Lampu jalan adalah lampu yang digunakan untuk penerangan jalan pada malam hari sehingga pejalan kaki, pesepeda dan pengendara dapat melihat dengan lebih jelas jalan yang akan dilalui pada malam hari, sehingga dapat meningkatkan keselamatan lalu lintas dan keamanan dari para pengguna jalan. Faktor yang menentukan jumlah tiang dan titik penerangan yang harus dipasang yaitu faktor pemakaian, kehilangan cahaya dan arus cahaya lampu. Ketiga faktor tersebut dibandingkan dengan dua faktor teknis yaitu lebar jalan dan kuat penerangan rata-rata.[1]
Alternatif sumber listrik penerangan jalan
Sel surya
Untuk penerangan jalan di daerah yang tidak terjangkau oleh aliran listrik, dapat digunakan listrik yang dihasilkan oleh sel surya. Sel surya pada siang hari mengubah sinar surya menjadi energi listrik yang disimpan dalam akumulator, dan pada malam hari listrik ini digunakan untuk menerangi jalan.
Tenaga angin
Pendekatan lain dalam membangkitkan listrik untuk penerangan jalan di daerah yang jauh dari jaringan listrik adalah dengan tenaga angin yang memutar kincir yang selanjutnya memutar generator untuk menghasilkan listrik untuk menghidupkan lampu jalan. Sistem ini cocok untuk daerah yang anginnya ada sepanjang hari.
Pembiayaan penerangan jalan di Indonesia
Untuk membiayai pemakaian listrik dilakukan bersamaan dengan tagihan listrik. Uang yang dikumpulkan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) selanjutnya digunakan untuk membayar tagihan listrik PLN kepada Pemerintah Daerah. [butuh rujukan]
Pencahayaan lanskap
Pencahayaan jalan tidak terbatas pada jalan dan trotoar. Pencahayaan taman atau lanskap juga termasuk di dalamnya. Pencahayaan lanskap atau pencahayaan taman adalah penggunaan pencahayaan luar ruangan pada taman pribadi dan lanskap publik untuk meningkatkan keselamatan, memperbaiki estetika malam hari,[2][3][4] aksesibilitas, pengawasan, rekreasi dan olahraga, serta untuk pelaksanaan acara publik. Lampu taman atau lampu halaman adalah lampu luar ruangan berdiri sendiri di taman dan pekarangan.[5] Biasanya mereka digerakkan oleh listrik, tetapi kadang-kadang juga oleh gas alam,[6][7][8] dan biasanya dipasang di dekat jalan setapak atau jalan masuk untuk memberikan visibilitas di tempat gelap atau di tempat yang menjadi gelap pada waktu tertentu. Seiring berkembangnya sistem tenaga listrik, penerangan gas abad XIX dan penerangan listrik abad XX menjadi bagian dari fungsi dan desain eksterior. Contoh inovasi abad XXI di bidang ini meliputi meningkatnya penggunaan LED, tenaga surya, lampu tegangan rendah, lampu hemat energi, dan solusi penghematan energi di bidang pencahayaan.
Tujuan utama yang dipenuhi oleh pencahayaan lanskap:
Navigasi. Rute dari jalan masuk ke pintu depan, dari teras ke jacuzzi, dari halaman belakang ke tempat api unggun. Jika orang tidak melihat kaki mereka, berarti pencahayaan tidak berfungsi.
Atmosfer. Pencahayaan yang menciptakan rasa terhuni dan kenyamanan pada malam hari. Biasanya berupa pencahayaan aksen pada pohon, elemen perairan, dan detail arsitektur.
Keamanan. Hal yang penting, tetapi jarang menjadi alasan yang cukup untuk menerangi seluruh kawasan. Pencahayaan dengan sensor gerak di akses masuk memberikan keamanan tanpa mengubah area menjadi tempat parkir.[9]
Lampu taman listrik biasanya dikendalikan dari dalam bangunan dengan sakelar dinding atau sensor fotolistrik yang dipasang pada lampu atau di dekatnya. Lampu taman yang dimaksudkan untuk memberikan pencahayaan pengamanan dapat dikendalikan oleh sensor gerak.[10][11][12] Lampu gas yang menyala terus-menerus dapat dilarang sesuai dengan peraturan lingkungan mengenai emisi gas rumah kaca di beberapa yurisdiksi.
Lampu taman dapat berdampak buruk pada satwa liar dan berkontribusi pada polusi cahaya.