Malo adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Bojonegoro yang terletak di barat. Seluruh wilayah kecamatan ini berada di utara Sungai Bengawan Solo, dan terdapat jembatan besar yang terhubung dengan Kalitidu di selatan.[1] Pusat kecamatan ini berada di dekat jembatan tersebut dan terdapat pusat perbelanjaan yang ramai bernama Pasar Malo.[2] Bagian utara dari Kecamatan Malo berbatasan dengan Kabupaten Tuban. Pada tahun 1992, 3 desa di timur Malo bergabung dengan desa dari kecamatan lain untuk membentuk Kecamatan Trucuk.[3] Beberapa tempat terkenal di kecamatan ini di antaranya Goa Kikik, Makam Wali Kidangan, sentra gerabah Rendeng, serta penangkaran rusa.[4][5][6]
Geografi
Peta kecamatan di Bojonegoro
Malo adalah kecamatan di Kabupaten Bojonegoro yang terletak di utara Bengawan Solo. Malo memiliki geografi dataran rendah yang didominasi oleh areal persawahan. Hal ini berbeda dengan bagian utara Malo di perbatasan dengan Kabupaten Tuban yang berupa perbukitan dan ditanami pohon jati. Akses utama menuju Malo adalah melalui Kecamatan Kalitidu ke utara melintasi Jembatan Malo, atau dari arah Trucuk di timur.
Batas wilayah Kecamatan Malo adalah sebagai berikut:[7]
Kecamatan Malo memiliki riwayat yang panjang sejak zaman prasejarah. Diketahui wilayah Malo, Kedewan, dan sekitarnya pernah dihuni kelompok masyarakat yang disebut sebagai "Wong Kalang". Orang Kalang meninggalkan puluhan situs berupa kubur batu di tengah hutan yang didalamnya terdapat berbagai artefak yang terbuat dari perunggu dan besi serta perhiasan emas. Kubur batu ini menunjukkan kebudayaan era megalitikum. Namun setelah dilakukan penanggalan, situs tersebut berada di periode akhir Kerajaan Majapahit di abad ke-15 hingga 17. Hal tersebut menunjukkan jika Orang Kalang tinggal di pemukiman terpencil di tengah hutan dan perbukitan yang secara turun temurun masih menjaga tradisi dari zaman sebelum masuknya Agama Hindu. Salah satu lokasi penemuan Situs Kubur Kalang adalah di hutan Desa Tanggir.[8][9]
Pada masa Kerajaan Majapahit, dikenal istilah Naditira Pradesa yang merupakan sebutan bagi desa-desa di masa itu yang secara resmi mengelola penyeberangan sungai di Bengawan Solo. Dalam Prasasti Canggu yang diterbitkan pada masa Hayam Wuruk (abad ke-14), Naditira Pradesa tersebar di sepanjang aliran Bengawan Solo di Bojonegoro yang salah satunya adalah Desa Malo dan Sudah.[10] Beberapa abad kemudian, Islam masuk ke wilayah Malo dengan salah satu tokohnya yang terkenal adalah Wali Kidangan. Beliau adalah tokoh dari Kerajaan Pajang yang nama aslinya disamarkan. Masyarakat sekitar tiap tahunnya mengadakan ritual dan doa bersama pada 1 Muharam. Sementara Hari Kamis Legi dirayakan sebagai merupakan Haul Wali Kidangan dan makamnya berada di Desa Sukorejo.[5]
Daftar desa dan dusun
Kecamatan Malo terdiri dari 20 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan. Pada tahun 1992, Desa Pagerwesi, Kanten, dan Kandangan di timur Malo bergabung dengan Kecamatan Trucuk.[3]
Desa dan dusun di Kecamatan Malo sekarang yakni sebagai berikut: