Kitab ini menceritakan mengenai Susana yang bijak. Ia menolak kenaikan kedudukan dari dua orang tua-tua. Mereka kemudian ganti mengadukan Susana ke pengadilan atas dasar tuduhan yang tidak benar. Susana pun dijatuhi hukuman mati. Namun, Tuhan mengutus Daniel untuk mendampingi Susana. Di dalam pengadilan Daniel dapat membuktikan bahwa tuduhan para tua-tua itu bertentangan dan tidak dapat dipercaya. Akhirnya Susana pun dibebaskan, dan tua-tua yang sebelumnya menuduh Susana dihukum mati. Tujuan cerita ini adalah menggambarkan bagaimana TuhanAllah menolong orang-orang milik-Nya.[6]
Tarikh dan sejarah tekstual
Bagian teks Septuaginta tentang kisah Susana sebagaimana yang terlestarikan dalam Papirus 967 (abad ke-3).
Kisah Susana dan Daniel mungkin ditulis dalam bahasa Ibrani atau Aramaik menjelang 100 SM, tetapi yang dikenal hanya terjemahannya dalam bahasa Yunani —yaitu Septuaginta.[6] Teks Yunani terlestarikan dalam dua versi. Versi yang diterima ialah yang berdasarkan Theodotion; versi ini menggantikan versi Septuaginta asli, yang hanya terlestarikan dalam terjemahan berbahasa Siria dalam Papirus 967 (abad ke-3), dan dalam sebuah manuskrip tunggal abad pertengahan yang dikenal dengan nama Kodeks Chisianus 88.
Sextus Julius Africanus tidak memandang kisah ini kanonik. Hieronimus (347–420), ketika menerjemahkan Vulgata, memperlakukan bagian ini seperti suatu fabel non kanonik.[7] Dalam pengantarnya, ia mengindikasikan bahwa kisah Susanna merupakan suatu tambahan apokrif karena tidak terdapat dalam teks Ibrani Kitab Daniel. Origenes menerima kisah Susana sebagai bagian dari 'kitab-kitab ilahi' dan mengecam 'para presbiter fasik' yang tidak mengakui kebenarannya (Hom Lev 1.3.) serta menyatakan bahwa kisah ini lazim dibacakan di dalam Gereja perdana (Surat kepada Africanus) tetapi juga menyadari ketiadaan kisah ini dalam teks Ibrani. Dalam Surat kepada Africanus (Epistola ad Africanum) ia menyebutkan bahwa kisah ini "disembunyikan" oleh kaum Yahudi dengan cara tertentu. Klaim Origenes mengingatkan pada tuduhan Yustinus Martir bahwa para ahli kitab Yahudi 'menghilangkan' ayat-ayat tertentu dari Kitab Suci mereka (Dialog dengan Trifo: C.71-3).
Referensi
↑Geisler, Norman L.; MacKenzie, Ralph E. (1995). Roman Catholics and Evangelicals: Agreements and Differences (dalam bahasa English). Baker Publishing Group. hlm.171. ISBN978-0-8010-3875-4. Lutheran dan Anglikan menggunakannya semata-mata untuk urusan etis / devosional tetapi tidak menganggapnya otoritatif dalam perkara keimanan. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
↑Dyck, Cornelius J.; Martin, Dennis D. (1955). The Mennonite Encyclopedia: A-C (dalam bahasa English). Mennonite Brethren Publishing House. hlm.136. ISBN978-0-8361-1119-4.Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
↑Kirwan, Peter (16 April 2015). Shakespeare and the Idea of Apocrypha: Negotiating the Boundaries of the Dramatic Canon (dalam bahasa English). Cambridge University Press. hlm.207. ISBN978-1-316-30053-4. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)