Kerajaan Samprangan adalah nama resmi Kerajaan Bali saat masih beribukota di Samprangan (kini di Kabupaten Gianyar) dan berlaku sejak 4 Oktober 1352 Masehi hingga sekitar tahun 1384. Pendirian kerajaan ini terjadi sembilan tahun setelah ekspedisi militer Majapahit pada tahun 1343, dibawah kepemimpinan Gajah Mada, Majapahit mampu menaklukkan Kerajaan Bedahulu yang saat itu diperintah oleh Sri Astasura Ratna Bumi Banten dan berhasil mengkonsolidasikan kekuasaannya di Bali secara total, termasuk meredam berbagai pemberontakan bangsawan Bali Aga yang berlangsung selama tahun 1345 hingga 1347. Setelah situasi Bali stabil, Majapahit mengirim seorang bangsawan berdarah brahmana bernama Sri Aji Kresna Kepakisan untuk memerintah Bali sebagai wakil kerajaan pusat. Ia kemudian mendirikan pusat kekuasaan baru di wilayah Samplangan, yang menjadi cikal bakal pendiri Kerajaan Bali-Samprangan dan Wangsa Kepakisan.[1]
Pendirian
Setelah Majapahit berhasil mengalahkan Bedahulu Bali pada 1343 terjadi kekacauan politik di pulau Bali yang mengakibatkan serangkaian pemberontakan oleh para bangsawan Bali Aga seperti Ki Tokawa, Ki Pasung Giri dan Ida Dalem Makambika selama 1345 sampai 1347. Majapahit melalui pasukan ekspedisi yang dikomandani oleh Raden Cakradhara, Arya Damar, Arya Gajah Para, Arya Getas, Ki Tan Kawur, Ki Tan Kober, Ki Tan Mundur berhasil menumpas para pemberontak kendati demikian masih terjadi kekosongan kekuasaan di Bali
Beberapa bangsawan dari keturunan Bali Aga yang diketuai I Gusti Agung Pasek Gelgel lalu menghadap ke Majapahit untuk meminta seorang penguasa di Bali untuk membawa ketentraman dan ketertiban.[2] Pada hari purnama bulan kartika tahun saka 1274 (4 Oktober 1353) Majapahit mengangkat Sri Aji Kresna Kepakisan putra bungsu dari seorang pendeta istana Majapahit yang juga guru dari Gajah Mada bernama Mpu Wang Bang Kepakisan dari Daha, untuk menjadi penguasa serta wakil Kerajaan Majapahit di Bali.[1]
Menurut sumber Bali, Ia berlabuh di tepi pantai Alas Rangkan (Pantai Lebih, Gianyar), Bali dan segera menuju ke utara dan memilih desa Samprangan sebagai letak istananya, kemudian ia mendeklarasikan kerajaannya yang bernama Kerajaan Samprangan dan ibukotanya bernama Linggarsapura.[2]
Akhir
Kerajaan ini berakhir pada tahun 1384 Masehi ketika muncul ketidakpuasan petinggi-petinggi kerajaan. Ketidakpuasan ini berasal ketika kerajaan dipimpin oleh raja Sri Agra Samprangan, beliau dianggap kurang cakap dalam memerintah kerajaan dan suka menunda urusan kenegaraan. Petinggi kerajaan yang diketuai Kyai Gusti Klapodyana seorang Anglurah dari Gelgel kemudian meminta adik Agra Samprangan, yaitu Dewa Tarukan untuk menggantikannya tetapi menolak dengan alasan ingin menjadi seorang pendeta lalu beliau meminta adik Sri Agra Samprangan yang paling bungsu I Dewa Ketut Ngelesir untuk menjadi raja. Awalnya I Dewa Ketut Ngelesir menolak, namun ketika dipaksa oleh Anglurah dari Gelgel yang bernama Kyai Klapodyana akhirnya ia setuju. Permintaan ini berlangsung ketika I Dewa Ketut sedang berada di desa Pandak (Kab. Tabanan sekarang).[1]
Disana ia bertemu dengan I Dewa Ketut Ngelesir dan meyakinkan sang pangeran bahwa ia tidak sedang mengadu domba Ketut Ngelesir dengan kakaknya, bahkan bersedia menyerahkan kediamannya untuk diperbesar dan dijadikan istana, serta membiarkan Sri Agra Samprangan untuk tetap memerintah di Samplangan. Permintaan-permintaan ini akhirnya membuat Ketut Ngelesir setuju dengan permintaan Kyai Klapodyana.[1]
Pusat kerajaan dipindah dari Samplangan ke daerah Gelgel yang membuat kerajaan ini berubah nama menjadi kerajaan baru, kerajaan Gelgel. Pemindahan kekuasaan berlangsung tanpa adanya perang ataupun kudeta.[1]
Daftar Nama Raja
Berikut daftar nama penguasa yang memerintah di Samprangan:
Sri Aji Kresna Kepakisan, (4 Oktober 1352 - 1380), [Pendiri Kerajaan Bali Majapahit dan Wangsa Kepakisan]
12345Munandar, Dr. Agus Aris; Utomo, Bambang Budi (2012). Indonesia dalam Arus Sejarah. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve. hlm.259–260. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)