Jarāmaraṇa adalah istilah bahasa Pali dan Sanskerta untuk "penuaan'" (jarā)[1] dan "'kematian'" (maraṇa).[2] Dalam Buddhisme, jarāmaraṇa dikaitkan dengan pelapukan dan penderitaan atas kematian yang tak terhindarkan dari semua makhluk sebelum terlahir kembali di dalam samsara (siklus kelahiran dan kematian).
Jarā dan maraṇa diidentifikasi sebagai mata rantai kedua belas dalam Kemunculan Bersebab (paṭiccasamuppāda).[3]
Etimologi
Kata jarā terkait dengan kata Sanskerta Weda kuno jarā, jaras, jarati, gerā, yang berarti "menjadi rapuh, meluruh, termakan usia". Akar kata Weda ini terkait dengan kata bahasa Latingranumcode: la is deprecated , bahasa Gothkaurn, bahasa Yunanigeras, geros (kemudian menjadi geriatric [geriatri]) yang semuanya dalam satu konteks berarti "pengerasan, usia tua".[1]
Kata maraṇa didasarkan pada akar kata Sanskerta Weda mṛ, mriyate yang berarti kematian. Akar kata Weda ini terkait dengan kata bahasa Sanskerta yang lebih baru marta, serta kata bahasa Jermanmordcode: de is deprecated , bahasa Lituaniamirti, Latin moriorcode: la is deprecated dan morscode: la is deprecated , dan Yunani μόρος, yang semuanya berarti "mati, kematian".[2]
Sekarang ini, para bhikkhu, bagi para mulia, adalah kenyataan sejati (kebenaran mulia) yang merupakan penderitaan: kelahiran adalah penderitaan, penuaan adalah penderitaan, penyakit adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan; kesedihan, ratap tangis, rasa sakit fisik, ketidakbahagiaan, dan keputusasaan adalah penderitaan; berkumpul dengan apa yang tidak disukai adalah penderitaan; berpisah dari apa yang disukai adalah penderitaan; tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan; singkatnya, lima kelompok kemelekatan adalah penderitaan.
”
—Dhammacakkappavattana Sutta,SN56.11 terj. Peter Harvey (bahasa Inggris)[4]
Dan apakah penuaan? Makhluk apa pun juga, kelompok makhluk apapun juga, mengalami penuaan, jompo, gigi tanggal, rambut memutih, kulit keriput, mengerut seiring usia, indria-indria melemah, itu, para bhikkhu, disebut penuaan.
‘Dan apakah kematian? Makhluk apa pun juga, kelompok makhluk apapun juga, ada mengalami kematian, musnah, terputus, lenyap, meninggal dunia, sekarat, berakhir, terputusnya kelompok-kelompok unsur, lepasnya jasmani, itu, para bhikkhu, disebut kematian.
Selain itu, Vibhaṅga Sutta (SN 12.2) juga mencakup pendefinisian setiap mata rantai, yang salah satunya merupakan jarāmaraṇa (penuaan-dan-kematian):[b]
“
Dan apakah, para bhikkhu, penuaan-dan-kematian? Penuaan atas berbagai makhluk dalam berbagai golongan makhluk, bertambah tua, gigi tanggal, rambut memutih, kulit keriput, vitalitas menurun, indria-indria melemah: ini disebut penuaan. Meninggal-dunia-nya berbagai makhluk dari berbagai golongan makhluk, binasa, hancur, lenyap, mortalitas, kematian, berakhirnya waktu kehidupan, hancurnya kelompok-kelompok unsur kehidupan, terbaringnya jasad: ini disebut kematian. Demikianlah penuaan ini dan kematian ini bersama-sama disebut penuaan-dan-kematian.
Jarāmaraṇa adalah mata rantai terakhir dari dua belas mata rantai (nidāna), yang secara langsung dikondisikan oleh kelahiran (jāti), yang berarti bahwa semua yang dilahirkan dipastikan akan menua dan mati.
