Lampedusa

Lampedusa adalah sebuah pulau perbatasan yang terletak di wilayah paling selatan Italia dan berdekatan dengan daratan Afrika Utara. Lokasi pulau Lampedusa berada dalam kepulauan Pelagie di kawasan laut Tengah bagian selatan. Luas pulau Lampedusa hanya 20,2 km2 dengan bentuk yang memanjang dan menyempit dari arah timur ke barat.
Pulau Lampedusa awalnya berada dalam pemerintahan Kerajaan Sisilia dengan kekuasaan diserahkan kepada Baron Montechiaro hingga masa Wali Raja Sisilia yang jabatannya dtetapkan oleh Felipe II selaku Raja Spanyol. Sejak tahun 1667, pemerintahan atas pulau Lampedusa diberikan kepada pewaris Baron Montechiaro yang merangkap gelar sebagai Pangeran Lampedusa. Pulau Lampedusa sempat diduduki oleh pasukan Blok Sekutu dalam Perang Dunia II hingga berakhirnya peperangan.
Sebelum tahun 1667, sebagian besar wilayah pulau Lampedusa tidak berpenghuni dan hanya memiliki sebanyak 20 orang penduduk pada tahun 1839. Namun, jumlah penduduk tetap di Pulau Lampedusa sedikitnya sebanyak 6.000 orang pada musim dingin tahun 2011. Sebagian besar penduduk di pulau Lampedusa bekerja dalam bidang perikanan dan sebagian lainnya bekerja dalam bidang pariwisata selama musim panas.
Pulau Lampedusa memiliki spesies endemik dari jenis tumbuhan yang banyak ditemukan di Afrika. Selain itu, pulau Lampedusa memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi untuk spesies kumbang gelap. Perairan di sekitar pulau Lampedusa juga menjadi lokasi mencari makan bagi paus sirip dan daerah jelajah bagi lumba-lumba hidung botol. Sedangkan pesisir pantai pulau Lampedusa menjadi tempat bertelur bagi penyu tempayan. Sekitar 70% dari luas pulau Lampedusa telah ditetapkan sebagai kawasan lindung yang disebut situs Natura 2000 yang 15% di antaranya ditetapkan sebagai Cagar Alam Pulau Lampedusa.
Pulau Lampedusa dapat dicapai melalui jalur laut dari Porto Empedocle menggunakan kapal feri atau lempeng air. Lokasi pulau Lampedusa juga dapat dicapai melalui jalur udara melalui rute penerbangan Palermo–Lampedusa yang menghubungkan pulau Lampedusa dengan Kota Palermo di pulau Sisilia.
Sejak dasawarsa 1990-an hingga tahun 2011, pulau Lampedusa merupakan salah satu pulau yang dijadikan sebagai lokasi pendirian kamp pengungsi bagi para pengungsi yang berasal dari benua Afrika terutama dari Tunisia dan Libya. Kementerian Dalam Negeri Italia menghitung dan mencatat sekurangnya sebanyak 150.000 pengungsi telah mendatangi pulau Lampedusa dalam rentang tahun 1999 hingga tahun 2011.
Pulau Lampedusa merupakan salah satu lokasi pengendalian perbatasan laut Italia berkaitan dengan fenomena migrasi ireguler dan kedatangan para migran menggunakan perahu. Kedatangan para migran ilegal di pulau Lampedusa telah menjadi salah satu ancaman bagi keamanan negara Italia dan masalah bagi perbatasan bagian selatan Eropa sehingga pulau Lampedusa telah ditetapkan sebagai pos perbatasan bagi Italia dan Uni Eropa yang dijaga oleh ratusan personel militer Italia dan dibantu oleh sejumlah staf dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa dan dari berbagai lembaga swadaya masyarakat.
