Kecamatan Loa Kulu memiliki luas wilayah mencapai 1.405,7km2 yang dibagi dalam 15 desa dengan jumlah penduduk mencapai 51.639 jiwa (2020).
Pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, Loa Kulu merupakan daerah penghasil batubara yang cukup penting dengan dioperasikannya perusahaan tambang batubara bernama Oost Borneo Maatschapij (OBM) pada akhir abad ke-19.
Eksploitasi batubara di Kecamatan Loa Kulu berakhir pada tahun 1970, tepat 2 tahun setelah diambil alih PN Tambang Batubara dari OBM pada tahun 1968. Sejak itu, Loa Kulu yang semula ramai berangsur-angsur mulai sepi ditinggalkan ribuan pekerja tambang.
Di samping memiliki potensi cadangan batubara yang cukup besar di sebagian wilayahnya, Kecamatan Loa Kulu juga dikembangkan sebagai salah satu sentra produksi pertanian dan perkebunan utama di Kabupaten Kutai Kartanegara yang ditandai dengan pembukaan lahan untuk persawahan dan perkebunan kelapa sawit.