Klub Spanyol
Pada musim pertamanya bertugas, Aragonés membawa Atlético sukses dalam dua leg pertandingan Piala Interkontinental 1974, di mana Atlético menjadi pemenang setelah mengalahkan juara Copa Libertadores, Independiente dari Argentina 2-1 secara agregat. Atlético selanjutnya meraih gelar Copa del Generalísimo dan La Liga masing-masing pada tahun 1976 dan 1977.
Setelah enam tahun bertugas di Atlético, Aragonés mengambil alih di Real Betis pada tahun 1981. Namun, waktunya di tim Andalusia ini sangat singkat dan ia kembali ke Stadion Vicente Calderón pada tahun 1982. Pada saat yang kedua kalinya di klub Atlético, ia hampir mendapat gelar ganda selama musim 1984–85, memenangi Copa del Rey dan finis sebagai runner-up di La Liga. Musim berikutnya, timnya mencapai final Piala Winners UEFA, di mana timnya kalah 3-0 atas Dynamo Kyiv dari Uni Soviet.
Keberhasilan Aragonés membawanya ditunjuk sebagai manajer dari FC Barcelona pada tahun 1987, disana ia menghabiskan satu musim dan memenangkan Copa del Rey. Dia kemudian melatih klub yang sama-ama berbasis di Barcelona, RCD Espanyol sebelum kembali bergabung dengan Atlético untuk kesempatan ketiga, di mana ia memenangkan Copa del Rey yang keenam selama kariernya pada tahun 1992.
Setelah meninggalkan klub Atlético untuk ketiga kalinya pada tahun 1993, ia selanjutnya melatih Sevilla, Valencia, Real Betis, Real Oviedo dan Real Mallorca. Sukses terbesar selama periode ini adalah menempatkan Valencia di posisi runner-up La Liga musim 1995-1996.
Pada tahun 2001, Aragonés kembali melatih Atlético untuk keempat kalinya dan memimpin tim untuk promosi kembali ke Primera División sebagai juara Segunda División musim 2001-02. Dia meninggalkan klub untuk terakhir kalinya pada tahun 2003 dan tetap menjadi manajer paling sukses dengan memenangkan delapan piala.
Aragones menghabiskan musim 2003-04 bersama Mallorca sebelum ia ditawari pekerjaan melatih di tim nasional Spanyol setelah Iñaki Sáez dipecat karena gagal meloloskan tim dari babak penyisihan grup di Euro 2004.
Tim nasional sepak bola Spanyol
Ketika mengambil alih tim nasional, Aragonés membuat perubahan pada tim, menjatuhkan pemain berpengalaman seperti Michel Salgado dan Raúl González. Dia juga memperkenalkan Tiki-taka, sistem umpan pendek yang kemudian juga akan diidentifikasi dengan gaya bermain dari FC Barcelona.[2] Spanyol tidak terkalahkan dalam kualifikasi untuk Piala Dunia FIFA 2006 di bawah Aragonés, tetapi finis sebagai runner-up grup di bawah Serbia dan Montenegro,[3] dan dengan demikian diadakan laga play-off melawan Slowakia untuk mengamankan tempat mereka. Spanyol memenangkan play-off dengan agregat 6-2,[4] dengan Luis García mencetak hat-trick dalam kemenangan di leg pertama 5-1.[5] Pada putaran final, Spanyol memenangkan semua tiga pertandingan grup sebelum menghadapi Prancis pada Putaran Kedua. Setelah memimpin melalui David Villa, mereka kalah 3-1 setelah gol dari Franck Ribéry, Patrick Vieira dan Zinedine Zidane.[6]
Aragonés kemudian memimpin kampanye kemenangan Spanyol di Euro 2008, mengalahkan Jerman 1-0 di final lewat gol semata wayang dari Fernando Torres.[7] Aragonés memiliki ketakutan takhayul terhadap warna kuning, dan menyebut perubahan kostum Spanyol untuk laga semifinal melawan Rusia sebagai "mustard" dan bukan "kuning".[8]
Gaya bermain Tiki-taka dipertahankan oleh penggantinya, Vicente del Bosque, yang memimpin Spanyol untuk kemenangan pada turnamen selanjutnya.[2]