Kisah ini adalah sumber dari pepatah populer: "Yang hidup hanyalah sedikit, tetapi yang mati sangatlah banyak".
Sebuah tradisi sastra telah berkembang di seputar kisah Kisā Gotamī, sebagian besar dalam bentuk lisan dan drama lokal di banyak wilayah Asia. Kitab Therīgāthā (atau "Syair Therī", "Syair Sesepuh Perempuan") dalam Tripitaka Pali juga menceritakan sebuah versi dari kisah ini. Terdapat juga sejumlah versi alternatif populer yang serupa.[5] Kisah yang mirip dengan kisah Kisā Gotamī menceritakan tentang filsuf Yunani bernama Demonax, yang berjanji kepada seseorang bahwa ia dapat memanggil bayangan putranya yang telah meninggal jika diberikan tiga nama orang yang belum pernah berkabung seumur hidup mereka.[6]
Kisā Gotamī adalah putri dari sebuah keluarga kaya di Sāvatthī; ia dikenal sebagai Kisā Gotamī karena ia mempunyai tubuh yang langsing. Kisā Gotamī menikah dengan seorang pemuda kaya dan memiliki seorang anak laki-laki. Anak tersebut meninggal dunia ketika ia baru saja belajar berjalan, dan Kisā Gotamī merasa sangat sedih. Dengan membawa mayat anaknya, ia pergi dari satu orang ke orang lain yang ditemuinya untuk mencari obat yang dapat menghidupkan kembali anaknya. Orang-orang mulai berpikir bahwa ia telah menjadi gila. Tetapi seorang bijaksana, yang melihat kondisinya, berpikir bahwa ia harus memberikan pertolongan dan berkata kepadanya, “Sang Buddha adalah seseorang yang harus kamu datangi. Ia memiliki obat yang kamu butuhkan, pergilah kepada-Nya!” Kisā Gotamī kemudian pergi menemui Sang Buddha dan bertanya, obat apakah yang dapat menghidupkan kembali anaknya.
Sang Buddha berkata kepadanya untuk mencari segenggam biji sesawi dari rumah keluarga yang belum pernah mengalami kematian. Dengan membawa anaknya yang telah meninggal dunia di dadanya, Kisā Gotamī pergi dari rumah ke rumah untuk meminta segenggam biji sesawi. Setiap orang ingin menolongnya, tetapi ia tidak pernah menemukan satu rumah pun di mana kematian belum pernah terjadi. Kemudian ia menyadari bahwa tidak hanya keluarganya saja yang telah menghadapi kematian; terdapat lebih banyak orang yang telah meninggal dunia daripada yang masih hidup. Tak lama setelah menyadari hal ini, sikapnya terhadap anaknya yang telah meninggal dunia pun berubah. Ia tidak lagi melekat kepada anaknya.
Ia meninggalkan mayat anaknya di hutan dan kembali kepada Sang Buddha serta memberitahukan bahwa ia tidak dapat menemukan rumah keluarga di mana kematian belum pernah terjadi. Kemudian Sang Buddha berkata, “Gotamī, kamu berpikir bahwa hanya kamu yang kehilangan seorang anak, sekarang kamu menyadari bahwa kematian terjadi pada semua makhluk. Sebelum keinginan mereka terpuaskan, kematian telah menjemputnya”. Mendengar hal ini, Kisā Gotamī benar-benar menyadari ketidakkekalan (anicca), ketidakpuasan (dukkha), dan sifat tanpa inti (anattā) dari lima kelompok kehidupan (khandha), dan ia pun mencapai tingkat kesucian sotāpatti.
Tak lama kemudian, Kisā Gotamī menjadi seorang bhikkhunī. Pada suatu hari, ketika ia sedang menyalakan lampu, ia melihat api menyala kemudian mati. Tiba-tiba ia mengerti dengan jelas timbul dan tenggelamnya kehidupan makhluk. Sang Buddha melalui kemampuan batin luar biasa-Nya, melihat dari Vihara Jetavana, dan mengirimkan seberkas sinar serta memperlihatkan diri-Nya. Sang Buddha berkata kepada Kisā Gotamī untuk meneruskan meditasinya dengan objek ketidakkekalan dari kehidupan makhluk dan berjuang keras untuk merealisasikan nibbāna.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 114 Dhammapada berikut:
Walaupun seseorang hidup seratus tahun,
tetapi tidak dapat melihat “keadaan tanpa kematian” (nibbāna),
sesungguhnya lebih baik kehidupan sehari
dari orang yang dapat melihat “keadaan tanpa kematian”.
Kisā Gotamī mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir.