Alur Cerita
Pada tahun 2019, ISIS berhasil mengepung Damaskus. Namun, di tengah kota, terdapat seorang pengkhotbah tampan berperawakan Yesus mengenakan celana jeans memperingatkan penduduk Damaskus untuk tetap tenang, sebab ISIS akan dikalahkan Tuhan hari ini. Tiba-tiba badai pasir besar menerjang Damaskus dan mengubur seluruh pasukan ISIS. Masyarakat Damaskus merasa pria tersebut adalah Al-Masih yang dinubuatkan kedatangannya oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadits tentang fitnah akhir zaman. Pria yang disebut Al-Masih itu membawa 2.000 pengikutnya menuju perbatasan Israel.
Setibanya di perbatasan Israel, Al-Masih ditangkap oleh intelijen Israel dan diinterogasi oleh opsir Aviram Dahan. Selama diinterogasi, Al-Masih diketahui memiliki kemampuan bahasa Arab, Ibrani, dan Inggris serta membaca pikiran seseorang. Dia dapat dengan tepat menebak nama Aviram, mengetahui dia telah bercerai dengan istrinya, dan pernah membunuh seorang anak laki-laki pada sebuah insiden di Yordania. Setelah tidak mendapatkan informasi, Al-Masih tiba-tiba menghilang dari penjara.
Al-Masih kemudian muncul di depan gerbang Baitul Maqdis di Yerusalem dan kembali berkhotbah tentang kebajikan. Lalu kepolisian Israel meletuskan tembakan ke arahnya, tetapi mengenai seorang anak kecil hingga tewas. Al-Masih dengan ajaib mengambil pelurunya dan anak tersebut hidup kembali. Al-Masih kemudian menghilang kembali dan muncul di Texas.
Di Texas, dia berhasil memperoleh pengikut dari sebuah gereja yang dikelola pendeta Felix Iguero. Badai tornado yang menerjang secara ajaib menyelamatkan gereja tersebut sekaligus putri Felix yang bernama Rebecca. Al-Masih bersama pengikutnya yang mencapai 5.000 orang bergerak ke Washington DC. Di belakang White House, dia kembali mempertontonkan "mukjizat" berjalan di atas air.
Berita tentang Al-Masih menjadi viral dan memengaruhi opini publik di seluruh dunia. Sebagian menganggapnya Yesus Kristus yang telah datang kedua kalinya, sebagian menganggapnya Nabi Isa yang telah datang kedua kalinya, sebagian menganggapnya Al-Masih Ad-Dajjal dan/atau Antikristus. Sisanya menganggapnya seorang manipulator yang ingin membuat sensasi messianik dengan trik-trik sulapnya. Namun demikian, Al-Masih tetap mendapat simpati. Pendeta Felix juga mengadakan live show bersama "sang mesias" di TV. Semenjak itu, dia telah memperoleh simpati hingga jutaan orang.
Seorang intelijen CIA bernama opsir Eva Galler tertarik dengan sosok misterius Al-Masih dan memata-matainya kemanapun Al-Masih pergi, sejak dari Damaskus hingga Washington DC. Dia berhasil memperoleh identitas asli Al-Masih, seorang warga Iran keturunan Yahudi bernama Payyam Golshari. Rekam jejak Payyam diketahui kemungkinan pernah terlibat dengan skandal pembobolan sekuritas saham bersama Oscar Wallace. Payyam juga memiliki catatan pernah masuk RSJ dengan diagnosis Messiah disorder. Namun, pribadi Al-Masih tetap menyisakan kemisteriusan hingga episode terakhir, terutama terkait tujuan sebenarnya dan rencananya. Kisah selanjutnya tentang misteri Al-Masih akan dilanjutkan di season 2.
Produksi
Pengembangan
Pada 17 November 2017, Netflix mengumumkan produksi sebuah seri untuk musim pertama yang terdiri dari sepuluh episode.[1] Seri ini diciptakan Michael Petroni yang juga ditulis sebagai produser eksekutif dan pemeran utama di kredit. Produser eksekutif lainnya di antaranya Andrew Deane, James McTeigue, Mark Burnett, dan Roma Downey. Perusahaan produksi yang terlibat dalam seri ini antara lain Industry Entertainment dan LightWorkers Media.[1]
Pemilihan peran
Pada Januari 2018, John Ortiz,[7] Tomer Sisley,[5] dan Mehdi Dehbi[5] akan membintangi seri ini. Pada Mei 2018, Michelle Monaghan diumumkan menjadi pemeran utama.[6][9] Pada Juni 2018, Melinda Page Hamilton, Stefania LaVie Owen, Jane Adams, Sayyid El Alami, Fares Landoulsi dan Wil Traval diumumkan menjadi pemeran utama.[4] Pada bulan yang sama, Beau Bridges dan Philip Baker Hall diumumkan menjadi pemeran pendukung.[8]