Marraga, disebut juga sebagai Akraga atau Paraga, adalah permainan tradisional masyarakat suku Bugis dan Makassar, Sulawesi Selatan yang menggunakan bola rotan sebagai alat utamanya. Dalam bahasa Indonesia, permainan ini sering dikenal sebagai sepak raga.[1]
Makna etimologis
Dalam bahasa Bugis, Marraga berarti bermain raga, sedangkan dalam bahasa Makassar disebut sebagai Akraga. Raga merujuk pada istilah Bugis-Makassar yakni siraga-raga yang berarti saling menghibur.[1]
Sejarah
Marraga mulai dikenal luas di kawasan timur Indonesia sekitar abad ke-15 hingga 16 M. Permainan marraga diperkirakan diperkenalkan di Sulawesi Selatan melalui jalur pelayaran dan perdagangan, kemungkinan berasal dari Malaka, Pulau Nias atau daerah pantai barat Sumatra. Kontak dagang antara pelaut Bugis-Makassar yang dikenal sebagai Passompe atau Passimombala dengan wilayah lain di Nusantara turut berperan dalam penyebarannya.[1]
Sementara itu, menurut naskah Lontara, permainan ini dulu dimainkan dalam upacara pelantikan raja (somba) di Kerajaan Gowa sebagai hiburan bagi para tamu kerajaan. Masyarakat Bugis-Makassar meyakini bahwa bola raga pertama kali dimainkan oleh “To Manurung”, tokoh mitologis yang membawa permainan ini dari langit dengan bola emas bernama raga bulaeng.[2] Pada awalnya, permainan marraga hanya dimainkan oleh kalangan bangsawan dan emampuan marraga menjadi indikator kedewasaan sosial dan kehormatan seorang pemuda bangsawan. Dahulu permainan ini ditampilkan dalam acara adat seperti pelantikan raja, pesta panen, atau penyambutan tamu agung. Seiring waktu, permainan ini telah menyebar menjadi bagian dari budaya masyarakat umum dan kini sering ditampilkan dalam acara pernikahan, festival budaya, hingga ajang internasional seperti TAFISA World Game [1]
Pelaksanaan
Permainan Marraga biasanya dimainkan oleh 5–15 orang pria dalam posisi melingkar di halaman yang rata atau datar.[1] Dalam versi tradisionalnya, pemain marraga mengenakan pakaian tradisional dan celana barocci yang dilengkapi dengan passapu (ikat kepala segitiga khas Makassar), dan kain sutra lipa' sabbe.[2] Di beberapa daerah permainan ini diiringi dengan tabuhan alat musik kendang.[1]
Pemimpin permainan, di daerah Bugis disebut sebagai Passitak Passapu, memulai permainan dengan melempar raga ke atas. Giliran permainan dilihat dari arah jatuh raga. Pemain secara bergiliran menyepak raga (bola rotan yang dianyam) ke udara tanpa membiarkannya jatuh ke tanah dengan menggunakan berbagai bagian tubuh selain tangan. Permainan ini memiliki beberapa teknik sepakan dan variasi gerakan (disebut belo), seperti: sempak sarring (sepakan keras vertikal), sempak biasa (sepakan sedang, tidak terlalu tinggi), dam sempak caddi (sepakan kecil untuk variasi).[1]