Kiprah Glipang atau Tari Glipang adalah tarian kebiasaan masyarakat Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Kata Glipang berasa dai Bahasa Arab yaitu Gholiban yang artinya kebiasaan. Tari ini diwariskan secara turun temurun dan masih bertahan hingga empat generasi.[1]
Sejarah Tari Glipang
Dari sejarahnya, Glipang bukan sekadar tarian, melainkan menggambarkan keberanian prajurit yang gagah berani dalam upaya mengusir penjajah Belanda. Bahkan ada semboyan khusus terkait dengan keberanian para prajurit ini “katembheng poteh mata angok poteh tolang”. Maksudnya, lebih baik mati dari pada menanggung malu di tangan penjajah. Tarian dengan napas Islam itu juga menjadi karakteristik warga Probolinggo yang memiliki religiusitas tinggi.
Asal-usul Tari Glipang bermula dari Sardan, seorang seniman dari desa Omben, Sampang. Karena berebut mengembangkan tari topeng di Madura lantas dia hijrah ke desa Pendil Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo. Namun, tari topeng yang dikenalkan Sardan ditolak warga setempat. Alasannya, tarian tersebut menggunakan gamelan yang identik dengan aktivitas tarian yang mana aurat penarinya terbuka. Karena itu, dia berpikir keras untuk memunculkan seni tari baru yang cocok untuk warga lokal. Sayang, sampai meninggal dunia, dia belum bisa mewujudkan ambisinya tersebut. Akhirnya, cita-cita itu coba diwujudkan Seno, putra Sardan.
Bersama Asia alias Bu Karto, anaknya, Seno akhirnya berhasil mewujudkan tarian yang cocok untuk warga setempat pada 1935. Tarian itu bermula dari aktivitas Seno yang kemudian berjuluk Sari Truno yang menjadi mandor tebu di Pabrik Gula Gending yang dikuasai Belanda.
Temperamennya yang keras serta nasionalismenya yang tinggi membuatnya sering konflik dengan tentara Kompeni Belanda yang dikenal sewenang-wenang. Karena jiwa nasionalismenya itulah, dia lantas menghimpun kaum pribumi untuk membentuk perkumpulan pencak silat. Dengan keberhasilan Sari Truno mengajarkan ilmu beladiri, akhirnya mampu mengatasi kesombongan sinder-sinder Belanda. Namun, aktivitasnya berlatih silat bersama kawan-kawannya itu akhirnya diketahui Belanda sehingga dituduh hendak memberontak.
Untuk mengelabui Belanda, gerakan pencak silat itu dia iringi dengan musik. Harapannya, Belanda tak lagi menaruh curiga. Belanda pun percaya. Terciptalah kemudian warna muslim gholiban yang berarti kebiasaan terus-menerus. Lambat laun, ekspresi perlawanan dalam bentuk seni tersebut menjadi sebuah ekspresi seni yang nyata dengan nama Tari Glipang.[1]
Gerakan & Kostum Tari Glipang
Gerakan Tari Glipang terbagi menjadi tiga gerakan, yaitu:
Tari Kiprah Glipang
Berupa tari pembuka seperti tari Remo dalam Ludruk yang menggambarkan prajurit yang akan menuju medan perang. Gerakan tarian ini cenderung lincah, dinamis dan tegas. Cii khas tarian ini memperlihatkan nafas yang sebar sebagai ketidakpuasaan terhadap penjajah. Kostum Tari Kiprah Glipang menggambarkan prajurit yang kuat melawan penjajah dimedan tempur. Warna busana merah dan hitam sebagai lambang keberanian. Aksesoris menggunakan ikat kepala sebagai ciri khas madura, rompi, sabuk, blangdang, sampur, lancir, dan peralatan perang seperti keris dan gungseng.
Tari Papakan Glipang
Tari Papakan Glipang menggambarkan pertemuan dua orang yang sudah lama berpisah. Penari perempuan hanya menggunakan aksesoris sunggar bunga dan gungseng.
Tari Baris Glipang
Tari Baris Glipang menggambarkan prajurit Majapahit berbaris yang ingin mengetahui daerah Jawa Timur. Tarian tersebut menggambarkan kegembiraan prajurit yang menang di medan perang. Aksesoris yang digunakan adalah serban, kelat bahu, simbar, samper/jarit sebagai ekspresi prajurt menang dalam berperang.
Dalam pertunjukan kesenian Glipang terdiri dari lima babak, yaitu tari Kiprah Glipang, tari Baris Glipang, tari Papakan Glipang, lawakan, dan cerita. Dalam perkembangannya, tari Kiprah Glipang yang merupakan bagian pertama dari tari Glipang ini lebih terkenal sehingga tari Glipang juga populer disebut Tari Kiprah Glipang.[2]
Iringan Musik
Tari Glipang menggunakan lima jenis alat musik yang dimaknai sebagai simbol ajaran agama Islam, yang berisi anjuran berbuat baik dan larangan yang tidak boleh dilakukan. Jika awalnya tarian diiringi gamelan, maka musik pengiring berubah menggunakan alat musik berupa ketipung wedok, ketipung lanang, kecrek, terbang, dan jidor.[2]
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.