggal 5 Juni 2017, Arab Saudi di bawah kepemimpinan Mohammed memelopori krisis diplomatik dengan Qatar bersama dengan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir, di mana negara-negara tersebut memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar dan secara efektif menerapkan blokade terhadap negara tersebut. Negara-negara tersebut menyatakan dugaan dukungan Qatar terhadap terorisme sebagai alasan utama tindakan mereka, di samping juga menyoroti Al Jazeera serta hubungan Qatar dengan Iran. Reuters melaporkan bahwa Mohammed "mengatakan perselisihan dengan Qatar dapat berlangsung lama, membandingkannya dengan Embargo Amerika Serikat terhadap Kuba yang diberlakukan 60 tahun sebelumnya, namun ia meremehkan dampaknya dengan menyebut emirat Teluk tersebut 'lebih kecil daripada sebuah jalan di Kairo'".[212] Pada bulan Agustus 2018, sebuah laporan oleh The Intercept mengutip sumber-sumber anonim yang mengeklaim bahwa mantan menteri luar negeri AS Rex Tillerson pada bulan Juni 2017 telah melakukan intervensi untuk menghentikan rencana Saudi-Emirat untuk menginvasi Qatar, yang mengakibatkan meningkatnya tekanan dari Arab Saudi dan UEA demi pencopotannya dari jabatan.[239]
Pada tanggal 4 Januari 2021, Qatar dan Arab Saudi menyetujui resolusi krisis yang dimediasi oleh Kuwait dan Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa Arab Saudi akan membuka kembali perbatasannya dengan Qatar dan memulai proses rekonsiliasi. Sebuah perjanjian dan komunike bersama yang ditandatangani pada tanggal 5 Januari 2021 setelah KTT DKT di Al-`Ula menandai berakhirnya krisis tersebut.[240]
Pengunduran diri Saad Hariri
Pada bulan November 2017, Mohammed memaksa Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri untuk mengundurkan diri ketika ia mengunjungi Arab Saudi. Mohammed meyakini bahwa Hariri berada di bawah kendali Hizbullah yang didukung Iran, yang merupakan kekuatan politik utama di Lebanon. Hariri pada akhirnya dibebaskan, kembali ke Lebanon, dan membatalkan pengunduran dirinya tersebut.[47]
Hubungan dengan Kanada
Hubungan Kanada–Arab Saudi
Chrystia Freeland, menteri urusan luar negeri Kanada, mengeluarkan pernyataan via Twitter pada tanggal 2 Agustus 2018 yang menyatakan keprihatinan Kanada atas penangkapan Samar Badawi baru-baru ini, seorang aktivis hak asasi manusia dan saudara perempuan dari blogger Saudi yang dipenjara, Raif Badawi, serta menyerukan pembebasan para aktivis HAM.[241] Menanggapi kritik Kanada, Arab Saudi mengusir duta besar Kanada dan membekukan perdagangan dengan negara tersebut.[242] Ensor[243] Toronto Star melaporkan bahwa konsensus di kalangan analis menunjukkan bahwa tindakan yang diambil oleh Mohammed merupakan sebuah "peringatan bagi dunia — dan bagi para aktivis HAM Saudi — bahwa Arab Saudi di bawah kepemimpinannya tidak boleh dipermainkan".[244] Hubungan diplomatik tersebut akhirnya dipulihkan pada tanggal 24 Mei 2023.[245]
Hubungan dengan Tiongkok
Hubungan antara Tiongkok dan Arab Saudi semakin mendalam di bawah kepemimpinan Mohammed; sejak ia menjadi putra mahkota pada tahun 2017, perdagangan antara kedua negara meningkat dari $51,5 miliar menjadi $87,5 billion pada tahun 2021.[246] Pada bulan Februari 2019, Mohammed membela kebijakan Tiongkok di Xinjiang, di mana lebih dari 1 juta orang Uighur dimasukkan ke dalam kamp internir, dengan mengatakan "Tiongkok memiliki hak untuk menjalankan tugas antiterorisme dan de-ekstremisasi demi keamanan nasionalnya.".[247][248][249] Miqdaad Versi, juru bicara Dewan Muslim Britania, menyebut pernyataan Mohammed "menjijikkan" dan sebuah pembelaan terhadap "penggunaan kamp konsentrasi terhadap Muslim Uighur".[250] Tiongkok telah menjadi mitra ekonomi terbesar Arab Saudi sejak tahun 2014 dan Arab Saudi adalah sumber impor minyak terbesar bagi Tiongkok.[251] Pada tahun 2019, para pejabat Tiongkok mengumumkan rencana untuk mengintegrasikan Visi Saudi 2030 ke dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan, serta memperluas kerja sama ekonomi, budaya, strategis, dan militer.[252]
Sejak tahun 2021, Tiongkok telah membantu program rudal balistik Arab Saudi melalui transfer teknologi dan pembuatan usaha patungan untuk produksi rudal.[253][254] Mohammed menjamu Presiden Tiongkok Xi Jinping di Riyadh untuk pembicaraan pada tanggal 7–10 Desember 2022.[255] Selama kunjungan tersebut, Xi bertemu dengan banyak pemimpin Arab, termasuk para anggota Dewan Kerja Sama Teluk.[255] Xi juga menandatangani sejumlah kesepakatan komersial dengan Arab Saudi dan secara resmi meningkatkan hubungan tersebut menjadi kemitraan strategis komprehensif, tingkat tertinggi dalam peringkat formal hubungan Tiongkok dengan negara lain.[256] Kesepakatan itu juga memperluas hubungan militer dan keamanan, di mana kedua belah pihak menyetujui produksi bersama sistem UAV di Arab Saudi.[257] Menggambarkan KTT DKT sebagai "peristiwa tonggak sejarah" dalam sejarah persahabatan Sino-Arab, Xi mendesak negara-negara Teluk untuk mulai melakukan transaksi minyak menggunakan Renminbi, sebuah langkah yang secara luas dipandang sebagai upaya Tiongkok untuk menetapkan Renminbi sebagai mata uang dunia.[258]
Selama pameran Airshow China 2022 yang diadakan di Zhuhai, Arab Saudi dan Tiongkok menyelesaikan kesepakatan senjata senilai $4 miliar. Berdasarkan kontrak tersebut, Arab Saudi membeli ratusan drone Tiongkok, rudal balistik, serta sistem senjata energi terarah (DEW) Silent Hunter di samping adanya transfer teknologi yang memungkinkan manufaktur dalam negeri untuk berbagai persenjataan.[259][260] Pada tanggal 10 Maret 2023, Arab Saudi dan Iran sepakat untuk memulihkan hubungan diplomatik yang sempat terputus pada tahun 2016 setelah kesepakatan yang dimediasi di antara kedua negara oleh Tiongkok menyusul pembicaraan rahasia di Beijing.[261]
Intimidasi Saad al-Jabri
Pada tanggal 9 Juli 2020, empat senator Amerika Serikat mendesak Presiden Trump untuk mengupayakan kebebasan bagi anak-anak Saad al-Jabri, yaitu Omar dan Sarah. Mereka menyebutnya sebagai "kewajiban moral" untuk mendukung seorang pria yang telah membantu Intelijen AS selama bertahun-tahun dan memiliki hubungan dekat dengan anggota penting keluarga kerajaan Saudi. Pemerintah Saudi menahan Omar dan Sarah pada bulan Maret 2020, dan hingga saat ini keberadaan mereka masih belum diketahui.[262][263] Arab Saudi sebelumnya telah mengeluarkan permintaan ekstradisi dan pemberitahuan Interpol untuk membawa pulang Saad al-Jabri, yang merupakan kontak antiterorisme AS di Timur Tengah dan telah tinggal di Kanada sejak tahun 2018. Pemberitahuan Interpol terhadap al-Jabri kemudian dicabut, dengan alasan bahwa ia merupakan lawan politik Mohammed.[264]
Pada bulan Agustus 2020, al-Jabri mengajukan gugatan federal di Washington, DC. Ia menuduh bahwa Mohammed mengirim sebuah tim pembunuh bernama "Pasukan Macan" (Tiger Squad) ke Kanada pada bulan Oktober 2018 untuk membunuhnya. Al-Jabri sendiri merupakan penasihat terdekat dari saingan utama Mohammed, Muhammad bin Nayef. Pasukan tersebut dilaporkan berhasil diidentifikasi dan dipulangkan oleh otoritas Kanada.[265][266] Menyusul gugatan tersebut, Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Kolumbia mengeluarkan surat panggilan terhadap Mohammed bin Salman beserta 11 orang lainnya. Surat panggilan tersebut menyatakan bahwa keputusan hukum akan diambil secara verstek (putusan tanpa kehadiran tergugat) jika pihak-pihak terkait gagal memberikan tanggapan.[267] Dokumen-dokumen yang diajukan ke pengadilan mengungkapkan bahwa Mohammed telah menerima dokumen gugatan tersebut pada 22 September 2020 pukul 16.05 waktu setempat via WhatsApp, dan dua puluh menit kemudian pesan tersebut telah ditandai sebagai "terbaca".[268][269]
Peretasan ponsel Jeff Bezos
Pada bulan Maret 2019, Gavin de Becker, seorang spesialis keamanan yang bekerja untuk Jeff Bezos, menuduh Arab Saudi telah meretas ponsel Bezos.[270] Bezos pada saat itu merupakan pemilik The Washington Post, pemimpin perusahaan Amazon, dan orang terkaya di dunia.[270]
Pada bulan Januari 2020, hasil investigasi forensik FTI Consulting terhadap ponsel Bezos dipublikasikan. Perusahaan tersebut menyimpulkan dengan "keyakinan sedang hingga tinggi" bahwa ponsel Bezos diretas oleh pesan multimedia yang dikirim pada bulan Mei 2018 dari akun WhatsApp pribadi Mohammed, yang setelahnya ponsel tersebut mulai mengirimkan data dalam jumlah yang melonjak drastis.[271] Laporan tersebut menunjuk pada bukti tidak langsung: pertama, sebuah pesan bulan November 2018 dari Mohammed kepada Bezos menyertakan gambar yang menyerupai wanita yang menjadi selingkuhan Bezos, meskipun perselingkuhan tersebut belum diketahui publik pada saat itu; kedua, sebuah pesan teks bulan Februari 2019 dari Mohammed kepada Bezos mendesak Bezos untuk tidak mempercayai segalanya, tepat setelah Bezos mendapat pengarahan melalui telepon mengenai kampanye internet melawan dirinya yang dijalankan oleh pihak Saudi.[271]
Pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa, Agnès Callamard dan David Kaye, bereaksi bahwa dugaan peretasan tersebut mengindikasikan Mohammed berpartisipasi "dalam upaya untuk memengaruhi, atau bahkan membungkam, pemberitaan The Washington Post mengenai Arab Saudi".[272] Mereka menyatakan bahwa dugaan peretasan ini relevan dengan pertanyaan apakah Mohammed terlibat dalam pembunuhan Jamal Khashoggi, yang bekerja untuk The Washington Post.[273]
Lingkungan hidup
Di bawah kepemimpinan Mohammed, Arab Saudi telah melakukan lobi untuk melemahkan perjanjian pengurangan emisi karbon global.[274] Mohammed telah membuat komitmen agar Arab Saudi mencapai emisi nol bersih, namun rencana tersebut utamanya didasarkan pada teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon yang belum terbukti secara luas.[275]
Kontroversi
Pembunuhan Jamal Khashoggi


Pada bulan Oktober 2018, jurnalis Saudi Jamal Khashoggi, seorang kritikus Mohammed, dilaporkan hilang setelah memasuki konsulat Saudi di Istanbul. Para pejabat Turki meyakini bahwa Khashoggi telah dibunuh di dalam konsulat tersebut. Mereka mengeklaim memiliki rekaman video dan audio khusus yang membuktikan bahwa ia mula-mula disiksa lalu dibunuh, serta menyebutkan bahwa seorang pakar forensik medis merupakan bagian dari tim Saudi beranggotakan 15 orang yang terlihat memasuki dan meninggalkan konsulat pada saat hilangnya jurnalis tersebut.[276] Arab Saudi membantah tuduhan itu dan 13 hari kemudian Mohammed mengundang otoritas Turki untuk menggeledah bangunan tersebut karena mereka "tidak memiliki apa pun untuk disembunyikan". Pejabat Saudi menyatakan mereka "sedang berupaya untuk mencarinya".[277] The Washington Post melaporkan bahwa Mohammed sebelumnya sempat berusaha membujuk Khashoggi untuk kembali ke Arab Saudi demi menahannya.[278]
Menurut Middle East Eye, tujuh dari lima belas pria yang dicurigai membunuh Khashoggi merupakan anggota pengawal pribadi Mohammed.[279] John Sawers, mantan kepala MI6 Inggris, menyatakan bahwa berdasarkan penilaiannya terhadap bukti-bukti yang ada, "sangat mungkin" Mohammed yang memerintahkan pembunuhan Khashoggi.[280]
