Sejarah
Sebelum Kemerdekaan
Sebelum tahun 1861, nama “Maumere” telah dikenal sebagai nama kota pusat Kerajaan Sikka, yang terletak di daerah pesisir pantai Kerajaan Sikka.
Pastor JPN Sanders Pr, pastor wilayah Larantuka pada 3 Juli 1861, menulis surat kepada Uskupnya di Batavia.
Isi surat itu antara lain, "Pada tanggal 20 Juni 1861 yang lalu saya telah melakukan perjalanan misi saya ke Sikka dan daerah terpencil lainnya.... Sesudah pelayaran tujuh hari, saya tiba di Geliting.... Oleh karena tak ada kerja di situ, saya naik perahu lagi dan pergi ke Maumere".
Dalam laporannya yang cukup panjang itu, Pastor Sanders berulang kali menulis Maumere.
Sebegitu jauh tak ada data lain lagi untuk meyakinkan kita, sejak kapan nama Maumere itu dimasyarakatkan dan diabadikan.
Dengan surat Pastor Sanders itu dapatlah disimpulkan bahwa nama Maumere sudah dipergunakan oleh masyarakat setempat jauh sebelum tahun 1861. Kapan persisnya, tak pernah bisa diungkit.
Abad ke 7 Masehi
Pada tahun 1969, Pastor J. Bakker, SJ menulis sebuah tulisan berjudul “Gereja Tertua di Indonesia” yang dimuat di Majalah Basis No. 18 (1969) hlm. 261-265. Tulisan itu adalah derivasi dari makalahnya yang lebih lengkap berjudul “Umat Katolik Perintis di Indonesia”.[ Dr. Huub J.W.M. Boelaars, OFM Cap., Indonesianisasi Dari Gereja Katolik di Indonesia Menjadi Gereja Katolik Indonesia, Cetakan V (Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2009) hal. 59]. Tulisan ini menjadi bagian dari versi resmi “Sejarah Gereja Katolik Indonesia” yang dipublikasikan oleh Bagian Dokumentasi – Penerangan Kantor Waligereja Indonesia.
Tulisan tersebut menerangkan bahwa agama Kristen Katolik sudah ada di Sumetra Utara pada abad ke 7 M dibawa oleh para pedagang dari India kemudian menyebar ke Jawa terutama Yogyakarta dan terus meluas sampai ke Nusa Tenggara Timur termasuk Flores. Gereja Kristen Katolik di India mendapat penginjilan oleh salah satu dari kedua belas Rasul, yaitu Santo Thomas yang disebut Didimus.
Pastor J. Bakker, SJ mendasarkan tulisannya pada tulisan sejarawan Muslim Syeikh Abu Shalih al-Armini dalam karyanya “Tadhakur fihi Akhbar min al-Kanais wa’l Adyar min Nawahin Misri wal Aqtha’aha” yang ditulis pada abad XII. Karya tersebut telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggis oleh B.T.A. Evetts dengan judul “The Churches and Monasteries of Egypt and Some Neighbouring Countries” dan diberi catatan oleh A.J. Butler, MA, FSA.
Ketika para pedagang India yaitu dari Gujarat sampai ke Kerajaan Sikka, maka mereka melakukan hubungan dagang terutama kain-kain, rempah-rempah dan hewan termasuk kuda.
Para pedagang tersebut menempuh jarak yang sangat jauh, jarak antara Kota Gujarat dan Kota Maumere: 224 jam (10.374,3 km).
Kain Tenun India
Berdasarkan sejarahnya, kain bermotif Patola adalah motif dari India. Kain patola adalah jenis tenunan ikat ganda terbaik dari Gujarat. Kain Patola adalah tenunan ikat terbaik lugsin dan pakan. Kain patola adalah kain kebesaran, kain upacara, kain pentas tari adat hujan di tanah air di wilayah Kabupaten Sikka.
