Alur cerita
Grace Pudel (Sarah Snook) adalah cewek muda yang tinggal di Melbourne tahun 1970-an bersama saudara kembarnya, Gilbert (Kodi Smit-McPhee), dan ayah mereka yang orang Prancis, Percy. Percy (Dominique Pinon) dulunya seorang juggler, tapi sekarang jadi alkoholik yang lumpuh total. Grace punya hobi mengoleksi siput, sesuatu yang bikin dia ingat sama ibunya, yang meninggal waktu melahirkan Grace. Si kembar ini saling mendukung satu sama lain, apalagi Gilbert sering membela Grace dari anak-anak sekolah yang suka mengejek bibir sumbingnya. Grace lahir prematur, makanya ia punya kondisi itu.
Setelah Percy meninggal dalam tidurnya, Grace dan Gilbert dipisahkan dan dikirim ke panti asuhan di tempat yang beda-beda. Grace dikirim ke Canberra dan diasuh sama Ian dan Narelle (Paul Capsis), pasangan yang baik tapi sering tidak berada di rumah karena mereka sering gonta ganti pasangan. Sementara Gilbert dikirim ke keluarga petani religius di Perth, yang merawat Gilbert dengan kasar, terutama sang ibu asuh, Ruth (Magda Szubanski) yang sering menyiksa Gilbert. Selama bertahun-tahun, Gilbert terus menulis surat ke Grace, dan berjanji akan menemuinya ketika mereka sudah dewasa. Surat-surat itu menjadi harapan buat Grace, tapi ia tetap susah berinteraksi dengan orang lain dan merasa hidupnya kosong di Canberra. Grace malah menjadi obsesif mengumpulkan barang-barang bertema siput apa pun yang ia temukan.
Ketika beranjak, Grace akhirnya berteman dengan seorang nenek eksentrik tapi baik hati, namanya Pinky. Pinky (Jacki Weaver) selalu melihat sisi positif dalam hidup, meskipun Pinky sering mengalami kemalangan, contohnya seperti kehilangan kedua suami dan banyak pekerjaan. Ketika Ian dan Narelle pensiun untuk gabung ke komunitas nudis, Pinky menjadi ibu asuh Grace, dan terus dukung Grace waktu melewati masa puber, meskipun Grace masih merasa depresi dan tidak punya tujuan hidup. Di sisi lain, Gilbert terus mengalami kekerasan dari keluarga asuhnya, kecuali anak bungsu, Ben (Davey Thompson) yang mengagumi sikap pemberontak Gilbert.
Setelah dewasa, Grace jatuh cinta pada Ken (Tony Armstrong) tetangga barunya yang kerja sebagai teknisi yang memperbaiki microwave. Mereka dengan cepat saling memahami, dan akhirnya Ken melamar Grace. Tapi, di hari pernikahan mereka, Grace mendapatkan surat dari Ruth yang mengabari kalau Gilbert meninggal dalam kebakaran. Ternyata, Gilbert marah besar dan menyulut api setelah Ruth yang homofobia menyiksa dia dan Ben memakai setrum gara-gara mereka ketahuan pacaran. Kabar itu membuat Grace hancur, semakin depresi, dan pelampiasannya adalah makan berlebihan serta ngumpulin barang-barang bertema siput.
Grace makin terkejut sewaktu ia nemuin scrapbook Ken, yang mengungkapkan kalau Ken memiliki fetish pada cewek obesitas dan Ken sengaja membuat Grace makin besar. Merasa dikhianati, Grace memutuskan untuk bercerai. Tinggal Pinky satu-satunya yang merawat Grace dan membantunya menurunkan berat badan. Grace juga menyesal karena selama ini menghabiskan uang demi mengoleksi siput daripada mencari Gilbert ketika ia masih hidup.
Beberapa waktu kemudian, Pinky didiagnosis Alzheimer. Kali ini giliran Grace yang merawat Pinky sampai Pinky meninggal beberapa bulan kemudian. Sebelum meninggal, kata-kata terakhir Pinky adalah "kentang," yang membuat Grace bingung. Grace akhirnya menabur abu Pinky di kebun sayur dan melepaskan siput-siput peliharaannya ke alam.
Setelah kehilangan semuanya, Grace sempat kepikiran untuk bunuh diri meminum racun, tapi Grace tiba-tiba berhenti ketika menemukan kotak tabungan Pinky di ladang kentang. Di dalamnya ada surat dari Pinky yang isinya ucapan terima kasih atas kebersamaan mereka dan dorongan untuk Grace supaya memulai hidup baru tanpa beban masa lalu. Grace akhirnya mulai nurut sama pesan itu, salah satunya dengan membuang dan bakar koleksi siputnya, kecuali topi rajut siput yang dulu Percy buat untuk Grace.
Setahun kemudian, Grace hidup stabil dan mulai mengejar mimpinya sebagai animator. Di pemutaran film pendeknya, Gilbert muncul dan mengungkapkan kalau ia ternyata selamat dari kebakaran dan berhasil menemui Grace. Setelah reuni penuh tangis, si kembar ini akhirnya hidup bahagia bersama lagi dan memenuhi keinginan terakhir ayah mereka: menabur abunya di rollercoaster di Luna Park, taman hiburan yang mereka kunjungi waktu kecil.