Menyusul kematian Khashoggi, beberapa komentator menyebut Mohammed sebagai "Mister Bone Saw" (Tuan Gergaji Tulang), sebuah permainan kata dari inisial MBS. Nama panggilan ini merujuk pada dugaan penggunaan gergaji tulang untuk menyingkirkan jasad Khashoggi.[281][282]
Mohammed membantah keterlibatan apa pun dalam pembunuhan tersebut dan melemparkan kesalahan pada agen-agen nakal yang bertindak di luar kendali. Kendati demikian, negara-negara Barat tidak mempercayainya dan meyakini hal ini tidak mungkin terjadi tanpa sepengetahuan atau persetujuan Mohammed. Donald Trump menggambarkan tanggapan Saudi terhadap pembunuhan tersebut sebagai "salah satu upaya penutupan kasus terburuk dalam sejarah." Trump juga meyakini bahwa Mohammed setidaknya mengetahui rencana tersebut, dengan mengatakan bahwa "sang pangeran menjalankan berbagai hal di sana secara lebih intensif pada tahap ini."[283]
Setelah pembunuhan tersebut, orang kepercayaan dekat Mohammed, Ahmad Asiri, dicopot dari jabatannya,[284] begitu pula dengan mantan penasihat Saud al-Qahtani.[285][286]
Rekaman pembunuhan Khashoggi yang dikumpulkan oleh intelijen Turki dilaporkan mengungkapkan bahwa salah satu anggota tim pembunuh menginstruksikan seseorang melalui telepon untuk "beri tahu bosmu, tugas telah selesai." Para pejabat intelijen Amerika meyakini bahwa kata "bos" tersebut merujuk kepada Sang Putra Mahkota. Orang yang melakukan panggilan telepon itu diidentifikasi sebagai Maher Abdulaziz Mutreb, seorang perwira keamanan yang sering terlihat bepergian bersama sang pangeran.[287]
Tujuh minggu setelah kematian Khashoggi, Arab Saudi, demi "menjauhkan ... Putra Mahkota Mohammed bin Salman dari pembunuhan mengerikan tersebut," menyatakan akan menuntut hukuman mati bagi lima tersangka yang dituduh "memerintahkan dan mengeksekusi kejahatan tersebut".[288][289]
Pada tanggal 16 November 2018, dilaporkan bahwa Central Intelligence Agency (CIA) telah menyimpulkan dengan "keyakinan tinggi" bahwa Mohammed memerintahkan pembunuhan Khashoggi. CIA mendasarkan kesimpulannya pada beberapa bukti, termasuk percakapan yang disadap di mana saudara laki-laki Mohammed, Khalid, memberikan jaminan kepada Khashoggi bahwa akan aman bagi sang jurnalis untuk memasuki konsulat Arab Saudi di Istanbul. Meskipun CIA dilaporkan tidak memastikan apakah Khalid mengetahui rincian akhir dari nasib Khashoggi saat memasuki konsulat, lembaga tersebut percaya bahwa Khalid menyampaikan pesan ini kepada Khashoggi atas perintah Mohammed. Dalam analisis CIA, pembunuhan tersebut kemungkinan besar dimotivasi oleh keyakinan pribadi Mohammed bahwa Khashoggi adalah seorang Islamis yang memiliki hubungan bermasalah dengan Ikhwanul Muslimin—sebuah persepsi yang sangat berbeda dengan pernyataan publik pemerintah Arab Saudi mengenai kematian Khashoggi.[290]
Pada tanggal 4 Desember 2018, sekelompok senator Amerika Serikat menerima pengarahan dari Direktur CIA Gina Haspel mengenai pembunuhan Khashoggi. Setelah pengarahan tersebut, para senator menjadi sangat yakin bahwa Mohammed memainkan peran utama dalam pembunuhan itu.[291] Senator Lindsey Graham mengatakan, "Anda harus sengaja menutup mata untuk tidak sampai pada kesimpulan bahwa ini diatur dan diorganisasi oleh orang-orang di bawah komando MBS, dan bahwa ia terlibat secara intrinsik dalam kematian Tuan Khashoggi." Senator Bob Corker mengatakan bahwa sang pangeran "memerintahkan, memantau pembunuhan tersebut" dan "jika ia berada di depan juri, ia akan dinyatakan bersalah atas pembunuhan dalam waktu sekitar 30 menit."[292] Pada tanggal 5 Desember 2018, Kepala Dewan Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet meminta diadakannya penyelidikan internasional untuk menentukan siapa di balik pembunuhan Khashoggi.[293]
Mantan kepala intelijen Saudi dan anggota senior keluarga kerajaan Saudi, Pangeran Turki bin Faisal, menolak temuan CIA yang melaporkan bahwa Mohammed memerintahkan pembunuhan jurnalis tersebut, dengan mengatakan bahwa "CIA telah terbukti salah sebelumnya. Sebut saja contohnya seperti dalam invasi Irak."[294]
Pada bulan Maret 2019, para senator AS menuduh Arab Saudi atas serangkaian tindakan salah yang berulang dan mengkritik Mohammed dengan mengatakan ia telah bertindak "sepenuhnya seperti gangster" (full gangster).[295] Para senator menyatakan bahwa daftar pelanggaran hak asasi manusia oleh Arab Saudi sudah terlalu panjang untuk bisa memaklumi situasi di kerajaan tersebut atau bahkan untuk bekerja sama dengan Mohammed.[296]
Pada bulan Juni 2019, sebuah laporan PBB yang berjudul "Lampiran pada Laporan Pelapor Khusus tentang eksekusi ekstrayudisial, ringkas, atau sewenang-wenang: Investigasi atas kematian tidak sah Tuan Jamal Khashoggi" mengaitkan nama Mohammed dengan pembunuhan tersebut.[297][298]
Dalam sebuah artikel bulan Juni 2019, The Guardian mengeklaim bahwa setelah pembunuhan Khashoggi, grup media tersebut menjadi sasaran upaya peretasan yang dilakukan oleh subdivisi siber Saudi. Klaim ini didasarkan pada dokumen perintah internal yang diperoleh grup tersebut, yang turut ditandatangani oleh Saud al-Qahtani.[299] Berdasarkan wawancara dalam film dokumenter PBS yang direkam pada Desember 2018 (dan sebagian dirilis pada September 2019), Mohammed menyatakan memikul tanggung jawab atas pembunuhan Khashoggi karena peristiwa itu terjadi di bawah pengawasannya, namun ia membantah mengetahui rencana pembunuhan tersebut sebelumnya.[300][301][302] Dalam sebuah wawancara dengan acara 60 Minutes CBS yang disiarkan pada 29 September 2019, ia membantah keterlibatan pribadi secara langsung, seraya menambahkan bahwa "begitu tuduhan terbukti terhadap seseorang, terlepas dari apa pun pangkat mereka, kasusnya akan dibawa ke pengadilan, tidak ada pengecualian", namun ia menyatakan tetap harus bertanggung jawab penuh atas apa yang telah terjadi.[303][304]
Pada tanggal 25 Februari 2021, Kantor Direktur Intelijen Nasional (ODNI) merilis laporan rahasia yang telah dideklasifikasi dan disetujui oleh Direktur Avril Haines. Laporan berjudul "Menilai Peran Pemerintah Saudi dalam Pembunuhan Jamal Khashoggi" tersebut menyatakan bahwa, "Kami menilai bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman menyetujui operasi di Istanbul, Turki untuk menangkap atau membunuh jurnalis Saudi Jamal Khashoggi."[305]
Pada tanggal 26 Februari 2021, Pelapor Khusus PBB untuk eksekusi ekstrayudisial, ringkas, atau sewenang-wenang, Agnès Callamard, merilis sebuah pernyataan yang mendesak, "Pemerintah Amerika Serikat harus menjatuhkan sanksi terhadap Putra Mahkota, sebagaimana yang telah dilakukan terhadap pelaku lainnya, dengan menargetkan aset pribadinya serta keterlibatan internasionalnya."[306]
Pada tanggal 18 November 2022, karena peran barunya sebagai Perdana Menteri Arab Saudi, Mohammed mendapatkan kekebalan hukum dari AS atas pembunuhan Khashoggi. Kendati demikian, pemerintahan Biden menegaskan bahwa keputusan ini bukan merupakan penetapan bahwa ia tidak bersalah.[307]
Hubungan dengan Jeffrey Epstein

Mohammed bin Salman disebutkan secara menonjol dalam Berkas Epstein. Pada tahun 2025, The New York Times menerbitkan sebuah foto berbingkai dari Putra Mahkota yang ditemukan di apartemen Epstein.[308] [309] Epstein menyebutkan hubungan kedekatannya dengan MbS dalam email yang dipertukarkan dengan reporter The New York Times, Thomas Landon.[310] Epstein melakukan perjalanan ke Arab Saudi pada tahun 2016 untuk bertemu dengan MbS, setelah berkomunikasi dengan Raafat al-Sabagh, salah satu penasihat sang pangeran.[311]
Kehidupan pribadi

Pada tanggal 6 April 2008, Mohammed menikahi sepupu pertamanya, Sara bint Mashour, putri dari paman dari pihak ayahnya, Mashour bin Abdulaziz. Pasangan ini dikaruniai lima orang anak; empat anak pertama dinamai menurut nama kakek-nenek mereka, dan anak kelima dinamai menurut nama buyut mereka, Raja Abdulaziz, pendiri Arab Saudi.[312][313][314][315] Pada tahun 2022, The Economist melaporkan bahwa dalam setidaknya satu kesempatan, Mohammed memukul Sara dengan sangat parah hingga sang istri memerlukan perawatan medis.[316]
Pada tahun 2015, Mohammed membeli superyacht Serene buatan Italia yang terdaftar di Bermuda dari taipan vodka Rusia Yuri Shefler seharga €500 juta.[317][318] Pada tahun yang sama, ia juga membeli Château Louis XIV di Prancis dengan harga lebih dari $300 juta.[319][320] Pada tahun 2018, ia ditempatkan oleh Forbes sebagai orang paling berkuasa kedelapan di dunia, dengan kekayaan pribadi yang ditaksir mencapai setidaknya $25 miliar,[321] meskipun ada pula estimasi lain yang menyebutkan kekayaannya sebesar $3,0 miliar pada tahun yang sama.[322]
Pada bulan Desember 2017, sejumlah sumber melaporkan bahwa Mohammed, dengan menggunakan sekutu dekatnya Pangeran Badr bin Abdullah bin Mohammed Al Farhan sebagai perantara, telah membeli lukisan Salvator Mundi karya Leonardo da Vinci; penjualan pada bulan November senilai $450 juta tersebut memecahkan rekor baru sebagai harga termahal untuk sebuah karya seni.[323][324][325][326] Laporan ini sempat dibantah oleh rumah lelang Christie's, kedutaan besar Arab Saudi,[327] serta pemerintah UEA yang kemudian mengumumkan bahwa mereka adalah pemilik sah dari lukisan tersebut.[328] Lukisan ini tidak pernah terlihat lagi di depan publik sejak pelelangan tersebut,[329][330] namun sempat dilaporkan berada di atas yacht Serene milik Mohammed.[331][332] Bernard Haykel, seorang sejarawan terkemuka yang rutin berkomunikasi dengan Mohammed, menyampaikan kepada BBC bahwa terlepas dari rumor yang menyebutkan maha karya tersebut dipajang "di dalam kapal pesiar atau istana sang pangeran", lukisan itu sebenarnya disimpan dengan aman di Jenewa. Rencananya, lukisan itu akan dipajang di sebuah museum berskala besar yang akan dibangun di Riyadh, berfungsi sebagai "daya tarik utama" untuk memikat wisatawan mancanegara "sebagaimana lukisan Mona Lisa melakukannya."[333]
Mohammed dikenal sebagai seorang gamer yang antusias sejak masa kanak-kanak. Ia juga gemar melakukan mendaki gunung (hiking) dan menyelam di waktu luangnya.[334]
Penghargaan
| Negara | Pita hiasan | Ordo | Tahun | Ref. |
|---|---|---|---|---|
| Kelas Istimewa dari Ordo Syekh Isa bin Salman Al Khalifa | 2018 | [335] | ||
| Grand Cordon dari Ordo Republik | 2018 | [336] | ||
| Nishan-e-Pakistan | 2019 | [337] | ||
| Kelas Pertama Sipil dari Ordo Oman | 2021 | [338] | ||
| Kolar dari Ordo Zayed | 2021 | [339] | ||
| Kolar dari Ordo Al-Hussein bin Ali | 2022 | [340] | ||
| Kelas Pertama dari Ordo Pangeran Yaroslav yang Bijaksana | 2023 | [341] | ||
Silsilah
| Silsilah dari Muhammad bin Salman Alu Saud[342] | |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Lihat pula
Referensi
- ↑ "Mohammed bin Salman". Encyclopædia Britannica (dalam bahasa Inggris). 11 Oktober 2024.