Dalam "Khotbah tentang Subjek untuk Direnungkan" (Upajjhatthana Sutta, AN 5.57; juga dikenal sebagai Abhiṇhapaccavekkhitabbaṭhāna Sutta) dari Tripitaka Pali, Buddha menganjurkan para pengikut-Nya untuk sering merenungkan hal-hal berikut:
“
Aku akan mengalami penuaan, belum melampaui penuaan.... Aku akan mengalami penyakit, belum melampaui penyakit.... Aku akan mengalami kematian, belum melampaui kematian....[5]
Dalam Tripitaka Pali, penuaan dan kematian memengaruhi semua makhluk, termasuk para dewa (termasuk brahma) surgawi, manusia, binatang, hantu kelaparan, dan mereka yang terlahir di alam neraka.[c] Hanya makhluk yang telah mencapai pencerahan (bodhi) dalam kehidupan ini yang terlepas dari kelahiran kembali dalam siklus kelahiran-dan-kematian (saṃsāra).[d]
Seperti yang Buddha instruksikan kepada Raja Pasenadi dari Kosala tentang penuaan dan kematian dalam Pabbatūpama Sutta (SN 3.25):
“
“Bagaikan gunung karang, Tinggi, menjulang ke langit, Maju merapat dari segala sisi, Menggilas segalanya di empat penjuru– Demikian pula usia tua dan kematian datang Menghampiri semua makhluk hidup—
“Tidak ada tempat di sini bagi pasukan gajah, Bagi pasukan kereta dan pasukan infanteri. Seseorang tidak dapat mengalahkannya dengan muslihat, Atau membelinya dengan kekayaan.
“Ketika seseorang berperilaku sesuai Dhamma Melalui jasmani, ucapan, dan pikiran, Mereka memujinya di sini dalam kehidupan ini, Dan setelah kematian ia bergembira di alam surga.”[6]
Kitab Dhammapada juga memiliki satu bab yang dikenal sebagai "Jaravagga" (Usia Tua), yang terdiri dari sebelas syair tentang usia tua (dari syair 146 hingga 156).[7]
↑Dalam terjemahan oleh John T. Bullit yang digunakan di Wikipedia bahasa Inggris, Bullit membiarkan istilah "dukkha" tidak diterjemahkan. Artikel utama yang menyajikan terjemahan tersebut adalah Empat Kebenaran Mulia.[web 1]
↑Dengan kata lain, salah satu perbedaan signifikan antara kosmologi agama Buddha atau agama-agama India dengan agama-agama Abrahamik adalah bahwa, dalam agama-agama India, bahkan para dewa dan makhluk yang terlahir di neraka pun menua dan mati di alam mereka masing-masing dan ditakdirkan untuk dilahirkan kembali, mungkin di alam lain (baik neraka, bumi, surga, dll.).
↑Dalam Upanisā Sutta (SN 12.23; mis., terjemahan, Walshe, 1985), Buddha menjelaskan serangkaian kondisi yang menuntun seseorang dari kelahiran menuju pencerahan. Dalam urutan "transendental" ini yang menuntun keluar dari saṃsāra, kelahiran berujung pada penderitaan (dukkha) – alih-alih penuaan-dan-kematian – yang pada gilirannya menuntun pada keyakinan (saddhā), yang digambarkan oleh Bhikkhu Bodhi sebagai "pada dasarnya adalah sikap percaya dan komitmen yang diarahkan pada pembebasan tertinggi" (Bodhi, 1980).
Referensi
12Thomas William Rhys Davids; William Stede (1921). Pali-English Dictionary. Motilal Banarsidass. hlm.279. ISBN978-81-208-1144-7.; Kutipan: "old age, decay (in a disparaging sense), decrepitude, wretched, miserable" (usia tua, pelapukan (dalam arti yang merendahkan), kelemahan, malang, menyedihkan)
12Thomas William Rhys Davids; William Stede (1921). Pali-English Dictionary. Motilal Banarsidass. hlm.524 . ISBN978-81-208-1144-7.; ; Kutipan: "death, as ending this (visible) existence, physical death" (kematian, sebagai akhir dari eksistensi (yang terlihat) ini, kematian fisik).
↑AN 5.57 (terjemahan Thanissaro, 1997b). Dihilangkan dari teks ini adalah frasa yang berulang: "... seseorang harus sering merenungkan, apakah ia seorang wanita atau pria, umat awam atau yang telah ditahbiskan"
↑SN 3.25 (Versi terjemahan di Wikipedia Inggris menggunakan terjemahan Thanissaro, 1997).
Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (1997b). Upajjhatthana Sutta: Subjects for Contemplation (AN 5.57). Diakses pada 18 Nov 2008 dari "Access to Insight" di Upajjhatthana Sutta: Subjects for Contemplation.
Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (1997). Pabbatopama Sutta: The Simile of the Mountains (SN 3.25). Diakses pada 7 Nov 2020 dari "Access to Insight" di Pabbatopama Sutta: The Simile of the Mountains
Thanissaro Bhikkhu (penerjemah) (1998b). Sona: Mother of Ten (Thig 5.8). Diakses pada 18 Nov 2008 dari "Access to Insight" di Sona: Mother of Ten.
Bodhi, Bhikkhu (2000), The Connected Discourses of the Buddha: A New Translation of the Samyutta Nikaya, Boston: Wisdom Publications, ISBN0-86171-331-1