Rute migrasi dari Afrika ke pulau Lampedusa merupakan yang paling banyak mengakibatkan kematian bagi para migran dibandingkan dengan rute migrasi lainnya di dunia. Sedkitnya sebanyak 300 migran asal Eritrea dan Somalia meninggal akbat tenggelam selama perjalanan laut menuju ke pulau Lampedusa pada Oktober 2013. Pada periode Januari–April 2015, sebanyak 1.600 migran dari Libya meninggal akibat tenggelam selama perjalanan laut menuju ke pulau Lampedusa.
Kondisi geografi

Pulau Lampedusa merupakan sebuah pulau kecil yang terletak pada wilayah paling selatan Italia.[1] Secara administratif, pulau Lampedusa termasuk dalam Daerah Otonomi Khusus Sisilia di Italia.[2] Titik koordinat untuk pulau Lampedusa berada pada garis lintang 35°30’56” dan garis bujur 12°34’23” dengan ketinggian maksimum yaitu 133 meter di atas permukaan laut. Luas pulau Lampedusa hanya 20,2 km2 dengan kelling sepanjang 26 km.[3] Pulau Lampedusa memiliki bentuk yang memanjang dan menyempit dari arah timur ke barat.[4] Jarak terpanjang daratan di pulau Lampedusa hanya 11 km dan jarak terlebar daratannya hanya 3 km.[2]
Pulau Lampedusa merupakan salah satu dari tiga pulau di kepulauan Pelagie selain pulau Lampione dan pulau Linosa.[4] Di Kepulauan Pelagie, pulau Lampedusa merupakan pulau yang terluas dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya yaitu pulau Lampione (0,025 km2) dan pulau Linosa (5,34 km2).[5][3] Pulau yang terdekat lokasinya dari pulau Lampedusa adalah pulau Lampione yang berjarak sekitar 20 km dari arah barat pulau Lampedusa.[6][7] Sedangkan jarak antara pulau Linosa dengan pulau Lampedusa adalah 42 km dari arah barat daya pulau Linosa.[8] Sementara itu, jarak antara pulau Lampedusa dengan semenanjung Italia adalah 120 km.[3]
Lokasi pulau Lampedusa menjadikannya sebagai pulau yang terletak di perbatasan paling selatan Eropa.[9] Pulau Lampedusa memiliki lokasi dengan jarak sejauh 120 km dari daratan utama Italia. Namun, lokasi pulau Lampedusa lebih dekat dengan daratan pada kawasan Afrika Utara.[10] Jarak antara pulau Lampedusa dengan daratan Afrika Utara adalah 70 mil.[11] Lokasi pulau Lampedusa terletak di antara perairan laut yang termasuk wilayah Tunisia dan Malta.[2] Jarak antara pulau Lampedusa dan daratan Malta adalah 100 mil.[11] Selain itu, pulau Lampedusa terletak di perairan laut Tengah antara Sisilia dan Libya.[12] Lokasi Pulau Lampedusa menjadikannya sebagai teritori Eropa yang paling dekat jaraknya dengan Libya.[2]
Pemerintahan
Masa kekuasaan Spanyol atas Kerajaan Sisilia
Pada masa pemerintahan Marcantonio Colonna selaku Wali Raja Sisilia yang jabatannya dtetapkan oleh Felipe II selaku Raja Spanyol, pemerintahan atas pulau Lampedusa diberikan kepada pewaris gelar Baron Montechiaro.[13] Pada tahun 1583 M dalam masa kekuasaan Martín d'Aragón atas Kerajaan Sisilia, pewaris gelar Baron Montechiaro yang bernama Francesca Caro memerintah atas pulau Lampedusa dan menikah dengan Mario Tomasi. Dari pernikahan oleh Mario Tomasii dan Francesca Caro terlahir dua anak laki-laki bernama Ferdinando Tomasi dan Mario Tomasi.[14] Ferdinando Tomasi menjabat sebagai Gubernur Licata dan setelah menikah dengan Isabella La Restia, ia memiliki anak kembar bernama Carlo Tomasi dan Giulio Tomasi.[15] Pada tahun 1667, Giulio Tomasi ditetapkan sebagai Pangeran Lampedusa oleh Mariana dari Austria selaku Wali Penguasa Spanyol.[16] Giulio Tomasi adalah penjabat pertama untuk gelar Pangeran Lampedusa.[17]
Perang Dunia II
Pada tanggal 11 Juni 1943, pasukan dari Blok Sekutu dalam Perang Dunia II mengadakan Operasi Corkscrew untuk menduduki pulau Pantelleria milik Italia sebagai bagian awal dari rencana invasi pasukan Blok Sekutu ke pulau Sisilia. Operasi Corkscrew berhasil dan pulau Pantelleria diduduki oleh pasukan dari Blok Sekutu. Beberapa hari setelah pendudukan, pulau Lampedusa yang lokasinya berdekatan dengan pulau Pantelleria juga mengalami pendudukan bersama dengan pulau Linosa. Keberhasilan pendudukan atas pulau Pantelleria, pulau Lampedusa dan pulau Linosa menjadi keberhasilan awal dalam rencana Invasi Sisilia oleh Sekutu.[18]
Penduduk
Sebelum tahun 1667, sebagian besar wilayah pulau Lampedusa tidak berpenghuni. Pada tahun 1839, jumlah penduduk di pulau Lampedusa hanya sebanyak 20 orang dan menjadikannya sebagai salah satu pulau dalam wilayah Kerajaan Sisilia yang jumlah penghuninya sangat sedikit.[19] Pada musim dingin tahun 2011, jumlah penduduk tetap di Pulau Lampedusa sedikitnya sebanyak 6.000 orang.[20][21]
Keanekaragaman hayati
Spesies tumbuhan
Pulau Lampedusa memiliki spesies endemik dari jenis tumbuhan yang banyak ditemukan di Afrika. Keberadaan spesies tumbuhan endemik Afrika di pulu Lampedusa diperkirakan terjadi karena sekitar 20 ribu tahun lalu dalam Zaman Es Akhir, daratan pada pulau Lampedusa masih terhubung dengan daratan utama Afrika.[4]
Spesies serangga
Pulau Lampedusa memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi untuk spesies kumbang gelap. Jumlah spesies kumbang gelap yang ditemukan di pulau Lampedusa sebanyak 28 spesies dengan empat di antaranya merupakan spesies endemik. Keempat spesies endemik di pulau Lampedusa yaitu Erodius audouini destefanii, Pachychila dejeani doderoi, Alphasida puncticollis banellii, dan Asida minima. Selain itu, terdapat spesies kumbang gelap di pulau Lampedusa yang termasuk spesies endemik di kepulauan Pelagie yaitu Machlopsis doderoi dan Stenosis brignonei.[5]
Spesies hewan laut
Permukaan laut pada perairan di sekitar pulau Lampedusa menjadi salah satu tempat makan bagi paus sirip selama musim dingin. Paus sirip berkumpul pada perairan di sekitar pulau Lampedusa pada akhir Februari dan awal Maret dan sebagian besar memakan kril dari spesies Nyctiphanes couchii. [22] Perairan pesisir pulau Lampedusa merupakan daerah jelajah tetap bagi lumba-lumba hidung botol. Pada periode tahun 1996 hingga tahun 2006, tercatat sebanyak 746 kali penampakan lumba-lumba hidung botol di perairan pesisir pulau Lampedusa. Kemunculan lumba-lumba hidung botol di perairan pesisir pulau Lampedusa umumnya membentuk kawanan hingga mencapi 20 individu. Selama periode tahun 1997–1999, lumba-lumba hidung botol sangat sering muncul di pantai bagian timur pulau Lampedusa karena tertarik oleh budidaya perikanan yang diadakan di pantai tersebut.[23] Selain itu, pantai Spiaggia dei Conigli di pulau Lampedusa merupakan salah satu lokasi tetap untuk pembuatan sarang oleh penyu tempayan (Caretta caretta) di kepulauan Pelagie.[24]
Ekonomi
Perikanan tangkap
Sebagian besar penduduk di pulau Lampedusa bekerja dalam bidang perikanan.[25] Penduduk lokal di pulau Lampedusa umumnya bekerja sebagai nelayan. Di pulau Lampedusa terdapat pelabuhan nelayan yang digunakan oleh penduduk lokal sebagai lokasi pelabuhan untuk kapal penangkap ikan. Jenis kapal yang digunakan oleh nelayan di pulau Lampedusa untuk mengadakan penangkapan ikan yaitu kapal pukat bermotor.[1]
Pada bulan November, para nelayan di pulau Lampedusa mengadakan penangkapan ikan di sekitar Kota Mahdia dalam wilayah Tunisia sambil menggarami hasil tangkapan ikan. Namun, sebagian nelayan dari pulau Lampedusa yang tidak memiliki uang untuk mengeluarkan perahunya dari air untuk perawatan lambung kapal, tetap berada di perairan dangkal Sfax hingga berakhirnya musim dingin. Kemudian pada bulan Maret ketika kondisi laut sesuai untuk penangkapan ikan, para nelayan di pulau Lampedusa meninggalkan perairan di sekitar Kota Mahdia untuk mengadakan penangkapan ikan pada perairan di sekitar pulau Lampedusa. Kegiatan penangkapan ikan oleh para nelayan dari pulau Lampedusa di perairan Kota Mahdia dan perairan pulau Lampedusa berlangsung setiap tahun.[26]
Pariwisata musiman

Sebagian penduduk di pulau Lampedusa umumnya bekerja dalam bidang pariwisata musiman.[25] Objek wisata utama di pulau Lampedusa adalah pantai-pantai di bagian selatan pulau Lampedusa. Kondisi air yang jernih pada paantai-pantai di bagian selatan pulau Lampedusa menjadikannya lokasi yang sesuai untuk kegiatan menyelam, selam permukaan dan berenang oleh para turis.[19]
Kegiatan pariwisata di pulau Lampedusa berlangsung pada bagian tenggara dari pulau Lampedusa.[27] Kegiatan pariwisata di pulau Lampedusa berlangsung selama musim panas. Bangunan berupa restoran dan bar didirikan oleh penduduk lokal pada pantai-pantai wisata di pulau Lampedusa untuk mendukung kegiatan pariwisata. Selain itu, terdapat banyak gubuk jerami yang dibangun pada pantai-pantai wisata di pulau Lampedusa.[27]
Setiap tahunnya pada bulan Agustus, gabungan jumlah wisatawan dan penduduk di pulau Lampedusa dapat mencapai sebanyak 20 ribu orang.[28] Sementara itu, kegiatan pariwisata di pulau Lampedusa dihentikan selama musim dingin.[19]
Pemanfaatan lahan
Kawasan lindung
Pulau Lampedusa telah ditetapkan sebagai salah satu pulau di Italia yang memiliki kawasan lindung. Sekitar 70% dari luas pulau Lampedusa telah ditetapkan sebagai kawasan lindung yang disebut situs Natura 2000. Kode kawasan lindung untuk pulau Lampedusa dalam situs Natura 2000 adalah ITA040002. Selain itu, lahan seluas 369,68 hektare atau sekitar 15% dari luas kawasan lndung di pulau Lampedusa telah ditetapkan sebagai kawasan lindung dengan status sebagai Cagar Alam Pulau Lampedusa.[29][5] Cagar Alam Pulau Lampedusa mencakup sebagian besar bagian pesisir selatan pulau Lampedusa.[30] Lokasi Cagar Alam Pulau Lampedusa di bagian pesisir selatan pulau Lampedusa merupakan lokasi bertelur bagi penyu tempayan (Caretta caretta). Penyu tempayan akan bertelur pada lubang yang dalam. Kegiatan bertelur oleh penyu tempayan di pulau Lampedusa berlangsung pada malam hari selama periode musim panas dengan telur sebanyak 100 hingga 150 butir dalam sekali bertelur. Setelah enam hari, bayi penyu tempayan akan keluar dari lubang secara sempoyongan menuju ke laut.[19]
Pengungsi dan kamp pengungsi