- ↑ "Bagaimana Otoritarian Memanfaatkan Jender". Journal of Democracy. 2026.
Di Timur Tengah, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) muncul sebagai seorang otokrat yang senang mencitrakan dirinya sebagai pejuang kesetaraan jender... Rebranding pemerintah, alih-alih merespons kebutuhan warga negara, tampaknya menjadi poin utama dalam mengizinkan perempuan Saudi mengemudi. Genderwashing adalah contoh dari apa yang mendiang ilmuwan politik Joseph Nye sebut sebagai "soft power." Hal ini diterapkan bukan melalui pemaksaan atau pembayaran (yang merupakan contoh dari "hard power"), melainkan melalui kemampuan untuk menarik khalayak dengan retorika dan jenis kebijakan tertentu.
- ↑ Hande Atay Alam; Radina Gigova (2 Mei 2024). "Aktivis Hak Perempuan Saudi Dijatuhi Hukuman 11 Tahun Penjara, Kata Kelompok Hak Asasi". CNN (dalam bahasa Inggris).
- ↑ Kalin, Stephen; Said, Summer (28 Desember 2020). "Aktivis Hak Perempuan Saudi Divonis Hampir Enam Tahun Penjara". The Wall Street Journal (dalam bahasa American English). ISSN 0099-9660.
- ↑ "IMF Staff Country Reports Volume 2023 Issue 323: Arab Saudi: Konsultasi Pasal IV 2023-Siaran Pers; Laporan Staf; dan Lampiran Informasi (2023)". IMF eLibrary (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2 Juli 2024.
- ↑ "Arab Saudi: Isu-Isu Terpilih". IMF Staff Country Reports (dalam bahasa Inggris). 2022 (275). 17 Agustus 2022. doi:10.5089/9798400217548.002.A001 (tidak aktif 12 Juli 2025). Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025 (link)
- 1 2 Memahami Kalibrasi Ulang Kebijakan Luar Negeri Arab Saudi | Crisis Group
- 1 2 Birnbaum, Michael; Hudson, John; DeYoung, Karen; Allison, Natalie; Mekhennet, Souad (1 Maret 2026). "Push from Saudis, Israel helped move Trump to attack Iran". The Washington Post.
- ↑ "Pangeran Saudi Disebut Mendesak Trump untuk Melanjutkan Perang Iran dalam Panggilan Telepon Terbaru". The New York Times (dalam bahasa American English). 24 Maret 2026. ISSN 0362-4331.
- ↑ Batrawy, Aya (31 Agustus 2023). "Pria Saudi Dijatuhi Hukuman Mati karena Cuitan dalam Putusan Paling Keras bagi Kritikus Online". NPR (dalam bahasa Inggris).
- ↑ Whitehead, Jacob (24 April 2025). "Laporan Khusus: Turki Al-Sheikh dan Dua Sisi Raja Baru Dunia Tinju". The Athletic. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 April 2025. Diakses tanggal 19 September 2025.
- ↑ "Saudara Laki-Laki Pembangkang Saudi Dijatuhi Hukuman Mati dalam Kasus Media Sosial". New York Times. 2023.
- ↑ "Menilai Peran Pemerintah Saudi dalam Pembunuhan Jamal Khashoggi" (PDF). Office of the Director of National Intelligence. 11 Februari 2021. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 26 Februari 2021.
- ↑ "Kementerian". Kedutaan Besar Kerajaan Arab Saudi – Washington, D.C. 30 April 2003. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Desember 2017. Diakses tanggal 2 Januari 2018.
- ↑ "Siapakah Putra Mahkota Saudi Mohammed?". BBC News. 6 November 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Oktober 2017. Diakses tanggal 2 Januari 2018.
- ↑ Tisdall, Simon (24 Juni 2017). "Mohammed bin Salman Al Saud: Pemuda Pemarah yang Akan Menjadi Raja". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Oktober 2017. Diakses tanggal 2 Januari 2018.
- 1 2 Kirkpatrick, David D. (6 Juni 2015). "Langkah Mengejutkan Pangeran Saudi yang Bangkit di Antara Para Pangeran". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 September 2015. Diakses tanggal 29 Oktober 2015.
- ↑ Alexander Bligh (2018). "Perubahan dalam Hubungan Kebijakan Domestik-Luar Negeri dalam Konteks Saudi Pasca Pergantian Pengawal". The Journal of the Middle East and Africa. 9 (1): 110. doi:10.1080/21520844.2018.1450015. S2CID 170051189. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Februari 2023. Diakses tanggal 23 April 2022.
- ↑ "Profil: Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman". Arab News. 22 Juni 2017. Diakses tanggal 19 September 2023.
- ↑ "Profil Pangeran Mohammed bin Salman – Menteri Pertahanan Arab Saudi". 23 Desember 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 23 Desember 2015. Diakses tanggal 16 September 2022.
- ↑ "YMM Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz akan Meresmikan Cityscape Riyadh 2011". AMEinfo.com. 31 Oktober 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 1 November 2011. Diakses tanggal 2 Maret 2013.
- 1 2 "Ketua Dewan Direksi". MISK.org.sa. Misk Foundation. Diarsipkan dari asli tanggal 28 Januari 2015. Diakses tanggal 25 Januari 2015.
- ↑ "Pangeran Sultan Tiba di Bahrain untuk Menghadiri Grand Prix Bahrain". Bahrain News Agency. 22 April 2012. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 September 2013. Diakses tanggal 23 April 2012.
- ↑ "Kepercayaan Pemimpin dalam Diri Saya Adalah Motivasi Utama – Muhammad". Saudi Gazette. 3 Maret 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 20 Agustus 2014. Diakses tanggal 2 Maret 2013.
- ↑ "Pangeran Mohammed Ditunjuk sebagai Presiden Pengadilan Diwan Putra Mahkota". Saudi Business News. 2 Maret 2013. Diarsipkan dari asli tanggal 11 April 2013. Diakses tanggal 2 Maret 2013.
- ↑ "Pangeran Mohammed bin Salman Ditunjuk sebagai Penasihat Khusus Putra Mahkota". Asharq Alawsat. 3 Maret 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Maret 2013. Diakses tanggal 12 April 2013.
- ↑ "Saudi King Abdullah passes away". Al Arabiya. 23 Januari 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Januari 2015. Diakses tanggal 23 Januari 2015.
- ↑ "Saudi Prince Mohammad bin Salman named defense minister". Al Arabiya English. 23 Januari 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Februari 2021. Diakses tanggal 16 September 2022.
- ↑ "Profile: Prince Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud". Al Arabiya. 27 Januari 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 2 April 2015. Diakses tanggal 28 Februari 2015.
- ↑ Cordesman, Anthony H. (24 Januari 2015). "Saudi Succession: The King Is Dead, Long Live the King". Newsweek. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Januari 2015. Diakses tanggal 26 Januari 2015.
- ↑ "Yemen profile – Timeline". BBC News. 6 November 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Januari 2016. Diakses tanggal 16 September 2022.
- ↑ "Saudi and Arab allies bomb Houthi positions in Yemen". Al Jazeera. 26 Maret 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 26 Maret 2015.
- 1 2 3 4 Mazzetti, Mark; Hubbard, Ben (16 Oktober 2016). "Rise of Saudi Prince Shatters Decades of Royal Tradition". The New York Times. hlm. A1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Oktober 2016. Diakses tanggal 17 Oktober 2016.
- ↑ Law, Bill (8 Januari 2016). "The most dangerous man in the world?". The Independent. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Juni 2017.
- ↑ Osborne, Samuel (22 Januari 2016). "King Salman: The man in charge of the 'most dangerous man in the world'". The Independent. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Juni 2017.
- ↑ "Transcript: Interview with Muhammad bin Salman". The Economist. 6 Januari 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Januari 2016. Diakses tanggal 11 Januari 2016.
- 1 2 "Pangeran Mohammed bin Salman: Pangeran Saudi yang Naif dan Arogan Sedang Bermain Api". The Independent. 10 Januari 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Januari 2016.
- ↑ Browning, Noah; Irish, John (15 Desember 2015). "Saudi Arabia announces 34-state Islamic military alliance against terrorism". Reuters. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Juni 2018. Diakses tanggal 5 Juli 2018.
- ↑ McKernan, Bethan (27 November 2017). "More than 40 Islamic countries just met and vowed to wipe terrorism off the map". The Independent. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Maret 2018. Diakses tanggal 5 Juli 2018.
- ↑ "Mohammed bin Salman named Saudi Arabia's crown prince". Al Jazeera. 21 Juni 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Juni 2017.
- ↑ Huggler, Justin (2 Desember 2015). "Saudi Arabia 'destabilising Arab world', German intelligence warns". The Telegraph. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Januari 2016.
- ↑ Cockburn, Patrick (9 Januari 2016). "Prince Mohammed bin Salman: Naive, arrogant Saudi prince is playing with fire: German intelligence memo shows the threat from the kingdom's headstrong defence minister". The Independent. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Januari 2016.
- 1 2 Smaledec, Alison (3 Desember 2015). "Germany Rebukes Its Own Intelligence Agency for Criticizing Saudi Policy". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Juli 2017.
- ↑ Miller, Jake (21 Juni 2017). "Trump congratulates newly-elevated Saudi Arabian crown prince". CBS News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Agustus 2019. Diakses tanggal 12 Agustus 2019.
- ↑ Ignatius, David (20 April 2017). "A young prince is reimagining Saudi Arabia. Can he make his vision come true?". The Washington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Juli 2017.
- ↑ Waldman, Peter; Carey, Glen (9 November 2017). "The Saudi Purge Isn't Just a Power Grab". Bloomberg Businessweek. Diarsipkan dari asli tanggal 11 November 2017. Diakses tanggal 12 November 2017.
- 1 2 Bergen, Peter (17 November 2018). "Trump's uncritical embrace of MBS set the stage for Khashoggi crisis". CNN. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 November 2018. Diakses tanggal 13 Januari 2019.
- 1 2 "Alwaleed bin Talal, two other billionaires tycoons among Saudi arrests". Daily Sabah. 4 November 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 5 November 2017.
- ↑ Kirkpatrick, David D. (4 November 2017). "Saudi Arabia Arrests 11 Princes, Including Billionaire Waleed bin Talal". The New York Times. Diarsipkan dari asli tanggal 8 November 2017.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 "'Night of the beating': details emerge of Riyadh Ritz-Carlton purge". The Guardian. 19 November 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Oktober 2021. Diakses tanggal 19 Oktober 2021.
- 1 2 3 4 "How Saudi Arabia's crown prince crushed his rivals at the Ritz". NBC News. 3 November 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Oktober 2021. Diakses tanggal 19 Oktober 2021.
- ↑ Alhussein, Eman (2023), "Saudi Arabias centralized political structure: prospects and challenges", Handbook of Middle East Politics, Edward Elgar Publishing, hlm. 144–157, ISBN 978-1-80220-563-3
- 1 2 Davidson, Christopher M. (2021), "Mohammed bin Salman Al Saud (a.k.a. "MBS"): King in all but name (born 1985)", Dictators and Autocrats, Routledge, doi:10.4324/9781003100508-23, ISBN 978-1-003-10050-8
- ↑ Gardner, Frank (5 November 2017). "Saudi princes among dozens detained in anti-corruption purge". BBC. Diarsipkan dari asli tanggal 5 November 2017.
- ↑ "Saudi Arabia's unprecedented shake-up". The Economist. 5 November 2017. Diakses tanggal 6 November 2017.
- ↑ "The world should push the crown prince to reform Saudi Arabia, not wreck it". The Economist. 9 November 2017. Diakses tanggal 11 November 2017.
- ↑ Trump, Donald J. (6 November 2017). "I have great confidence in King Salman and the Crown Prince of Saudi Arabia, they know exactly what they are doing....Some of those they are harshly treating have been 'milking' their country for years!". Twitter. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 November 2017. Diakses tanggal 11 November 2017.
- ↑ Al-Shihri, Abdullah; Batrawyi, Aya (25 Oktober 2017). "More than 200 detained in Saudi Arabia in $100 billion corruption sweep". Chicago Tribune. Associated Press. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 November 2017. Diakses tanggal 11 November 2017.
