Raja menyandang gelar "Pelayan Dua Kota Suci" (خادم الحرمين الشريفينcode: ar is deprecated ; Khadim al-Haramayn aš-Šarīfayn), sebuah gelar yang menandakan yurisdiksi Arab Saudi atas masjid Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medina. Gelar ini telah digunakan berulang kali sepanjang sejarah Islam. Raja Saudi pertama yang menggunakan gelar ini adalah Raja Faisal; namun, Raja Khalid tidak menggunakan gelar tersebut setelahnya. Pada tahun 1986, Raja Fahd mengganti sapaan "Yang Mulia" (His Majesty) dengan gelar Pelayan Dua Kota Suci, dan sejak saat itu gelar ini terus digunakan oleh Raja Abdullah maupun Raja Salman.[2] Menurut lembaga The Muslim 500, Raja Arab Saudi dinobatkan sebagai pemimpin Muslim dan Arab paling kuat serta berpengaruh di dunia.[3]
Raja Abdulaziz Al Saud, yang dikenal di dunia Barat sebagai Ibnu Saud, merebut kembali tanah warisan leluhurnya yang kini dikenal sebagai Arab Saudi pada tahun 1902. Setelah memulihkan posisi keluarganya sebagai emir di Emirat Riyadh, ia kemudian mendirikan Sultanat Nejd sebagai pusat kekuasaannya pada tahun 1922. Menyusul penetapan Riyadh sebagai ibu kota negaranya, Ibnu Saud kemudian menaklukkan Kerajaan Hijaz pada tahun 1925.[4]
Ibnu Saud memproklamirkan wilayah kekuasaannya sebagai Kesultanan Nejd pada tahun 1921, sesaat sebelum menyelesaikan unifikasi (penyatuan) wilayah tersebut. Ia diproklamirkan sebagai raja (malik) Hijaz pada tahun 1926, dan mengangkat status Nejd menjadi kerajaan pada tahun 1927. Selama lima tahun berikutnya, Ibnu Saud memimpin kedua bagian wilayahnya tersebut sebagai Kerajaan Hijaz dan Nejd yang terpisah. Pada tanggal 23 September 1932, ia secara resmi menyatukan seluruh wilayah kekuasaannya menjadi Kerajaan Arab Saudi.[5][6]
Semua raja yang bertakhta sejak wafatnya Ibnu Saud merupakan putra-putranya, dan kemungkinan besar semua penerus langsung dari Raja Salman yang saat ini bertakhta juga akan berasal dari keturunan langsungnya.[7] Hal ini membuat monarki Saudi cukup berbeda dari monarki-monarki Barat, yang biasanya memiliki keluarga kerajaan yang besar, garis suksesi yang jelas, dan menggunakan sistem primogenitur (hak anak sulung). Muhammad bin Nayef adalah cucu pertama Ibnu Saud yang sempat masuk dalam garis suksesi utama sebelum akhirnya dicopot dari posisi Putra Mahkota Arab Saudi melalui dekret kerajaan pada tahun 2017.[8]
Raja Arab Saudi juga dianggap sebagai kepala Wangsa Saud dan, hingga tahun 2021, menjabat sebagai Perdana Menteri Arab Saudi. Putra Mahkota Arab Saudi sebelumnya menjabat sebagai "Wakil Perdana Menteri" hingga tahun 2021 dan saat ini mengemban jabatan sebagai perdana menteri. Raja-raja setelah era Raja Faisal biasanya menunjuk seorang "wakil perdana menteri kedua" sebagai pewaris takhta berikutnya setelah putra mahkota.
Standar Kerajaan terdiri dari bendera berwarna hijau, dengan tulisan Arab dan sebilah pedang berwarna putih, serta dilengkapi dengan lambang nasional yang disulam dengan warna emas di sudut kanan bawah (kantong bawah) dari versi tahun 1973.
Standar Kerajaan untuk Raja (Rasio: 2:3)
Standar Kerajaan untuk Raja (Rasio: 1:1)
Tulisan di bendera tersebut dibuat menggunakan Khat Tsuluts. Tulisan tersebut merupakan kalimat Syahadat atau pernyataan iman dalam Islam:
لَا إِلٰهَ إِلَّا الله مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهcode: ar is deprecated
lā ʾilāha ʾillā-llāh, muhammadun rasūlu-llāh
Tidak ada tuhan selain Allah: Muhammad adalah Utusan Allah.[12]
Standar Kerajaan terdiri dari bendera hijau, dengan lambang nasional yang disulam benang emas tepat di tengahnya.
Standar Kerajaan untuk Raja (1938–1953) (Rasio: 2:3)
Standar Kerajaan untuk Raja (1938–1953) (Rasio: 12:25)
Standar Kerajaan untuk Raja (1938–1953) (Rasio: 1:1)
Standar Kerajaan untuk Raja (1953–1964) (Rasio: 2:3)
Standar Kerajaan untuk Raja (1953–1964) (Rasio: 1:1)
Standar Kerajaan untuk Raja (1964–1973) (Rasio: 2:3)
Standar Kerajaan untuk Raja (1964–1973) (Rasio: 1:1)