Majjhimanikāya
| Majjhimanikāya | |
|---|---|
| Jenis | Kitab kanonis |
| Induk | Suttapiṭaka |
| Atribusi | Sāriputta; Bhāṇaka |
| Komentar | Papañcasūdanī (Majjhimanikāya-aṭṭhakathā) |
| Pengomentar | Buddhaghosa |
| Subkomentar | Līnatthappakāsana (Mūlapaṇṇāsa-ṭīkā, Majjhimapaṇṇāsaṭīkā, Uparipaṇṇāsa-ṭīkā) |
| Singkatan | MN; M |
| Bagian dari seri |
| Tipiṭaka |
|---|
| Buddhisme Theravāda |
Kitab Majjhimanikāya (Pali untuk "Kumpulan Sedang"; disingkat MN), juga ditulis sebagai Majjhima Nikāya, adalah sebuah kitab suci Buddhisme sebagai bagian kedua dari lima nikāya ("kumpulan") dalam Suttapiṭaka, yang merupakan salah satu dari "tiga keranjang" yang menyusun Tripitaka Pali sebagaimana dilestarikan oleh aliran Theravāda. Kitab ini disusun antara abad ke-3 SM dan abad ke-2 M.[1] Kitab ini terdiri dari 152 diskursus (sutta) yang diatribusikan kepada Sang Buddha dan murid-murid utama-Nya.[2]
Kanonisitas
Gambaran umum
Bhikkhu Bodhi dalam pengantar terjemahannya menggambarkan kitab ini sebagai berikut:
Jika Majjhimanikāya harus dicirikan dengan satu frasa untuk membedakannya dari kitab-kitab lain dalam Tripitaka Pali, hal ini dapat dilakukan dengan menggambarkannya sebagai koleksi yang menggabungkan keragaman kontekstual terkaya dengan kumpulan ajaran terdalam dan terlengkap.[3]
Paralel
Meskipun terdapat beberapa perbedaan, kitab Majjhimanikāya paralel dengan kitab Madhyamāgama yang ditemukan dalam Sūtrapiṭaka dari berbagai aliran Buddhis awal berbahasa Sanskerta (non-Theravāda), yang fragmennya masih ada dalam terjemahan bahasa Sanskerta dan Tibet. Terjemahan bahasa Tionghoa lengkap dari revisi kitab yang dilestarikan aliran Sarvāstivāda juga dapat ditemukan dalam Tripitaka Tionghoa, yang dikenal sebagai Zhōng Ahánjīng (中阿含經). Madhyamāgama dari aliran Sarvāstivāda berisi 222 sūtra, berbeda dengan 152 sutta dalam Majjhimanikāya Pāli (Theravāda).[4]
Susunan
Sejumlah 152 diskursus (sutta) terbagi dalam tiga bagian, masing-masing dengan lima divisi. Semua divisi kecuali dua divisi terakhir berisi 10 diskursus.
Mūlapaṇṇāsa
- Mūlapaṇṇāsa: disebut juga Bagian Pertama — Lima Puluh Khotbah Mula-mula
- Mūlapariyāyavagga: Kelompok Khotbah tentang Akar
- Sīhanādavagga: Kelompok Auman Singa
- Opammavagga: Kelompok Perumpamaan
- Mahāyamakavagga: Kelompok Panjang Berpasangan
- Cūḷayamakavagga: Kelompok Pendek Berpasangan
Mūlapariyāyavagga
| No. | Judul Pāli | Judul Indonesia | Keterangan |
|---|---|---|---|
| MN 1 | Mūlapariyāya Sutta | Akar Semua Dhamma | Buddha mengkaji bagaimana gagasan tentang diri yang kekal muncul dari proses persepsi, mencakup dimensi naturalistik dan kosmologis. Yang belum tercerahkan memersepsikan peristiwa sebagai diri, yang lebih maju tidak. |
| MN 2 | Sabbāsava Sutta | Segala Noda | Tujuh metode untuk mengatasi kekotoran batin: melihat, menahan, menggunakan, membiarkan, menghindari, menghilangkan, dan mengembangkan. |
| MN 3 | Dhammadāyāda Sutta | Pewaris Dhamma | Warisan sejati Buddha adalah jalan spiritual. Sāriputta menjelaskan bagaimana mengikuti teladan Buddha untuk merasakan buah jalan. |
| MN 4 | Bhayabherava Sutta | Ketakutan dan Kengerian | Kesulitan hidup di hutan belantara diatasi dengan moralitas dan meditasi. Buddha menceritakan ketakutan yang dihadapi-Nya saat berlatih. |
| MN 5 | Anaṅgaṇa Sutta | Tanpa Noda | Perumpamaan mangkuk bernoda untuk menggambarkan noda batin. Yang penting bukan ada noda, tetapi kesadaran akan noda. |
| MN 6 | Ākaṅkheyya Sutta | Jika Seorang Biku Menghendaki | Moralitas (sīla) adalah dasar semua pencapaian lebih tinggi dalam kehidupan spiritual. |
| MN 7 | Vattha Sutta | Perumpamaan Kain | Kekotoran batin diumpamakan seperti kain kotor. Batin bersih membawa kegembiraan menuju kesadaran lebih tinggi. Menolak pemurnian dengan mandi di sungai suci. |
| MN 8 | Sallekha Sutta | Penghapusan | Membedakan jhāna dengan latihan yang mencakup seluruh kehidupan. Empat puluh empat aspek “penghapusan” sebagai pengikisan kesombongan. |
| MN 9 | Sammādiṭṭhi Sutta | Pandangan Benar | Sāriputta menjelaskan secara rinci pandangan benar, faktor pertama Jalan Mulia Berunsur Delapan, dari berbagai perspektif. |
| MN 10 | Mahāsatipaṭṭhāna Sutta | Landasan Perhatian Penuh | Faktor ketujuh Jalan Mulia: meditasi perhatian penuh. Mengumpulkan banyak ajaran meditasi, terutama yang berfokus pada tubuh. |
