Menurut berbagai kitab Purana, Wisnu mengambil wujud seekor kura-kura (kurma) dan mengapung di lautan susu (Ksirasagara atau Ksirarnawa). Di dasar laut tersebut terdapat harta karun dan tirta amerta yang dapat membuat peminumnya hidup abadi. Para dewa dan asura berlomba-lomba mendapatkannya. Untuk mengaduk laut tersebut, mereka membutuhkan alat dan sebuah gunung yang bernama Mandara digunakan untuk mengaduknya. Para dewa dan asura mengikat gunung tersebut dengan naga Wasuki dan memutarnya. Kurma menopang dasar gunung tersebut dengan tempurungnya. Dewa Indra memegang puncak gunung tersebut agar tidak terangkat ke atas. Setelah sekian lama tirta amerta berhasil didapat dan Dewa Wisnu mengambil alih.
Kisah tentang Kurma Awatara muncul dari kisah pemutaran Mandaragiri yang terdapat dalam Kitab Adiparwa, beserta Purana lainnya.
Pencarian amerta
Dikisahkan pada zaman Satyayuga, para dewa dan asura (raksasa) bersidang di puncak gunung Meru untuk mencari cara mendapatkan tirta amerta, yaitu air suci yang dapat membuat hidup menjadi abadi. Atas saran Nārāyana (Wisnu) bersabda, mereka mencarinya di lautan susu atau laut Ksira (Ksirasagara). Setelah mendengar perintah Nārāyana, mereka berangkat ke sana. Sebagai tongkat pengaduk lautan, mereka memilih sebuah gunung bernama Gunung Mandara (Mandaragiri) di Sangka Dwipa (Pulau Sangka). Gunung tersebut dicabut oleh Sang Anantaboga. Setelah mendapat izin dari Baruna (Dewa Samudra), mereka membawa gunung Mandara ke tengah laut Ksira. Kurma menjadi dasar pangkal gunung tersebut. Ia menahan gunung Mandara supaya tidak tenggelam.[5][6]
Naga Basuki dipergunakan sebagai tali, membelit lereng gunung tersebut. Dewa Indra menduduki puncaknya, suapaya gunung tersebut tidak melambung ke atas. Setelah siap, para dewa dan asura mulai memutar gunung Mandara. Para dewa memegang ekornya sedangkan para asura memegang kepalanya. Mereka berjuang mendapatkan tirta amerta sehingga laut bergemuruh. Gunung Mandara menyala, sementara Basuki menyemburkan bisa yang membuat pihak asura kepanasan. Lalu Dewa Indra memanggil awan mendung yang kemudian mengguyur para asura. Lemak segala binatang di gunung Mandara beserta minyak kayu hutannya membuat lautan Ksira mengental, pemutaran Gunung Mandara pun makin diperhebat.
Saat lautan diaduk, racun mematikan yang disebut Kalakuta atau Halahala menyebar. Racun tersebut dapat membunuh segala makhluk hidup. Dewa Siwa kemudian meminum racun tersebut maka lehernya menjadi biru dan disebut Nilakantha (dari bahasa Sanskerta; Nila berarti biru, Kantha berarti leher).[7] Setelah itu, berbagai dewa-dewi, binatang, dan harta karun muncul, yaitu:
Akhirnya keluarlah Dhanwantari membawa kendi berisi tirta amerta. Karena para dewa sudah banyak mendapat bagian sementara para asura tidak mendapat bagian sedikit pun, maka para asura ingin agar tirta amerta menjadi milik mereka. Akhirnya tirta amerta berada di pihak para asura, sedangkan Gunung Mandara dikembalikan ke tempat asalnya di Sangkadwipa.
Berkat kecerdikan Wisnu yang berubah wujud menjadi Mohini, tirta amerta diambil alih oleh para dewa. Merasa para dewa terlalu diuntungkan, maka terjadilah perang antara para asura melawan para dewa. Agar pertempuran dapat segera diakhiri, Wisnu memunculkan senjata cakra yang mampu menyambar-nyambar para asura. Kemudian mereka lari tunggang langgang karena menderita kekalahan.[10]
*Urutan awatara Wisnu kedelapan dan kesembilan tergantung tradisi. Beberapa aliran Hindu memasukkan Buddha, sedangkan yang lain memasukkan Baladewa dan menghilangkan Kresna.