Lampam adalah salah satu kue keringtradisional dari Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, yang berbahan dasar tepung sagu. Kue ini tersedia dalam dua varian, yaitu tanpa isian dan yang berisi selainanas, dan lazim disajikan bersama minuman seperti kopi atau teh.[1][2] Lampam mencerminkan kearifan lokal masyarakat dalam memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan serta melestarikan kebiasaan kuliner secara turun-temurun.[3]
Pembuatan
Lokasi Kabupaten Lingga di Provinsi Kepulauan Riau
Lampam sebagai hasil olahan sagu berkembang karena tersedianya bahan pangan sagu, yang masih terus diproduksi dan dikonsumsi secara lokal. Tanaman sagu telah dibudidayakan sejak masa Kerajaan Riau-Lingga, dan hingga kini masih tersebar luas di berbagai wilayah Kabupaten Lingga. Luas sebaran lahan sagu mencapai sekitar 2.700 hektar dan tersebar di 12 desa. Produksi tahunan dapat mencapai kira-kira 7.898 ton, membuat sagu menjadi salah satu komoditas utama yang berkontribusi terhadap perekonomi lokal masyarakat.[3]
Bahan-bahan santan, gula kelapa, perwarna dan daun pandan dimasak hingga mengental, kemudian didinginkan. Setelah dingin, campurkan dengan bahan dasar tepung gula dan soda kue serta tambahan gula pasir bila perlu, aduk hingga benar-benar menyatu, lalu dicetak bulat-bulat dan dipanggang dalam oven hingga matang. Sebagai alternatif tepung sagu dapat pula menggunakan tepung terigu.[4] Lampam dapat sering kali dibuat dalam dua varian, yang tanpa isian dan yang berisi selainanas. Cara memakannya biasanya dicelupkan sedikit ke dalam atau dimakan bersama dengan kopi atau teh.[1]
Lampam dibuat dengan teknik tradisional yang diturunkan dari generasi ke generasi. Proses ini menjaga keaslian rasa dan tekstur khas dari tepung sagu. Kue ini tergolong kue kering, tetapi karena tidak menggunakan bahan pengawet, masa simpannya terbatas sekitar satu bulan.[1]
Pemasaran
Sebagai bagian dari upaya pelestarian dan promosi kue lampam, pemerintah daerah bersama organisasi kepemudaan setempat telah memfasilitasi pengembangan outlet oleh-oleh khas turut memasarkan kue ini. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya mendorong produk-produk UMKM berbasis kuliner tradisional, serta memperluas distribusi dan meningkatkan kepopuleran kue lampam di kalangan wisatawan, serta memperkuat posisi sagu sebagai bahan pangan unggulan daerah.[5]