Sīhanādavagga
| No. | Judul Pāli | Judul Indonesia | Keterangan |
|---|---|---|---|
| MN 11 | Cūḷasīhanāda Sutta | Auman Singa Kecil | Hanya pengikut Buddha yang dapat mengalami Empat Tingkat Kesucian karena sistem lain tidak sepenuhnya menolak pandangan tentang diri (sakkāyadiṭṭhi). |
| MN 12 | Mahāsīhanāda Sutta | Auman Singa Besar | Sunakkhatta menyerang ajaran Buddha karena hanya menuntun pada akhir penderitaan. Buddha membalikkan serangan itu sebagai pujian dan memaparkan pencapaian-Nya. |
| MN 13 | Mahādukkhakkhandha Sutta | Gumpalan Penderitaan Besar | Buddha menunjukkan bahwa petapa lain berbicara tentang pelepasan tetapi tidak mengerti mengapa. Penjelasan rinci tentang penderitaan dari kemelekatan indra. |
| MN 14 | Cūḷadukkhakkhandha Sutta | Gumpalan Penderitaan Kecil | Seorang umat awam bingung mengapa pikiran serakah masih muncul. Buddha menjelaskan pentingnya jhāna untuk melepaskan kemelekatan, juga mengkritik penyiksaan diri. |
| MN 15 | Anumāna Sutta | Kesimpulan | Moggallāna mengangkat topik pemberian nasihat untuk komunitas sehat. Daftar kualitas yang membuat seseorang pantas dinasihati secara konstruktif. |
| MN 16 | Cetokhila Sutta | Kekeringan Batin | Berbagai cara seseorang dapat terputus secara emosional dari komunitas spiritual. |
| MN 17 | Vanapattha Sutta | Tempat Tinggal di Hutan | Hidup di hutan tidak untuk semua orang. Praktisi harus merenungkan apakah lingkungan mendukung meditasi; jika tidak, tinggalkan. |
| MN 18 | Madhupiṇḍika Sutta | Gumpalan Madu | Konflik muncul karena persepsi yang berkembang biak. Kaccāna menggambarkan implikasi mendalam dari hal ini. |
| MN 19 | Dvedhāvitakka Sutta | Dua Jenis Pikiran | Pengalaman Buddha dalam meditasi: memahami pikiran berbahaya dan tidak berbahaya, serta melampaui pikiran. |
| MN 20 | Vitakkasaṇṭhāna Sutta | Peredaman Pikiran | Lima pendekatan praktis untuk menghentikan munculnya pikiran-pikiran jahat. |
Opammavagga
| No. | Judul Pāli | Judul Indonesia | Keterangan |
|---|---|---|---|
| MN 21 | Kakacūpama Sutta | Perumpamaan Gergaji | Pentingnya kesabaran dan cinta kasih, bahkan menghadapi pelecehan. Diakhiri dengan perumpamaan gergaji yang terkenal. |
| MN 22 | Alagaddūpama Sutta | Perumpamaan Ular | Seorang biku menyangkal larangan. Teguran: memahami Dhamma tanpa makna bagaikan memegang ekor ular. Perumpamaan rakit. |
| MN 23 | Vammika Sutta | Gundukan Semut | Seorang dewa memberikan teka-teki kepada biku, yang kemudian menanyakan maknanya kepada Buddha. |
| MN 24 | Rathavinīta Sutta | Rangkaian Kereta | Dialog antara Sāriputta dan Puṇṇa Mantāniputta tentang tahapan-tahapan pemurnian. |
| MN 25 | Nivāpa Sutta | Umpan | Seseorang terperangkap oleh Māra bagaikan rusa dalam jerat. Strategi pemburu dan buruan yang semakin kompleks. |
| MN 26 | Pāsarāsi Sutta | Tumpukan Jerat | Biografi penting: pengalaman Buddha dari meninggalkan rumah hingga mencapai pencerahan, didorong oleh keharusan terbebas dari kelahiran kembali. |
| MN 27 | Cūḷahatthipadopama Sutta | Jejak Gajah Kecil | Menegur pengambilan kesimpulan tergesa-gesa tentang pencapaian spiritual guru, seperti kehati-hatian pemburu gajah. |
| MN 28 | Mahāhatthipadopama Sutta | Jejak Gajah Besar | Semua jejak kaki muat dalam jejak gajah; semua ajaran Buddha muat dalam Empat Kebenaran Mulia. Pola menyusun ajaran. |
| MN 29 | Mahāsāropama Sutta | Inti Kayu Besar | Peringatan agar tidak berpuas diri dengan manfaat dangkal, menekankan pembebasan sebagai inti ajaran (setelah insiden Devadatta). |
| MN 30 | Cūḷasāropama Sutta | Inti Kayu Kecil | Mirip dengan sebelumnya: peringatan agar tidak berpuas diri, pembebasan sebagai inti ajaran. |
Mahāyamakavagga
| No. | Judul Pāli | Judul Indonesia | Keterangan |
|---|---|---|---|
| MN 31 | Cūḷagosiṅga Sutta | Gosiṅga Kecil | Buddha bertemu tiga biku yang berlatih harmonis. Mereka menjelaskan penanganan urusan praktis, lalu mengungkap pencapaian meditasi. |
| MN 32 | Mahāgosiṅga Sutta | Gosiṅga Besar | Biku senior mendiskusikan praktisi seperti apa yang menerangi hutan. Buddha memuji jawaban mereka dan menyampaikan versinya sendiri. |
| MN 33 | Mahāgopālaka Sutta | Penggembala Sapi Besar | Sebelas alasan penggembala sapi tidak dapat memelihara ternak dengan baik, diumpamakan dengan pertumbuhan spiritual biku. |
