Stevenson mula-mula berkarya untuk suku Kikuyu di Thogoto. Kemudian, dari 1912, ia menjalankan misi di Tumutumu, Karatina, di bawah naungan Pendeta Henry Scott dan Dr. John Arthur pada 1908.[3][4] Ia mendirikan dan menjalankan sekolah putri, yang kemudian menjadi Perguruan Tinggi Putri Tumutumu, mengajarkan cara menjahit, merajut dan kebersihan, berkarya di rumah sakit, mengajari para guru dan membantu penerjemahan Alkitab.[5][6][7]
Menurut teolog James Karanja, mengutip sebuah memorandum Gereja Skotlandia, pada 1929, Stevenson mencetuskan istilah "mutilasi seksual wanita" untuk menyebut apa yang saat itu disebut sebagai sunat perempuan, sebuah praktik yang berpengaruh besar pada suku Kikuyu, suku terbesar di Kenya. Dewan Misionaris Kenya mengajukan tuntutan dan mulai menyebutnya sebagai mutilasi seksual, ketimbang sunat atau inisiasi. Praktik tersebut sekarang banyak dikenal sebagai mutilasi genital perempuan (FGM).[8][9]
↑Benedetto, Robert; McKim, Donald K. (2009). Historical Dictionary of the Reformed Churches. Lanham: Scarecrow Press, p.464.
↑Karanja, James (2009). The Missionary Movement in Colonial Kenya: The Foundation of Africa Inland Church, Göttingen: Cuvillier Verlag, 2009, p.93, n.631.