- ↑ "Statement by the Royal Court: Anti Corruption Committee Concludes Its Tasks The official Saudi Press Agency". spa.gov.sa. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Januari 2019. Diakses tanggal 25 Februari 2019.
- ↑ "Saudi king presented with final corruption crackdown report, $107 bln recovered". Al Arabiya. 30 Januari 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Februari 2019. Diakses tanggal 25 Februari 2019.
- ↑ Nicholas Kulish (6 November 2017). "Ritz-Carlton Has Become a Gilded Cage for Saudi Royals". The New York Times.
- ↑ Exclusive: Saudi prince detention holds up loan to investment firm – sources Reuters
- ↑ "The Saudi purge will spook global investors and unsettle oil markets". The Economist. 9 November 2017. Diakses tanggal 11 November 2017.
- ↑ Said, Summer; Stancati, Margherita (17 November 2017). "Saudi Arabia Pursues Cash Settlements as Crackdown Expands". Wall Street Journal (dalam bahasa American English). ISSN 0099-9660. Diarsipkan dari asli tanggal 17 November 2017. Diakses tanggal 18 November 2017.
- ↑ Pavel Golovkin (17 November 2017). "Saudi Crackdown Escalates With Arrests of Top Military Officials". MSN. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Desember 2017. Diakses tanggal 18 November 2017.
- ↑ "Saudi Arabia's Crown Prince to become Kingdom's Prime Minister: Royal decree". Al Arabiya English. 27 September 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 September 2022. Diakses tanggal 27 September 2022.
- ↑ "Menghajar Kanada Lagi: Surat Kanada". The New York Times. 10 Agustus 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Agustus 2018. Diakses tanggal 12 Agustus 2018.
Pangeran Mohammed adalah seorang nasionalis Saudi
- ↑ "Nasionalisme Gelap Arab Saudi". The Atlantic. 2 Juni 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Agustus 2018. Diakses tanggal 12 Agustus 2018.
- ↑ "Raja Populis Arab Saudi yang Sedang Menanti Takhta". Politico. 22 November 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 November 2017. Diakses tanggal 23 November 2017.
- ↑ "Tindakan Tegas Korupsi di Arab Saudi Berisiko Menakutkan Investor". Financial Times. 30 Januari 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Agustus 2018. Diakses tanggal 12 Agustus 2018.
MbS, yang juga mengendalikan kebijakan luar negeri dan pertahanan, telah memadukan populisme di dalam negeri dengan nasionalisme yang agresif di luar negeri
- ↑ "Visi Modernisasi Sang Pewaris Takhta Berisiko Memicu Ketidakpuasan Kaum Konservatif". The Times. 22 Juni 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Agustus 2018. Diakses tanggal 12 Agustus 2018.
Visi Pangeran Mohammed bersifat konservatif dalam arti politik — ia akan menjadi raja yang otokratis — tetapi secara sosial ia lebih liberal.
- 1 2 3 4 Winkler, Theodor (2018). Sisi Gelap Globalisasi. LIT Verlag Münster. hlm. 192.
memadukan sistem ekonomi dan kemasyarakatan yang lebih liberal dengan pemerintahan otoriter yang diperkuat
- ↑ "Bagaimana Pria di Balik Pembunuhan Khashoggi Menjalankan Eksekusi Melalui Skype". Reuters. 22 Oktober 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 November 2018. Diakses tanggal 10 Januari 2019.
- ↑ "Sorotan: Di Dalam Pengadilan yang Dilanda Simalama dari Putra Mahkota Mohammed Bin Salman". GQ. 27 Desember 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Januari 2019. Diakses tanggal 10 Januari 2019.
- 1 2 "Menjumpai Dua Pangeran yang Membentuk Kembali Timur Tengah". Politico. 13 Juni 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Juli 2018. Diakses tanggal 12 Agustus 2018.
- 1 2 3 "Upaya Pangeran Saudi untuk Membentuk Kembali Timur Tengah". The New Yorker. 9 April 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Agustus 2018. Diakses tanggal 12 Agustus 2018.
- 1 2 Rula, Jebreal (19 Oktober 2018). "Jamal Khashoggi Secret Interview: The Saudi Journalist's Views of Islam, America and the 'Reformist' Prince Implicated in His Murder". Newsweek. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Oktober 2018. Diakses tanggal 20 Oktober 2018.
- ↑ Duran, Burhanettin (31 Oktober 2017). "Apakah "Islam Moderat" Hanya Cara Lain untuk Mengatakan Nasionalisme Arab?". SETA. Diarsipkan dari asli tanggal 28 Februari 2018.
- 1 2 3 4 5 "Kritikus Menyebut Represi Saudi Memburuk Dua Tahun Setelah Pembunuhan Keji Jurnalis". Los Angeles Times. 1 Oktober 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Agustus 2021. Diakses tanggal 18 Juli 2021.
- 1 2 3 4 "Studi Kasus Arab Saudi | Memahami Represi Transnasional". Freedom House. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Juli 2021. Diakses tanggal 18 Juli 2021.
- 1 2 3 4 5 "Harga Mahal dari Perubahan". Human Rights Watch. 4 November 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Juli 2021. Diakses tanggal 18 Juli 2021.
- 1 2 3 Chulov, Martin (5 Oktober 2022). "Putin dan Sang Pangeran: Kekhawatiran di Barat Seiring Menguatnya Hubungan Rusia dan Arab Saudi". The Guardian. Diarsipkan dari asli tanggal 8 Oktober 2022.
- 1 2 3 4 Simeon Kerr (30 Januari 2015). "Raja Saudi Menegaskan Otoritasnya dengan Perombakan Staf dan Pembagian Bantuan". Financial Times. Riyadh. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Februari 2015. Diakses tanggal 1 Februari 2015.
- 1 2 Waldman, Peter (21 April 2016). "Proyek untuk Melepaskan Ketergantungan Ekonomi Arab Saudi dari Minyak". Bloomberg Businessweek. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Oktober 2016. Diakses tanggal 17 Oktober 2016.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Ottaway, David (6 Mei 2021). "Putra Mahkota Saudi Mengecam Kelompok Wahhabi di Kerajaannya". Wilson Center, Seri Pandangan. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Mei 2021. Diakses tanggal 4 Maret 2022.
- 1 2 3 4 Holleis, Jennifer (10 Maret 2023). "Arab Saudi Mengubah Citra Menjelang Ramadan". Deutsche Welle. Diarsipkan dari asli tanggal 11 Maret 2023.
- 1 2 3 4 5 6 Wood, Graeme (3 Maret 2022). "KEKUASAAN MUTLAK". The Atlantic. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Agustus 2022. Diakses tanggal 4 Maret 2022.
- ↑ Perez, Gabriella (15 September 2022). "Fatamorgana Kebebasan Beragama di Saudi". Diarsipkan dari asli tanggal 18 Desember 2022.
- 1 2 "Haia Tidak Boleh Mengejar, Menangkap Tersangka". arabnews.com. 14 April 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Juni 2016. Diakses tanggal 14 April 2016.
- ↑ Commins, David Dean (2015). Islam di Arab Saudi. I.B. Tauris. hlm. 66. ISBN 9781848858015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Februari 2023. Diakses tanggal 4 Maret 2022.
- 1 2 Bashraheel, Aseel (22 September 2019). "Bangkit dan Runtuhnya Polisi Agama Saudi". Arab News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Desember 2020. Diakses tanggal 28 Februari 2021.
- 1 2 Brown, Nathan J. (5 Maret 2019). "Siapa atau Apa Itu Wali al Amr: Pertanyaan yang Tidak Diajukan". SSRN. SSRN 3346372. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Maret 2022. Diakses tanggal 5 Maret 2022.
- ↑ "Arab Saudi Melarang Abaya di Ruang Ujian". Arabian Business. 21 Desember 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 24 Desember 2022.
- ↑ "Arab Saudi Melarang Abaya di Aula Ujian". Gulf Business. 21 Desember 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 21 Desember 2022.
- ↑ Fatima, Sakina (19 Desember 2022). "Arab Saudi Melarang Abaya di Ruang Ujian". The Siasat Daily. Diarsipkan dari asli tanggal 19 Desember 2022.
- ↑ "DIJELASKAN: 'Arab Saudi Melarang Hijab di Ruang Ujian'—Sejauh Mana Kebenarannya?". Milli Chronicle. 26 Desember 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 26 Desember 2022.
- ↑ "Menghajar Kanada Lagi: Surat Kanada". The New York Times. 10 Agustus 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Agustus 2018. Diakses tanggal 12 Agustus 2018.
Pangeran Mohammed adalah seorang nasionalis Saudi
- ↑ "Nasionalisme Gelap Arab Saudi". The Atlantic. 2 Juni 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Agustus 2018. Diakses tanggal 12 Agustus 2018.
- ↑ "Raja Populis Arab Saudi yang Sedang Menanti Takhta". Politico. 22 November 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 November 2017. Diakses tanggal 23 November 2017.
- ↑ "Tindakan Tegas Korupsi di Arab Saudi Berisiko Menakutkan Investor". Financial Times. 30 Januari 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Agustus 2018. Diakses tanggal 12 Agustus 2018.
MbS, yang juga mengendalikan kebijakan luar negeri dan pertahanan, telah memadukan populisme di dalam negeri dengan nasionalisme yang agresif di luar negeri
- ↑ "Visi Modernisasi Sang Pewaris Takhta Berisiko Memicu Ketidakpuasan Kaum Konservatif". The Times. 22 Juni 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Agustus 2018. Diakses tanggal 12 Agustus 2018.
Visi Pangeran Mohammed bersifat konservatif dalam arti politik — ia akan menjadi raja yang otokratis — tetapi secara sosial ia lebih liberal.
- ↑ "Bagaimana Pria di Balik Pembunuhan Khashoggi Menjalankan Eksekusi Melalui Skype". Reuters. 22 Oktober 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 November 2018. Diakses tanggal 10 Januari 2019.
- ↑ "Sorotan: Di Dalam Pengadilan yang Dilanda Simalama dari Putra Mahkota Mohammed Bin Salman". GQ. 27 Desember 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Januari 2019. Diakses tanggal 10 Januari 2019.
- ↑ Duran, Burhanettin (31 Oktober 2017). "Apakah "Islam Moderat" Hanya Cara Lain untuk Mengatakan Nasionalisme Arab?". SETA. Diarsipkan dari asli tanggal 28 Februari 2018.
- ↑ Perez, Gabriella (15 September 2022). "Fatamorgana Kebebasan Beragama di Saudi". Diarsipkan dari asli tanggal 18 Desember 2022.
- ↑ Commins, David Dean (2015). Islam di Arab Saudi. I.B. Tauris. hlm. 66. ISBN 9781848858015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Februari 2023. Diakses tanggal 4 Maret 2022.
- ↑ "Arab Saudi Melarang Abaya di Ruang Ujian". Arabian Business. 21 Desember 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 24 Desember 2022.
- ↑ "Arab Saudi Melarang Abaya di Aula Ujian". Gulf Business. 21 Desember 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 21 Desember 2022.
- ↑ Fatima, Sakina (19 Desember 2022). "Arab Saudi Melarang Abaya di Ruang Ujian". The Siasat Daily. Diarsipkan dari asli tanggal 19 Desember 2022.
- ↑ "DIJELASKAN: 'Arab Saudi Melarang Hijab di Ruang Ujian'—Sejauh Mana Kebenarannya?". Milli Chronicle. 26 Desember 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 26 Desember 2022.
- ↑ "Kelompok HAM Mengecam Penangkapan di Saudi sebagai Tindakan Keras Terhadap Perbedaan Pendapat". Reuters. 15 September 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 September 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2018.
- ↑ "TERUNGKAP: Pasukan Kematian Saudi yang Digunakan MBS untuk Membungkam Perbedaan Pendapat". Middle East Eye. 22 Oktober 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 22 Oktober 2018. Diakses tanggal 22 Oktober 2018.
- ↑ "Apakah Arab Saudi Aman di Tangan Mohammed bin Salman?". Middle East Eye. 22 Oktober 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Oktober 2018. Diakses tanggal 22 Oktober 2018.
- ↑ "Arab Saudi: Penangkapan Dua Aktivis Terkemuka Menjadi Pukulan Mematikan Bagi Hak Asasi Manusia". Amnesty International. 18 September 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Desember 2017. Diakses tanggal 14 Desember 2017.
- ↑ Al Omran, Ahmed; Kerr, Simon (19 September 2017). "Pasukan Keamanan Saudi Menekan Perbedaan Pendapat". Financial Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Oktober 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2018.