| MN 34 | Cūḷagopālaka Sutta | Penggembala Sapi Kecil | Perumpamaan gembala membimbing kawanan menyeberangi sungai berbahaya. Berbagai tingkatan kesucian yang melintasi arus kelahiran kembali. |
| MN 35 | Cūḷasaccaka Sutta | Saccaka Kecil | Saccaka, pendebat yang menyombongkan diri, menantang Buddha tetapi tidak terganggu dengan serangannya. |
| MN 36 | Mahāsaccaka Sutta | Saccaka Besar | Diskusi tentang perkembangan batin dan jasmani. Buddha menceritakan praktik ekstrem penyiksaan tubuh sebelum pencerahan. |
| MN 37 | Cūḷataṇhāsaṅkhaya Sutta | Penghancuran Ketagihan Kecil | Moggallāna mengunjungi surga Sakka untuk memastikan pemahamannya tentang ajaran Buddha. |
| MN 38 | Mahātaṇhāsaṅkhaya Sutta | Penghancuran Ketagihan Besar | Menghindari pandangan salah bahwa kesadaran (viññāṇa) berpindah. Mengajarkan kemunculan bersebab (paṭiccasamuppāda). |
| MN 39 | Mahāassapura Sutta | Assapura Besar | Mendorong biku untuk menghayati status mereka dan berlatih memenuhi atau melebihi ekspektasi. |
| MN 40 | Cūḷaassapura Sutta | Assapura Kecil | Status spiritual tidak hanya dari tampilan luar, tetapi dari perubahan batin yang tulus. |
Cūḷayamakavagga
| No. | Judul Pāli | Judul Indonesia | Keterangan |
|---|---|---|---|
| MN 41 | Sāleyyaka Sutta | Kaum Sāleyya | Perilaku yang mengarah ke kelahiran lebih tinggi atau rendah. Penjelasan sepuluh latihan utama untuk umat awam. |
| MN 42 | Verañjaka Sutta | Kaum Verañja | Mirip dengan sebelumnya: perilaku dan sepuluh latihan utama untuk kelahiran kembali. |
| MN 43 | Mahāvedalla Sutta | Tanya Jawab Besar | Seri tanya jawab antara Sāriputta dan Mahākoṭṭhita tentang aspek halus ajaran. |
| MN 44 | Cūḷavedalla Sutta | Tanya Jawab Kecil | Umat awam Visākha bertanya kepada bhikkhunī Dhammadinnā tentang hal-hal sulit termasuk pencapaian meditasi tertinggi. Buddha mendukung jawabannya. |
| MN 45 | Cūḷadhammasamādāna Sutta | Cara Menjalankan Dhamma Kecil | Praktik yang berbeda membawa hasil berbahaya atau bermanfaat. Perumpamaan tanaman merambat tentang bahaya kenikmatan indra. |
| MN 46 | Mahādhammasamādāna Sutta | Cara Menjalankan Dhamma Besar | Kita semua ingin bahagia tetapi sering terjadi sebaliknya. Buddha menjelaskan alasannya. |
| MN 47 | Vīmaṁsaka Sutta | Penyelidik | Buddha tidak hanya mendorong penyelidikan terhadap diri-Nya tetapi juga menyampaikan metode penyelidikan secara terperinci. |
| MN 48 | Kosambiya Sutta | Kaum Kosambi | Para biku Kosambi berselisih. Buddha mengajarkan cinta kasih dan keharmonisan, mengingatkan akan kedamaian yang dicari. |
| MN 49 | Brahmanimantanika Sutta | Undangan Brahmā | Buddha naik ke alam surga dan berdebat dengan makhluk yang menganggap dirinya abadi dan maha kuasa. |
| MN 50 | Māratajjanīya Sutta | Nasihat kepada Māra | Māra mencoba mengganggu Moggallāna tetapi gagal dan malah mendengarkan khotbah tentang bahaya menyerang murid Buddha. |
Majjhimapaṇṇāsa
- Majjhimapaṇṇāsa: disebut juga Bagian Kedua — Lima Puluh Khotbah Menengah
- Gahapativagga: Kelompok tentang Perumah tangga
- Bhikkhuvagga: Kelompok tentang Para Biku
- Paribbājakavagga: Kelompok tentang Para Pengembara
- Rājavagga: Kelompok Para Raja
- Brāhmaṇavagga: Kelompok Para Brahmana
Gahapativagga
| No. | Judul Pāli | Judul Indonesia | Keterangan |
|---|---|---|---|
| MN 51 | Kandaraka Sutta | Kepada Kandaraka | Meditasi perhatian penuh untuk umat awam. Membandingkan keterbukaan binatang dengan sikap bermuka dua manusia. |
| MN 52 | Aṭṭhakanāgara Sutta | Umat Aṭṭhakanāgara | Ānanda menjelaskan sebelas kondisi meditatif yang dapat berfungsi sebagai pintu menuju Nibbāna. |
| MN 53 | Sekha Sutta | Yang Masih Berlatih | Buddha diundang suku Sakya. Ānanda menjelaskan tahapan latihan spiritual bagi umat awam yang berlatih. |
| MN 54 | Potaliya Sutta | Kepada Potaliya | Potaliya marah disebut “perumah tangga”. Buddha menanyainya tentang hakikat kemelekatan dan pelepasan. |
| MN 55 | Jīvaka Sutta | Kepada Jīvaka | Dokter pribadi Buddha, Jīvaka, mendengar kritik tentang kebijakan makan daging dan bertanya kepada Buddha. |
| MN 56 | Upāli Sutta | Kepada Upāli | Buddha tidak setuju dengan petapa Jain tentang pentingnya perbuatan batin vs jasmani. Upāli berniat membantah tetapi akhirnya menjadi pengikut. |
| MN 57 | Kukkuravatika Sutta | Perilaku Anjing dan Sapi | Petapa yang berperilaku seperti sapi atau anjing. Buddha mengungkapkan buah kamma dari praktik tersebut. |
| MN 58 | Abhayarājakumāra Sutta | Pangeran Abhaya | Pemimpin Jain Nigaṇṭha Nātaputta memberi dilema kepada pangeran Abhaya untuk menjebak Buddha, tetapi tidak berhasil. |
| MN 59 | Bahuvedanīya Sutta | Berbagai Perasaan | Menyelesaikan perselisihan tentang jumlah jenis perasaan. Menunjukkan pentingnya perasaan sukacita dalam meditasi lebih tinggi. |
| MN 60 | Apaṇṇaka Sutta | Yang Tak Terbantahkan | Mengajar perumah tangga yang tidak berkomitmen tentang perenungan rasional untuk mencapai praktik yang terjamin hasil baiknya. |
Bhikkhuvagga
| No. | Judul Pāli | Judul Indonesia | Keterangan |
|---|---|---|---|
| MN 61 | Ambalaṭṭhikarāhulovāda Sutta | Nasihat kepada Rāhula di Ambalaṭṭhikā | Menggunakan secangkir air, Buddha menjelaskan kepada putranya Rāhula tentang pentingnya kejujuran dan merenungkan motif. |
| MN 62 | Mahārāhulovāda Sutta | Nasihat Besar kepada Rāhula | Buddha meminta Rāhula mengembangkan meditasi anatta. Sāriputta menasihati meditasi pernapasan, tetapi Buddha menyarankan berbagai latihan terlebih dahulu. |
| MN 63 | Cūḷamālukya Sutta | Mālukya Kecil | Seorang biku menuntut jawaban pertanyaan metafisik atau akan lepas jubah. Perumpamaan orang terkena panah yang menolak perawatan. |
| MN 64 | Mahāmālukya Sutta | Mālukya Besar | Bayi tidak memiliki pandangan salah, tetapi kecenderungan mendasar masih ada. Tanpa latihan, kecenderungan akan kambuh. |
| MN 65 | Bhaddāli Sutta | Kepada Bhaddāli | Seorang biku menolak aturan tidak makan setelah tengah hari, tetapi berakhir dengan penyesalan dan pengampunan. |
| MN 66 | Laṭukikopama Sutta | Perumpamaan Burung Puyuh | Aturan makan sebagai renungan syukur. Menekankan bagaimana kemelekatan, bahkan pada hal kecil, bisa berbahaya. |
| MN 67 | Cātuma Sutta | Di Cātuma | Setelah mengurus biku nakal, Buddha mengajarkan empat jenis ketakutan pada mereka yang meninggalkan keduniawian. |
| MN 68 | Naḷakapāna Sutta | Di Naḷakapāna | Orang berlatih bukan karena gagal, tetapi karena mengaspirasikan kebebasan lebih tinggi. Buddha berbicara tentang pencapaian murid untuk menginspirasi. |
| MN 69 | Goliyāni Sutta | Kepada Goliyāni | Seorang biku dari hutan berperilaku buruk. Sāriputta menjelaskan bagaimana biku seharusnya berperilaku, baik di hutan maupun di kota. |
| MN 70 | Kīṭāgiri Sutta | Di Kīṭāgiri | Manfaat kesehatan menghindari makan malam, dan keengganan beberapa biku mengikuti aturan ini. |
Paribbājakavagga
| No. | Judul Pāli | Judul Indonesia | Keterangan |
|---|---|---|---|
| MN 71 | Tevijjavaccha Sutta | Vaccha tentang Tiga Pengetahuan | Buddha menyangkal kemahatahuan-Nya, dan mengemukakan tiga pengetahuan lebih tinggi sebagai fondasi kebijaksanaan tercerahkan. |
| MN 72 | Aggivaccha Sutta | Vaccha tentang Api | Menolak memberikan pandangan tentang spekulasi metafisik. Perumpamaan nyala api yang padam. |
| MN 73 | Mahāvaccha Sutta | Vaccha Besar | Bagian terakhir trilogi Vacchagotta: ia melepaskan obsesi spekulasi dan bertanya tentang latihan. |
| MN 74 | Dīghanakha Sutta | Dīghanakha | Menghalau orang yang sangat skeptis. Membahas hasil kepercayaan dan ketidakpercayaan. Menganjurkan menganalisis perasaan yang dialami. |
| MN 75 | Māgaṇḍiya Sutta | Kepada Māgaṇḍiya | Dituduh terlalu negatif oleh seorang hedonis. Buddha menceritakan kemewahan dahulu dan menemukan “kesenangan” yang lebih besar melalui pelepasan. |
| MN 76 | Sandaka Sutta | Kepada Sandaka | Ānanda mengajar sekelompok pengembara tentang berbagai pendekatan kehidupan spiritual, banyak di antaranya tidak mengarah ke mana pun. |
| MN 77 | Mahāsakuludāyi Sutta | Sakuludāyi Besar | Pengikut Buddha memperlakukan-Nya dengan cinta kasih tulus karena mereka melihat ketulusan ajaran dan latihan-Nya. |
| MN 78 | Samaṇamuṇḍika Sutta | Samaṇamuṇḍika | Seorang pengembara mengajarkan bahwa pencapaian tertinggi adalah menjalankan empat sila dasar. Standar Buddha jauh lebih tinggi. |
| MN 79 | Cūḷasakuludāyi Sutta | Sakuludāyi Kecil | Seorang pengembara mengajarkan “kemegahan tertinggi” tanpa penjelasan memuaskan. Perumpamaan jatuh cinta pada wanita ideal yang belum pernah ditemui. |
| MN 80 | Vekhanasa Sutta | Kepada Vekhanasa | Seseorang tidak berpindah ke ajaran Buddha karena argumentasi cerdas, tetapi karena melihat sendiri hasil latihan. |
Rājavagga
| No. | Judul Pāli | Judul Indonesia | Keterangan |