Begitu pula sarung Pahikung bermotif gajah. Pasalnya, dalam perkawinan tangan wanita memakai gelang yang terbuat dari gading gajah. Bisa juga sebagai lambang atau bawaan dalam acara perkawinan.
Tenun ikat Sikka biasanya dipakai sebagai sarung perempuan (utang), sarung pria (lipa) dan ikat kepala (lensu). Meski begitu, kain tenun ini umumnya lebih banyak digunakan oleh kaum perempuan. Menurut orang-orang Sikka, kain tenun Sikka memiliki filosofi du'a utang ling labu weling yang artinya kain sarung dan baju setiap wanita haruslah bernilai dan berharga.
Meski dibuat secara tradisional, motif-motif yang dihasilkan dari kain tenun Sikka sangat beragam baik motif yang menampilkan keaslian sarung zaman dahulu yang disebut Utang Jentiu maupun motif kreasi pengrajin sendiri.
Motif tenun ikat Sikka memiliki ciri khas tersendiri yang telah dikenal baik secara nasional maupun internasional. Sampai saat ini, sebanyak 52 motif tenun ikat Sikka telah mendapat pengakuan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Nama Maumere
Kuda juga menjadi salah satu komoditi utama dalam perdagangan tersebut, kuda sendiri dalam bahasa Gujarat adalah ઘોડો Ghōḍō.
Nah, yang menarik adalah “kuda betina milik saya” dalam bahasa Gujarat adalah મારી મેરે Mārī mērē, sedangkan dalam bahasa Inggris diterjemahkan yaitu My mare. Sedangkan kalimat મારી મમ્મી Mārī mam'mī artinya my mother atau “ibu saya”.
Jadi, ketika orang-orang Gujarat menunjuk kuda betina ketika berdagang dengan Kerajaan Sikka, mereka menyebut “Marimere”, lama kelamaan menjadi sebuah kata ikonik untuk tempat perdagangan tersebut yaitu “Maumere”, sehingga nama “Maumere” ternyata diberikan oleh orang-orang Gujarat tersebut yang artinya “Kuda Betina Saya”.
Kuda dalam budaya Maumere
Dalam “Tari Hegong”, salah satu tarian dari Maumere, ada namanya “Ikun”, Ikun merupakan senjata seperti pisau yang terbuat dari kayu dan dihiasi dengan ekor kuda.
Dalam adat Maumere juga dikenal namanya Belis, salah satunya berupa kuda, merupakan salah satu ternak yang menjadi kebutuhan penting bagi warga di Kota Maumere, karena kuda sebagai simbol dan budaya bagi orang yang mau menggelar acara adat seperti meminang seorang gadis dan pesta pernikahan serta komuni pertama, bahkan acara kematian kuda juga sebagai ternak yang harus dibawa ketika sanak keluarga meninggal dunia.
Sebelum menikah, ketika bertunangan, apabila terjadi pembatalan pertunangan yang dilakukan oleh pihak laki-laki, maka dia harus memberikan sejumlah bayaran berupa uang dan kuda kepada pihak perempuan.
Membayar belis dengan kuda itu menunjukkan martabat adat yang tinggi dalam suatu perikatan keluarga, bahwa suatu kesepakatan hubungan perkawinan itu misalnya, telah sah dan resmi dengan meterai belis kuda.
Belis wajib nilai tertinggi adalah gading gajah, kemudian kuda, lalu emas, hasil alam dan sejumlah uang.
Kuda memang merupakan hewan terhormat dalam budaya orang Maumere, sehingga benarlah bahwa nama “Maumere” adalah pemberian dari orang Gujarat untuk tempat/kota tempat berbisnis yang yang artinya kurang lebih “tempat berkembangbiaknya kuda”.
Nama beladiri asli Maumere menurut penuturan tokoh sesepuh Maumere F.X. Babanong adalah Hikong Kolok, Hikong artinya melakukan pembelaan, Kolok artinya kepada diri sendiri.Pos Kupang, 17 Februari 2023