Secara etimologi, Martuasame berasal dari dua kata dalam bahasa Batak, yakni: martua yang artinya bahagia dan same yang artinya bibit padi. Menurut legenda, di awal kehidupan keluarga si Raja Naipospos dengan istri pertamanya boru Pasaribu sulit mendapatkan keturunan. Suatu waktu, ketika masa bercocok tanam adik istri pertama datang turut membantu. Dilatarbelakangi belum mempunyai keturunan, Raja Naipospos pun terdorong berhubungan dengan adik istri pertamanya tersebut. Oleh karena telah mengambil dua istri kakak-beradik boru Pasaribu saat masa kegiatan marsame (bercocok tanam bibit padi) sehingga beroleh kebahagiaan berkat keturunan yang dinanti selama ini maka Raja Naipospos diberi julukan Martuasame.[2]
Dalam perjalanan sejarah, sepeninggal si Raja Naipospos, keturunannya melakukan ritual penghormatan untuk arwah sang nenek moyang. Pada zaman dahulu, ada tradisi dalam masyarakat Batak bahwa bagi seorang tokoh yang dianggap penting dan menjadi pemersatu akan dipestakan dengan berbagai ritual setelah meninggal dunia. Raja Naipospos sebagai tokoh penting pemersatu keturunan Naipospos, setelah meninggal dunia dipestakan (dihorjahon) sebanyak tujuh kali. Pesta meriah (horja) tujuh kali ini menjadi ungkapan penghormatan tertinggi kepada leluhur Naipospos untuk menjadikannya sebagai sombaon, tingkatan roh tertinggi nenek moyang yang patut disembah dan dipuja. Hal ini jelas terekam hingga kini menjadi nama sebuah tempat keramat Sombaon Same di Sipoholon, dekat pemandian air panas (aek rangat) Riaria atau Sibau. Sang nenek moyang yaitu si Raja Naipospos yang memiliki julukan Martuasame diyakini telah menjadi sesembahan (sombaon) yakni Sombaon Same.[3]
Tradisi di kebanyakan daerah di Tanah Batak, selalu mengurutkan keturunan dari istri pertama lalu istri kedua dalam penulisan silsilah (tarombo) apabila seseorang memiliki keturunan dari beberapa istri. Berikut ini bagan silsilah keturunan Raja Naipospos sesuai dengan penuturan para tetua dan tokoh adat marga-marga keturunan Naipospos yang bermukim di daerah Dolok Imun, Hutaraja, dan Sipoholon sebagai sentral Naipospos.[5]
Menurut versi lain silsilah Naipospos menyebutkan bahwa si Raja Naipospos memiliki 2 (dua) putra yang dilahirkan oleh 2 (dua) istri. Istri kedua boru Pasaribu lebih dahulu melahirkan putra yang dinamai Marbun, kemudian istri pertama boru Pasaribu melahirkan putra yang dinamai Martuasame yang selanjutnya disebut Toga Sipoholon. Marbun kemudian memiliki 3 (tiga) orang putra, yakni: Lumbanbatu, Banjarnahor, dan Lumbangaol. Sedangkan Sipoholon memiliki 4 (empat) orang putra, yakni: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang.[6]
Dalam beberapa literatur yang beredar menyebutkan bahwa Martuasame adalah nama lain Toga Sipoholon.[7]
Para tetua dan tokoh adat Naipospos secara khusus yang bermukim di Sipoholon, Tapanuli Utara, tidak setuju akan tulisan tersebut. Tidak pernahnya keturunan Naipospos memakai marga Sipoholon maupun marga Martuasame menjadi salah satu alasan utama para tetua menolak nama Martuasame (Toga Sipoholon) dituliskan sebagai putra si Raja Naipospos. Bagi para tetua Naipospos menganggap Sipoholon hanyalah sebagai nama daerah dan bukan nama nenek moyang sedangkan Martuasame adalah julukan untuk Raja Naipospos.
Penyebutan Martuasame sebagai Toga Sipoholon ini menjadi kisah yang cukup banyak menuai perdebatan di kalangan marga-marga Naipospos hingga kini.[8]