|---|---|---|---|
| MN 81 | Ghaṭikāra Sutta | Pembuat Gerabah Ghaṭikāra | Kisah kehidupan lampau Buddha Gotama pada masa Buddha Kassapa. Penting untuk memahami perkembangan doktrin Bodhisatta. |
| MN 82 | Raṭṭhapāla Sutta | Raṭṭhapāla | Raṭṭhapāla ingin meninggalkan keduniawian tetapi harus mengatasi keengganan orang tua. Diakhiri ajaran mengharukan tentang kerapuhan dunia. |
| MN 83 | Maghadeva Sutta | Raja Maghadeva | Narasi mistik panjang tentang garis keturunan raja kuno dan kejatuhan mereka kelak. |
| MN 84 | Madhura Sutta | Di Madhurā | Raja Avantiputta bertanya kepada Mahākaccāna tentang klaim brahmana sebagai kasta tertinggi. |
| MN 85 | Bodhirājakumāra Sutta | Pangeran Bodhi | Buddha mengakui dulu percaya kebahagiaan melalui sakit, tetapi praktik-Nya menunjukkan kesalahan pandangan itu. |
| MN 86 | Aṅgulimāla Sutta | Aṅgulimāla | Buddha mengunjungi pembunuh Aṅgulimāla dan menuntunnya ke jalan tanpa kekerasan. Ia masih menderita karena perbuatan lampau tetapi hanya sedikit. |
| MN 87 | Piyajātika Sutta | Lahir dari yang Tercinta | Raja Pasenadi dan ratu Mallikā. Buddha mengajarkan bahwa orang yang kita cintai membuat kita sedih. |
| MN 88 | Bāhitika Sutta | Selendang | Raja Pasenadi mengunjungi Ānanda, bertanya tentang perilaku terampil dan tidak terampil. Mempersembahkan kain berharga sebagai terima kasih. |
| MN 89 | Dhammacetiya Sutta | Monumen Dhamma | Raja Pasenadi menjelang akhir hidup mengunjungi Buddha, menunjukkan pengabdian dan cinta kasih yang mengharukan. |
| MN 90 | Kaṇṇakatthala Sutta | Di Kaṇṇakatthala | Raja Pasenadi mempertanyakan Buddha tentang kasta, kemahatahuan, dan para dewa. |
Brāhmaṇavagga
| No. | Judul Pāli | Judul Indonesia | Keterangan |
|---|---|---|---|
| MN 91 | Brahmāyu Sutta | Brahmāyu | Brahmana tua mengirim siswa untuk menguji Buddha. Yakin Buddha memenuhi ramalan Manusia Luar Biasa, ia menjadi murid. |
| MN 92 | Sela Sutta | Sela | Petapa brahmana Keṇiya mengundang Saṅgha. Brahmana Sela melihat dan mengungkapkan kegembiraannya dalam syair. |
| MN 93 | Assalāyana Sutta | Assalāyana | Siswa brahmana muda didorong menantang Buddha tentang kasta. Keengganannya terbukti benar. |
| MN 94 | Ghoṭamukha Sutta | Ghoṭamukha | Seorang brahmana menyangkal adanya kehidupan pelepasan yang berprinsip, tetapi Udena meyakinkan sebaliknya. |
| MN 95 | Caṅkī Sutta | Caṅkī | Brahmana Caṅkī mengunjungi Buddha. Penjelasan tentang bagaimana pemahaman benar muncul secara bertahap melalui pendidikan spiritual. |
| MN 96 | Esukārī Sutta | Esukārī | Seorang brahmana mengklaim kasta menentukan pelayanan. Buddha membantah: perilaku, bukan kasta, yang menunjukkan nilai. |
| MN 97 | Dhanañjāni Sutta | Dhanañjāni | Sāriputta menasihati brahmana yang mencari alasan pembenaran atas kelalaiannya karena banyak tugas. |
| MN 98 | Vāseṭṭha Sutta | Vāseṭṭha | Dua siswa brahmana bertanya: brahmana karena kelahiran atau perbuatan? Jawaban: bagi manusia, perbuatan yang menentukan. |
| MN 99 | Subha Sutta | Subha | Bekerja keras tanpa memedulikan hasil tidak bermakna. Beberapa praktik spiritual yang tercemar pandangan salah bisa tidak membawa hasil bermanfaat. |
| MN 100 | Saṅgārava Sutta | Saṅgārava | Brahmana marah karena pengabdian istrinya kepada Buddha. Buddha memposisikan diri sebagai penentang tradisi, pengajar berdasarkan pengalaman langsung. |
Uparipaṇṇāsa
- Uparipaṇṇāsa: disebut juga Lima Puluh Khotbah Akhir
- Devadahavagga: Kelompok di Devadaha
- Anupadavagga: Kelompok Satu Demi Satu
- Suññatavagga: Kelompok tentang Kekosongan
- Vibhaṅgavagga: Kelompok Penjelasan
- Saḷāyatanavagga: Kelompok Enam Landasan Indra
Devadahavagga
| No. | Judul Pāli | Judul Indonesia | Keterangan |
|---|---|---|---|
| MN 101 | Devadaha Sutta | Di Devadaha | Menangani petapa Jain yang mengklaim penyiksaan diri mengakhiri penderitaan. Menunjukkan kekeliruan logika mereka dan menjelaskan jalan tengah. |
| MN 102 | Pañcattaya Sutta | Lima dan Tiga | Versi sedang dari Brahmajāla Sutta. Memeriksa berbagai pandangan spekulatif dan menolak semua. |
| MN 103 | Kinti Sutta | Apa yang Anda Pikirkan? | Buddha mengajarkan para biku untuk tidak mempermasalahkan ajaran dasar, tetapi selalu mengupayakan keharmonisan. |
| MN 104 | Sāmagāma Sutta | Di Sāmagāma | Mendengar wafatnya pemimpin Jain, Buddha mendorong Saṅgha menyelesaikan perselisihan dengan tujuh metode. Fondasi kitab disiplin monastik. |
