Kerajaan Kampuchea (Khmer: ព្រះរាជាណាចក្រកម្ពុជា; Jepang: カンボジア王国; Prancis: Royaume du Kampuchéa) adalah Negara bonekaKekaisaran Jepang yang berumur pendek, yang berdiri dari 13 Maret 1945 hingga 16 Oktober 1945.
Sejarah
Pada 9 Maret 1945, pada tahap akhir Perang Dunia II, Jepang menggulingkan kekuasaan Prancis di Indochina. Para administrator kolonial Prancis diberhentikan dari jabatannya, dan pasukan militer Prancis diperintahkan untuk melucuti senjata. Jepang berharap untuk menghidupkan kembali dukungan penduduk setempat yang melemah terhadap upaya perang Tokyo dengan mendorong para penguasa lokal untuk memproklamasikan kemerdekaan.[1] Pada 13 Maret, Raja muda Norodom Sihanouk memproklamasikan Kerajaan Kampuchea yang merdeka (sambil mengubah nama resmi negara dalam bahasa Prancis dari Cambodge menjadi Kampuchea yang berarti negeri Khmer atau tanah bangsa Khmer) setelah permintaan resmi dari Jepang. Tak lama kemudian, pemerintah Jepang secara nominal meratifikasi kemerdekaan Kamboja dan mendirikan konsulat di Phnom Penh.[2] Dekrit Sihanouk menghapus perjanjian Prancis-Kamboja sebelumnya dan ia menjanjikan kerja sama dan aliansi negaranya yang baru merdeka dengan Jepang.[3] Pemerintah baru menghapus romanisasi bahasa Khmer yang mulai diberlakukan oleh pemerintahan kolonial Prancis dan secara resmi mengembalikan aksara Khmer. Langkah yang diambil oleh pemerintahan yang berumur pendek ini akan populer dan bertahan lama, karena sejak saat itu tidak ada pemerintah di Kamboja yang mencoba meromanisasi bahasa Khmer lagi.[3] Perubahan lainnya termasuk pengembalian kalender lunar Buddha.[3]
Norodom Sihanouk awalnya juga menjabat sebagai perdana menteri sejak 18 Maret 1945. Namun, Son Ngoc Thanh, salah satu tokoh di balik surat kabar berbahasa Khmer Nagara Vatta yang melarikan diri ke Jepang setelah demonstrasi anti-Prancis pada 1942, kembali pada April 1945 untuk menjabat sebagai menteri luar negeri. Son Ngoc Thanh kemudian mengambil alih posisi perdana menteri setelah Jepang menyerah, dan menjabat hingga pemulihan kekuasaan Prancis pada Oktober 1945.[3][4]
Pendudukan Jepang di Kamboja berakhir dengan penyerahan resmi Jepang pada Agustus 1945. Setelah pasukan militer Sekutu memasuki Kamboja, pasukan militer Jepang yang berada di negara itu dilucuti senjatanya dan dipulangkan. Prancis berhasil memberlakukan kembali pemerintahan kolonial di Phnom Penh pada Oktober tahun yang sama. Setelah menangkap Son Ngoc Thanh karena berkolaborasi dengan Jepang pada 12 Oktober,[3] otoritas kolonial Prancis mengasingkannya ke Prancis, di mana ia hidup di bawah tahanan rumah. Beberapa pendukungnya bersembunyi dan melarikan diri ke Kamboja barat laut yang dikuasai Thailand, di mana mereka akhirnya bergabung dalam kelompok pro-kemerdekaan, Khmer Issarak. Gerakan nasionalis anti-Prancis yang heterogen secara politik ini diorganisir dengan dukungan Thailand, tetapi kemudian terpecah menjadi beberapa faksi.[5]
Referensi
↑Geoffrey C. Gunn, Monarchical Manipulation in Cambodia: France, Japan, and the Sihanouk Crusade for Independence, Copenhagen: Nordic Institute for Asian Studies, 2018, Part V
↑Keat Gin Ooi Southeast Asia: a historical encyclopedia
12345David P. Chandler, A History of Cambodia, Silkworm 1993
↑Cahoon, Ben. "Cambodia". worldstatesmen.org. Diakses 1 September 2019.
↑Cambodia, Appendix B – Organisasi Politik dan Militer Utama