Pulau Lampedusa merupakan salah satu pulau yang dijadikan sebagai lokasi pendirian kamp pengungsi bagi para pengungsi yang berasal dari benua Afrika. Penerimaan pengungsi di pulau Lampedusa merupakan bagian dari keikutsertaan Italia sebagai salah satu negara yang mengadakan ratifikasi terhadap Konvensi Pengungsi Tahun 1951. Pengungsi di pulau Lampedusa memperoleh suaka selama berada di kamp pengungsian pada pulau Lampedusa.[31] Pulau Lampedusa mulai menjadi lokasi tujuan utama pengungsian oleh para pengungsi asal Tunisia selama dasawarsa 1990-an.[32]
Pemerintah Italia dan gereja lokal di Italia menjadi penyedia dana bagi badan-badan bantuan yang menyediakan kebutuhan fisik bagi para pengungsi di pulau Lampedusa.[12] Kamp pengungsian di pulau Lampedusa menyediakan makanan bagi para pengungsi dengan pembagian dan penyantapan makanan secara bergiliran di ruang makan.[33] Penyediaan air minum di pulau Lampedusa dilakukan dengan pengadaan sistem desalinasi air laut yang mengubah air laut menjadi air tawar. Sistem desalinasi air laut di pulau Lampedusa menghasilkan air tawar dengan volume sebesar 473.440 m3 setiap tahun.[34] Selain itu, kamp pengungsian di pulau Lampedusa memiliki unit bangunan yang memiliki daya tampung maksimal sebanyak 850 orang. Namun, terdapat hampir sebanyak 2.000 orang pengungsi yang menghuni kamp pengungsian di pulau Lampedusa pada tahun 2009. Sebagian besar pengungsi tidur di luar bangunan dengan menggunakan terpal berbahan plastik.[35]
Kedatangan pengungsi di pulau Lampedusa dengan jumlah terbanyak terjadi pada tahun 2008 dan 2011. Pada tahun 2008, jumlah pengungsi yang mendatangi pulau Lampedusa sebanyak 31.311 orang. Setelah Pemerintah Italia dan Pemerintah Libya menyepakati kesepakatan mengenai pengawasan terhadap migrasi ilegal pada tahun 2009 dan 2010, jumlah kedatangan pengungsi di pulau Lampedusa mengalami penurunan drastis pada tahun 2009 dan 2010. Namun, jumlah pengungsi yang mendatangi pulau Lampedusa pada tahun 2011 kembali meningkat secara drastis pada tahun 2011 yaitu sebanyak 51.922 orang.[36]
Peningkatan jumlah pengungsi pada kamp pengungsian di pulau Lampedusa pada tahun 2011 terjadi karena Tunisia dan Libya mengalami krisis politik pada tahun 2011.[35] Pada bulan-bulan awal tahun 2011, terjadi kebangkitan dunia Arab di Tunisia dan terjadi perang saudara di Libya yang mengakibatkan terjadinya migrasi oleh penduduk di kawasan Arika Utara menuju ke Eropa melalui pulau Lampedusa dan pulau Sisilia menggunakan perahu.[37] Kementerian Dalam Negeri Italia menghitung dan mencatat sekurangnya sebanyak 150.000 pengungsi telah mendatangi pulau Lampedusa dalam rentang tahun 1999 hingga tahun 2011.[35]
Perhubungan
Perhubungan laut
Pulau Lampedusa dapat dicapai melalui jalur laut dari Porto Empedocle. Jenis kapal yang digunakan untuk perjalanan laut dari Porto Empedocle ke pulau Lampedusa yaitu kapal feri dan lempeng air. Perjalanan laut dari Porto Empedocle ke pulau Lampedusa hampir dilakukan setiap hari pada waktu tengah malam kecuali hari Jumat. Waktu tempuh perjalanan dari Porto Empedocle ke pulau Lampedusa menggunakan kapal sekitar 8 jam lebih 15 menit.[38]
Perhubungan udara