| MN 105 | Sunakkhatta Sutta | Sunakkhatta | Tidak semua yang mengaku tercerahkan benar-benar tercerahkan. Kemajuan spiritual bergantung pada pelepasan berkelanjutan kondisi yang menyebabkan penderitaan. |
| MN 106 | Āneñjasappāya Sutta | Kondisi Tanpa Goyah | Dimulai dengan jhāna mendalam, kemudian tingkat lebih dalam. Pandangan-terang mengarah pada pelepasan kesadaran dari segala bentuk kelahiran kembali. |
| MN 107 | Gaṇakamoggallāna Sutta | Gaṇaka Moggallāna | Perumpamaan pelatihan akuntan dengan pelatihan bertahap jalan spiritual. Buddha hanyalah penunjuk jalan; seseorang harus menjalani sendiri. |
| MN 108 | Gopakamoggallāna Sutta | Gopaka Moggallāna | Setelah wafat Buddha, Ānanda ditanya tentang keberlanjutan Saṅgha. Ajaran dan latihan menjadi guru penerus, Saṅgha menyelesaikan masalah dengan mufakat. |
| MN 109 | Mahāpuṇṇama Sutta | Bulan Purnama Besar | Pada malam bulan purnama, seorang biku mengajukan pertanyaan mengarah ke inti ajaran. Biku lain tidak mampu memahami anatta. |
| MN 110 | Cūḷapuṇṇama Sutta | Bulan Purnama Kecil | Orang baik bisa memahami orang jahat, tetapi tidak sebaliknya. |
Anupadavagga
| No. | Judul Pāli | Judul Indonesia | Keterangan |
|---|---|---|---|
| MN 111 | Anupada Sutta | Bertahap | Penjelasan teknis proses pandangan-terang Sāriputta. Banyak gagasan menjadi pelopor Abhidhamma. |
| MN 112 | Chabbisodhana Sutta | Pemeriksaan Seksama | Jika seseorang mengaku tercerahkan, klaim harus diperiksa dengan serangkaian pertanyaan terperinci. |
| MN 113 | Sappurisa Sutta | Orang Baik | Orang yang benar-benar baik tidak merendahkan orang lain atau merasa superior karena pencapaian mereka. |
| MN 114 | Sevitabbāsevitabba Sutta | Harus Dikembangkan atau Tidak | Buddha menetapkan kerangka hal yang harus dikembangkan atau dihindari. Sāriputta menjelaskannya. |
| MN 115 | Bahudhātuka Sutta | Banyak Unsur | Seseorang menjadi bijaksana dengan menyelidiki unsur-unsur (dhātu), landasan indra, kemunculan bersebab, dan apa yang mungkin. |
| MN 116 | Isigili Sutta | Isigili | Merefleksikan perubahan ciri geografis. Menceritakan nama-nama orang bijak masa lampau yang tinggal di Gunung Isigili. |
| MN 117 | Mahācattārīsaka Sutta | Empat Puluh Besar | Prasyarat samādhi benar yang menekankan keterkaitan semua faktor Jalan Mulia Berunsur Delapan. |
| MN 118 | Ānāpānassati Sutta | Perhatian Penuh pada Pernapasan | Buddha mengajarkan perhatian penuh pada pernapasan secara rinci, hubungannya dengan empat jenis meditasi perhatian penuh. |
| MN 119 | Kāyagatāsati Sutta | Perhatian Penuh pada Tubuh | Fokus pada aspek pertama meditasi perhatian penuh: pengamatan tubuh. Praktik sederhana dengan manfaat luas. |
| MN 120 | Saṅkhārupapatti Sutta | Kelahiran Kembali karena Bentukan | Buddha menjelaskan bagaimana seseorang dapat membuat aspirasi untuk terlahir kembali di alam berbeda. |
Suññatavagga
| No. | Judul Pāli | Judul Indonesia | Keterangan |
|---|---|---|---|
| MN 121 | Cūḷasuññata Sutta | Kekosongan Kecil | Latihan meditasi pada kekosongan yang dipraktikkan Buddha. |
| MN 122 | Mahāsuññata Sutta | Kekosongan Besar | Sekelompok biku terlalu banyak bersosialisasi. Buddha mengajarkan pentingnya pengasingan untuk memasuki kekosongan. |
| MN 123 | Acchariyaabbhuta Sutta | Menakjubkan dan Ajaib | Ānanda berbicara tentang kualitas menakjubkan Buddha saat kelahiran. Buddha menutup dengan menjelaskan apa yang benar-benar menakjubkan tentang diri-Nya. |
| MN 124 | Bākula Sutta | Bakkula | Bakkula, biku paling sehat, menjelaskan latihannya yang ketat. Bentuk tidak biasa menunjukkan penambahan setelah wafat Buddha. |
| MN 125 | Dantabhūmi Sutta | Tingkat Penjinakan | Seorang sāmaṇera tidak dapat menjelaskan penjinakan batin. Buddha memberi perumpamaan penjinakan gajah. |
| MN 126 | Bhūmija Sutta | Bhūmija | Keberhasilan spiritual tidak bergantung pada sumpah, tetapi pada apakah seseorang berlatih dengan baik. |
| MN 127 | Anuruddha Sutta | Anuruddha | Seorang umat awam bingung antara kebebasan batin “tanpa batas” dan “luhur”. Anuruddha menjelaskan. |
| MN 128 | Upakkilesa Sutta | Kekotoran | Latar pertengkaran Kosambi. Buddha gagal rekonsiliasi, meninggalkan vihara, lalu bertemu komunitas biku inspiratif. Membahas hambatan meditasi sebelum pencerahan. |
