Sinema
Kelompok pemeran dalam film sudah diperkenalkan sejak September 1916 melalui D. W. Griffith dengan film epik bisu Intolerance, yang menampilkan empat alur cerita terpisah namun berjalan paralel.[4] Film tersebut mengikuti kehidupan beberapa tokoh selama ratusan tahun, melintasi berbagai budaya dan periode waktu.[5] Penyatuan berbagai alur cerita dan perkembangan karakter merupakan ciri utama dari pemilihan pemeran ensambel dalam film; baik berupa lokasi, peristiwa, maupun tema besar yang menyatukan film dan para tokohnya.[4]
Film yang menampilkan pemeran ansambel cenderung menekankan keterhubungan antar tokoh, bahkan ketika para tokoh tersebut tidak saling mengenal.[6] Keterhubungan ini sering ditunjukkan kepada penonton melalui contoh teori "enam derajat keterpisahan", yang memungkinkan mereka menavigasi alur cerita dengan menggunakan pemetaan kognitif.[6] Contoh metode ini, di mana enam derajat keterpisahan tampak jelas dalam film dengan pemeran ansambel, dapat ditemukan pada produksi seperti Love Actually, Crash, dan Babel, yang masing-masing memiliki tema mendasar yang kuat dan saling terjalin dalam alur cerita sehingga menyatukan film tersebut.[4] Film Whodunit juga kerap menampilkan tokoh-tokoh yang saling terhubung sebagai tersangka, seperti dalam Death on the Nile, Clue, dan Knives Out.[7]
The Avengers, X-Men, dan Justice League merupakan tiga contoh pemeran ansambel dalam genre pahlawan super.[8][9] Akting referensial menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan ini, karena para pemeran ansambel "bermain saling menanggapi satu sama lain alih-alih terhadap realitas".[3]
Sutradara yang dikenal sering menggunakan pemeran ansambel antara lain Robert Altman, Woody Allen, Spike Lee, Quentin Tarantino, Wes Anderson, dan Paul Thomas Anderson, di antara lainnya.