- ↑ Batrawy, Aya; Al-Shihri, Abdullah (3 Juni 2018). "Jaksa Saudi Menyatakan 17 Orang Ditahan dalam Kasus Melawan Aktivis". Bloomberg. Riyadh. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Oktober 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2018.
- ↑ McKernan, Bethan (23 Mei 2018). "Saudi police arrest three more women's rights activists". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Mei 2018. Diakses tanggal 23 Mei 2018.
- ↑ "Arab Saudi Bebaskan Delapan Orang yang Ditahan dalam Tindakan Keras Terhadap Aktivis". Reuters. Riyadh. 2 Juni 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Oktober 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2018.
- ↑ al-Fassi, Hatoon Ajwad (2011). "Dr Hatoon Ajwad al-Fassi هتون أجواد الفاسي". Universitas Raja Saud. Diarsipkan dari asli tanggal 29 Agustus 2011. Diakses tanggal 29 Mei 2011.
- ↑ Dadouch, Sarah (27 Juni 2018). "Aktivis Hak Perempuan Terkemuka Saudi Ditahan Saat Larangan Mengemudi Dicabut: Sumber". Reuters. Riyadh. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Oktober 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2018.
- ↑ "Saudis arrest another women's right activist". Al Jazeera. 27 Juni 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Juni 2018. Diakses tanggal 27 Juni 2018.
- ↑ Graham-Harrison, Emma (22 Agustus 2018). "Arab Saudi Tuntut Hukuman Mati Terhadap Aktivis Hak Asasi Manusia Perempuan". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Oktober 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2018.
- 1 2 "Arab Saudi 'Tuntut Hukuman Mati untuk Aktivis Perempuan'". BBC News. 22 Agustus 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Agustus 2018. Diakses tanggal 22 Agustus 2018.
- ↑ "Saudi Prosecution Seeks Death Penalty for Female Activist". Human Rights Watch. 21 Agustus 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Agustus 2018. Diakses tanggal 23 Agustus 2018.
- ↑ Brennan, David (21 Agustus 2018). "Who Is Israa al-Ghomgham? Female Saudi Activist May Be Beheaded After Death Sentence". Newsweek. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Agustus 2018. Diakses tanggal 24 Agustus 2018.
- ↑ "Saudi Melakukan Gentrifikasi di Kawasan Tua Syiah Setelah Menumpas Pemberontakan". Al-Monitor. 4 Juni 2019. Diarsipkan dari asli tanggal 5 Juni 2019. Diakses tanggal 3 Maret 2026.
- ↑ "Seorang Aktivis Saudi yang Dipenjara Diberitahu Bahwa Ia Akan Dibebaskan Jika Menolak Telah Disiksa, Kata Keluarganya. Ia Menolak". The Washington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Januari 2020. Diakses tanggal 15 Agustus 2019.
- ↑ "Arab Saudi Akhirnya Mengizinkan Perempuan Mengemudi". The Economist. 27 September 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 September 2017.
- ↑ "Akhirnya Perempuan Saudi Akan Diizinkan Mengemudi". The Economist. 30 September 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 September 2017.
- ↑ al-Rasheed, Madawi (2 Agustus 2019). "Saudi women can now travel without consent – but this progress is fragile". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Agustus 2019. Diakses tanggal 2 Agustus 2019.
- ↑ "Arab Saudi Berikan Hak Perjalanan Bagi Perempuan dalam Perubahan Kebijakan Besar". bloomberg.com. 1 Agustus 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 September 2020. Diakses tanggal 1 Agustus 2019.
- ↑ Jessie Yeung; Hamdi Alkhshali. "Perempuan Arab Saudi Akhirnya Diizinkan Memegang Paspor dan Bepergian Secara Mandiri". CNN. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Agustus 2019. Diakses tanggal 2 Agustus 2019.
- ↑ "Perempuan Saudi Memulai Bisnis Sendiri Tanpa Izin Laki-laki". Al Arabiya. 18 Februari 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Maret 2018. Diakses tanggal 30 Maret 2018.
- ↑ "Perempuan Saudi yang Bercerai Memenangkan Hak untuk Mendapatkan Hak Asuh Anak". CNN. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Maret 2018. Diakses tanggal 30 Maret 2018.
- ↑ "Bursa Efek Saudi Menunjuk Ketua Perempuan Pertama". Reuters. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Maret 2018. Diakses tanggal 30 Maret 2018.
- ↑ "Bursa Efek Saudi Menunjuk Pemimpin Perempuan Pertama dalam Sejarah Kerajaan". Independent. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Maret 2018. Diakses tanggal 30 Maret 2018.
- ↑ Summer Said; Justin Scheck; WarrenStrobel. "Anggota Senior Keluarga Kerajaan Saudi Ditahan". The Wall Street Journal. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Maret 2021. Diakses tanggal 6 Maret 2020.
- ↑ Pelley, Scott (24 Oktober 2021). "Mantan Pejabat Saudi Menyebut Mohammed bin Salman Seorang "Psikopat", Menyatakan Putra Mahkota Saudi Takut dengan Apa yang Ia Ketahui". CBS News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Oktober 2021. Diakses tanggal 25 Oktober 2021.
- ↑ "Putra Mahkota Saudi Sarankan Pembunuhan Raja Abdullah, Kata Mantan Pejabat". BBC News. 25 Oktober 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Oktober 2021. Diakses tanggal 25 Oktober 2021.
- ↑ "Perang di Yaman Berdampak Buruk. Amerika Hanya Membuat Keadaan Menjadi Lebih Buruk". The Guardian. 11 Juni 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Oktober 2018. Diakses tanggal 20 Oktober 2018.
- ↑ "Putra Mahkota Saudi Membantu Yaman Saat Ia Menyerangnya dengan Serangan Udara". Time. 6 April 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 April 2018. Diakses tanggal 20 Oktober 2018.
- ↑ "Pangeran Saudi yang Gemar Mengambil Risiko Mempertaruhkan Stabilitas". London Free Press. 8 Februari 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Agustus 2017. Diakses tanggal 27 Januari 2019.
- ↑ "Pangeran Saudi Mohammed bin Salman Membuat Para Pemimpin Barat Sangat Khawatir". News. 13 Januari 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Juli 2016.
- ↑ Robertson, Nic (21 Juni 2018). "Mohammed bin Salman Berada dalam Misi yang Menentukan Keberhasilan atau Kegagalan". CNN. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Agustus 2018. Diakses tanggal 1 September 2018.
- ↑ "Krisis Yaman: Presiden Mengundurkan Diri Saat Pemberontak Memperketat Cengkeraman". BBC. 23 Januari 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Agustus 2018. Diakses tanggal 1 September 2018.
- ↑ Carapico, Sheila (25 Februari 2015). "Yemen Berada di Ambang Kehancuran Seiring Kegagalan Inisiatif Dewan Kerjasama Teluk". BBC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Agustus 2018. Diakses tanggal 1 September 2018.
- ↑ Raghavan, Sudarsan (29 Juli 2018). "Sekutu AS Telah Membunuh Ribuan Warga Yaman – Termasuk 22 Orang di Sebuah Acara Pernikahan". The Independent. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Juli 2018. Diakses tanggal 1 September 2018.
- ↑ "Arab Saudi Dituduh Melakukan Kejahatan Perang di Yaman Saat Putra Mahkota Menyelesaikan Kunjungan ke Inggris". The Herald. 10 Maret 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Oktober 2018. Diakses tanggal 20 Oktober 2018.
- ↑ MacAskill, Ewen (27 Januari 2016). "Laporan PBB Mengenai Serangan yang Dipimpin Saudi di Yaman Menimbulkan Pertanyaan Atas Peran Inggris". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Februari 2016.
- ↑ "Serangan Udara Menghantam Rumah Sakit Médecins Sans Frontières di Yaman Diarsipkan 29 Desember 2016 di Wayback Machine.". The Guardian. 27 Oktober 2015.
- ↑ Paul, Katie; El Gamal, Rania (19 Desember 2017). "Arab Saudi Cegat Rudal Houthi yang Ditembakkan ke Arah Riyadh; Tidak Ada Korban Jiwa yang Dilaporkan". Reuters. Riyadh. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Oktober 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2018.
- ↑ "Lebih dari 130 Warga Sipil Tewas dalam 11 Hari Serangan Udara di Yaman, Lapor Kantor Hak Asasi Manusia PBB". Perserikatan Bangsa-Bangsa. 19 Desember 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 September 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2018.
- ↑ Vonberg, Judith; Elbagir, Nima (28 Agustus 2018). "Semua Pihak dalam Konflik Yaman Bisa Bersalah atas Kejahatan Perang, Kata PBB". CNN. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Agustus 2018. Diakses tanggal 1 September 2018.
- 1 2 Kristof, Nicholas (31 Agustus 2017). "Foto-foto yang Tidak Ingin Dilihat oleh AS dan Arab Saudi". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Mei 2018. Diakses tanggal 24 Mei 2018.
- ↑
- ↑ Kara Fox. "85.000 Anak di Bawah Usia 5 Tahun Mungkin Telah Meninggal Akibat Kelaparan dalam Perang Yaman". CNN. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Juni 2019. Diakses tanggal 3 Juli 2019.
- ↑ Wintour, Patrick (16 November 2017). "Saudi Harus Mencabut Blokade Yaman atau Ribuan Orang yang 'Tak Terhitung' Akan Mati, Badan-Badan PBB Memperingatkan". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Desember 2017. Diakses tanggal 20 Oktober 2018.
- ↑ "50.000 Anak di Yaman Telah Meninggal Akibat Kelaparan dan Penyakit Sepanjang Tahun Ini, Kata Kelompok Pemantau". Chicago Tribune. Associated Press. 16 November 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 November 2018. Diakses tanggal 20 Oktober 2018.
- ↑ "Apakah Kelaparan yang Disengaja Merupakan Masa Depan Perang?". The New Yorker. 11 Juli 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Oktober 2018. Diakses tanggal 20 Oktober 2018.
- ↑ "Dalam Memblokir Senjata ke Yaman, Arab Saudi Menjepit Populasi yang Kelaparan". Reuters. 11 Oktober 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Desember 2018. Diakses tanggal 20 Oktober 2018.
- ↑ Summers, Hannah (15 Oktober 2018). "Yemen on brink of 'world's worst famine in 100 years' if war continues". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Oktober 2018. Diakses tanggal 21 Oktober 2018.
- ↑ "PBB Menerima Hampir $1 Miliar dari Arab Saudi dan UEA untuk Tanggap Kemanusiaan Terhadap Krisis Yaman". Perserikatan Bangsa-Bangsa. 28 Maret 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Maret 2018. Diakses tanggal 30 Maret 2018.
- ↑ "Arab Saudi Menyatakan Berhasil Mencegat Rudal Houthi yang Ditembakkan ke Arah Riyadh, Tidak Ada Laporan Kerusakan". CNBC. 19 Desember 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 September 2018. Diakses tanggal 22 Oktober 2018.
- ↑ Emily Thornberry (7 Maret 2018). "Karpet Merah Inggris untuk Penguasa Saudi Adalah Hal yang Tidak Tahu Malu". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 November 2018. Diakses tanggal 22 Oktober 2018.
- ↑ "Menendez and Graham announce resolution on Saudi Arabia in wake of Khashoggi killing". Fox News Channel. 12 Desember 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Desember 2018. Diakses tanggal 13 Desember 2018.
- 1 2 "Jeremy Hunt and Boris Johnson accused of 'central role' in arming Saudi Arabia as UK's relationship with Riyadh reaches crossroads". iNews. 5 Juli 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Juli 2019. Diakses tanggal 15 Juli 2019.
- ↑ "Jeremy Hunt's bid for prime minister is being funded by a close ally of Saudi prince Mohammed Bin Salman". Business Insider. 5 Juli 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Agustus 2021. Diakses tanggal 15 Juli 2019.
- ↑ Butler, Desmond (7 Mei 2015). "Turkey Officials Confirm Pact With Saudi Arabia To Help Rebels Fighting Syria's Assad". Huffington Post. AP. Diarsipkan dari asli tanggal 8 Mei 2015.
- ↑ "Saudi strongman 'encouraged' Russia intervention in Syria, lawsuit claims". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Agustus 2020. Diakses tanggal 1 Agustus 2020.
- ↑ "Arms supplied by U.S., Saudi ended up with Islamic State, researchers say". Reuters. 14 Desember 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Desember 2017. Diakses tanggal 14 Desember 2017.
- ↑ "Saudi Crown Prince Says U.S. Troops Should Stay in Syria". Time. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Oktober 2018. Diakses tanggal 30 Maret 2018.
- ↑ "Analysis: How important is Syria's return to the Arab League?". Al Jazeera. 19 Mei 2023.
