Magersari adalah satu dari tiga kecamatan di Kota Mojokerto. Magersari merupakan kecamatan paling timur, wilayahnya memanjang dari sekitar Jalan Bypass Mojokerto hingga sisi timur alun-alun. Pusat pemerintahan Kota Mojokerto berada di kecamatan ini, tepatnya di Jalan Gajah Mada. Sedangkan di sebelah timur alun-alun terdapat pusat pemerintahan Kabupaten Mojokerto yang sampai sekarang belum dipindahkan ke luar wilayah Kota Mojokerto. Pusat Kecamatan Magersari berada di persimpangan Jalan Bypass dengan Empunala di Kelurahan Kedundung. Jalan Bypass Mojokerto merupakan jalan nasional yang lebar dan ramai serta menghubungkan Jombang dengan Sidoarjo dan Surabaya.[1]
Magersari bersama dengan Prajuritkulon adalah kecamatan tertua di Kota Mojokerto yang terbentuk pada tahun 1982.[2] Selanjutnya pada tahun 2015, 4 kelurahan dari Kota Mojokerto yang terdiri dari Kelurahan Purwotengah, Sentanan, Jagalan, dan Meri bergabung dengan 2 kelurahan dari Prajuritkulon untuk membentuk kecamatan baru bernama Kranggan. Sehingga saat ini Kota Mojokerto terdiri dari 3 kecamatan, dan Magersari terdiri dari 6 kelurahan.[3]
Geografi
Peta kelurahan di Kota Mojokerto
Magersari adalah kecamatan paling timur dari Kota Mojokerto dan berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto di sebelah timur. Magersari juga berbatasan dengan Sungai Brantas yang terdapat jembatan penghubung menuju ke Kabupaten Mojokerto bagian utara yaitu Jembatan Gajah Mada dan Lespadangan. Beberapa jalur penting di kecamatan ini antara lain Jalan Ahmad Yani yang terdapat kantor bupati, Jalan Gajah Mada yang terdapat kantor walikota dan terhubung ke Jembatan Gajah Mada, Jalan Bypass yang menuju ke Surabaya, Jalan Empunala yang menghubungkan Jalan Gajah Mada dengan Jalan Bypass, Jalan Benteng Pancasila, serta Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Mayjen Sungkono di tepi Sungai Brantas.
Batas wilayah Kecamatan Magersari adalah sebagai berikut:[1]
Relief di Alun-alun Kota Mojokerto tentang pemindahan ibukota Japan tahun 1838
Kelurahan Magersari di Kecamatan Magersari merupakan salah satu cikal bakal berdirinya Kota Mojokerto dengan adanya kantor bupati yang dibangun di sisi timur alun-alun. Dahulu terdapat suatu daerah bernama Kabupaten Japan yang beribukota di Kauman Kuthobedah (sekarang menjadi Desa Japan di Kecamatan Sooko). Namun, daerah Japan yang berada di tepi Sungai Brangkal sering dilanda banjir sehingga Bupati Japan yaitu Raden Tumenggung Tjondronegoro II memutuskan untuk memindahkan pendopo dan rumah dinas ke wilayah Magersari. Pemindahan ini disahkan dalam Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1838 yang juga diikuti dengan perubahan nama daerah menjadi Kabupaten Mojokerto.[4]
Pada zaman kolonial Belanda, wilayah Mojokerto terutama Magersari semakin berkembang pesat, sehingga pemerintah Belanda menetapkan berdirinya Kota (Gemeente) Mojokerto pada tahun 1918 yang terpisah dari pemerintahan kabupaten. Di tepian Sungai Brantas dibangun sebuah jalan yang sekarang menjadi Jalan Hayam Wuruk. Jalan ini dulunya merupakan kawasan elite kolonial serta terdapat bangunan penting seperti Kantor Walikota (Gemeentehuis) serta Pabrik Gula Sentanen Lor. Pabrik gula ini sekarang sudah terbengkalai sedangkan kantor walikota lama dialih fungsikan menjadi rumah dinas walikota.[5][6]
Pasca kemerdekaan, Kota Mojokerto resmi menjadi daerah administrasi tersendiri yang terpisah dari Kabupaten Mojokerto. Kota Mojokerto saat itu hanya terdiri dari satu kecamatan yaitu Kecamatan Kota Mojokerto. Selanjutnya pada tahun 1982, Kecamatan Magersari dibentuk bersamaan dengan Kecamatan Prajuritkulon dan mencakup 10 kelurahan. Saat itu, Magersari mengambil dua desa dari Kecamatan Puri yaitu Gunung Gedangan dan Meri.[2] Kemudian pada tahun 2015, 4 kelurahan yaitu Purwotengah, Sentanan, Jagalan, dan Meri bergabung dengan 2 kelurahan dari Prajuritkulon untuk membentuk kecamatan baru bernama Kranggan.[3] Sampai saat ini, kantor bupati Mojokerto masih berada di dalam wilayah Kota Mojokerto yaitu di sebelah timur alun-alun atau Kelurahan Magersari. Sedangkan kantor walikota yang pada zaman kolonial berada di Jalan Hayam Wuruk, sekarang dipindahkan ke Jalan Gajah Mada.[5]
Sebuah keluarga Belanda yang bekerja di Pabrik Sentanen Lor
Kantor administrasi Pabrik Gula Sentanen Lor
Bagian dalam Pabrik Gula Sentanen Lor
Pendopo kabupaten tahun 1924
Daftar kelurahan dan lingkungan
Kecamatan Magersari terdiri dari 6 kelurahan yang dibagi menjadi beberapa lingkungan. Pusat kecamatan ini berada di Kelurahan Kedundung. Kelurahan dan lingkungan tersebut yakni sebagai berikut:[7]
↑Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI (2019-02-11). "Sejarah Kabupaten Mojokerto". kebudayaan.kemdikbud.go.id. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.