Film ini dirilis secara global pada 11 April 2024 bertepatan dengan perayaan Idulfitri.[7]Maidaan memperoleh ulasan positif dari para kritikus, namun secara komersial gagal meraih kesuksesan dengan pendapatan kotor sebesar ₹68 crore di seluruh dunia.[8]
Plot
Pada Olimpiade Musim Panas 1952 di Helsinki, tim nasional sepak bola India mengalami kekalahan telak dari Yugoslavia dengan skor 10–1. Para anggota Federasi Sepak Bola Seluruh India menyalahkan sang pelatih, Syed Abdul Rahim, atas buruknya penampilan tim. Rahim kemudian meminta izin untuk membentuk tim baru dengan pemain-pemain berbeda. Meski sebagian besar anggota federasi, terutama Subhankar, enggan menyetujuinya, Rahim mendapat dukungan dari Presiden Anjan yang akhirnya memberi restu. Rahim pun berkeliling India mencari bakat-bakat muda dan meramu tim baru, di antaranya Tulsidas Balaram dari Secunderabad, Peter Thangaraj dari Hyderabad, serta P. K. Banerjee dan Chuni Goswami dari Kalkuta. Keputusan tersebut membuat Roy Choudhary, jurnalis berpengaruh dari Kalkuta, mengkritik Rahim yang tidak mengambil pemain-pemain dari Benggala yang menurutnya lebih bagus. Rahim menjawab kritik itu dengan menyebut Choudhary tidak memahami sepak bola, sehingga hal tersebut membuat Roy dendam.
Empat tahun kemudian, di Olimpiade Melbourne 1956, India bersiap menghadapi Australia. Dalam sebuah insiden, salah satu pemain Australia merendahkan Neville D’Souza dengan menyuruhnya mengikatkan sepatunya. Neville membalas penghinaan itu dengan mencetak hat-trick saat pertandingan, membawa India menang 7–1 dan mengejutkan tuan rumah. India akhirnya finis di posisi keempat. Sementara itu, Roy Choudhary dan Subhankar merencanakan cara menyingkirkan Rahim dari federasi agar Subhankar bisa menjadi presiden. Pada Olimpiade Musim Panas 1960, India berhadapan dengan Prancis yang dianggap sebagai salah satu tim terkuat dunia. Pertandingan berakhir imbang 1–1, membuat India gagal lolos. Federasi pun mencopot Rahim karena dianggap gagal. Tak lama, Rahim mengetahui dirinya mengidap kanker paru akibat kebiasaan merokok, dan hidupnya tak akan lama.
Rahim memilih menghabiskan sisa waktunya bersama keluarga. Meski sering tersiksa batuk, istrinya, Saira, terus menyemangati agar ia tidak menyerah pada mimpinya: membawa India meraih emas. Rahim kembali meminta kesempatan melatih tim, berjanji jika gagal meraih emas, ia tak akan melatih lagi seumur hidup. Subhankar, yang kini menjabat presiden, awalnya menolak, tetapi akhirnya menyerah setelah mayoritas anggota federasi mendukung Rahim. Rahim pun kembali melatih dan menyiapkan tim untuk Asian Games 1962 di Jakarta. Namun Kementerian Keuangan menolak mengirim tim dengan alasan dana terbatas. Rahim turun tangan langsung menemui Menteri Keuangan Morarji Desai dan berhasil meyakinkannya, dengan syarat hanya 16 pemain yang boleh berangkat. Rahim pun harus meninggalkan beberapa pemain, termasuk putranya sendiri, Hakim.
Di Jakarta, nasib buruk menimpa tim: Thangaraj, sang penjaga gawang, cedera sebelum laga pertama dan digantikan Pradyut Barman, membuat pertahanan melemah. India kalah dari Korea Selatan, dan para pemain mulai saling menyalahkan. Rahim menenangkan mereka, menekankan pentingnya formasi dan kerja sama. Pada laga berikutnya melawan Thailand, Jarnail Singh cedera parah akibat tekel keras. Rahim memerintahkan timnya untuk “membalas di lapangan,” dan India bermain lebih agresif hingga menang 4–1. Di tengah turnamen, seorang diplomat India mengkritik keputusan panitia yang tidak mengizinkan Israel dan Taiwan ikut serta, memicu kemarahan publik Indonesia dan gelombang protes besar terhadap tim India.
Pada hari pertandingan final, ketika tim India kembali harus berhadapan dengan Korea Selatan, bus tim tiba-tiba diserang oleh para demonstran. Situasi memanas hingga pihak militer turun tangan untuk menjamin keamanan mereka. Di tengah ketegangan itu, kondisi kesehatan Rahim semakin memburuk—ia mulai batuk darah. Namun, bukannya menyerah, Rahim justru berdiri di depan para pemain dan menyampaikan pidato penuh semangat yang membakar tekad mereka. Melihat kegigihan Rahim, Roy Choudhary akhirnya luluh dan berbalik mendukung tim India. Thangaraj dan Singh pun kembali bergabung untuk laga penentuan. Pertandingan berlangsung sengit, tetapi tim India berhasil meraih kemenangan 2-1. Gol itu bukan sekadar angka di papan skor—melainkan medali emas cabang sepak bola terakhir yang pernah didapat India di ajang Asian Games.
Pengambilan gambar utama dimulai pada 19 Agustus 2019, namun mengalami penundaan panjang akibat pandemi COVID-19 dan Siklon Nisarga.[9][10] Proses produksi akhirnya selesai pada Mei 2022. Film ini semula dijadwalkan tayang di bioskop pada 3 Juni 2022, tetapi ditunda karena pekerjaan pascaproduksi yang belum rampung. Jadwal rilis kemudian ditetapkan pada 23 Juni 2023, namun kembali mengalami penundaan.[11][12]
Awalnya, musik latar untuk Maidaan direncanakan digubah oleh Amit Trivedi, , dengan lirik ditulis oleh kolaborator tetapnya, Amitabh Bhattacharya , sementara penulis dialog Siddhant Mago bersama pendatang baru Mayank Mehra turut menyusun skor latar. Namun, keterlambatan produksi membuat Trivedi, Bhattacharya, dan Mehra mundur, sedangkan Mago kemudian hanya tercatat sebagai penulis dialog. A.R. Rahmankemudian ditunjuk untuk menggantikan mereka.
Musik film ini digubah oleh Rahman dengan lirik ditulis oleh Manoj Muntashir. . Singel pertama berjudul “Mirza” dirilis pada 18 Maret 2024,[13] sementara keseluruhan album diluncurkan pada 8 April 2024.[14]
Film ini mengadakan penayangan perdana berbayar pada 10 April 2024, sebelum dirilis secara nasional sehari kemudian, 11 April, bertepatan dengan Idulfitri, dalam format standar maupun IMAX.[15]
Media rumah
Hak distribusi digital film ini dimiliki oleh Amazon Prime Video, sementara hak siar satelit diperoleh Star Gold.[16] Film ini tayang perdana di Amazon Prime Video pada 5 Juni 2024.[17]