- ↑ "Syria's Assad wins warm welcome at Arab summit after years of isolation". Reuters. 19 Mei 2023.
- ↑ "Who's Speaking Out Against Trump's Jerusalem Move". J Street. 12 Desember 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Juli 2019. Diakses tanggal 18 September 2019.
- ↑ "Saudi crown prince says Israelis have right to their own land". Reuters. 3 April 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Juni 2018. Diakses tanggal 25 Juni 2018.
- ↑ "Saudi crown prince recognizes Israel's right to exist, talks up future ties". The Times of Israel. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Juni 2018. Diakses tanggal 25 Juni 2018.
- ↑ Goldberg, Jeffrey (2 April 2018). "Saudi Crown Prince: Iran's Supreme Leader 'Makes Hitler Look Good'". The Atlantic. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Juni 2018. Diakses tanggal 25 Juni 2018.
- ↑ "UN condemns Israeli PM's West Bank annexation plans". CBC News. 11 September 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 September 2019. Diakses tanggal 18 September 2019.
- ↑ אייכנר, איתמר; בלומנטל, איתי (23 November 2020). "נתניהו המריא לסעודיה ונפגש בחשאי עם יורש העצר בן סלמאן". Ynet (dalam bahasa Ibrani). Diakses tanggal 23 Maret 2024.
- ↑ Nissenbaum, Dion; Lieber, Dov; Kalin, Stephen (9 Maret 2023). "Saudi Arabia Seeks U.S. Security Pledges, Nuclear Help for Peace With Israel". The Wall Street Journal. Diakses tanggal 16 Mei 2023.
- ↑ "Saudi Crown Prince MBS says Israel normalisation getting 'closer'".
- ↑ "Saudi Crown Prince calls on all countries to stop arms exports to Israel". Al Arabiya. 21 November 2023.
- ↑ "Saudi crown prince says he doesn't care about 'Palestinian issue'". Jewish News Syndicate. 29 September 2024.
- ↑ Foer, Franklin (25 September 2024). "The War That Would Not End". The Atlantic (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 22 November 2024.
- 1 2 "Saudi crown prince said he personally 'doesn't care' about Palestinian issue". Middle East Eye. 27 September 2024. Diakses tanggal 27 September 2024.
- ↑ "Israel deal concerns lead Saudi Arabia's MBS to 'fear for his life'". Dawn. 15 Agustus 2024. Diakses tanggal 15 Agustus 2024.
- ↑ "Saudi crown prince says no Israel ties without Palestinian state". France 24. 19 September 2024. Diakses tanggal 27 September 2024.
- ↑ "On Behalf of the Custodian of the Two Holy Mosques, HRH the Crown Prince Inaugurates First Year of Ninth Session of Shura Council". Saudi Press Agency. 19 September 2024. Diakses tanggal 27 September 2024.
- ↑ "At Riyadh summit, Saudi crown prince backs Iran, accuses Israel of genocide". The Times of Israel. 11 November 2024.
- ↑ Gardner, Frank; Khalil, Hafsa (11 November 2024). "Saudi crown prince says Israel committing 'genocide' in Gaza". BBC.
- ↑ Salem, Mostafa (12 November 2024). "Saudi crown prince accuses Israel of committing 'collective genocide' in Gaza". CNN (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 22 November 2024.
- ↑ Normalization with Israel? The Saudi crown prince has much bigger plans
- 1 2 Klippenstein, Ken (23 Februari 2022). "Saudi-Russia Collusion Is Driving Up Gas Prices — and Worsening Ukraine Crisis". The Intercept. Diakses tanggal 25 Februari 2022.
- ↑ Kerr, Simeon; Al-Atrush, Samer; England, Andrew (28 Februari 2022). "Gulf states' neutrality on Ukraine reflect deeper Russian ties". Financial Times. Diakses tanggal 28 Februari 2022.
- ↑ "UN Security Council extends Yemen arms embargo to all Houthis". Al Jazeera. 28 Februari 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 28 Februari 2022.
- ↑ Nichols, Michelle (28 Februari 2022). "U.N. arms embargo imposed on Yemen's Houthis amid vote questions". Reuters. Diarsipkan dari asli tanggal 13 Mei 2022.
- ↑ "How could the Ukraine crisis affect the Middle East?". Deutsche Welle. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Februari 2022. Diakses tanggal 25 Februari 2022.
- ↑ Chulov, Martin (5 Oktober 2022). "Putin and the prince: fears in west as Russia and Saudi Arabia deepen ties". The Guardian. Diarsipkan dari asli tanggal 8 Oktober 2022.
- ↑ "Putin and Saudi crown prince discuss OPEC+ cooperation to maintain price stability -Kremlin". Reuters. 30 Januari 2023. Diarsipkan dari asli tanggal 31 Januari 2023.
- ↑ Sabbagh, Dan (22 September 2022). "Aiden Aslin among 10 international 'prisoners of war' released by Russian authorities". The Guardian. Diarsipkan dari asli tanggal 24 September 2022.
- ↑ "The Concept of the Foreign Policy of the Russian Federation". Permanent Mission of the Russian Federation to the European Union. 1 Maret 2023. Diarsipkan dari asli tanggal 10 April 2023.
- ↑ "Russia's Putin meets leaders of Saudi Arabia, UAE on whistle-stop Gulf tour". France 24. 6 Desember 2023.
- ↑ "Saudi Arabia rebrands as mediator for global crises – DW – 03/10/2025". dw.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 11 Maret 2025.
- ↑ "Saudi crown prince keen to develop Iran ties following Pezeshkian's election, state news agency says". Reuters. 6 Juli 2024.
- ↑ "Saudi armed forces chief visits Iranian counterpart for rare meeting". Al Jazeera. 10 November 2024.
- ↑ "Iran's President claims he's 'too busy' to attend summit in Saudi – analysis". The Jerusalem Post. 11 November 2024.
- ↑ "Iran's President Pezeshkian warns of regional instability amid US threats". Al Jazeera. 27 Januari 2026.
- ↑ Smith, Benedict; Bhojwani, Janhvi (1 Maret 2026). "How the US pulled off the assassination of the century". The Telegraph (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 1 Maret 2026.
- ↑ Oluwasanjo, Ahmed (2 Maret 2026). "Saudi Arabia denies lobbying Trump to bomb Iran". Peoples Gazette. Abuja, Nigeria.
- ↑ Sanger, David E; Schmitt, Eric; Pager, Tyler; Bergman, Ronen; Barnes, Julian E (15 Maret 2026). "Entering War's Third Week, Trump Faces Stark Choices". The New York Times. Diakses tanggal 4 April 2026.
- ↑ "Iran dismisses Saudi talk of 'triangle of evil' as 'childish'". Al-Monitor. 8 Maret 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Maret 2018. Diakses tanggal 20 Desember 2018.
- 1 2 "Saudi prince says Turkey part of 'triangle of evil': Egyptian media". Reuters. 7 Maret 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Desember 2018. Diakses tanggal 20 Desember 2018.
- ↑ "Saudi crown prince visits Turkey as relations thaw after Khashoggi murder". The Guardian. 22 Juni 2022.
- ↑ Al-Atrush, Samer; Samson, Adam; England, Andrew (18 Juli 2023). "Saudi Arabia agrees deal to buy Turkish drones". Financial Times. Diakses tanggal 15 Agustus 2023.
- 1 2 Mazzetti, Mark; Bergman, Ronen; Kirkpatrick, David D. (19 Mei 2018). "Trump Jr. and Other Aides Met With Gulf Emissary Offering Help to Win Election". The New York Times. ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 16 September 2022.
- ↑ "Trump Jr. met Gulf princes' emissary in 2016 who offered campaign help". Reuters. 19 Mei 2018. Diakses tanggal 16 September 2022.
- ↑ "Saudi Arabia Has High Hopes for Trump". The Atlantic. 20 Mei 2017. Diakses tanggal 4 April 2019.
- ↑ "The Wooing of Jared Kushner: How the Saudis Got a Friend in the White House". The New York Times. 8 Desember 2018. Diakses tanggal 4 April 2019.
- ↑ "'We put our man on top', Trump said on MBS, book claims". Al-Jazeera. 5 Januari 2018. Diakses tanggal 4 April 2019.
- ↑ "Donald Trump tweets support for blockade imposed on Qatar". The Guardian. 6 Juni 2017. Diakses tanggal 4 April 2019.
- ↑ "Qatar blockade exposes rifts in Trump administration's 'peculiar' foreign policy". The Guardian. 24 Juni 2017. Diakses tanggal 4 April 2019.
- ↑ "Qatar Charm Offensive Appears to Have Paid Off, U.S. Officials Say". The New York Times. 9 April 2018. Diakses tanggal 4 April 2019.
- ↑ "Saudi Crown Prince Boasted That Jared Kushner Was "In His Pocket"". The Intercept. 21 Maret 2018. Diakses tanggal 4 April 2019.
- ↑ "Trump praises Saudi purge, voices confidence in King, Crown Prince". Reuters. 7 November 2017. Diakses tanggal 4 April 2019.
- ↑ "Trump says US stands with Saudi Arabia despite journalist Khashoggi's killing". CNBC. 20 November 2018. Diakses tanggal 4 April 2019.
- 1 2 3 4 Kalin, Stephen; Said, Summer; Cloud, David S. (19 April 2022). "Bagaimana Hubungan AS-Arab Saudi Mencapai Titik Nadir". The Wall Street Journal. ISSN 0099-9660. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Agustus 2022. Diakses tanggal 20 April 2022.
- ↑ Gardner, Frank (14 Juli 2021). "Pembunuhan Khashoggi: AS Melunak terhadap Pemimpin Saudi". BBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 November 2021. Diakses tanggal 17 November 2021.
- ↑ Lonas, Lexi (8 Maret 2022). "Pemimpin Saudi dan UEA Tolak Panggilan Telepon dengan Biden di Tengah Konflik Ukraina: Laporan". The Hill. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Maret 2022. Diakses tanggal 22 Mei 2022.
- ↑ "Mohammed bin Salman Memiliki Nilai Tawar terhadap Biden—dan Memanfaatkannya". Foreign Policy. 24 Maret 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Mei 2022. Diakses tanggal 22 Mei 2022.
- ↑ "Di Balik Pertemuan Rahasia Antara Direktur CIA dan Putra Mahkota Saudi". The Intercept. 13 Mei 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Oktober 2022. Diakses tanggal 22 Mei 2022.
- ↑ "AS Tuduh Opec+ Bersekutu dengan Rusia, Negara Teluk Bantah Adanya Unsur Politik: Laporan". Middle East Eye. 5 Oktober 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Oktober 2022. Diakses tanggal 21 Oktober 2022.
- ↑ "Perebutan Kekuasaan Minyak Saudi Merenggangkan Hubungan AS tetapi Tidak Akan Memutuskannya". Reuters. 13 Oktober 2022.
- ↑ "Biden Tiba di Arab Saudi, Gelar 'Diskusi Penting' dengan Raja dan Putra Mahkota". Arab News. 15 Juli 2022. Diakses tanggal 1 Januari 2024.
- ↑ "Arab Saudi – Program Pengaturan Dukungan Pasokan Logistik Koperasi (CLSSA), Perintah Penjualan Militer Asing (FMSO) II | Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan". www.dsca.mil. Diakses tanggal 1 Januari 2024.
- ↑ "Collins dan Delegasi Senat Bipartisan Tiba di Arab Saudi | Senator AS Susan Collins dari Maine". www.collins.senate.gov. 20 Oktober 2023. Diakses tanggal 1 Januari 2024.
- ↑ Kelly, Kate; Wong, Edward; Nereim, Vivian (22 Desember 2023). "AS Bersiap Cabut Larangan Penjualan Senjata Ofensif ke Arab Saudi". The New York Times. ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 1 Januari 2024.
- ↑ Broadwater, Luke (13 Mei 2025). "Diiringi Tepuk Tangan di Pengadilan Kerajaan, Trump dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman Menandatangani Perjanjian "Kemitraan Ekonomi Strategis"". The New York Times. Diakses tanggal 13 Mei 2025.
- ↑ Naar, Ismaeel (13 Mei 2025). "Raja Salman dari Arab Saudi Sejauh Ini Absen dari Kunjungan Kenegaraan Trump". The New York Times. Diakses tanggal 13 Mei 2025.
- ↑ Emmons, Alex (1 Agustus 2018). "Arab Saudi Berencana Menginvasi Qatar Musim Panas Lalu. Upaya Rex Tillerson untuk Menghentikannya Mungkin Telah Mengorbankan Pekerjaannya". The Intercept. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Oktober 2018. Diakses tanggal 15 Oktober 2018.