Pulau Lampedusa memiliki jalur perhubungan udara dengan pulau Sisilia yang terletak di arah utaranya.[39] Perhubungan udara antara pulau Lampedusa dan pulau Sisilia diadakan melalui rute penerbangan Palermo–Lampedusa. Jenis pesawat terbang yang mengadakan penerbangan antara Kota Palermo dan pulau Lampedusa yaitu pesawat terbang berukuran kecil yang menggunakan mesin terbang berjenis turboprop. Di pulau Sisilia, penumpang mengadakan penerbangan dari Bandar Udara Falcone–Borsellino dalam wilayah Kota Palermo untuk tujuan Bandara Lampedusa di pulau Lampedusa. Sebaliknya, penumpang dari pulau Lampedusa dapat mencapai pulau Sisilia dari penerbangan di Bandara Lampedusa ke Bandar Udara Falcone–Borsellino. [40]
Penumpang pada penerbangan dari Palermo ke pulau Lampedusa umumnya terdiri dari penduduk asli pulau Lampedusa yang sedang mudik. Selain itu, terdapat penumpang dari kalangan para pekerja profesional yang pekerjaannya berkaitan dengan pulau Lampedusa sebagai salah satu pulau di kawasan perbatasan Italia.[40] Selama bulan April hingga November dalam periode musim panas di pulau Lampedusa, jumlah penerbangan ke pulau Lampedusa mengalami peningkatan. Pertambahan jumlah penerbangan umumnya disebabkan oleh kedatangan para penumpang dari kalangan wisatawan dari kota-kota di Italia untuk liburan musim panas.[39]
Masalah perbatasan dan keamanan negara
Pulau Lampedusa merupakan salah satu lokasi pengendalian perbatasan laut Italia. Pengendalian perbatasan laut di pulau Lampedusa berkaitan dengan fenomena migrasi ireguler dan kedatangan para migran menggunakan perahu. Para migran ini menjadikan pulau Lampedusa sebagai jalur masuk menuju ke Italia dan Eropa secara ilegal.[2] Sejak awal dasawarsa 2000-an, para migran dari wilayah Afrika, Timur Tengah dan Asia menjadikan pulau Lampedusa sebagai lokasi persinggahan sementara yang utama sebelum memasuki wilayah Eropa. Pada tahun 2006, para pelaku penyelundupan orang di Libya mulai menerima bayaran untuk menyelendupkan orang menggunakan perahu ke pulau Lampedusa.[35]
Kedatangan para migran ilegal di pulau Lampedusa telah menjadi salah satu ancaman bagi keamanan negara Italia dan masalah bagi perbatasan bagian selatan Eropa. Oleh karena itu, pulau Lampedusa telah ditetapkan sebagai pos perbatasan bagi Italia dan Uni Eropa. Ratusan personel militer Italia telah ditugaskan untuk mengendalikan arus migrasi di pulau Lampedusa. Selain itu, sejumlah staf dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa dan dari berbagai lembaga swadaya masyarakat juga ditempatkan di pulau Lampedusa untuk mendukung pengendalian arus migrasi di pulau Lampedusa.[9]
Rute migrasi dari Afrika ke pulau Lampedusa merupakan yang paling banyak mengakibatkan kematian bagi para migran dibandingkan dengan rute migrasi lainnya di dunia. Pada Oktober 2013, sedikitnya 300 dari 500 orang migran asal Eritrea dan Somalia tenggelam di lepas pantai pulau Lampedusa.[35] Penyebab utama tenggelamnya para pengungsi pada rute migrasi ke pulau Lampedusa yaitu pengunaan rakit dan perahu yang tidak laik pakai disertai dengan kondisi badai di laut selama masa perjalanan.[12] Kasus kematian akibat tenggelam ketika sedang mengadakan perjalanan laut menuju ke pulau Lampedusa terjadi lagi pada periode Januari–April 2015 dan menewaskan sebanyak 1.600 migran dari Libya.[35]
Referensi
Catatan kaki
- 1 2 Rommel dan Viscomi 2022, hlm. 32.