| MN 129 | Bālapaṇḍita Sutta | Orang Bodoh dan Bijaksana | Orang dungu menderita di kedua kehidupan, orang bijaksana mendapat manfaat. |
| MN 130 | Devadūta Sutta | Utusan Dewa | Deskripsi paling rinci tentang kengerian neraka, memperluas khotbah sebelumnya. |
Vibhaṅgavagga
| No. | Judul Pāli | Judul Indonesia | Keterangan |
|---|---|---|---|
| MN 131 | Bhaddekaratta Sutta | Satu Malam yang Beruntung | Syair singkat memuji manfaat memahami sini-kini, diikuti penjelasan. |
| MN 132 | Ānandabhaddekaratta Sutta | Ānanda: Satu Malam Beruntung | Khotbah yang sama dengan MN 131, tetapi disampaikan oleh Ānanda. |
| MN 133 | Mahākaccānabhaddekaratta Sutta | Mahākaccāna: Satu Malam Beruntung | Syair dari MN 131 dijelaskan dengan cara berbeda oleh Mahākaccāna. |
| MN 134 | Lomasakaṅgiyabhaddekaratta Sutta | Lomasakaṅgiya: Satu Malam Beruntung | Seorang biku yang tidak mengetahui syair didorong dewa untuk mempelajarinya. |
| MN 135 | Cūḷakammavibhaṅga Sutta | Analisis Perbuatan Kecil | Buddha menjelaskan kepada brahmana bagaimana perbuatan (kamma) lampau memengaruhi kehidupan saat ini. |
| MN 136 | Mahākammavibhaṅga Sutta | Analisis Perbuatan Besar | Menekankan kompleksitas nuansa dalam hukum kamma, mengoreksi penyederhanaan berlebihan. |
| MN 137 | Saḷāyatanavibhaṅga Sutta | Analisis Enam Landasan Indra | Analisis terperinci dari enam indra dan hubungannya dengan proses emosi dan kognitif. |
| MN 138 | Uddesavibhaṅga Sutta | Analisis Ringkasan | Pernyataan singkat dan penuh teka-teki tentang kesadaran melekati objek. Mahākaccāna menjelaskan implikasi. |
| MN 139 | Araṇavibhaṅga Sutta | Analisis Tanpa Ketegangan | Cara menghindari konflik: menghindari ekstrem, ucapan benar, pemahaman kesenangan, menghindari pemaksaan bahasa. |
| MN 140 | Dhātuvibhaṅga Sutta | Analisis Unsur-unsur | Buddha bermalam di rumah kerja pengrajin tembikar, bertemu biku yang tidak mengenali-Nya. Diskusi mendalam tentang unsur-unsur menuju Kearahattaan. |
| MN 141 | Saccavibhaṅga Sutta | Analisis Kebenaran | Memperluas khotbah pertama Buddha. Sāriputta memberikan penjelasan rinci tentang Empat Kebenaran Mulia. |
| MN 142 | Dakkhiṇāvibhaṅga Sutta | Analisis Persembahan | Ibu tiri Buddha Mahāpajāpatī ingin mempersembahkan jubah. Buddha mendorong persembahan kepada seluruh Saṅgha. Jenis persembahan terbaik. |
Saḷāyatanavagga
| No. | Judul Pāli | Judul Indonesia | Keterangan |
|---|---|---|---|
| MN 143 | Anāthapiṇḍikovāda Sutta | Nasihat kepada Anāthapiṇḍika | Umat awam Anāthapiṇḍika terbaring sekarat. Sāriputta mengunjungi dan memberikan ajaran tentang ketidakmelekatan. |
| MN 144 | Channovāda Sutta | Nasihat kepada Channa | Biku Channa menderita sakit akut dan ingin bunuh diri. |
| MN 145 | Puṇṇovāda Sutta | Nasihat kepada Puṇṇa | Puṇṇa hendak pergi ke negeri yang penuh orang liar. Buddha menanyai bagaimana tanggapannya jika diserang. |
| MN 146 | Nandakovāda Sutta | Nasihat Nandaka | Nandaka diminta mengajar para bikuni, mengundang mereka berdialog dan menanyakan hal yang perlu penjelasan lebih lanjut. |
| MN 147 | Cūḷarāhulovāda Sutta | Nasihat Kecil kepada Rāhula | Buddha membawa Rāhula ke tempat terpencil untuk dibimbing menuju pembebasan. |
| MN 148 | Chachakka Sutta | Enam Enaman | Analisis enam indra dari enam perspektif, menunjukkan kekosongan semua indra. |
| MN 149 | Mahāsaḷāyatanika Sutta | Enam Landasan Indra Besar | Menjelaskan bagaimana pandangan-terang yang diarahkan ke enam indera diintegrasikan dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan menuju pembebasan. |
| MN 150 | Nagaravindeyya Sutta | Kaum Nagaravindeyya | Diskusi dengan perumah tangga tentang membedakan praktisi spiritual yang layak dihormati. |
| MN 151 | Piṇḍapātapārisuddhi Sutta | Kemurnian Makanan Sedekah | Buddha memperhatikan kulit bercahaya Sāriputta hasil meditasi mendalam. Serangkaian perenungan agar biku layak menerima dana makanan. |
| MN 152 | Indriyabhāvanā Sutta | Pengembangan Indra | Seorang guru brahmana mengatakan pemurnian indra dengan tidak melihat dan tidak mendengar. Buddha menjelaskan pemurnian indra adalah memahami dan tidak terpengaruh. |
Terjemahan
Bahasa Inggris
Terjemahan lengkap
- Bhikkhu Ñāṇamoli dan Bhikkhu Bodhi (penerj.), The Middle Length Discourses of the Buddha: A Translation of the Majjhima Nikaya, 1995, Somerville: Wisdom Publications ISBN 0-86171-072-X.