- ↑ "Negara-negara Teluk Sepakat Akhiri Blokade Tiga Tahun terhadap Qatar". Independent. 5 Januari 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Januari 2021. Diakses tanggal 5 Januari 2021.
- ↑ Jon Gambrell (5 Agustus 2018). "Arab Saudi Mengusir Duta Besar Kanada dan Membekukan Perdagangan dalam Perselisihan Hak Asasi Manusia". Toronto Star. Associated Press. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Agustus 2018. Diakses tanggal 20 Oktober 2018.
- ↑ "'Kita Tidak Punya Satu pun Teman': Perselisihan Saudi dengan Kanada Menunjukkan Negara Tersebut Sendirian". The Guardian. 11 Agustus 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Oktober 2018. Diakses tanggal 20 Oktober 2018.
- ↑ "AS Menolak Mendukung Kanada dalam Perselisihan dengan Arab Saudi". The Globe and Mail. 7 Agustus 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 Oktober 2018. Diakses tanggal 20 Oktober 2018.
- ↑ "Mengenai Arab Saudi, Sikap Kanada Berprinsip — Namun Dilematis". Toronto Star. 10 Agustus 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Agustus 2018. Diakses tanggal 11 Agustus 2018.
- ↑ Wicary, Stephen (24 Mei 2023). "Kanada dan Arab Saudi Pulihkan Hubungan yang Putus Sebelum Krisis Khashoggi". Bloomberg News. Diakses tanggal 25 Mei 2023.
- ↑ Bartenstein, Ben; Westall, Sylvia (6 Desember 2022). "Saudi Gelar Karpet Merah untuk Xi Jinping Saat Teluk Mengabaikan AS". Bloomberg News. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Mei 2023. Diakses tanggal 10 Maret 2023.
- ↑ Ensor, Josie (22 Februari 2019). "Putra Mahkota Saudi Bela Hak Tiongkok Memasukkan Muslim Uighur ke Kamp Konsentrasi". The Daily Telegraph. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 November 2019. Diakses tanggal 10 Maret 2019.
- ↑ "Mohammed bin Salman dari Arab Saudi Membela Penggunaan Kamp Konsentrasi Tiongkok untuk Umat Muslim Selama Kunjungan ke Beijing". Newsweek. 22 Februari 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Oktober 2019. Diakses tanggal 10 Maret 2019.
- ↑ "Putra Mahkota Saudi Membela Pemenjaraan Sejuta Umat Muslim oleh Tiongkok di Kamp Internir, Memberi Alasan Xi Jinping untuk Melanjutkan 'Prekursor Genosida'". Business Insider. 23 Februari 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 September 2019. Diakses tanggal 10 Maret 2019.
- ↑ "Putra Mahkota Saudi Bela Hak Tiongkok untuk Melawan 'Terorisme'". al-Jazeera. 23 Februari 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Juni 2019. Diakses tanggal 10 Maret 2019.
- ↑ Bartenstein, Ben; Westall, Sylvia (6 Desember 2022). "Saudi Gelar Karpet Merah untuk Xi Jinping Saat Teluk Mengabaikan AS". Bloomberg News. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Mei 2023.
- ↑ Al Hamawi, Lama (8 Desember 2022). "Bagaimana Tiongkok Menjadi Mitra Dagang Utama Arab Saudi, Menghidupkan Kembali Jalur Sutra Kuno". Arab News. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Januari 2023.
- ↑ Salami, Mohammad (3 April 2022). "Kerja Sama Saudi-Tiongkok dalam Produksi Rudal Balistik". Diarsipkan dari asli tanggal 1 Januari 2023.
- ↑ Malsin, Jared; Said, Summer; Strobel, Warren P. "Saudi Mulai Membuat Rudal Balistik dengan Bantuan Tiongkok: Upaya Tersebut Menimbulkan Kekhawatiran Baru tentang Perlombaan Senjata di Timur Tengah". The Wall Street Journal. Diarsipkan dari asli tanggal 26 Desember 2021.
- 1 2
- ↑ Kalin, Stephen (8 Desember 2022). "Xi Jinping dari Tiongkok Memperdalam Hubungan dengan Saudi dalam Kunjungan Penting". The Wall Street Journal. Diakses tanggal 11 Desember 2022.
- ↑ "Kotak Fakta: Hubungan Energi, Perdagangan, dan Investasi Saudi-Tiongkok". Reuters. 9 Desember 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Januari 2023.
- ↑ El Dahan, Maha; El Yaakoubi, Aziz (10 Desember 2022). "Xi dari Tiongkok Serukan Perdagangan Minyak Menggunakan Yuan pada KTT Teluk di Riyadh". Reuters. Diarsipkan dari asli tanggal 1 Januari 2023.
- ↑ "Arab Saudi, Tiongkok, dan Kesepakatan Pertahanan Selama Zhuhai Air Show 2022". 24 November 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 5 Mei 2023.
- ↑ "Saudi Dapatkan Kesepakatan Senjata Besar dari Tiongkok Senilai $4 Miliar". Leaders. 29 November 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 31 Januari 2023.
- ↑ Kalin, Stephen; Faucon, Benoit (10 Maret 2023). "Arab Saudi dan Iran Pulihkan Hubungan dalam Kesepakatan yang Dimediasi oleh Tiongkok". The Wall Street Journal. Diakses tanggal 10 Maret 2023.
- ↑ Kirchgaessner, Stephanie (3 Juni 2020). "'Sarah dan Omar telah menghilang': anak-anak mantan pejabat Saudi hilang sejak Maret". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Juli 2020. Diakses tanggal 18 Agustus 2020.
- ↑ "Para Senator Desak Trump Bantu Bebaskan Anak-anak Mantan Pejabat Saudi". Bloomberg.com. 9 Juli 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Juli 2020. Diakses tanggal 9 Juli 2020.
- ↑ "Arab Saudi Inginkan Kepala Intelijennya yang Buron Kembali". The Wall Street Journal. 17 Juli 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Juli 2020. Diakses tanggal 17 Juli 2020.
- ↑ Ignatius, David. "Putra Mahkota Saudi, Interpol, dan Dugaan Plot Pembunuhan". The Washington Post. No. 7 August 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Agustus 2020. Diakses tanggal 7 Agustus 2020.
- ↑ "Gugatan Aljabri: Kasus 1:20-cv-02146-TJK Dokumen 1" (PDF). Court House News. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 16 Agustus 2020. Diakses tanggal 7 Agustus 2020.
- ↑ "Pengadilan AS Keluarkan Surat Panggilan untuk Mohammed bin Salman dari Arab Saudi". Al Jazeera. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Agustus 2020. Diakses tanggal 10 Agustus 2020.
- ↑ Haroun, Azmi. "Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman Menerima Gugatan Hukum via WhatsApp. Dokumen Pengadilan Menunjukkan Ia Menerima dan Membaca Pesan Tersebut". Business Insider. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 November 2020. Diakses tanggal 3 November 2020.
- ↑ "Bukti A yang Diajukan ke Pengadilan AS" (PDF). DocumentCloud (PDF). 29 Oktober 2020. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 30 Agustus 2021. Diakses tanggal 3 November 2020.
- 1 2 Bond, Shannon (31 Maret 2019). "Saudi Retas Ponsel CEO Amazon, Kata Kepala Keamanan Bezos". Financial Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Maret 2019. Diakses tanggal 2 Maret 2021.
- 1 2 Zetter, Kim; Cox, Joseph (23 Januari 2020). "Berikut adalah Laporan Teknis yang Mengindikasikan Pangeran Arab Saudi Meretas Ponsel Jeff Bezos". Motherboard. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Juni 2020. Diakses tanggal 2 Maret 2021.
- ↑ O'Neill, Patrick (22 Januari 2020). "PBB Serukan Investigasi Terhadap Pihak Saudi yang Diduga Meretas Jeff Bezos". MIT Technology Review. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Mei 2020. Diakses tanggal 2 Maret 2021.
- ↑ Bowman, Verity (22 Januari 2020). "Peretasan Ponsel Jeff Bezos: PBB Serukan Investigasi Setelah Putra Mahkota Saudi Terimplikasi". The Daily Telegraph. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Maret 2020. Diakses tanggal 2 Maret 2021.
- ↑ "Seberapa Nyata Ketertarikan Arab Saudi pada Energi Terbarukan?". The Guardian. 12 Oktober 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Oktober 2021. Diakses tanggal 9 Oktober 2021.
- ↑ Kakenmaster, William (2024). "Akar Berbahan Bakar Fosil dari Ketiadaan Aksi Iklim di Rezim Otoriter". Perspectives on Politics (dalam bahasa Inggris). 23 (2): 415–433. doi:10.1017/S1537592724000793. ISSN 1537-5927.
- ↑ "Turki 'Miliki Rekaman yang Membuktikan Pembunuhan oleh Saudi'". BBC News. 12 Oktober 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Oktober 2018. Diakses tanggal 12 Oktober 2018.
- ↑ "Jamal Khashoggi: Turki Sebut Jurnalis Dibunuh di Konsulat Saudi". BBC News. 7 Oktober 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Oktober 2018. Diakses tanggal 7 Oktober 2018.
- ↑ Harris, Shane (10 Oktober 2018). "Putra Mahkota Berusaha Membujuk Khashoggi Kembali ke Arab Saudi untuk Menahannya, Menurut Penyadapan AS". The Washington Post. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Maret 2023. Diakses tanggal 15 Oktober 2018.
- ↑ "EKSKLUSIF: Tujuh Pengawal Mohammed Berada di Antara Para Tersangka Khashoggi". Middle East Eye. 17 Oktober 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 18 Oktober 2018.
- ↑ Sawers, John (19 Oktober 2018). "Evidence suggests crown prince ordered Khashoggi killing, says ex-MI6 chief". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Oktober 2018. Diakses tanggal 20 Oktober 2018.
- ↑ Rutenberg, Jim (14 Oktober 2018). "Reality Breaks Up a Saudi Prince Charming's Media Narrative". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Oktober 2018. Diakses tanggal 20 Oktober 2018.
- ↑ Lhatoo, Yonden (20 Oktober 2018). "What's the life of Saudi journalist Jamal Khashoggi to US President Donald Trump? Nothing". South China Morning Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Oktober 2018. Diakses tanggal 20 Oktober 2018.
- ↑ "Jamal Khashoggi: Trump Mengatakan Jika Ada yang Tahu Tentang Plot untuk Membunuh Jurnalis 'Itu Adalah Mohammed bin Salman'". The Independent. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Oktober 2018. Diakses tanggal 24 Oktober 2018.
- ↑ "Siapa Ahmed al-Asiri, Kepala Intelijen Saudi yang Dicopot?". Al Jazeera. 19 Oktober 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 November 2018. Diakses tanggal 7 November 2018.
- ↑ Benner, Katie; Mazzetti, Mark; Hubbard, Ben; Isaac, Mike (20 Oktober 2018). "Pembuat Citra Saudi: Pasukan Buzzer dan Orang Dalam Twitter". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 November 2018. Diakses tanggal 7 November 2018.
- ↑ Jacinto, Leela (25 Oktober 2018). "'Mr. Hashtag' Saudi Menjadi Kambing Hitam dalam Kasus Khashoggi, Namun Apakah Ia Benar-Benar Jatuh?". France 24. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 November 2018. Diakses tanggal 7 November 2018.
- ↑ Barnes, Julian E.; Schmitt, Eric; Kirkpatrick, David D. (12 November 2018). "'Beri Tahu Bosmu': Rekaman Terlihat Menghubungkan Putra Mahkota Saudi Secara Lebih Kuat dengan Pembunuhan Khashoggi". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 November 2018. Diakses tanggal 12 November 2018.
- ↑ "Saudi Lindungi Putra Mahkota Saat Hukuman Mati Dituntut Atas Pembunuhan Khashoggi". The Guardian. 15 November 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 November 2018. Diakses tanggal 15 November 2018.
- ↑ "Jaksa Saudi Tuntut Hukuman Mati untuk Pembunuhan Khashoggi, Sebut Jurnalis Tewas karena Overdosis Obat Penenang". CNN. 15 November 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 November 2018. Diakses tanggal 15 November 2018.
- ↑ Harris, Shane; Miller, Greg; Dawsey, Josh (16 November 2018). "CIA Menyimpulkan Putra Mahkota Saudi Memerintahkan Pembunuhan Jamal Khashoggi". The Washington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 November 2018. Diakses tanggal 17 November 2018.
- ↑ "Pembunuhan Khashoggi: Putra Mahkota Saudi Gila, Kata Senator AS". BBC News. 4 Desember 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Desember 2018. Diakses tanggal 4 Desember 2018.
