Komando Operasi Tertinggi (biasa disingkat KOTI) adalah sebuah lembaga komando militer tertinggi di Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin. Lembaga ini dibentuk oleh Presiden Soekarno untuk mengintegrasikan kekuatan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) serta menyatukan komando kebijakan militer dan ekonomi negara dalam rangka menghadapi konfrontasi strategis, utama seperti Operasi Trikora dan Dwikora.
Sejarah
KOTI berakar dari Komando Operasi Tertinggi Pembebasan Irian Barat (KOTIB) yang dibentuk pada akhir tahun 1961 untuk merebut Irian Barat dari Belanda. Setelah keberhasilan Operasi Trikora, lembaga ini direorganisasi menjadi Komando Operasi Tertinggi (KOTI) melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 142 Tahun 1962.[1]
Pada masa kejayaannya, KOTI bukan hanya sekadar komando militer, melainkan lembaga supra-struktural yang memiliki wewenang besar dalam menentukan kebijakan politik luar negeri dan ekonomi nasional yang berkaitan dengan pertahanan negara.[2] Di dalam struktur KOTI, tokoh-tokoh sipil senior seperti Menteri Pertama Djuanda Kartawidjaja diikutsertakan dan diberikan pangkat militer tituler tinggi untuk menyelaraskan birokrasi sipil dengan strategi logistik militer pusat.[3]
Pasca-Peristiwa 1965 dan Pembubaran
Setelah meletusnya peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965, konstelasi politik KOTI berubah drastis. Mayor Jenderal Soeharto, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Kostrad, mengambil alih kendali struktural di dalam KOTI sebagai Kepala Staf Melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar).[4]
Seiring berjalannya transisi menuju era Orde Baru, peran KOTI mulai dikurangi karena Soeharto melakukan restrukturisasi total terhadap tubuh ABRI. KOTI akhirnya resmi dibubarkan pada tahun 1967 melalui struktur baru pertahanan keamanan nasional.[5]
Struktur Organisasi
Struktur KOTI berada langsung di bawah kendali Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata. Secara umum, struktur pimpinan utamanya terdiri dari: