Vaksin MMR adalah vaksin kombinasi untuk melawan campak (measles), gondongan (mumps), dan rubela (campak Jerman).[3] Vaksin ini menggabungkan vaksin campak, vaksin gondongan, dan vaksin rubela ke dalam satu sediaan suntikan.[3][6][7][8] Setelah pemberian dua dosis vaksin ini, 97% penerima vaksin terlindungi dari campak, 88% dari gondongan, dan setidaknya 97% dari rubela.[6] Vaksin ini juga direkomendasikan untuk mereka yang tidak memiliki bukti adanya kekebalan,[6] mereka dengan HIV/AIDS yang terkontrol baik,[9][10] serta dapat diberikan dalam 72 jam setelah paparan campak bagi mereka yang belum diimunisasi secara lengkap.[7] Vaksin ini diberikan dengan cara disuntikkan.[11]
Vaksin MMR digunakan secara luas di dunia. Sampai tahun 2012, 575 juta dosis vaksin telah diberikan sejak vaksin ini diperkenalkan di seluruh dunia.[12] Sebelum imunisasi umum dilakukan, campak mengakibatkan 2,6 juta kematian setiap tahunnya.[12] Angka kematian telah turun menjadi 122.000 per tahunnya hingga 2012,[update] dan kebanyakan terjadi di negara-negara dengan pendapatan rendah.[12] Melalui vaksinasi, hingga 2018[update], angka kejadian campak di Amerika Utara dan Selatan menjadi sangat rendah.[12] Angka kejadian penyakit tampak meningkat pada populasi yang tidak tervaksinasi.[12] Antara tahun 2000 dan 2018, vaksinasi berhasil menurunkan angka kematian akibat campak sebesar 73%.[13]
Efek samping imunisasi ini umumnya ringan dan akan sembuh sendiri tanpa terapi khusus.[14] Efek samping yang dapat terjadi meliputi demam dan juga rasa nyeri atau kemerahan di titik penyuntikan.[14]Reaksi alergi berat terjadi pada sekitar satu dari satu juta orang.[14] Karena vaksin MMR mengandung virus hidup, vaksin ini tidak direkomendasikan untuk diberikan selama masa kehamilan, tetapi dapat diberikan pada masa menyusui.[6] Vaksin ini aman diberikan pada waktu yang sama dengan vaksin-vaksin lainnya.[14] Kondisi baru diimunisasi tidak meningkatkan risiko penularan campak, gondongan, atau rubela ke orang lain: Artinya, meskipun vaksin ini mengandung virus hidup, virus-virus ini tidak ditularkan.[6] Tidak ada kaitan antara imunisasi MMR dan gangguan spektrum autisme.[15][16][17] Vaksin MMR adalah campuran dari virus yang dilemahkan dari tiga penyakit.[6]
Vaksin MMR dikembangkan oleh Maurice Hilleman.[18] Vaksin ini didaftarkan untuk memperoleh lisensi penggunaan di AS oleh Merck pada tahun 1971.[19] Vaksin-vaksin campak, gondongan, dan rubela dalam sediaan tunggal masing-masing memperoleh lisensi penggunaan pada tahun 1963, 1967, dan 1969.[19][20] Rekomendasi pemberian dosis kedua diperkenalkan pada tahun 1989.[19]Vaksin MMRV, yang juga memberikan perlindungan terhadap cacar air, dapat digunakan sebagai pengganti.[6]Vaksin MR, yang tidak memberikan perlindungan terhadap gondongan, juga kadang-kadang digunakan.[21]
Penggunaan medis
Priorix
Cochrane menyimpulkan bahwa "Bukti-bukti yang sudah ada terkait keamanan dan efektivitas vaksin MMR dan MMRV mendukung kebijakan-kebijakan pemberian imunisasi massal yang sudah berlangsung saat ini yang bertujuan untuk eradikasi campak global guna menurunkan angka morbiditas dan mortalitas terkait campak, gondongan, rubela, dan cacar air."[15]
Dibandingkan pemberian tiga jenis vaksin secara terpisah-pisah, pemberian vaksin MMR menginduksi imunitas dengan rasa nyeri yang lebih rendah (karena dilakukan dalam satu penyuntikan), lebih cepat, dan lebih efisien. Organisasi Kesehatan Masyarakat Inggris melaporkan bahwa pemberian vaksin kombinasi tunggal sejak tahun 1988, dibandingkan dengan pemberian vaksin secara terpisah-pisah, meningkatkan angka vaksinasi.[22]
Campak
Jumlah kasus campak yang dilaporkan di Amerika Serikat turun secara signifikan setelah diperkenalkannya vaksin campak.
Sebelum luasnya penggunaan vaksin campak, angka kasus campak sangatlah tinggi sampai di titik di mana infeksi campak dianggap sebagai suatu hal yang "pasti terjadi seperti halnya kematian dan pajak."[23] Jumlah kasus campak yang dilaporkan di Amerika Serikat turun dari ratusan ribu kasus menjadi puluhan ribu per tahunnya setelah vaksin diperkenalkan pada tahun 1963. Meningkatnya penggunaan vaksin setelah wabah tahun 1971 dan 1977 menurunkan jumlah kasus campak sampai ke ribuan kasus per tahunnya pada tahun 1980-an. Sebuah wabah pada tahun 1990 dengan jumlah kasus hampir 30.000 menyebabkan adanya dorongan baru untuk vaksinasi dan penambahan vaksin dosis ke dua ke dalam rekomendasi jadwal imunisasi. Kurang dari 200 kasus dilaporkan terjadi di AS setiap tahunnya antara tahun 1997 dan 2013, dan campak tidak lagi dianggap sebagai endemi di sana.[24][25][26]
Manfaat campak dalam mencegah terjadinya penyakit, disabilitas, dan kematian telah terdokumentasikan dengan baik. 20 tahun pertama vaksin campak memperoleh lisensi di AS berhasil mencegah terjadinya sekitar 52 juta kasus campak, 17.400 kasus disabilitas intelektual, dan 5.200 kematian.[27] Selama tahun 1999–2004, sebuah strategi yang dipimpin oleh World Health Organization dan UNICEF menyebabkan peningkatan dalam cakupan vaksin campak yang mencegah terjadinya sekitar 1,4 juta kematian akibat campak di seluruh dunia.[28] Antara tahun 2000 dan 2018, vaksin campak menghasilkan penurunan kematian akibat campak sebesar 73%.[13]
Campak adalah penyakit yang umum terjadi di banyak wilayah di dunia. Walaupun penyakit ini telah diumumkan berhasil dieliminasi dari AS pada tahun 2000, angka vaksinasi yang tinggi dan komunikasi yang baik dengan orang-orang yang menolak vaksinasi dibutuhkan untuk mencegah terjadinya wabah dan mempertahankan status eliminasi campak di AS.[29] Dari 66 kasus campak yang dilaporkan terjadi di AS tahun 2005, lebih dari setengahnya terkait dengan satu orang yang tidak menerima vaksin campak, yang terinfeksi saat berkunjung ke Rumania.[30] Orang ini kembali ke dalam sebuah komunitas yang berisi banyak anak yang tidak menerima vaksin campak. Hal ini menyebabkan terjadinya wabah yang menginfeksi 34 orang, umumnya anak-anak, dan semua yang terinfeksi adalah orang-orang yang tidak menerima vaksin; 9% di antara mereka harus dirawat di rumah sakit, dan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengendalikan penyebaran wabah ini diperkirakan mencapai $167.685. Terjadinya epidemi besar berhasil dicegah karena tingginya angka vaksinasi di komunitas sekitarnya.[29]
Pada tahun 2017, sebuah wabah campak terjadi di dalam komunitas warga Amerika keturunan Somalia di Minnesota, lokasi di mana angka vaksinasi MMR telah mengalami penurunan karena adanya miskonsepsi bahwa vaksin ini dapat menyebabkan autisme. Centers for Disease Control and Prevention mencatat 65 anak terdampak dalam wabah ini sampai April 2017.[31]
Rubela
Jumlah kasus rubela di Amerika Serikat turun secara signifikan ketika imunisasi diperkenalkan.
