Setelah kematian mendadak Whiting sebelum Grand Prix Australia 2019, Masi mengambil alih peran sebagai direktur balapan Formula Satu.[9]
Beberapa keputusan Masi sebagai direktur balapan menjadi sorotan dan juga bahan kajian dari para pembalap, tim, dan pers. Di sesi Kualifikasi Q2 untuk Grand Prix Turki 2020, mobil dikirim ke trek bahkan ketika derek masih berada di trek.[10] Masi diminta untuk tetap mempertahankan prosedur bendera merah yang digunakan selama Grand Prix Azerbaijan 2021,[11][12] dan dikritik karena keputusannya di Grand Prix Belgia 2021, termasuk menjalankan sesi kualifikasi dalam kondisi yang amat berbahaya,[13] dan menjalankan balapan di belakang mobil keselamatan (SC) selama tiga putaran, diduga untuk memastikan poin diberikan;[14] bernegosiasi dengan tim selama balapan berlangsung untuk mengubah posisi di Grand Prix Arab Saudi 2021;[15] dan dimulainya kembali balapan setelah periode mobil keselamatan (SC) di Grand Prix Abu Dhabi 2021. Tim Mercedes memprotes hasilnya; protes itu tidak dipatuhi.[16]
Pada tanggal 17 Februari 2022, Masi secara resmi dipecat dari perannya sebagai Direktur Balapan oleh presiden FIA, yaitu Mohammed bin Sulayem, menyusul analisis FIA ke dalam Grand Prix Abu Dhabi.[17] Penerapan peraturan yang kontroversial dari Masi selama periode akhir mobil keselamatan memiliki pengaruh langsung pada hasil gelar Kejuaraan Dunia tersebut.[18] Dia digantikan oleh Niels Wittich dan Eduardo Freitas sebagai Direktur Balapan dan dengan Herbie Blash bertindak sebagai Penasihat Senior Tetap untuk mereka.[4][19] Posisi baru di dalam FIA akan ditawarkan kepada Masi.[20] Setelah pemecatan, Masi bisa kemungkinan bisa terancam ke ajang lain, yaitu NASCAR Seri Piala. Masi menerima sebuah ancaman mematikan adalah ancaman pembunuhan.[5][21]
Pada tanggal 19 Maret 2022, FIA menerbitkan laporan resmi mereka tentang kontroversi Abu Dhabi. Laporan itu menyimpulkan bahwa Masi telah salah menerapkan peraturan, di mana tidak semua mobil yang melakukan un-lap, dan safety car (SC) belum menyelesaikan satu putaran tambahan sebelum kembali ke dalam pit lane. Laporan tersebut mengaitkan masalah ini dengan kesalahan manusia.[22]
Bos tim Mercedes, yaitu Toto Wolff, kemudian menyebut Masi sebagai "kewajiban" untuk Formula Satu, dan menyatakan bahwa Masi tidak menerima umpan balik atau kritik dari siapa pun, serta menunjukkan bahwa ia telah bertindak tidak sopan pada waktu tertentu terhadap beberapa pembalap di dalam briefing.[23]