Keni Gayo adalah kerajinan tradisional berupa kendi atau gerabah khas Suku Gayo yang berasal dari Kabupaten Aceh Tengah, Aceh. Keni Gayo memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Gayo. Tak hanya digunakan sebagai wadah minum, Keni Gayo juga merupakan salah satu perlengkapan yang harus dimiliki dalam upacara pernikahan masyarakat Suku Gayo. Salah satu maestro dalam bidang kerajinan ini adalah Nurdiana.[1]
Kerajinan yang dibuat oleh kaum wanita ini terbuat dari dua jenis bahan pembuatan, yakni dah (tanah liat) dan kresik (sejenis pasir halus berwarna hitam). Kresik digunakan karena pasir jenis ini dapat memberikan hasil warna hitam kepada keni yang dibuat. Sementara itu perlengkapan yang dibutuhkan dalam membuat Keni Gayo adalah pelandas, batu penggilas, wat atau papan penggebuk, atu lenesan atau batu bulat, sendok makan, batu pipih, munuk atau pisau, bulu landak, mata uang logam, pecahan piring, lidi dan rader baju.[1]
Proses pembuatan Keni Gayo terdiri dari berbagai tahapan, mulai dari penumbukan tanah liat, pembuatan keni, pengukiran dengan ornamen Kerawang Gayo, pengeringan selama lima hari serta yang terakhir adalah pembakaran. Namun jika si pembuat ingin mendapatkan hasil Keni Gayo dengan kualitas lebih baik, maka pembakaran dilaksanakan dari pagi hingga sore dengan menggunakan sekam atau ampas padi.[1]
Menurut penelitian Badan Arkeologi Medan Sumatera Utara pada 2009-2011, kerajinan ini telah ada sejak zaman prasejarah di tepian laut Danau Lut Tawar sekitar 8000 tahun yang lalu. Motif menjadi hal yang menjadi pembeda antara Keni Gayo pada zaman dahulu dengan Keni Gayo pada masa sekarang. Berdasarkan temuan para peneliti dari Badan Arkeologi Medan, Keni Gayo pada masa lampau lebih kaya akan motif ornamen Kerawang Gayo sedangkan motif pada Keni Gayo masa kini lebih sedikit.[1]
Keni Gayo dibedakan menjadi empat bentuk yang dibuat berdasarkan jenis kelamin pemiliknya. Setiap bentuk memiliki ciri-ciri yang berbeda. Pertama, keni rawan. Keni Gayo ini memiliki ciri-ciri berupa berkaki tinggi dan lebar ke bawah. Keni rawan dipakai oleh kaum pria. Kedua, keni banan. Bentuknya adalah bulat tanpa kaki. Keni dengan bentuk seperti ini dipakai oleh kaum wanita. Berikutnya adalah keni labu yang dipakai oleh sesepuh wanita. Sesuai namanya, keni ini berbentuk seperti buah labu. Terakhir adalah keni ganyong. Bentuknya mirip seperti buah labu tetapi dengan ukuran yang lebih kecil. Jika ketiga keni sebelumnya dipakai oleh orang dewasa, keni dengan bentuk seperti ini digunakan oleh anak-anak.[1]