Rubela, juga dikenal sebagai campak Jerman, juga sangatlah sering terjadi sebelum vaksin digunakan secara luas. Risiko besar dari rubela adalah selama masa kehamilan ketika bayi yang dikandung ibu dapat memperoleh penyakit rubela kongenital, yang dapat menyebabkan defek kongenital yang signifikan.[32]
Gondongan
Gondongan adalah penyakitviral lainnya yang dahulu sangat umum terjadi, khususnya pada masa anak-anak. Jika gondongan menyerang seorang laki-laki yang sudah melewati masa pubertas, komplikasi yang mungkin terjadi adalah orchitis bilateral, yang dalam beberapa kasus dapat menyebabkan terjadinya sterilitas.[33]
Pemberian
Vaksin MMR diberikan dengan teknik penyuntikan subkutan. Dosis pertama umumnya diberikan di usia 12 bulan.[11] Dosis kedua dapat diberikan setidaknya satu bulan setelah pemberian dosis pertama.[34] Dosis kedua adalah dosis untuk menghasilkan imunitas pada jumlah orang yang sedikit (2–5%) yang gagal membentuk kekebalan terhadap campak setelah pemberian dosis pertama.
Di Indonesia, vaksin MMR tidak digunakan dalam program imunisasi rutin pemerintah. Oleh karena itu, vaksin ini dapat diperoleh secara berbayar di unit layanan kesehatan selain puskesmas atau posyandu.[35] Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin MMR dapat diberikan sebagai vaksin campak dosis pertama jika seseorang belum pernah menerima vaksin campak (dalam bentuk kombinasi MR) sampai usia 12 bulan, dan dosis kedua diberikan dalam interval enam bulan kemudian, dan dosis ketiga diberikan pada usia 5-7 tahun.[36] Jika seseorang telah mendapatkan vaksin campak dosis pertama dalam bentuk kombinasi MR (sediaan yang digunakan dalam program imunisasi rutin pemerintah), vaksin MMR dapat menjadi pilihan untuk vaksin campak dosis kedua dan diberikan di usia 15-18 bulan, dan juga dapat menjadi pilihan untuk vaksin campak dosis ketiga serta diberikan pada usia 5-7 tahun.[36][37]
Di AS, pemberian ini dilakukan sebelum masuk taman kanak-kanak karena saat itu adalah waktu yang tepat.[38] Di wilayah-wilayah yang sering ditemukan kasus campak, vaksin campak dosis pertama diberikan pada usia sembulan bulan dan vaksin kedua pada usia lima belas bulan.[7]
Keamanan
Efek samping obat, yang jarang sekali bersifat serius, dapat timbul dari setiap komponen vaksin MMR. Sepuluh persen anak mengalami demam, malaise, dan ruam 5-21 hari setelah vaksinasi pertama;[39] dan 3% mengalami nyeri persendian yang rata-rata berlangsung selama 18 hari.[40] Wanita berusia tua tampaknya berada dalam risiko yang lebih besar untuk mengalami nyeri persendian, artritis akut, dan bahkan artritis kronis (jarang terjadi).[41]Anafilaksis adalah reaksi alergi terhadap vaksin yang sangat jarang terjadi namun bersifat sangat serius.[42] Reaksi alergi terhadap vaksin dapat disebabkan oleh adanya riwayat alergi telur, walaupun alergi telur bukan menjadi kontraindikasi vaksin MMR.[43] Pada tahun 2014, FDA mengizinkan dimuatnya dua efek samping yang mungkin terjadi pada label produk vaksin: ensefalomyelitis diseminata akut (ADEM) dan myelitis transversa, serta mengizinkan penambahan keterangan "kesulitan berjalan" ke label vaksin.[44] Laporan IOM pada tahun 2012 menemukan bahwa komponen campak dari vaksin MMR dapat menyebabkan ensefalitis badan inklusi campak pada individu-individu dengan status imunokompromis. Laporan ini juga menolak adanya hubungan antara vaksin MMR dan autisme.[45] Beberapa versi vaksin mengandung antibiotikneomisin sehingga tidak boleh digunakan pada orang-orang yang alergi terhadap antibiotik ini.[17]
Jumlah laporan terjadinya gangguan neurologis sangatlah kecil, selain adanya bukti hubungan antara bentuk vaksin MMR yang mengandung galur gondongan Urabe dengan efek samping yang jarang terjadi berupa meningitis aseptik, sebuah bentuk dari meningitis viral.[41][46]National Health Service Inggris berhenti menggunakan galur gondongan Urabe pada awal tahun 1990-an karena adanya kasus meningitis viral transien, dan beralih menggunakan bentuk vaksin yang menggunakan galur gondongan Jeryl Lynn.[47] Galur Urabe tetap digunakan di beberapa negara; MMR dengan galur Urabe jauh lebih murah untuk diproduksi daripada MMR dengan galur Jeryl Lynn,[48] dan galur dengan efikasi yang lebih tinggi serta kejadian efek samping ringan yang agak lebih tinggi mungkin masih memiliki keuntungan berupa penurunan insiden efek samping secara keseluruhan.[47]
Tinjauan oleh Cochrane menemukan bahwa, dibandingkan dengan plasebo, vaksin MMR berhubungan dengan angka kejadian infeksi saluran napas atas yang lebih rendah, iritabilitas yang lebih tinggi, dan jumlah efek samping lainnya yang serupa.[15]
Campak yang didapat secara alami seringkali terjadi dengan immune thrombocytopenic purpura (ITP, sebuah ruam purpura disertai peningkatan kecenderungan untuk berdarah yang sembuh dalam dua bulan pada anak-anak), terjadi pada 1 sampai 20.000 kasus.[15] Sekitar 1 dari 40.000 anak diperkirakan mendapat ITP dalam enam minggu setelah vaksinasi MMR.[15] ITP di bawah usia enam tahun umumnya merupakan penyakit ringan, jarang mempunyai konsekuensi jangka panjang.[49][50]
Pada tahun 1998, Andrew Wakefieldet al. memublikasikan sebuah karya ilmiah palsu tentang 12 anak, yang dilaporkan mengalami gejala-gejala penyakit usus dan autisme atau gangguan-gangguan lain segera setelah menerima vaksin MMR,[51] sementara dia sendiri mendukung pemberian vaksin kompetitor. Pada tahun 2010, General Medical Council melaporkan bahwa hasil penelitian Wakefield ditemukan "tidak jujur",[52] dan The Lancet menarik karya ilmiah tersebut secara penuh.[53][54] Tiga bulan setelah penarikan oleh The Lancet, Wakefield dihapus dari daftar dokter-dokter yang terdaftar di Inggris milik General Medical Council, disertasi sebuah pernyataan adanya pemalsuan yang disengaja dalam karya ilmiah yang dipublikasikan di The Lancet,[55] dan dilarang untuk berpraktik di Inggris.[56]British Medical Journal menyatakan penelitian ini sebagai sebuah penipuan pada tahun 2011.[57]
Memberikan vaksin penyakit-penyakit ini dalam tiga dosis yang terpisah tidak menurunkan kemungkinan terjadinya efek samping serta meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi oleh dua penyakit lainnya yang tidak terdapat pada pemberian vaksin pertama.[58][63] Para ahli-ahli di bidang medis mengkritik laporan media soal kontroversi MMR-autisme sebagai pemicu turunnya angka vaksinasi.[64] Sebelum publikasi artikel Wakefield, angka inokulasi MMR di Inggris adalah 92%; setelah publikasi, angka ini turun ke bawah 80%. Pada tahun 1998, terdapat 56 kasus campak di Inggris; pada tahun 2008, terdapat 1.348 kasus, dengan dua kasus terkonfirmasi meninggal.[65]
Di Jepang, vaksin kombinasi MMR tidak digunakan. Imunitas dicapai dengan pemberian vaksin kombinasi campak dan rubela, diikuti oleh vaksin gondongan saja. Cara pemberian ini tidak berefek apapun terhadap jumlah kasus autisme di Jepang, sehingga semakin melemahkan hipotesis yang mengaitkan MMR dengan autisme.[66]
Sejarah
Maurice Hilleman, yang mengembangkan vaksin MMRDua pekerja membuat bukaan di telur ayam untuk persiapan pembuatan vaksin campak.
Komponen galur virus vaksin MMR dikembangkan dengan propagasi di sel-sel hewan dan manusia.[67]
Sebagai contoh, dalam kasus virus gondongan dan campak, galur virus ditumbuhkan di telur ayam berembrio. Proses ini menghasilkan galur virus yang beradaptasi pada sel-sel ayam dan kurang sesuai untuk sel-sel manusia. Galur-galur ini disebut galur yang telah dilemahkan (attenuated). Terkadang, galur ini juga disebut sebagai neuroattenuated karena galur-galur ini kurang virulen terhadap neuron-neuron manusia dibandingkan galur-galur liar.
