Keraton Kaibon pada tahun 1920-anKondisi Keraton Kaibon pada tahun 2026
Keraton Kaibon adalah sebuah keraton peninggalan Kesultanan Banten yang terletak di Kota Serang, tepatnya berada di Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten. Keraton ini dibangun kira-kira tahun 1815 dan dihancurkan oleh Belanda pada tahun 1832, sehingga menyisakan berupa pondasi, tembok-tembok bangunan dan gapura keraton.[1][2] Pada tahun 1998 Keraton Kaibon secara resmi ditetapkan sebagai salah satu situs cagar budaya di Kota Serang.[2][3] Saat ini Keraton kaibon digunakan sebagai salah satu wisata edukasi untuk masyarakat di Kawasan Banten Lama.[4]
Sejarah
Ditinjau dari namanya Kaibon yang berarti Keibuan yaitu tempat tinggal untuk ibunda Sultan. Keraton Kaibon berdiri sebagai peninggalan Sultan Syafiuddin, seorang sultan Banten yang memerintah pada periode 1809-1815. Setelah beliau wafat, tahta kerajaan diwariskan pada putranya yang masih berusia lima tahun, yang membuat sang ibunda, Ratu Aisyah harus memegang kendali pemerintahan untuk sementara waktu.[2][1]
Keraton Kaibon ini dihancurkan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1832, bersamaan dengan Keraton Surosowan. Asal muasal penghancuran keraton adalah ketika Du Puy, utusan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels meminta kepada Sultan Syafiudin untuk meneruskan proyek pembangunan jalan dari Anyer sampai Panarukan, juga pelabuhan armada Belanda di Teluk Lada (di Labuhan). Namun, Syafiuddin dengan tegas menolak. Dia bahkan memancung kepala Du Puy dan menyerahkannya kembali kepada Daendels yang kemudian marah besar dan menghancurkan Keraton Kaibon.[5]
Berbeda dengan kondisi Keraton Surosowan yang sudah tidak menyisakan reruntuhan. Pada Keraton Kaibon, masih tersisa gerbang dan pintu-pintu besar yang ada dalam komplek istana. Pada keraton Kaibon, setidaknya pengunjung masih dapat melihat sebagian dari struktur bangunan yang masih tegak berdiri. Sebuah pintu berukuran besar yang dikenal dengan nama Pintu Paduraksa (khas bugis) dengan bagian atasnya yang tersambung, tampak masih bisa dilihat secara utuh. Deretan candi bentar khas banten yang merupakan gerbang bersayap.[1]
Di bagian lain, sebuah ruangan persegi empat dengan bagian dasarnya yang lebih rendah atau menjorok ke dalam tanah, diduga merupakan kamar dari Ratu Aisyah. Ruang yang lebih rendah ini diduga digunakan sebagai pendingin ruangan dengan cara mengalirkan air di dalamnya dan pada bagian atas baru diberi balok kayu sebagai dasar dari lantai ruangan. Bekas penyangga papan masih terlihat jelas pada dinding ruangan ini.[5]
Arsitektur untuk pembangunan Keraton Kaibon ini dibangun dengan dikeliling saluran air. Semua jalan masuk dari depan maupun belakang harus melalui jalan air. Meskipun keraton ini didesain sebagai tempat tinggal ibu raja, tampak bahwa ciri-ciri bangunan keislamannya tetap ada; karena bangunan inti keraton ini adalah sebuah masjid dengan pilar-pilar tinggi.[1]
Arsitektur
Keraton Kaibon yang berdiri di atas lahan seluas 2 hektar ini dibangun menggunakan material batu bata dari campuran pasir dan kapur. Arsitekturnya menggunakan gaya archais yang dapat dilihat dari ciri bangunan pintu-pintu dan tembok keraton. Keraton Kaibon memiliki empat pintu gerbang utama,; gerbang pertama berbentuk candi bentar, sedangkan gerbang kedua berbentuk paduraksa. Di bagian dalamnya, terdapat pintu besar yang disebut sebagai Pintu Dalem, selain itu pada reruntuhan terdapat satu ruangan dengan lubang menjorok ke dalam, hal ini diperkirakan sebagai sebuah mihrab, yang berfungsi sebagai tempat peribadatan (musholla).[1]