- Lord Chalmers, penerj. (1898–1926), Further Dialogues of the Buddha, 1926–7, vol.1, vol. 2, London: Pali Text Society. Dicetak ulang: Ann Arbor: Books on Demand, University of Michigan.
- I. B. Horner (penerj.), The Book of Middle Length Sayings, 1954–9, 3 volumes, Bristol: Pali Text Society.
- David W. Evans (penerj.), Discourses of Gotama Buddha: Middle Collection, 1991, Janus Pubns. "Terjemahan dalam bentuk ringkasan ... hanya sekitar sepertiga ukuran terjemahan Horner, tetapi dengan lebih dari 90% konten yang signifikan."
- Biku Sujato (penerj.), The Middle Discourses, 2018, diterbitkan secara daring di SuttaCentral dan dirilis ke domain publik.
Teks-teks pilihan
- A Treasury of the Buddha's Words, terj. Nanamoli, direvisi Khantipalo, Bangkok; kemudian direvisi & diperluas dengan menyertakan edisi MLDB di atasnya
- Twenty-Five Suttas from Mula-Pannasa, Burma Pitaka Association, Rangoon, 1986?; dicetak ulang Sri Satguru, Delhi.
- Twenty-Five Suttas from Majjhima-Pannasa, Myanmar Pitaka Association, Rangoon, 1987; dicetak ulang Sri Satguru, Delhi.
- Twenty-Five Suttas from Upari-Pannasa, Myanmar Pitaka Association, Rangoon, 1988?; dicetak ulang Sri Satguru, Delhi.
Bahasa Indonesia
- Khotbah-khotbah Menengah Sang Buddha, Majjhima Nikāya, diterjemahkan dari Pāli oleh Bhikkhu Ñāṇamoli & Bhikkhu Bodhi, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya dan Indra Anggara, 2013, DhammaCitta Press; juga dapat diakses melalui situs DhammaCitta dan SuttaCentral.
- Kanon Pali dan Komentarnya, Majjhima Nikāya, Mūlapaṇṇāsapāḷi: Lima Puluh Diskursus yang di Akar (I.1A) (I.1B) (I.1C) (I.1D) (I.2A), diterjemahkan dari Pāli oleh Ashin Kheminda, Dhammavihārī Buddhist Studies; dapat diakses melalui situs Dhammavihari atau melalui Google Playbook.
- Kanon Pali dan Komentarnya, Majjhima Nikāya, Gahapativagga: Kelompok Diskursus Berkenaan dengan Para Penghuni Rumah (II.1), (II.2), (II.3) diterjemahkan dari Pāli oleh Ashin Kheminda, Dhammavihārī Buddhist Studies; dapat diakses melalui situs Dhammavihari atau melalui Google Playbook.
- Kanon Pali dan Komentarnya, Majjhima Nikāya, Paribbājakavagga: Kelompok Diskursus untuk Para Pengembara Fakir , diterjemahkan dari Pāli oleh Ashin Kheminda, Dhammavihārī Buddhist Studies; dapat diakses melalui situs Dhammavihari atau melalui Google Playbook.
Bahasa Hindi
- Mahapandit Rahul Sankrityayan menerjemahkan Majjhimanikāya dari bahasa Prakerta ke bahasa Hindi.[5]
Referensi
- ↑ Singh, Upinder. A History of Ancient and Early Medieval India: From the Stone Age to the 12th Century. Pearson. hlm. 25.
- ↑ A version of the Pali original is available in Gotama, Buddha (2012). Majjhima Nikaya: The Middle Length Discourses of the Buddha. CreateSpace Independent Publishing Platform. ISBN 978-1478369622.
- ↑ Bodhi, Bhikkhu (1995). The Middle Length Discourses of the Buddha: A New Translation of the Majjhima Nikāya. Kandy, Sri Lanka: Buddhist Publication Society, first published by Wisdom Publications. hlm. 5–11, 20. ISBN 0-86171-072-X.
- ↑ A Dictionary of Buddhism, by Damien Keown, Oxford University Press: 2004
- ↑ Sharma, R. S. (2009). Rethinking India's Past. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-569787-2.
Pranala luar
- Majjhima Nikāya dalam bahasa Inggris (& 30+ bahasa dunia lainnya) beserta paralel Madhyāgama di suttacentral.net
- Majjhima Nikāya dalam bahasa Inggris di Metta.lk
- Majjhima Nikāya dalam bahasa Inggris di accesstoinsight.org
- Pengajaran Majjhima Nikāya oleh Bhikkhu Bodhi
- Majjhima Nikāya III, II. 3.5.Māgandiyasuttaṁ, III. 2. 5.Bahudhātukasuttaṁ-, (115) The Discourse on Many Elements di budsas.org
- Entri untuk Mādhyamāgama[pranala nonaktif permanen], Digital Dictionary of Buddhism di buddhism-dict.net
- Selected Suttas of the Majjhima Nikaya, terj. oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications
- Seven Games of India in the 6th Century B.C.
| Dīghanikāya (DN) |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Majjhimanikāya (MN) |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Saṃyuttanikāya (SN) |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Aṅguttaranikāya (AN) |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Khuddakanikāya (KN) |
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
| ||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
| ||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
| |||||||||||||
|
| ||||||||||||
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |