Hasil Bumi yang paling banyak di Kelurahan Mlilir adalah, Mangga dan padi. Mangga-mangga gadung ditanam di sepanjang jalan desa pada tahun 1980an, sebagai bagian dari program mangganisasi Kabupaten Madiun di saat Bupatinya dijabat oleh Ir Kadijono.
Kerajinan
Dulu saat Desa Mlilir masih menjadi Desa Dusun Guwo, terdapat perajin Pandai Besi. Produk yang dihasilkan adalah aneka macam pisau, ganco, pacul, singkal, pethel, alat sadap getah pinus, dan alat pertukangan, perajin Pandai Besi yang terkenal pada awalnya adalah Pak Sadiran (Alm). Kini usahanya diteruskan oleh keturunannya. Di lokasi yang sama juga pernah ada perajin genteng sampai tahun 1980-an. Namun kini sudah tidak ada.
Pendidikan
Di Kelurahan Mlilir terdapat beberapa sekolah dasar, Sekolah dasar yang paling terkenal di Kelurahan Mlilir adalah MI (Madrasah Ibtidaiyah) Kresna, terdapat juga MTS (Madrasah Tsanawiyah) dan MA (Madrasah Aliyah) yang ada di Mlilir yaitu MTs - MA Miftahul Ulum, yang berada di jalan Ponpes Darussalam Pucang. Selain sekolah Madrasah terdapat 3 Sekolah Dasar yakni SDN Mlilir 1, SDN Mlilir 2 dan SDN Mlilir 3
Sosial budaya
Adat istiadat peninggalan nenek moyang yang beragama Hindu masih ada di era Hindu sampai dengan tahun 1970-an, antara lain memberikan Cok bakal di kepunden, memberi sesaji kepada para leluhur yanh ditaruh di dalam atau dekat "senthong" ketika orang yang memberi mempunyai gawe atau mengirim doa. Seiring perkembangan agama Islam di indonesia, adat kebiasaan itu ditinggalkan.
pada Tahun-Tahun sebelumnya dan Tahun 1980-an , ada budaya yang bernama Megengan. budaya megengan adalah budaya selamatan pada malam likuran di bulan puasa. budaya megengan Diadakan per RT dan rumah terdekat sebanyak kurang lebih 20 keluarga. Tiap keluarga mengadakan sendiri-sendiri. Namun
banyak brekat yang tidak habis alhasil brekat yang tidak habis kemudian di jemur. Namun sekarang budaya megengan bareng menjadi tukar menukar "brekat"[butuh rujukan].