Kuil Zeus adalah sebuah kuil Yunani Kuno di Olimpia, Yunani, yang dibaktikan kepada Dewa Zeus. Kuil yang dibangun pada suku kedua abad ke-5 Pramasehi ini merupakan contoh terbaik dari kuil Yunani Klasik berlanggam Doris yang sudah sempurna dikembangkan.[1]
Pembangunan
Kuil Zeus dibangun di atas situs yang sudah lama dikeramatkan di Olimpia, yaitu Altis, kawasan tertutup yang mencakup sebuah hutan keramat, sebuah mezbah di alam terbuka, dan gundukan tanah pusaraPelops. Situs Altis mula-mula terbentuk pada abad ke-10 dan ke-9 Pramasehi.[2][3] Kuil ini mulai dibangun sekitar tahun 472 dan rampung pada tahun 456 Pramasehi.[4]:16
Gedungnya bercorak peripteros, dilengkapi pronaos (tepas) maupun pengimbangnya, opistodomos; tegak di atas krepidoma (batur) tiga undak yang tidak sama tinggi; tiang-tiang terluar bertatanan enamkalitiga belas; dua barisan tujuh tiang membelah naos (ruang utama) menjadi tiga lajur. Untuk mendapatkan gambaran tentang tampilan asli kuil ini, orang dapat melihat Kuil Hera II di Paestum, yang memang sengaja dibangun semirip mungkin dengannya.
Pausanias yang menyambangi Kuil Zeus pada abad ke-2 Masehi mencatat bahwa tinggi kuil itu sampai ke pedimennya mencapai 68 kaki (20,7m), lebarnya mencapai 95 kaki (29,0m), dan panjangnya mencapai 230 kaki (70,1m).[5] Untuk mencapai kuil, orang harus mendaki sebuah tanjakan di sisi timurnya.
Lantaran terbuat dari batu poros,[6] sejenis batu lokal yang tidak sedap dipandang lagi rendah mutunya, seluruh permukaan dinding dan tiang kuil diaci dengan lepa supaya terlihat seperti pualam dan serasi dengan arca-arca yang menghiasinya. Gentingnya terbuat dari batu pualam Pentelikon yang dibelah tipis supaya tembus cahaya, sehingga di siang hari pada musim panas, "cahaya seterang sinar bohlam konvensional 20 watt akan terpancar menembusi tiap-tiap lempengan gentingnya yang berjumlah seribu keping itu."[7]
Dari tepi atapnya menjorok 102 buah talang atau jaladwara berbentuk kepala singa, 39 buah di antaranya masih ada sampai sekarang. Ketidakseragaman corak hias talang-talang itu merupakan bukti bahwa atap kuil pernah diperbaiki pada zaman penjajahan Romawi.[8]
Ukir-ukiran pedimen timur menampilkan adegan balap kereta antara Pelops dan Oinomaos, sementara ukir-ukiran pedimen barat menampilkan adegan Kentauromakhia yang melibatkan Teseus dan orang-orang Lapites. Arca Dewa Apolon tegak di pedimen barat, menudingkan telunjuknya ke arah pihak manusia dalam Kentauromakhia itu sebagai tanda keberpihakannya, dan dengan demikian sekaligus menuding ke arah sisi utara kuil.[10] Di dalam risalahnya, Pemerian Negeri Yunani (5.10.8), Pausanias menjelaskan bahwa ukir-ukiran pedimen timur adalah hasil karya Payonios, sedangkan ukir-ukiran pedimen barat adalah hasil karya Alkamenes.[11] Metope-metopenya berukir adegan dua belas tugas Herakles.
Kuil ini merupakan gedung persemayaman arca Zeus yang terkenal lantaran didapuk sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno. Arca kriselefantin setinggi kira-kira 13m (43ft) ini dikerjakan oleh pematung Fidias di sanggarnya yang didirikan di lokasi pembangunan kuil Zeus di Olimpia. Arca yang dikerjakan selama kurang lebih 13 tahun (470–457 Pramasehi) ini menjadi salah satu karya seni Yunani Klasik yang paling mengagumkan.
Pemasangan arca dilakukan bersamaan dengan modifikasi besar-besaran pada ruang utama kuil. Tiang-tiang dalam ruangan dan stilobatesnya dibongkar lalu dipasang kembali, dan oleh sebab itu gentingnya pun harus ikut dibongkar-pasang. Lantainya, yang semula berubin balok-balok besar batu gamping kokuina, diberi lapisan kapur kedap air, yang membantu mencegah kerusakan pada gading akibat kelembapan.
Kelanjutan riwayat
Kuil Zeus pada tahun 2016
Panglima Romawi Lusius Mumius mewakafkan dua puluh satu perisai bersepuh emas sesudah menjarah Korintus pada tahun 146 Pramasehi. Perisai-perisai itu dipasang pada metope-metope di sisi timur dan metope-metope paling timur di sisi selatan.
Para arkeolog sudah lama menduga bahwa kuil ini rubuh akibat gempa bumi tahun 522 dan 551 Masehi, yang diketahui menimbulkan kerusakan hebat di seantero Peloponesos, meskipun sebuah makalah dari tahun 2014 mencuatkan hipotesis bahwa tiang-tiangnya mungkin saja "sengaja ditumbangkan dengan tambang pada permulaan babak sejarah Romawi Timur". Banjir bandang akibat meluapnya sungai Kladeos (menurut Foundoulis dkk., 2008) atau akibat tsunami (menurut Vott dkk., 2011) membuat daerah itu ditinggalkan orang pada abad ke-6. Situs kuil akhirnya tertutup endapan aluvial hingga setinggi 8 meter.[12]
Sesudah lama lekang dari ingatan orang dan hilang terkubur endapan banjir, jejak keberadaan situs keramat kuno di Olimpia terendus pada tahun 1766 oleh antikuarian Inggris Richard Chandler. Pada bulan Mei 1829, tim arkeolog Prancis dari "Ekspedisi Ilmiah Morea" (di bawah arahan Léon-Jean-Joseph Dubois dan Abel Blouet) memastikan keberadaan situs itu, secara parsial mengekskavasi kuil Zeus untuk pertama kalinya,[13][14] dan memboyong beberapa fragmen metope ke Musée du Louvre (atas izin Gubernur Yunani, Ioanis Kapodistrias).[13][15] Ekskavasi sistematis dimulai pada tahun 1875, di bawah arahan Institut Arkeologi Jerman, dan terus berjalan dengan beberapa kali jeda sampai sekarang.[16]
↑Hennemeyer, Arnd (4 September 2015). "The Temple Architecture and Its Modifications During the Fifth Century BCE". Dalam Patay-Horváth, András (ed.). New Approaches to the Temple of Zeus at Olympia: Proceedings of the First Olympia-Seminar 8th–10th May 2014. Newcastle-upon-Tyne: Cambridge Scholars Publishing. hlm.16–38. ISBN9781443881913.
↑Osborne, Robin (1998). Archaic and Classical Greek Art. Oxford. hlm.170. ISBN9780192842022.
↑Neer, Richard (2012). Greek Art and Archaeology: A New History, c. 2500-c. 150 BCE. Thames & Hudson. hlm.229. ISBN9780500288771.
↑Vinzenz Brinkmann, Zurück zur Klassik, Dalam: Vinzenz Brinkmann (penyunting): Zurück zur Klassik. Ein neuer Blick auf das Alte Griechenland. Katalog Pameran Liebieghaus Skulpturensammlung, Frankfurt am Main 2013. Munchen 2013, hlmn. 40-46.