Artikel ini tidak memiliki pranala ke artikel lain. Bantu kami untuk mengembangkannya dengan memberikan pranala ke artikel lain secukupnya.(Juni 2025)
Mamaos Cianjuran adalah tradisi seni yang berasal dari Cianjur Jawa Barat. Merupakan sebuah seni tradisi yang menggabungkan permainan kecapi dengan pembacaan kisah-kisah adiluhung. Seni tradisi ini menjadi tiga pilar budaya Cianjur dan menjadi syiar agama islam. Seni ini sudah ada sejak 1761 di masa kepemimpinan R.A.A Wiratanudatar atau Bupati Cianjur Pertama.[1]
Mamaos adalah seni bernyanyi dengan teknik tembang. Syair Mamaos berupa puisi atau hikayat sunda seperti pantun, beluk (mamaca), degung, serta tembang macapat Jawa yaitu pupuh. Lagu mamaos yang diambil dari vokal seni pantun dinamakan papantunan. Mamaos lagu Pajajaran yang syair lagunya diambil dari nama keraton Sunda pada masa lampau. Lagu Mamaos yang berasal dari bahan pupuh disebut tembang. Istilah mamaos merupakan penghalusan dari kata mamaca, yaitu seni membaca buku cerita wawacan dengan cara dinyanyikan.
Mamaos Cianjuran mulai berkembang di awal abad ke-19 pada masa pemerintahan bupati Cianjur RAA Kusumaningrat atau yang juga dikenal Dalem Pancatiti antara tahun 1834 - 1864. Bupati Kusumaningrat menciptakan tembang-tembang Mamaos di sebuah bangunan bernama Pancatiti. Bupati Kusumaningrat merupakan seorang yang sangat peduli terhadap mamaos cianjuran. Dengan bantuan saudara-saudaranya, ia mengantar mamaos cianjuran mencapai kejayaannya. Ketika itu, yang menjadi juru pantunnya adalah Aen. Tahun 1862 Dalem Pancaniti wafat dan digantikan oleh anaknya yang bernama Aom Alibasah yang sering disebut juga Dalem Marhum. Ketika itu mamaos cianjuran diolah oleh tiga orang, yaitu: R. Djajawiredja, Aong Djalalahiman, dan R. Etje Maadjid. Pada mulanya Mamaos hanya dilantunkan oleh kaum pria. Baru pada awal abad ke-20, tradisi ini mulai dipelajari dan dinyanyikan oleh wanita. Juru mamaos wanita yang muncul pada masa itu yakni Rd.Siti Sarah, Rd. Anah Ruhanah, Ibu Imong, Ibu Resna, dan Nyi Mas Saodah. Bahan mamaos berasal dari berbagai seni suara Sunda, seperti pantun, beluk (mamaca), degung, serta tembang macapat Jawa, yaitu pupuh. Lagu-lagu mamaos yang diambil dari vokal seni pantun dinamakan lagu pantun atau papantunan, atau disebut pula lagu Pajajaran, diambil dari nama keraton Sunda pada masa lampau. Sedangkan lagu-lagu yang berasal dari bahan pupuh disebut tembang. Pada kepemimpinan Bupati RAA. Prawidareja II antaran tahun 1864 - 1910, Mamaos mulai menyebar ke daerah lain di luar kabupaten Cianjur.
Berdasarkan bahan asal dan sifat lagunya, Mamaos Cianjuran dibagi menjadi beberapa jenis atau wanda yaitu: papantunan, jejemplangan, dedegungan, dan rarancagan. Belakangan ditambahkan lagi jenis Mamaos yakni kekawen dan panambih sebagai wanda tersendiri.