Komponen rubela, Meruvax, dikembangkan pada tahun 1967, melalui propagasi menggunakan lini sel paru-paru embrionik manusia WI-38 (dinamakan berdasarkan Institut Winstar) yang diperoleh enam tahun sebelumnya pada tahun 1961.[68][69]
MEM (larutan mengandung garam buffer, fetal bovine serum, serum albumin manusia, neomisin, dll.)
Istilah "vaksin MPR" juga digunakan untuk menyebut vaksin ini, di mana "P" merujuk pada parotitis yang disebabkan oleh gondongan.[1]
MMR II dari Merck diedarkan dalam bentuk kering dan beku (liofilisasi) dan mengandung vaksin hidup. Sebelum penyuntikan, vaksin ini dilarutkan dengan pelarut yang diberikan bersama sediaan vaksin.[73]
Menurut tinjauan yang dipublikasikan pada tahun 2018, vaksin MMR GlaxoSmithKline (GSK) yang dikenal sebagai Pluserix "mengandung virus campak Schwarz, galur gondongan menyerupai Jeryl Lynn, dan virus rubela RA27/3".[74]
Pluserix diperkenalkan di Hungaria pada tahun 1999.[75] Galur Edmonston-Enders telah digunakan sejak tahun 1999 di Hungaria dalam produk MMR II dari Merck.[75] Vaksin GSK Priorix, yang menggunakan campak Schwarz yang telah dilemahkan, diperkenalkan di Hungaria pada tahun 2003.[75]
Vaksin MMRV, sebuah kombinasi dari vaksin campak, gondongan, rubela, dan cacar air digunakan sebagai pengganti vaksin MMR untuk menyederhanakan pemberian vaksin.[34]
Vaksin MR
Vaksin MR (disingkat "MRV") adalah vaksin untuk campak dan rubela, tidak untuk gondongan.[21] Pada tahun 2014, World Health Organization melaporkan vaksin ini digunakan dalam "sedikit negara (yang tidak teridentifikasi)".[21]
Di Indonesia, vaksin MR masuk ke dalam program imunisasi rutin pemerintah, sehingga dapat diperoleh secara gratis di unit-unit layanan kesehatan milik pemerintah. Vaksin ini digunakan sebagai sediaan untuk vaksin campak pertama, kedua, dan ketiga dalam program imunisasi rutin pemerintah.[36][37][76]
Budaya dan kultur
Kekhawatiran terkait keagamaan
Beberapa merk vaksin menggunakan gelatin yang diperoleh dari babi sebagai stabilisator vaksin.[77] Hal ini menyebabkan penurunan vaksinasi pada beberapa komunitas,[77][78] walaupun faktanya, tersedia alternatif sediaan vaksin MMR lainnya yang tidak mengandung produk turunan babi.[77]
12Spencer JP, Trondsen Pawlowski RH, Thomas S (Juni 2017). "Vaccine Adverse Events: Separating Myth from Reality". American Family Physician. 95 (12): 786–794. PMID28671426.
123Goodson JL, Seward JF (Desember 2015). "Measles 50 Years After Use of Measles Vaccine". Infectious Disease Clinics of North America. 29 (4): 725–743. doi:10.1016/j.idc.2015.08.001. PMID26610423.
↑Centers for Disease Control and Prevention (CDC) (Desember 2006). "Measles--United States, 2005". MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. 55 (50): 1348–51. PMID17183226. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Maret 2015.
12Schattner A (Juni 2005). "Consequence or coincidence? The occurrence, pathogenesis and significance of autoimmune manifestations after viral vaccines". Vaccine. 23 (30): 3876–3886. doi:10.1016/j.vaccine.2005.03.005. PMID15917108.
↑Wellington K, Goa KL (2003). "Measles, mumps, rubella vaccine (Priorix; GSK-MMR): a review of its use in the prevention of measles, mumps and rubella". Drugs. 63 (19): 2107–26. doi:10.2165/00003495-200363190-00012. PMID12962524.