- ↑ "Putra Mahkota Saudi 'Memerintahkan, Memantau' Pembunuhan Khashoggi, Kata Corker". CNN. 4 Desember 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Desember 2018. Diakses tanggal 5 Desember 2018.
- ↑ "Kepala Hak Asasi PBB Bachelet Upayakan Penyelidikan Internasional Atas Pembunuhan Khashoggi". Reuters. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Januari 2019. Diakses tanggal 5 Desember 2018.
- ↑ "Pangeran Saudi Kecam Laporan Penilaian CIA Atas Pembunuhan Khashoggi". Bloomberg. 24 November 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 November 2018. Diakses tanggal 5 Desember 2018.
- ↑ "Senator U.S. Sebut Putra Mahkota Saudi Telah Menjadi 'Full Gangster'". Reuters. 6 Maret 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 Maret 2019. Diakses tanggal 6 Maret 2019.
- ↑ Gaouette, Nicole; Conte, Michael (7 Maret 2019). "Pangeran Saudi Menjadi 'Full Gangster,' Kata Rubio, Saat Anggota Parlemen Mengutuk Pelanggaran Kerajaan". CNN. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Maret 2019. Diakses tanggal 7 Maret 2019.
- ↑ "'Bukti Kredibel' Hubungkan Pangeran Saudi dengan Pembunuhan Khashoggi, Kata Pakar PBB". Times of Israel. 19 Juni 2019. Diarsipkan dari asli tanggal 19 Juni 2019.
- ↑ Callamard, Agnes. "Lampiran pada Laporan Pelapor Khusus tentang Eksekusi Ekstrayudisial, Ringkas, atau Sewenang-wenang: Investigasi atas Kematian Tidak Sah Tuan Jamal Khashoggi" (PDF). Kantor Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR). Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 30 April 2020. Diakses tanggal 26 Februari 2021.
- ↑ "Guardian Diberitahu Menjadi Target Unit Peretasan Saudi Setelah Pembunuhan Khashoggi". The Guardian. 19 Juni 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Juni 2019. Diakses tanggal 19 Juni 2019.
- ↑ Malsin, Jared (26 September 2019). "Putra Mahkota Saudi Mengatakan Khashoggi Dibunuh 'Di Bawah Pengawasan Saya'". The Wall Street Journal. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 September 2019. Diakses tanggal 28 September 2019.
- ↑ "Mohammad Bin Salman: Pembunuhan Jamal Khashoggi 'Terjadi di Bawah Pengawasan Saya,' Kata Putra Mahkota Saudi kepada PBS". The Times of India. Reuters. 26 September 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 September 2019. Diakses tanggal 26 September 2019.
- ↑ "Mohammed bin Salman Menerima Tanggung Jawab atas Pembunuhan Jamal Khashoggi". Salon. 26 September 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 September 2019. Diakses tanggal 28 September 2019.
- ↑
- ↑ Christina Maxouris. "Mohammed bin Salman Membela Diri dari Keterlibatan Pribadi dalam Pembunuhan Khashoggi dalam Wawancara '60 Minutes' Namun Sebut Tindakan Tersebut Dilakukan oleh Pejabat Saudi". CNN. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Oktober 2019. Diakses tanggal 30 September 2019.
- ↑ "Menilai Peran Pemerintah Saudi dalam Pembunuhan Jamal Khashoggi" (PDF). Office of the Director of National Intelligence. 11 Februari 2021. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 26 Februari 2021.
- ↑ "U.S. should sanction MbS, lead bid for justice in Khashoggi murder – U.N. expert". Reuters. 26 Februari 2021. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Februari 2021. Diakses tanggal 26 Februari 2021.
Agnes Callamard, U.N. investigator for summary executions, in a statement posted on Twitter after a declassified U.S. intelligence assessment was released, urged the U.S. government to impose sanctions on Saudi Crown Prince Mohammed bin Salman "targeting his personal assets but also his international engagements."
- ↑ "Mohammed bin Salman: Saudi leader given US immunity over Khashoggi killing". BBC News. 18 November 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 November 2022. Diakses tanggal 18 November 2022.
- ↑ Jessica Silver-Greenberg; David Enrich; Matthew Goldstein; Eder, Steve (5 Agustus 2025). "A Look Inside Jeffrey Epstein's Manhattan Lair". The New York Times (dalam bahasa American English). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 3 Maret 2026.
- ↑ "Bin Salman-Epstein photograph sparks backlash". L'Orient Today (dalam bahasa Inggris). 7 Agustus 2025. Diakses tanggal 3 Maret 2026.
- ↑ "Jeffrey Epstein was told to keep 'close eye' on Saudi Arabia amid Ritz Carlton purge". Middle East Eye (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 3 Maret 2026.
- ↑ "Epstein y los otros royals más allá de Mette-Marit y Andrés: la reina de la bellezza rusa enviada a Arabia Saudí para "vender su virginidad"". El Economista. 3 Maret 2026. Diakses tanggal 3 Maret 2026.
- ↑ "Profile: Crown Prince Mohammed bin Salman". Al Jazeera. 21 Juni 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Juni 2017. Diakses tanggal 2 Januari 2018.
- ↑ Al Ahmed, Ali (16 Maret 2018). "Reports of Saudi Crown Prince's Domestic Violence Emerge". GulfInstitute.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 November 2020. Diakses tanggal 17 November 2020.
- ↑ Langer, Marko (5 November 2017). "Saudi Arabia's Mohammed bin Salman: Reformer and hard-liner". Deutsche Welle. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Januari 2018. Diakses tanggal 16 Januari 2018.
- ↑ Kurtz, Steve (15 Maret 2018). "Mohammed bin Salman – the reformer behind Saudi Arabia's shakeup". FoxNews.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Maret 2020. Diakses tanggal 27 Mei 2019.
- ↑ Pelham, Nicolas (28 Juli 2022). "MBS: despot in the desert". The Economist. ISSN 0013-0613. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Juli 2022. Diakses tanggal 28 Juli 2022.
- ↑ "A 30-year-old Saudi prince could jump-start the kingdom – or drive it off a cliff". The Washington Post. 28 Juni 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Juni 2016.
- ↑ Mazzetti, Mark; Hubbard, Ben (15 Oktober 2016). "Rise of Saudi Prince Shatters Decades of Royal Tradition". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Februari 2017.
- ↑ Kulish, Nicholas; Forsythe, Michael (16 Desember 2017). "World's Most Expensive Home? Another Bauble for a Saudi Prince". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Maret 2018. Diakses tanggal 28 Maret 2018.
- ↑ Mulholland, Rory (16 Desember 2017). "Pro-austerity Saudi prince buys world's most expensive home". The Telegraph. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Mei 2019. Diakses tanggal 24 Mei 2019.
- ↑ "Who Is Mohammed Bin Salman Bin Abdulaziz Al Saud And What Is His Total Net Worth?". zeenews.india.com. Diakses tanggal 15 Agustus 2023.
- ↑ "Prince Mohammed books out hotel to dine with Murdoch". The Sydney Morning Herald. 4 April 2018. Diarsipkan dari asli tanggal 23 Mei 2018.
- ↑ Harris, Shane; Crow, Kelly; Said, Summer (7 Desember 2017). "Saudi Arabia's Crown Prince Identified as Buyer of Record-Breaking da Vinci". The Wall Journal. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Desember 2017. Diakses tanggal 7 Desember 2017.
- ↑ Meixler, Eli (7 Desember 2017). "The Mystery Buyer of a $450 Million Leonardo da Vinci Painting Was a Saudi Prince". Fortune. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Desember 2017. Diakses tanggal 7 Desember 2017.
- ↑ Kirkpatrick, David D. (6 Desember 2017). "Mystery Buyer of $450 Million 'Salvator Mundi' Was a Saudi Prince". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 April 2018. Diakses tanggal 30 Maret 2018.
- ↑ "Mystery buyer of famed da Vinci is Saudi prince: Report". CBS News. 6 Desember 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Maret 2018. Diakses tanggal 30 Maret 2018.
- ↑ "Embassy Statement on Art Work Purchase". saudiembassy.net. Embassy of the Kingdom of Saudi Arabia. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Maret 2018. Diakses tanggal 28 Maret 2018.
- ↑ "Louvre Abu Dhabi: UAE has acquired Da Vinci's Salvator Mundi". The National. 9 Desember 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Maret 2018. Diakses tanggal 28 Maret 2018.
- ↑ "The $450 million question: Where is Leonardo da Vinci's 'Salvator Mundi'?". CNN.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Juli 2019. Diakses tanggal 8 Juli 2019.
- ↑ Krause, Amanda (12 Juni 2019). "The $450 million Leonardo da Vinci painting that's said to be sitting on a Saudi prince's yacht was once bought for just $1,000. Here's how it took over the art world". Insider.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Februari 2023. Diakses tanggal 3 Maret 2022.
- ↑ Sharma, Neha Tandon (28 April 2022). "Saudi prince MBS bought this $400 million megayacht from a Russian Oligarch and immediately kicked him out". Luxury launches. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 April 2022. Diakses tanggal 29 April 2022.
The 439 feet long vessel has two helipads, a submarine, and a nightclub. The royal has also hung a $450M painting in it.
- ↑ Kazakina, Katya (11 Juni 2019). "Missing Salvator Mundi 'turns up on MBS yacht'". Al Jazeera (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 20 Mei 2024.
- ↑ "Mohammed bin Salman: Spies and diplomats reveal inside story of the Saudi crown prince". www.bbc.com (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 24 Desember 2024.
- ↑ Uddin, Raydhan (21 September 2023). "Eleven things we learned from Saudi crown prince interview". Middle East Eye (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 26 Agustus 2025.
- ↑ Saudi Gazette [@saudi_gazette] (25 November 2018). "King Hamad of #Bahrain decorates the #Saudi #CrownPrince #MuhammadBinSalman with the Order of Sheikh Isa Bin Salman Al-Khalifa of the Exceptional Class" (Kicauan). Diakses tanggal 8 Maret 2020 – via Twitter.
- ↑ "Tunisie: Mohamed Ben Salmane honoré au Palais de Carthage". directinfo.webmanagercenter.com. 28 November 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Februari 2019. Diakses tanggal 4 Mei 2019.
- ↑ "President of Pakistan Dr Arif Alvi confers Nishan-e-Pakistan on Saudi Crown Prince Mohammad bin Salman". Express Tribune. 18 Februari 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Agustus 2019. Diakses tanggal 18 Februari 2019.
- ↑ "His Majesty bestows Oman Civil Order on HRH Prince Mohammed bin Salman". Times of Oman (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Desember 2021. Diakses tanggal 7 Desember 2021.
- ↑ Bashir, Hassan (7 Desember 2021). "Mohamed bin Zayed, Mohamed bin Salman review bilateral ties, regional issues". Emirates News Agency. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Desember 2021. Diakses tanggal 19 September 2022.
- ↑ "Jordan confers highest civilian award on Crown Prince". Saudi Gazette. 22 Juni 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Juni 2022. Diakses tanggal 2 Agustus 2022.
- ↑ "Zelensky decorates Rama with a state award". KOHA. 30 Desember 2023. Diakses tanggal 4 Januari 2024.
- ↑ "Royal Family Directory". Datarabia. Diakses tanggal 21 Oktober 2025.
Pranala luar
- Profil Resmi di situs web House of Saud
- Ben Hubbard; Mark Mazzetti; Eric Schmitt (18 Juli 2017). "Saudi King's Son Plotted Effort to Oust His Rival". The New York Times.
- "The Crown Prince of Saudi Arabia". Frontline. Musim 38. Episode 2. 1 Oktober 2019. PBS. WGBH. Diakses tanggal 3 Oktober 2023.
- Kemunculan di C-SPAN
| Jabatan politik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Muhammad bin Nayef Al Saud |
Wakil Pertama Perdana Menteri 21 Juni 2017 – 27 September 2022 |
Lowong |
| Wakil Kedua Perdana Menteri 29 April 2015 – 21 Juni 2017 |
Lowong | |
| Didahului oleh: Salman dari Arab Saudi |
Menteri Pertahanan 2015–2022 |
Diteruskan oleh: Khalid bin Salman Al Saud |
| Didahului oleh: Khaled al-Tuwaijri |
Kepala Mahkamah Kerajaan 2015–2022 |
Diteruskan oleh: Fahd bin Mohammed bin Saleh Al-Issa |
| Didahului oleh: Salman dari Arab Saudi |
Perdana Menteri Arab Saudi 2022–sekarang |
Petahana |
| Arab Saudi | ||
| Didahului oleh: Muhammad bin Nayef |
Wakil Putra Mahkota Arab Saudi 2015–2017 |
Lowong |
| Putra Mahkota Arab Saudi 2017–sekarang |
Petahana | |