- 1 2 3 4 5 Febrianto 2022, hlm. 40.
- 1 2 3 Fattorini dan Dapporto 2014, hlm. 188.
- 1 2 3 Albera 2026, hlm. 3.
- 1 2 3 Fattorini dan Dapporto 2014, hlm. 195.
- ↑ Lo Cascio, P., Luiselli, L., dan Corti, C. (2006). "Preliminary data on the ecology of Podarcis filfolensis of Lampione Islet (Pelagian Islands, Channel of Sicily, Italy)". Mainland and Insular Lacertid Lizards: A mediterranean perspective (PDF) (dalam bahasa Inggris). Firenze: Firenze University Press. hlm. 103. ISBN 978-88-8453-524-5. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Coppens 2013, hlm. 591.
- ↑ Viganò, M., Janni, O., dan Corso, A. (Juni 2017). "Tramea basilaris on Linosa Island, Italy: A new species for Europe and the Western Palaearctic (Odonata: Libellulidae)" (PDF). Odonatologica (dalam bahasa Inggris). 46 (1/2): 56. doi:10.5281/zenodo.572356. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- 1 2 Albera 2026, hlm. 4.
- ↑ Fattorini dan Dapporto 2014, hlm. 194.
- 1 2 Coppens 2013, hlm. 590.
- 1 2 3 Massaro 2024, hlm. 95.
- ↑ Tomasi 2013, hlm. 5.
- ↑ Tomasi 2013, hlm. 5 dan 7.
- ↑ Tomasi 2013, hlm. 7.
- ↑ Tomasi 2013, hlm. 12.
- ↑ Molina, César Antonio (4 Agustus 2008). "The Places of Giuseppe Tomasi di Lampedusa's Infancy" (PDF). Quaderns de la Mediterrània (dalam bahasa Inggris). 10. Institut Eropa untuk Mediterania: 83–86. ;
- ↑ Nigel, Pat (Desember 2024). Yudhapratama, L. (ed.). Perang Dunia II di Front Mediterania (1943-1945): Kronik Operasi Militer, Pendaratan, Serangan dan Pertempuran. Mandita. hlm. 78–79. ISBN 978-623-89446-5-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 3 4 Belford 2017, hlm. 298.
- ↑ Rommel dan Viscomi 2022, hlm. 32-33.
- ↑ Severoni, Enkhtsetseng dan Dembech 2012, hlm. 29.
- ↑ Panigada dan Pace 2017, hlm. 1.
- ↑ Panigada dan Pace 2017, hlm. 2.
- ↑ Scaglione, F. E., dkk. (April 2025). "Pathology of Free-Living Loggerhead Turtle (Caretta caretta) Embryos on the Island of Linosa (Italy)" (PDF). Veterinary Sciences (dalam bahasa Inggris). 12 (328): 2. doi:10.3390/vetsci12040328. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
- 1 2 Rommel dan Viscomi 2022, hlm. 33.
- ↑ Orsini 2015, hlm. 525-526.
- 1 2 Albera 2026, hlm. 9.
- ↑ Belford 2017, hlm. 297-298.
- ↑ Fattorini dan Dapporto 2014, hlm. 189.
- ↑ Belford 2017, hlm. 300.
- ↑ Ernawati, N., Hadju, Z. A. A., dan Jumadi, J. (Oktober 2023). Sofatunisa, Agisnis (ed.). Hukum Pengungsi Internasional. Sumedang: CV. Mega Press Nusantara. hlm. 39. ISBN 978-623-8313-95-2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Severoni, Enkhtsetseng dan Dembech 2012, hlm. 2.
- ↑ Massaro 2024, hlm. 97.
- ↑ Girdayanto, P., Davey, P., dan Munir, A. (2020). "Rainwater Harvesting to Increase Freshwater Carrying Capacity on Small Islands (A Case Study of Pramuka Island)". IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (dalam bahasa Inggris). 921 (012058). IOP Publishing: 3. doi:10.1088/1755-1315/921/1/012058. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- 1 2 3 4 5 6 Febrianto 2022, hlm. 41.
- ↑ Severoni, Enkhtsetseng dan Dembech 2012, hlm. 3.
- ↑ Orsini 2015, hlm. 523.
- ↑ Belford 2017, hlm. 297.
- 1 2 Albera 2026, hlm. 2.
- 1 2 Rommel dan Viscomi 2022, hlm. 36.
Daftar pustaka
- Albera, Dionigi (Maret 2026). "Introduction". A Border Island on the Crossroads of History: Lampedusa and the Mediterranean (PDF) (dalam bahasa Inggris). London dan Kota New York: Berghahn Books. hlm. 1–15. doi:10.3167/9781836954378. ISBN 978-1-83695-437-8. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Belford, Ros (Mei 2017). The Rough Guide to Sicily (dalam bahasa Inggris) (Edisi 10). Diterbitkan oleh Rough Guides. ISBN 978-0-24131-268-1. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Coppens, J. (Desember 2013). "The Lampedusa Disaster: How to Prevent Further Loss of Life at Sea?" (PDF). Transnav: The International Journal on Marine Navigation and Safety of Sea Transportation (dalam bahasa Inggris). 7 (4): 589–598. doi:10.12716/1001.07.04.15. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Fattorini, S., dan Dapporto, L. (2014). "Assessing small island prioritisation using species rarity: The tenebrionid beetles of Italy" (PDF). Journal of Integrated Coastal Zone Management (dalam bahasa Inggris). 14 (2): 185–197. doi:10.5894/rgci467. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- Febrianto, Martinus Dam (2022). Retno, Rosalia (ed.). Sang Pelintas Batas-Batas: Berteologi di Era Migrasi Bersama Paus Fransiskus. Sleman: PT Kanisius. ISBN 978-979-21-7460-1. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Massaro, Thomas (September 2024). Tim Redaksi Buku Gerejawi (ed.). Paus Fransiskus Sang Pemimpin Moral: Ahli Etika, Pembeda (Discerner), Komunikator, dan Pembela Keadilan Sosial [Pope Francis as Moral Leader: Ethicist, Discerner, Communicator, and Advocate for Social Justice]. Diterjemahkan oleh Yoga, P. D., dkk. Sleman: PT Kanisius. ISBN 978-979-21-8260-6. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: translators list (link) Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Orsini, Giacomo (November 2015). "Lampedusa: From a Fishing Island in the Middle of the Mediterranean to a Tourist Destination in the Middle of Europe's External Border". Italian Studies (dalam bahasa Inggris). 70 (4): 521–536. ISSN 0075-1634. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
- Panigada, S., dan Pace, D. S. "Lampedusa IMMA Factsheet: Lampedusa Important Marine Mammal Area - IMMA" (PDF). Marine Mammal Protected Areas Task Force: Home. Diakses tanggal 12 April 2026. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- Rommel, C., dan Viscomi, J. J., ed. (2022). Locating the Mediterranean: Connections and Separations across Space and Time (PDF) (dalam bahasa Inggris). Helsinki: Helsinki University Press. ISBN 978-952-369-077-6. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Severoni, S., Enkhtsetseng, S., dan Dembech, M. (Mei 2012). Second assessment of migrant health needs Lampedusa and Linosa, Italy (dalam bahasa Inggris). Kopenhagen: Kantor Regional Organisasi Kesehatan Dunia untuk Eropa. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- Tomasi, Gioacchino Lanza (2013). Giuseppe Tomasi di Lampedusa: A Biography Through Images [Una biografia per immagini and I luoghi del Gattopardo] (PDF) (dalam bahasa Inggris). Diterjemahkan oleh Gallenzi, A., dan Nichols, J.G. Surrey: Alma Books. ISBN 978-1-84688-212-8. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: translators list (link) Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)