Pada suatu hari mereka diperintah oleh seorang guru untuk mengambil pusaka di Puncak Gunung Kuning/Gunung Kunir. Berangkatlah mereka melalui jalan pintas yang berbukit terjal, dengan harapan bisa lebih cepat sampai karena kebetulan Gunung Kuning/Gunung Kunir berada di tengah-tengah bukit-bukit itu. Setelah tujuan semakin dekat, ternyata MANU semakin cepat dan temannya tertinggal jauh. Sambil terengah-engah, ia memanggil MANU agar berjalan lebih pelan. Dan bukit yang dilaluinya sampai sekarang dinamai Barisan Bukit Menoreh, hingga sekarang dinamai Desa Menoreh.
Penduduk Desa Menoreh[1] mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian utama sehingga sebagian besar berprofesi sebagai petani, terdapat profesi lainnya seperti Wiraswasta, Perternakan, Produsen, Pedagang, Buruh, dll. Selain itu. Desa Menoreh juga dikenal sebagai produsen slondok[2] ,kreasi sendal dan grubi, .Adapun berbagai Kesenian topeng ireng,[3] Jatilan, Brodut, dll, dan juga menumbuhkan organisasi dan karang taruna didusun masing-masing.
Jembatan peninggalan Belanda tersebut dibangun pada tahun 1920 didusun kempul