Kerajaan
Pada akhir abad ke-7 SM, Hadramaut dan kerajaan tetangganya, Qatabān, awalnya merupakan sekutu raja Karibʾil Watar dari kerajaan Sabaʾ, tetapi pada abad ke-6 SM, Hadramaut dan Qatabān berada di bawah kendali Sabaʾ.[2]
Setelah Hadramaut dan Qatabān memperoleh kembali kemerdekaannya dari Sabaʾ pada awal atau akhir abad ke-5 SM, bangsa Ḥaḍramit, Qatabān, dan Minaean bersama-sama menolak hegemoni Sabaʾ dan kemudian menjadi kekuatan dominan di kawasan Arabia Selatan. Nama-nama penguasa Hadramaut pertama kali tercatat secara jelas sejak abad ke-5 SM.
Qatabān kemudian menjalankan kebijakan ekspansi yang berhasil terhadap Sabaʾ dan menantang supremasi Sabaʾ di Arabia Selatan,[2] dan pada suatu masa di abad ke-1 SM, Hadramaut bergabung dalam koalisi yang dibentuk oleh Qatabān, Radman, Maḏay, dan suku-suku Arab nomaden melawan Sabaʾ.[6]
Raja Ḥaḍramit Īlʿazz Yaliṭ II, yang memerintah sekitar tahun 220 M, tercatat menyelenggarakan perburuan kerajaan yang dihadiri oleh dua utusan dari Palmyra, dua utusan dari Khaldea, dan dua utusan dari Asia Selatan.[7]
Seperti halnya Sabaʾ, Hadramaut sering memaksakan kekuasaannya atas suku-suku Arab yang tinggal di sebelah utara kerajaan-kerajaan Arabia Selatan.[8] Selama periode dari abad ke-4 hingga ke-2 SM, Hadramaut mengalami masa kemakmuran, dan berbagai benteng serta bangunan sekuler maupun keagamaan dibangun di wilayahnya.[9] Raja Ḥaḍramit Yadʿʾil Bayan membangun kembali ibu kota negara, Šabwat.[7]
Dengan terbentuknya jalur perdagangan maritim langsung antara Mediterania dan Asia Selatan melalui Laut Merah pada akhir periode Helenistik, suku-suku dari dataran tinggi Arabia Selatan menjadi lebih berpengaruh dengan mengorbankan kerajaan-kerajaan di wilayah Ṣayhad. Untuk ikut serta dalam perkembangan perdagangan baru ini, Hadramaut mendirikan dua pelabuhan di Samudra Hindia, yaitu di Qanīʾ dan Sumhuram.[9]
Hadramaut dan Himyar membagi wilayah Qatabān di antara mereka dan mencaploknya pada akhir abad ke-1 atau ke-2 M.[10] Hadramaut sendiri segera berhenti ada sebagai entitas politik yang merdeka ketika dianeksasi sekitar tahun 290 M oleh raja Himyar, Šammar Yuharʿiš, yang dalam sebuah prasasti tahun 299 M menyebut dirinya sebagai Raja Sabaʾ, Ḏū-Raydān, Hadramaut, dan Yamanat.[10]