Dialek Malayalam yang digunakan di Malaysia
Orang Malayalee bermigrasi dari Travancore, Cochin, dan wilayah Malabar ke Malaya. Hanya sejumlah kecil dari mereka yang berasal dari distrik seperti Wayanad dan Idukki. Oleh karena itu, banyak dialek Malayalam yang digunakan di Malaya pada awalnya. Karena banyak pekerja berasal dari Palakkad dan Kannur, dialek dari daerah-daerah ini menjadi dominan di kalangan pekerja Malayalee Sementara itu, orang Kristen Malayali di Malaya berbicara dalam dialek-dialek dari Cochin. Namun, saat ini dialek-dialek tersebut hanya digunakan oleh sangat sedikit orang, karena banyak dari mereka cenderung menggunakan Malayalam Standard
Pendidikan
Sekolah-sekolah dengan media pengajaran Malayalam didirikan di perkebunan tempat orang Malayalee mayoritas, sekitar tahun 1920-an, untuk menyediakan pendidikan dasar bagi anak-anak Malayalee. Mendirikan sekolah untuk orang Malayalee adalah salah satu syarat yang ditetapkan oleh para Kanganis Malayalee untuk membawa pekerja ke Malaya. Namun, status keuangan para juru tulis dan pedagang Malayalee memungkinkan mereka untuk mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah dengan pengantar bahasa Inggris. Selama Perang Dunia II, sekolah-sekolah media Malayalam ini ditutup karena pendudukan Jepang di Malaya. Sekolah-sekolah tersebut kemudian dibuka kembali hingga kemerdekaan Malaya pada tahun 1957.
Setelah kemerdekaan Malaya, banyak dari sekolah-sekolah ini ditutup secara permanen, sementara beberapa sekolah diubah menjadi Sekolah Tamil untuk menyediakan pendidikan bagi semua orang India. Sekolah-sekolah media Malayalam yang diubah menjadi sekolah media Tamil termasuk SJKT Ladang Gapis, Padang Rengas, dan SJKT Masai, Masai. Sekitar awal 1970-an, Asosiasi Malayalee di Semenanjung Malaysia menyediakan kelas Malayalam untuk melestarikan bahasa tersebut. Kelas-kelas ini diadakan untuk anak-anak dan orang dewasa berdasarkan Malayalam Standar. Namun, kurikulum untuk semua kelas Malayalam yang diadakan di Malaysia tidak diselaraskan. Saat ini, kelas Malayalam masih diselenggarakan oleh berbagai Asosiasi Malayalee di seluruh Semenanjung Malaysia.
Selain itu, Kerala Bandhu diterbitkan sebagai surat kabar mingguan di Batu Pahat, Johore sekitar tahun 1920-an. Surat kabar tersebut kemudian dicetak di Singapura karena tingginya populasi suku Malayali di sana dan berganti nama menjadi Malaysia Malayali sekitar awal tahun 1970-an. Diterbitkan sebagai surat kabar harian di Singapura hingga bulan Desember 1988.[2]
Pada tahun 1931, Ruang Baca Malayalee pertama di Malaya didirikan di Jalan Jelf (Regat Tun Perak), Ipoh . Ruang baca menyediakan surat kabar, majalah, dan buku-buku Malayalam untuk bacaan umum. Ruang baca juga dikenal sebagai tempat berdiskusi dan tempat penyelenggaraan acara budaya Malayali.[3][4]