Komunikasi gerilya adalah upaya untuk memprovokasi efek subversif melalui intervensi dalam proses komunikasi. Dalam hal pemasaran, jurnalis Warren Berger menjelaskan periklanan gaya gerilya yang tidak konvensional sebagai "sesuatu yang mengintai di sekitar, menghantam kita di tempat kita tinggal, dan selalu mengejutkan kita". [1] Dalam perwujudannya yang menarik perhatian, komunikasi gerilya menunjuk pada konvergensi periklanan, pemasaran, dan hubungan masyarakat dalam praktik komunikasi konsumen. [2] Komunikasi gerilya adalah strategi komunikasi yang memanfaatkan taktik-taktik tidak konvensional, kreatif, dan sering kali berbiaya rendah untuk menyampaikan pesan kepada audiens target secara efektif. Istilah ini diadaptasi dari konsep "perang gerilya," yang mengandalkan serangan mendadak dan taktik tidak terduga untuk mencapai tujuan tertentu. [3]
Ketika kita mendengar kata "gerilya", hal pertama yang terlintas dalam pikiran kita adalah perang. Strategi perang gerilya ini pernah diterapkan pada tahun 1945 oleh Jenderal Soedirman dalam upaya memerdekakan Indonesia. Strategi perang gerilya sangat efektif karena tidak membutuhkan banyak tenaga. Strategi ini lebih fokus pada penguasaan wilayah pertempuran dan menaklukkan musuh yang tidak memahami medan pertempuran tersebut. Pasukan bergerak dari satu tempat ke tempat lain tanpa terdeteksi, sehingga akhirnya semua daerah dapat dikuasai.[4]
Mengacu pada strategi tersebut, pemasaran yang sangat terkait dengan "perang" pasar juga menggunakan metode ini. Sadar atau tidak, kita sudah terkena dampaknya. Contoh menarik adalah saat kita berjalan-jalan di kota Bandung, oleh-oleh khas yang sering dibawa dari sana adalah brownies merk "A" atau kue molen merk "K". Kedua merek ini kini sangat dikenal di daerah tersebut.[4] Jika ditelusuri kembali, keunggulan kedua merek tersebut ternyata tidak terletak pada seberapa banyak uang yang mereka habiskan untuk iklan di media tertentu, melainkan pada ketepatan mereka dalam menciptakan WOM (Word of Mouth). Siapa yang menyangka bahwa saat minum teh atau saat berlibur, kedua merek kue tersebut selalu hadir dan dibicarakan.[4]
Contoh
Pemasaran Gerilya (Guerrilla Marketing). Menggunakan elemen-elemen tak terduga di ruang publik untuk menarik perhatian, seperti instalasi seni jalanan atau flash mob.[3]
Viral Marketing. Menciptakan konten yang menarik dan mudah dibagikan sehingga dapat menyebar luas melalui media sosial dan platform digital lainnya.
Keunggulan
Efisiensi biaya
Strategi ini ideal untuk organisasi dengan anggaran terbatas, karena tidak memerlukan investasi besar dalam media tradisional. [3] Efisiensi biaya adalah upaya untuk meminimalkan pengeluaran tanpa mengorbankan kualitas atau kuantitas produk dan layanan. Dalam konteks perusahaan, efisiensi biaya produksi dapat dicapai melalui berbagai metode, salah satunya adalah analisis selisih biaya produksi.[5]
Kreativitas tinggi
Komunikasi gerilya mendorong penggunaan ide-ide inovatif yang dapat menarik perhatian audiens. Kreativitas dalam komunikasi merujuk pada kemampuan untuk menghasilkan ide-ide baru dan orisinal dalam menyampaikan pesan, sehingga dapat menarik perhatian audiens dan mencapai tujuan komunikasi secara efektif. [6]
Efek viral
Konten yang menarik dapat dengan mudah menyebar melalui media sosial, memperluas jangkauan pesan tanpa tambahan biaya. Efek viral merujuk pada fenomena di mana konten seperti video, gambar, atau informasi menyebar dengan cepat dan luas melalui platform media sosial, mencapai audiens yang sangat besar dalam waktu singkat. Konten yang menjadi viral sering kali menarik perhatian banyak orang karena sifatnya yang unik, menghibur, atau kontroversial. Meskipun efek viral dapat meningkatkan visibilitas dan keterlibatan pengguna dalam jangka pendek, penelitian menunjukkan bahwa dampaknya biasanya bersifat sementara dan jarang menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan. Sebagian besar peristiwa viral tidak secara signifikan meningkatkan keterlibatan pengguna dan jarang menyebabkan pertumbuhan yang berkelanjutan. Efek viral biasanya bergantung pada tren keterlibatan sebelum posting viral, yang biasanya membalikkan tren tersebut. Oleh karena itu, penting untuk membangun strategi keterlibatan yang konsisten dan berkelanjutan untuk membangun hubungan yang solid dengan audiens, daripada mengandalkan lonjakan visibilitas yang tiba-tiba.[7]
Rujukan
12L. Blissett, S. Brünzels (1997). Kommunication Guerrilla Handbuch, Autonome Gruppe a.f.r.i.k.a.. Spanish version (2001). Virus editorial, ISBN84-88455-84-4.