Korupsi di Latvia merupakan isu yang terus menjadi perhatian dalam kehidupan politik dan ekonomi negara tersebut. Menurut berbagai sumber, sistem politik di Latvia menghadapi masalah serius terkait korupsi. Pengaruh kepentingan swasta yang terlibat dalam pendanaan ilegal partai politik melemahkan upaya pemberantasan korupsi politik.[1] Menurut Barometer Korupsi Global 2013 dari Transparency International, 68% rumah tangga yang disurvei menganggap partai politik sebagai institusi yang korup atau sangat korup—menjadikannya lembaga paling korup di Latvia. Selain itu, 55% responden percaya bahwa tingkat korupsi tetap sama, dan 67% menilai upaya pemerintah dalam memerangi korupsi tidak efektif.[2]
Dalam Indeks Persepsi Korupsi 2024 yang dirilis oleh Transparency International, Latvia memperoleh skor 59 pada skala dari 0 (sangat korup) hingga 100 (sangat bersih). Berdasarkan skor tersebut, Latvia menempati peringkat ke-38 dari 180 negara dalam indeks tersebut, di mana negara dengan peringkat pertama dianggap memiliki sektor publik paling bersih.[3] Sebagai perbandingan dengan skor di kawasan Eropa Barat dan Uni Eropa, skor tertinggi adalah 90, skor rata-rata 64, dan skor terendah 41.[4] Secara global, skor terbaik adalah 90 (peringkat 1), skor rata-rata 43, dan skor terburuk 8 (peringkat 180).[5]
Terdapat persepsi luas bahwa hubungan antara politisi dan dunia usaha di Latvia terlalu erat. Eksekutif bisnis yang disurvei dalam Laporan Daya Saing Global 2013–2014 dari Forum Ekonomi Dunia menyatakan bahwa dana publik kadang-kadang dialihkan ke perusahaan, individu, atau kelompok tertentu akibat korupsi. Selain itu, kurangnya perilaku etis yang memadai dari perusahaan dalam berinteraksi dengan pejabat publik, politisi, dan sesama perusahaan dinilai menjadi kelemahan kompetitif bagi negara tersebut.[6]